<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795</id><updated>2011-10-26T22:44:06.800-07:00</updated><title type='text'>.::NaNoWrIndo::.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-4881816528404225930</id><published>2011-10-26T20:22:00.000-07:00</published><updated>2011-10-26T22:44:06.842-07:00</updated><title type='text'>NaNoWriMo 2011</title><content type='html'>Seperti tahun-tahun lalu, Ambu dengan nekadnya ikutan lagi #nyengir Seperti tahun lalu, Ambu juga lagi sibuk jadi juri IFA. Tapi yasud. Kita lihat saja, sebagaimana banyaknya Ambu bisa ngetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, mungkin yang tahun ini nggak akan Ambu post di blog. Kemungkinan akan Ambu ikut sertakan dalam sebuah lomba, yang seperti biasanya mencantumkan syarat: belum pernah dimuat dalam media manapun. Jadi, tentu saja nggak bisa Ambu muat di blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu selesai (dan sepertinya nggak akan sampai 10K) akan disusul dengan beberapa fanfic. Nah, kalau yang ini, akan Ambu post di sini, dan tentu saja juga akan Ambu post di FFN seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, sampai bertemu 1 November 2011!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-4881816528404225930?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/4881816528404225930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=4881816528404225930' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4881816528404225930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4881816528404225930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2011/10/nanowrimo-2011.html' title='NaNoWriMo 2011'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-4124779287423255067</id><published>2011-07-07T18:49:00.001-07:00</published><updated>2011-07-07T18:55:53.155-07:00</updated><title type='text'>Hari ke-5 dan ke-6</title><content type='html'>Bukannya ngetik NaNoWriMo, malah ngetik Snapefic, nyehe~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HOGWARTS 221 B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legilimens&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus Snape, Albus Dumbledore, dan tokoh-tokoh lain yang akan muncul, adalah kepunyaan JK Rowling, kecuali disebut lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternate Universe. Rate T. Pada dasarnya genre crime/suspense, walau mungkin akan ada bab-bab yang menonjolkan genre lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multichapter, neverending. Tiap bab tamat, dan bisa dibaca tersendiri. Merupakan versi mini dari proyek Snape Abuse yang sedang dikerjakan, antara lain oleh ambu, Psychochiatrist, aicchan, are[.]key[.]take[.]tour, dan beberapa author lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legilimency: It is the ability to extract feelings and memories from another persons mind &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only Muggles talk of "mind-reading". The mind is not a book, to be opened at will and examined at leisure. Thoughts are not etched on the inside of skulls, to be perused by any invader. The mind is a complex and many-layered thing, Potter - or at least, most minds are. … It is true, however, that those who have mastered Legilimency are able, under certain conditions, to delve into the minds of their victims and to interpret their findings correctly.[ Severus Snape dalam Harry Potter and the Order of the Phoenix] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Someone who practices Legilimency is known as a Legilimens. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This nonexistent word was created by joining forms of the Latin words Legens (reader) and Mens (mind) with "-mancy" (which means divination). [www.Wikipedia.org]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang pernah membaca fic yang mirip seperti ini, jawabannya, ya memang, fic ini ditulis ulang dari SACN-Stand Alone Cyber Novel berjudul Legilimency di forum Aestera. Fic-nya belum selesai, jadi diselesaikan di sini dengan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 13 Juli 2011, 23.37 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legilimens &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghidupkan tombol 'power' pada komputernya. Setelah logo Window berlalu, wallpaper-nya yang suram berlatar gelap menampilkan sosok berjubah dan bertudung hitam tanpa wajah, muncul di layar monitor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di-klik-nya ikon modemnya, sejenak kemudian muncul layar baru. Sebelum halaman default 'Yahoo'-nya muncul, ia berubah pikiran. Diketiknya pada kolom address: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;w w w [.] hogwarts-chronicles [.] net [/] forum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian tampilan layarnya berubah warna keemasan dengan panel bergambar sebuah kastil besar di kiri atas. Ia meng-klik link 'register' di kanan, menunggu hingga formnya muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Username: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat jemarinya berhenti di atas keyboard sebelum mulai mengetik: Legilimens &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetikkan alamat e-mail, ia menunggu sejenak hingga inbox-nya berisi kiriman password pertamanya, lalu ia meneruskan ke form 'Profile'. Selesai dengan 'Profile', ia masuk ke forum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat ia membuka-buka topik-topik yang ada, membacanya sambil tersenyum-senyum sendiri. Kemudian mouse-nya digerakkan ke kanan atas. 'Memberlist'.  &lt;Klik&gt; Senyumnya bertambah lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menelusuri nama-nama yang tercantum di sana, senyumnya berubah menjadi seringai licik melihat nama yang terpampang paling atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry Potter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sudah melewati setengah bagiannya ketika Harry Potter menyelesaikan ketikannya. Sedari tadi entah sudah berapa halaman yang ia tuangkan ke dalam flashdisk-nya. Memang kalau Harry sedang punya ide, mesti cepat-cepat ditulis, kalau tidak ... bisa lupa ... Sayang kan, padahal ide-idenya selalu keren-keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulainya saat Hermione mengenalkannya pada sebuah forum, Forum Hogwarts Chronicles. Isinya macam-macam, biasalah tempat berkumpul anak muda dari segala penjuru dunia. Akan tetapi, satu sub-forumnya dikhususkan untuk menulis. Dari mulai puisi, fanfic, cerpen, sampai novel. Bahkan ada pula esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana, seorang Harry yang awalnya tidak begitu suka menulis dan membaca, mulai menyukai sub-forum ini. Bahkan, setiap membaca satu karya orang, selalu muncul pikiran: ‘ah, aku juga pasti bisa membuat yang seperti ini—‘. Jadilah ia mulai menulis, pendek awalnya, lama-lama ia kecanduan. Rasanya tak bisa lagi ia melewatkan malam tanpa menulis—atau paling tidak mengedit tulisan terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menyambungkan laptopnya dengan internet. Sekali ... dua kali ... Harry mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa deh, kalau sambungan internet mulai lelet. Dipaksakan juga tak akan bisa. Mending tidur saja, dan mencoba lagi posting besok—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi cerita ini mesti menunggu besok agar bisa di-post di Hogwarts Chronicles. Setelah menge-save, matanya menelusuri lagi kalimat-kalimat yang telah ia tulis. Oops, lupa mengetik judulnya! Maka di atas ia mengetikkan dengan huruf-huruf kapital: THE AURORS FROM DARKNESS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu baru Harry berangkat tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 14 Juli 2011, 12.32 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengerjakan tugas sepagian—ia sekarang banyak mengerjakan tugas administratif juga—kini tiba saatnya istirahat siang. Selesai makan siang yang dilakukannya cepat-cepat, Harry kembali ke mejanya. Membuka laptopnya lagi, ia langsung saja mengetikkan URL Hogwarts Chronicles. Segera saja warna keemasan memenuhi layar monitor. Gambar kastil muncul. Mouse digerakkan ke sebelah kanan 'View post since last visit'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa belas baris judul topik memenuhi layar. Harry menelusuri dari atas hingga bawah sambi tersenyum. Sekarang musim cerpen lagi tampaknya. Kemarin-kemarin puisi merajalela, sekarang tiap hari lebih dari satu cerpen baru muncul. Di baris terbawah matanya terhenti. Senyumnya lenyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum: Cerita Pendek&lt;br /&gt;Topics: The Aurors From Darkness &lt;br /&gt;Author: Legilimens &lt;br /&gt;Replies: 0 &lt;br /&gt;Views: 1 &lt;br /&gt;Last Post: Wed Jul 13, 2011 23:37 pm Legilimens &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, Harry cepat-cepat meng-klik link yang satu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercengang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris demi baris, kalimat demi kalimat, bahkan nyaris kata perkata, adalah apa yang ia tulis tadi malam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 15 Juli 2011, 23.15 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legilimens &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya masih menelusuri daftar nama dalam 'Memberlist'. Kali ini ia sedang off-line. Ia tersenyum memilih salah satu nama yang ada. Lalu mulai membuka dokumen 'Word' baru, dan mulai mengetik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Draco Malfoy &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Draco membanting tubuhnya ke atas ranjang. Begini ini kalau jadi pengusaha. Waktu ditarik-tarik sana-sini, badan rasanya remuk semua. Besok harus terima tawaran Dad untuk memakai supir, tidak bisa tidak. Paling tidak dengan adanya supir ia bisa mencuri waktu untuk tidur di mobil sementara berkutat dengan kemacetan London tatkala berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan energi tidak akan terkuras dengan emosi yang meningkat kalau bersenggolan dengan penguna jalan lain yang—maaf—mungkin  menghabiskan dananya untuk membeli kendaraan sehingga terlupa untuk mengalokasikannya bagi pendidikan. Dengan kata lain 'pengemudi kampungan!' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Draco tidak bisa memejamkan matanya. Diusahakannya untuk tidur, tetapi baris demi baris ide cerita itu terus mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Draco tak tahan lagi. Biarin deh, besok bangun kesiangan lagi, yang penting ide cerita ini mesti ketulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Forum Hogwarts Chronicles yang sekarang benar-benar sedang nge-hits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu setengah jam lebih berlalu sebelum ceritanya selesai. Cerita tentang seorang Death Eaters yang jahatnya nggak ketulungan, tetapi anehnya tetap saja dikerumuni gadis-gadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai menge-save-nya, ia tertidur di depan layar monitor hingga ayam berkokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sabtu, 16 Juli 2011, 14.25 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan tadi pagi untung saja tidak telat ia hadiri. Draco membuka laptopnya dengan lelah. Capek sih, sebenarnya, kurang tidur, tetapi Draco ingin segera menge-post ceritanya tadi malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layar di hadapannya sudah berwarna keemasan. Draco langsung ke forum Cerita Pendek. Namun ia tidak jadi meng-klik ikon 'new post'. Topik terbaru di bawah topik-topik 'Announcement' dan 'Sticky' menarik perhatiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topics: An Ungrateful Death Eater&lt;br /&gt;Replies: 0 &lt;br /&gt;Author: Legilimens &lt;br /&gt;Views: 3 &lt;br /&gt;Last Post: Fri Jul 15, 2011 23:54 pm Legilimens &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genggaman Draco pada mouse-nya sampai terlepas. Bagaimana mungkin! Setiap kalimat, setiap dialog, persis sama dengan apa yang ia tulis tadi malam! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, Draco meng-copy paste cerpen itu, memindahkannya ke dalam dokumen 'Word'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tools&gt;Word Count &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Draco nyaris tak percaya! Jumlah kata, bahkan jumlah karakter hurufnya sama persis dengan karyanya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu 16 Juli 2011, 22.43 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legilimens &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ia baru saja menyelesaikan sepuluh halaman Word. Setelah di-save, ia meng-klik ikon IE dan masuk pada halaman default-nya yang kini diset di Hogwarts Chronicles. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk halaman memberlist, ia mengklik member berikut yang dipilihnya acak dalam daftar. Ia menggerakkan mousenya pada link: 'Find all post by Hermione' dan meng-kliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederetan link muncul. Ia memilih salah satu. Untuk beberapa saat matanya menelusuri kalimat demi kalimat di sana. Memilih link yang lain lagi. Membacanya lagi. Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Got you, Hermione," desisnya, terkekeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh halaman Word tadi di-post di sub-forum cerpen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione Granger &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum Hermione memandang cerpennya yang sudah selesai. Belakangan ini ia punya cukup waktu luang untuk menulis, dan untung saja mood-nya juga cukup bagus. Ia senang sekali, teman-temannya bisa menyukai Forum yang ia rekomendasikan. Bahkan beberapa orang teman yang ia tahu tak pernah suka menulis saat di sekolah, sekarang jadi suka. Dan jadi rajin mengisi forum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ia juga baru saja menyelesaikan sebuah cerpen tentang psikopat yang menutupi perbuatannya dengan profesinya sebagai komedian. Riset yang panjang tentu saja sudah ia lakukan, walau hanya demi sebuah cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sabar ia menghubungkan laptopnya dengan internet. Melewati halaman default, ia langsung masuk ke bookmark, ke Forum Hogwarts Chronicles. Sekali klik, ia langsung masuk ke sub-forum cerpen—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—tapi gerakan jarinya langsung terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di baris paling atas, judul cerpen yang baru saja masuk itu membuatnya menahan napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis sama dengan judul cerpen yang akan ia masukkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas ia meng-klik link itu. Tak sabar ia menunggu halaman berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia benar-benar menahan napas kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat yang ada, persis benar dengan apa yang ia ketik baru saja. Persis, bahkan sampai ke titik-koma. Semua data yang ia ketikkan. Semua deskripsi, semua dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ada lima menit ia tak bergerak, hanya memandangi layar monitor dengan nanar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 17 Juli 2011, 02.15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ginny Weasley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Giiiiiiiiin!” suara membahana itu memenuhi seluruh ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersentak, Ginny langsung mengganti layar monitor yang sedang ia tekuni. Untung sempat, sebelum bossnya—yang tadi memanggil sedari tiba di pintu masuk—sampai tepat di mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, i-iya, Boss—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana artikel yang kau bilang akan kau selesaikan hari ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha-hampir selesai—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor tabloid olahraga ini memang tak mengenal kata lembur. Bahkan pekerjaan akan semakin banyak di hari-hari libur, di mana ada banyak pertandingan-pertandingan olahraga diselenggarakan. Siang atau malam. Bahkan dini hari seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja sang Boss melirik monitor, dan terlihat sekilas. Raut wajahnya langsung berubah, merah keunguan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ginevra Weasley! Bagaimana kau bisa menyelesaikan artikelmu, kalau kau hanya memelototi DIA saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak Ginny memandang layar monitor, dan seolah jantungnya lepas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, dari 10 jendela yang ia buka, hanya satu yang berisi artikel yang sedangia ketik dari tadi, dan 9 jendela lainnya berisi browsingannya tentang Stubby Boardman. Dan gerak cepatnya tadi untuk menutupi halaman Stubby, ternyata bukan dengan halaman artikel, tapi dengan halaman Stubby yang lain lagi—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, i-iya, Boss, saya selesaikan sekarang—“ dan dengan kecepatan kilat, Ginny mengganti halaman yang terlihat dengan halaman artikel. Mulai mengetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Boss mendengus. Tanpa bicara, berjalan lagi keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sang Boss keluar, Ginny mengganti lagi halaman browsing. Kali ini memang tak ada gambar Stubby, tetapi penuh dengan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum Hogwarts Chronicles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sub-forum Entertainment, thread Stubby Boardman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sedari tadi, ia terus bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak. Ia sudah menyiapkan sebuah artikel, sebuah esai tentang penyanyi Stubby Boardman. Begitu ia sudah akan memuatnya di Forum Hogwarts Chronicles, ia menemukan sebuah artikel yang sama persis dengan artikelnya, sudah termuat. Beberapa menit duluan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kebingungan, Ginny menyamakan kalimat demi kalimat artikel di Forum dengan artikel yang baru saja selesai ia ketik MsWord. Sama persis! Bahkan, ada satu typo di paragraf kesekian, yang juga sama persis kesalahannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun ia di depan laptopnya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 17 Juli 2011, 08.35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron menyelesaikan ketikannya dengan cepat. Melirik jam meja, ia menarik napas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung selesai sebelum deadline, honey!” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas ia menyambungkan laptopnya dengan internet. Mengetik URL Hogwarts Chronicles, dan meng-klik sub-forum Cerpen. Klik ‘Make New Topic’. Berkutat sebentar, agar semua efek cetaknya nampak: bold, italic, dan sebagainya. Klik ‘Submit’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu, dia tak terbiasa menulis-nulis seperti ini. Tapi, kalau seseorang yang spesial menantangnya untuk menulis, ia harus bisa tentu saja. Dan kini, sebelum deadline, ia sudah menyelesaikan cerpennya. Tentu saja ia harus memamerkannya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diraihnya ponselnya, dan dipencetnya satu tombol, speed dial. Ditunggunya sampai beberapa nada panggil, dan terdengar bunyi angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, dear! Aku sudah selesai bikin cerpen. Dan sudah kumuat di HC. Coba cek—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—bentar—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa detik sebelum Hermione kembali ke telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus kan? Bagus kan? Aku juga bisa menulis kan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron, coba kau lihat dulu forumnya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” Ron keheranan. Ia bergerak mendekati laptopnya, dan memeriksa layar yang sedang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam list thread yang berbaris, terdapat satu thread judul cerpen kepunyaannya, dan satu thread judul cerpen lagi yang sama persis. Pengarangnya Legilemens. Waktu postnya berbeda lima menit, lebih cepat dari cerpennya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, sebenarnya, apa yang sedang terjadi?” Harry memutar-mutar gelas cocktailnya. Sedari tadi belum diminumnya, hanya diputar-putar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga tak tahu. Bagaimana bisa, tulisan yang sama persis dengan tulisan yang sedang kita kerjakan, yang baru saja akan kita muat, sudah termuat juga. Persis sama—“ Hermione mengetuk-ngetukkan pinsil di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan benar-benar sama, bahkan sampai typo yang kuketik juga—“ sambung Ginny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hanya cerpen, esai, dan artikel kita saja yang mendapat perlakuan demikian?” tanya Ron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang aku tahu, kita berempat, dan satu member lagi yang aku tak begitu kenal, Draco—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, aku tahu dia. Tapi memang tak begitu kenal,” gumam Ginny, “pernah aku wawancara saat pertandingan sepakbola amatir beberapa bulan lalu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang aku herankan, bagaimana bisa? Kalau plagiat, tentu saja yang akan muncul pertama kali itu cerpen kita. Lalu muncul cerpen yang sama persis, biasanya di forum atau tempat lain, dengan nama lain. Nama si plagiator. Hasil copy-paste—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, usernamenya sama kan? Yang sudah memuat cerpen kita duluan—“ Ginny menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, punyaku didahului Legilimens—“ Harry memastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Punyaku juga—“ Hermione mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron mengangguk juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah—“ Hermione berbicara pelan, agak berbisik, “—apakah dia membaca pikiran kita, dan memuatnya lebih dahulu sebelum kita bisa melakukannya?” sahutnya horor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf—“ sesosok jangkung berdiri di sisi meja mereka. Berkostum hitam-hitam, berambut hitam juga, sedang mengeluarkan selembar kartu nama dari saku jubah hitamnya, “—kalau tak salah lihat, walau hanya sekilas, kalian sedang punya masalah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu namanya diletakkan di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus Snape&lt;br /&gt;Hogwarts 221B&lt;br /&gt;Kantor Detektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione mendongak, dan memandang sosok asing ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku tak salah, yang sedang kalian hadapi ini adalah seorang pembaca pikiran—“ katanya, setelah dipersilakan duduk, dan mendengarkan masalah yang sedang mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembaca Pikiran? Memang ada?” Ron bertanya agak cengo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk. “Legilimens. Seperti username-nya. Hanya saja, yang ini agak istimewa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istimewa?” Ginny keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menghela napas. “Biasanya pembaca pikiran harus bertatapan dengan orang yang akan dibaca pikirannya. Menatap matanya, baru bisa masuk ke dalam pikirannya. Dan ia harus orang biasa. Kalau obyeknya ini adalah seorang Legilimens juga, atau malahan seorang Occlumens, maka si Legilimens tak akan bisa membaca pikirannya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan si Legilimens ini justru membaca pikiran kami jarak jauh?” sahut Hermione, suaranya agak bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berempat terdiam sejenak. Saling memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah—“ Harry memecah kesunyian, “—apakah Anda bisa mencari, siapakah dia? Menangkapnya, kalau perlu? Membuatnya tak bisa membaca pikiran lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan yang muluk, pikir Harry, begitu ia selesai bicara, tapi bukankah itu memang yang mereka inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menghela napas. “Mungkin—“ sahutnya pelan. “—kalau kalian mempercayakan kasus ini padaku—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione memandang ketiga sahabatnya, sebelum menyahut. “OK. Berapa kami harus membayar Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng. “Kalau masalah sudah selesai—“ dan ia berdiri. “Nomor telepon dan alamat emailku ada di kartu itu, jika kalian memerlukan. Nomor telepon atau alamat email mana yang harus kuhubungi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione mengeluarkan kartu nama dari tasnya, mencatat beberapa nama di baliknya, dan memberikannya pada Severus. “Itu alamat-alamat email kami, terserah yang mana yang akan Anda hubungi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk, dan melangkah keluar kafe tanpa menoleh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, barulah Ginny bersuara, pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hermione—apakah itu bijaksana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menghembuskan napas sejenak. “Aku juga tak tahu. Kita bahkan tak kenal dia, tak pernah tahu ada kantor detektif seperti—“ Hermione membolak-balik kartu nama yang ditinggalkan tadi, “—apalagi detektif yang tahu mengenai Pembaca Pikiran—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut wajah Ron semakin seram, “—bagaimana kalau dia sendiri juga adalah Pembaca Pikiran? Coba, bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang kita bicarakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya saling pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang jelas, dia bukan Legilimens terdaftar—“ sahut seorang wanita berpakaian aneh—jubah hitam, topi tinggi hitam juga—di tengah sekumpulan orang-orang yang juga berpakaian serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dia sudah berbuat onar, bahkan membawa Legilimency ke dalam pergaulan Muggle—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang—berpakaian serba hitam juga, tanpa topi, rambut hitam berminyak membingkai wajah, dengan hidung bengkok—berdiri, menghela napas. “Tiap Legilimens harus terdaftar, setiap perbuatannya membaca pikiran bahkan harus tercatat rapi, bukan tanpa alasan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan yang sama dengan yang ada di Kantor Detektif juga ternyata ada di ruangan ini. Dan orang tua berkacamata itu juga ada di situ. Mengusap janggutnya. Dan mengangguk-angguk. “Karena dia harus mendapat refill baru kekuatannya, kekuatan yang dia pakai untuk membaca pikiran orang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang di ruangan itu mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi,” si rambut berminyak tadi menyela, “—tindakan apa yang harus kita lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan tadi mengedipkan mata. “Tak ada. Dia sudah membaca pikiran paling tidak lima orang, kalau aku tak salah mendengarkan. Itu sudah masuk ke dalam ambang batas—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” wanita yang tadi menyambung, “—biasanya tiga-empat kali membaca pikiran tanpa di-refill saja sudah membahayakan kehidupan, apalagi ini lima. Rasanya, tinggal membaca saja rubrik Obituari di Daily Telegraph—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, kalau begitu. Selamat sore—“ dan sosok berambut berminyak itu berjalan menuju pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak ingin makan sup bawangnya Mrs. Weasley?” tanya wanita tadi, memotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu menggeleng, dan meneruskan membuka pintu, keluar, dan menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan di dinding menghela napas. Lalu menyahut, “—sepertinya aku juga pamit—“ dan ia menghilang dari pigura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione sedang lembur mengerjakan laporannya, saat sebuah email masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus Snape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas ia membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Ms Granger,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan buka halaman iklan obituari di Daily Telegraph besok, juga akan ada di halaman Kriminal.  Kematian dengan status tak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerely&lt;br /&gt;Severus Snape&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sabar menunggu fajar menjelang, akhirnya Hermione mendapatkan suratkabar itu pada pukul 06.00 pagi. Di pinggir jalan dekat blok apartemennya. Dan langsung membuka-buka iklan obituari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya tak penting, tapi Hermione bergidik membaca beritanya di halaman Kriminal. Seseorang ditemukan sudah meninggal. Raut wajah seperti seseorang yang sedang menghadapi sakit kepala yang sangat, hingga pembuluh-pembuluh darahnya menonjol keluar. Matanya melotot. Lidahnya terjulur. Dan seluruh badannya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit, bagai seorang yang habis disedot seluruh dagingnya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FIN&lt;br /&gt;untuk episode ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Males ngatur cetakan ah XDD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wordcount di MSWord: 2893&lt;br /&gt;Akumulasi Wordcount di MSWord: 4478&lt;br /&gt;Akumulasi di CampNaNoWriMo: 4517&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-4124779287423255067?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/4124779287423255067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=4124779287423255067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4124779287423255067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4124779287423255067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2011/07/hari-ke-5-dan-ke-6.html' title='Hari ke-5 dan ke-6'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2375908255488141128</id><published>2011-07-04T21:31:00.001-07:00</published><updated>2011-07-04T21:35:44.557-07:00</updated><title type='text'>Hari ke-3</title><content type='html'>Hari ke-4 kemarin nggak sempat nulis apa-apa. Bahkan entri hari ke-3 saja baru bisa dipost sekarang ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Pro-Profesor Sn-Snape?” gagap Neville. Mendadak ia merosot dan terduduk di sudut, tangannya masih memegang botol semprotan untuk menyiram tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” sahut Hermione pasti, “—jadi Profesor Sprouts dipastikan tidak bisa mengawal kita nanti—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, itu kan hanya kecelakaan kecil, hanya luka kecil di kaki. Minggu depan, saat keberangkatan kita, pasti sudah sembuh. Lagipula, beliau nanti kan hanya mengawasi kita saja, yang ikut seminar kan kita. Biar sambil pake tongkat kan bisa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu. Pesan dari Dumbledore begitu,” Hermione duduk di sebelah Neville. “Dan kau tahu? Beritanya belum selesai—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neville mengeluh. “Berita apalagi yang bisa lebih buruk dari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione memandang sahabatnya itu. Pelan-pelan ia menyahut, “Profesor Snape ingin bertemu dengan kita dulu, dengan karya tulis kita, maksudku, nanti malam jam 20.00—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeluarkan cuitan persis seperti tikus terjepit, Neville mengeluh lagi. “Walau Harry mau meminjamkan Jubah Gaib-nya, kurasa tak akan banyak berguna nanti malam—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menepuk-nepuk punggungnya. “Aku juga agak takut, Neville, tapi tetap harus kita hadapi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa tidak kau memutar jam hingga langsung besok pagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau tak tahu apa yang terjadi malamnya? Aku tak mau—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeluh lagi. “Setidaknya kita dipanggil berdua. Aku bisa mati berdiri kalau harus menghadap sendirian—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menepuk-nepuk punggungnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau bermaksud menulis karya ilmiah, tulislah dalam bahasa ilmiah—“ sahut Severus dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pertama yang ia ucapkan begitu kedua siswanya datang memenuhi panggilannya, pukul 19.55 tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Anda, kalimat-kalimat yang kami tulis belum memenuhi syarat?” Hermione langsung menanggapi. Sementara Neville membeku di belakang Hermione.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara, Severus memberi isyarat agar keduanya duduk. Membuka gulungan-gulungan perkamen yang diberikan Albus—kedua siswanya menarik napas panjang. Berarti mereka sebetulnya tak usah membawa lagi karya tulis, toh Profesor Snape sudah punya sudah membaca, dan sepertinya sudah menilainya—ia meletakkan kedua gulungan terbuka itu tepat di hadapan mereka masing-masing. Sudah dicorat-coret dengan tinta merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritakan padaku, apa yang kau ingin sampaikan pada publik nanti—“ sahutnya, menatap keduanya. Karena yang ditatap pertama kali adalah Hermione—lagipula Neville masih dalam proses pemulihan dari membeku-nya tadi—maka Hermione-lah dulu yang membuka mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya—saya ingin memaparkan pada publik, bahwa para peri-rumah itu juga punya hak dan kewajiban. Dan bahwa kita sebagai majikan, sudah seharusnya memenuhi semua hak mereka. Bukan hanya meminta mereka mengerjakan kewajiban mereka saja. Dengan demikian, mereka akan lebih gembira bekerja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, apa yang membuat mereka gembira?” Severus memotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, ... bekerja?” Hermione ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menunjuk bagian awal tulisan Hermione. “Jangan memandang satu masalah hanya dari satu sudut pandang saja. Apalagi hanya sudut pandangmu sendiri. Apalagi kemudian menggeneralisirnya menjadi suatu sudut pandang umum—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione terdiam sejenak. “Apakah saya harus membuatnya menjadi dua sudut pandang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecil saja anggukan Severus. “Kita ingin ‘membuat mereka gembira bekerja’, tetapi menurut siapa? Jika kita memberi mereka lebih banyak cuti, memberi banyak libur, menurut sudut pandang kita, itu membahagiakan mereka, tetapi menurut mereka, itu adalah hukuman. Jadi, buat konsep ‘bahagia’ itu dari dua sudut pandang, tarik cara-cara apa yang mempunyai banyak kesamaan dari kedua sudut pandang, itulah jawaban dari masalah ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione tercenung. “Jadi seharusnya, saya membuat definisi ‘semangat bekerja’ dahulu dari kedua sudut pandang, sudut pandang manusia dan sudut pandang peri-rumah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengetuk sisi perkamen, tepat di tempat Hermione menuliskan ‘Pendahuluan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—lalu menyimpulkan permasalahan, yaitu mencari kesamaan dari ‘semangat bekerja’ menurut kedua sudut pandang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengetuk lagi di tempat Hermione menuliskan ‘Identifikasi Masalah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—menuliskan Hipotesis—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—menuliskan kemungkinan di mana saja bisa menemukan jawaban, riset ulang baik riset kepustakaan dan riset lapangan, dan menuliskan hasil akhirnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengetuk akhir perkamen beberapa kali, dan perkamen Hermione itu berubah menjadi penuh catatan dengan tinta merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione meraih perkamennya, dan membacanya seksama dari awal hingga akhir. “Aku tahu—aku tahu sekarang, mengapa seolah-olah ada sesuatu yang kurang di sini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat kepalanya. “Terima kasih, Sir, saya akan segera memperbaikinya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara, Severus menggeser duduknya, menjadi tepat di depan Neville.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Wordcount di MSWord: 647&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Wordcount akumulasi di MSWord: 1585&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Wordcount akumulasi di CamNaNoWriMo: 1590&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2375908255488141128?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2375908255488141128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2375908255488141128' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2375908255488141128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2375908255488141128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2011/07/hari-ke-3.html' title='Hari ke-3'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-3827600733400585044</id><published>2011-07-02T19:36:00.000-07:00</published><updated>2011-07-02T19:40:16.068-07:00</updated><title type='text'>Hari ke-2</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hogwarts&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Severus Snape melangkah pasti dengan kecepatan teratur, mendekati tempat yang ia sudah hapal sepanjang masa. Kantor Kepala Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucap kata kunci, menaiki tangga putar, mengetuk pelan pintu yang tertutup, dan menunggu ucapan ‘Masuk’ yang sudah ia kenal benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau tidak biasakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuka pintu, masuk, dan menutup pintu hati-hati. Berjalan mendekati meja kerja Kepala Sekolah, tanpa bicara. Albus juga sudah hapal itu, karena ia memberi isyarat agar Severus duduk di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanda pembicaraannya akan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus memundurkan kursi sedikit, dan duduk di hadapan Albus. Walau dalam hati bertanya-tanya, tetapi ekspresi wajahnya tetap datar sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albus memilih selembar kertas dari tumpukan kertas dan gulungan perkamen di sebelahnya, sebelum akhirnya menemukan satu. Pertanda kertas itu—sepertinya surat—sudah agak lama berada di mejanya. Bukan baru-baru ini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berharap kau tak akan menolak menerima tugas ini, Severus?” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Severus bertaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebetulnya aku sudah menugaskannya pada Pomona, dan ia juga sudah menyanggupinya, tetapi kecelakaan kecil kemarin—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tahu itu. Kemarin ada kecelakaan kecil di Rumah Kaca saat kelas satu sedang belajar Herbologi, dan Profesor Sprouts terpaksa harus berbaring di Hospital Wings beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mata Albus berkilat sejenak saat Severus menarik napas dan menghembuskannya sekaligus, “—dan tugas apakah itu, Kepala Sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—menggantikannya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa tak percaya sepertinya, mampir sejenak di benak saat Severus mendengar ucapan Albus. Menggantikan tugas Profesor Sprouts? Tugas se—maaf, meremehkan—mudah itu? Perlu seorang Severus untuk menggantikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya tugasnya mudah,” Albus meneruskan. Sepertinya ia bisa membaca pikiran—atau memang ia sedang membaca pikiran—Severus, dan ia memberikan lembaran surat yang sedang ia pegang pada Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota Bebek, Calisota, Amerika Serikat, akan mengadakan festival-festival, seminar-lokakarya, dan sejenisnya, dalam rangka merayakan Hari Kelahiran Kornelis Prull—pendiri kota itu. Festival besar-besaran, kalau tak salah ingat ini Hari Kelahiran yang ke-200. Atau semacam itulah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kita akan mengirimkan perwakilan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kita akan mengirimkan perwakilan,” ulang Albus. “Secara khusus, kita diundang menghadiri Pameran dan Presentasi oleh salah satu acara dalam keramaian itu, Festival Sihir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka punya penyihir juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak banyak, Severus, dan itu juga sebagian dari kota-kota tetangganya, ada yang dari Kota Angsa, Kota Tikus, dan sebagainya. Makanya mereka mengundang kita, dan sekolah-sekolah sihir dari berbagai negara di dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tadinya Profesor Sprouts yang akan mewakili kita—“ masih ada nada meremehkan dalam alur bicara Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan,” Albus menggeleng, “Pomona hanya mengawasi. Peserta yang akan mewakili kita adalah siswa, karena itu yang diminta,” Albus menunjuk pada kertas surat undangan yang dipegang Severus tapi belum dibaca olehnya. “Siswa-siswa, dan hasil penelitian mereka—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, ada rasa tak percaya pada ekspresi wajah Severus. Penelitian? Penelitian? Siswa Hogwarts?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karya Tulis, dan semacamnya,” Albus meneruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka adalah—“ Severus mengira-ngira siapa yang akan mewakili Hogwarts kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Miss Hermione Granger—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah diduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan Mr Neville Longbottom—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Severus naik lagi. Tapi ia masih belum berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Miss Granger meneliti tentang ‘SPEW dan Pengaruh Keberadaannya dalam Semangat Bekerja Peri Rumah’.” Albus kembali mencari-cari gulungan perkamen di tumpukan di sisi mejanya, “—sedang Mr Longbottom meneliti tentang ‘Mimbulus Mimbletonia, untuk Penangkal ‘Shyness, Anxiety, dan Forgetfulness’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albus menemukan dua gulungan perkamen dan menyerahkannya pada Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tanpa bicara Severus menerima kedua gulungan itu. Membukanya satu demi satu. Membacanya sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat kepalanya, “—kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggu depan. Keberangkatan dengan cara Muggle—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk. Menggulung kedua perkamen, dan menggumam, “Masih ada waktu untuk memperbaiki karya tulis mereka—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pikir secepatnya,” sahut Albus mengangguk menyetujui. “Sehabis pelajaran, pukul 20.00 nanti malam?” usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk lagi. “Di kelasku.” Ia berdiri, sudah akan berjalan, ketika ia berbalik dan bertanya—nampak seperti tak perlu dijawab, “—sepertinya Anda mengendus bahaya di sini, Albus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilat kecil muncul di kedua mata Albus. “Kau tahu, Severus. Kau selalu tahu.” Dan ia pun berdiri, mengantar Severus ke pintu, sambil menepuk bahunya, “—hati-hati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wordcount di MSWord: 628&lt;br /&gt;Wordcount akumulasi di MSWord: 938&lt;br /&gt;Wordcount di CampNaNoWriMo: 947&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-3827600733400585044?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/3827600733400585044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=3827600733400585044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3827600733400585044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3827600733400585044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2011/07/hari-ke-2.html' title='Hari ke-2'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2069221363205384479</id><published>2011-07-01T20:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-01T20:35:18.415-07:00</updated><title type='text'>Camp NaNoWriMo, hari ke-1</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Oke, NaNoWriMo tahun kemarin gagal total dengan indahnya. Ga usah nyalahin jadi juri IFA ya #nyengir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba aja beberapa hari menjelang Juli, terpampang di depan mata &lt;a href="http://www.campnanowrimo.org/"&gt;Camp NaNoWriMo&lt;/a&gt;. Dan dengan polosnya Ambu ikutan, wahihi! Soalnya, ada dua bulan nih Juli dan Agustus. Juli ini Ambu pengen nyelesein 2 Challenge yang udah ga selesei-selesei dari berapa bulan kemarin, Challenge-nya &lt;a href="http://s3.zetaboards.com/Infantrum/topic/7446511/"&gt;Sanich&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Date Becomes Your Fate&lt;/em&gt;, dan Challenge-nya &lt;a href="http://s3.zetaboards.com/Infantrum/topic/7454970/"&gt;ficfan91&lt;/a&gt; &lt;em&gt;20k of Epicness&lt;/em&gt;. Dan mesti selesai, nggak kaya' bulan-bulan kemaren yang rencana melulu XDD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Ambu masukin 2 Challenge itu untuk materi NaNo. Mungkin malah nambah fanficnya, soalnya seperti biasa targetnya 50K, sedang yang Ambu incer cuma 20K + 3K XD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, ini entri hari pertama kemaren:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HARI PERTAMA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;strong&gt;Timbuktu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Severus Snape, Hermione Granger, Neville Longbottom kepunyaan JK Rowling, sementara Paman Gober, Donal Bebek, Kwik, Kwek, Kwak, Lang Ling Lung, dan Mimi Hitam kepunyaan Carl Banks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating T. Genre Adventure dan Friendship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diikutsertakan dalam 20K of Epicness Challenge&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nama-nama dari Kota Bebek yang dipakai dalam fic ini adalah nama dalam terjemahan Indonesia. Jadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kota Bebek (Duck Burg)&lt;/strong&gt; Ini kota fiksi, tetapi jika ditelusuri, sepertinya berada di pantai Barat Amerika. Berada di Negara Bagian &lt;strong&gt;Calisota (California)&lt;/strong&gt; dan kota nyata-nya &lt;strong&gt;Eureka&lt;/strong&gt;, yang cocok dengan sungai dan hutan di sebelah selatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Paman Gober (Scrooge Duck)&lt;br /&gt;Donal Bebek (Donald Duck)&lt;br /&gt;Lang Ling Lung (Gyro Gearloose)&lt;br /&gt;Lampu (Little Helper)&lt;br /&gt;Pak Pilot (Launchpad McQuack)&lt;br /&gt;Kwik (Huey-&lt;/strong&gt;merah&lt;strong&gt;), Kwek (Dewey-&lt;/strong&gt;biru&lt;strong&gt;), Kwak (Louie-&lt;/strong&gt;hijau&lt;strong&gt;)&lt;br /&gt;Mimi Hitam (Magica de Spell)&lt;br /&gt;Gagak (Poe de Spell,&lt;/strong&gt; saudara Mimi yg berubah menjadi gagak, dan Mimi tidak bisa mengubahnya menjadi bebek kembali)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kornelis Prull (Cornelius Coot)&lt;/strong&gt; lahir 1790 meninggal 1880 tanggal lahir tak diketahui. Pendiri Kota Bebek. Hari kelahirannya inilah yang sedang diperingati dengan berbagai Festival dan Seminar, yang dihadiri oleh antara lain Severus Snape, Hermione Granger, dan Neville Longbottom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penyihir lain dari Kota Angsa, Kota Tikus, dll, seperti &lt;strong&gt;Hortensia (Witch Hazel)&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Madam Mik Mak (Madam Mim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komik Indonesia, diceritakan bahwa Mimi Hitam selalu mengejar &lt;strong&gt;Keping Keberuntungan&lt;/strong&gt; milik Paman Gober, yang sebenarnya seharusnya diterjemahkan sebagai &lt;strong&gt;Keping Pertama&lt;/strong&gt;. Dalam fic ini, Ambu menerjemahkannya sebagai Keping Pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori-teori dalam gempa bumi, Ambu kumpulkan dari mana-mana, dari &lt;strong&gt;wikipedia&lt;/strong&gt;, dari blog &lt;strong&gt;Dongeng Geologi&lt;/strong&gt; kepunyaan pak &lt;strong&gt;Rovicky&lt;/strong&gt;, dan bahan kuliah punyanya &lt;strong&gt;[at]wadesay&lt;/strong&gt;, tapi penafsiran teori tersebut dalam fic ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab Ambu. Kesalahan-kesalahan sila langsung bebankan pada Ambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;Garis Balik Selatan&lt;/strong&gt; maupun &lt;strong&gt;Utara&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Gurun Atacama&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Timbuktu&lt;/strong&gt;, Ambu kumpulkan dari wikipedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linimasa/timeline yang jelas adalah tahun ke-4 Hogwarts, tetapi di Kota Bebek waktunya tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, keterangan-keterangan yang lain, yang menyusul kemudian, akan Ambu tempatkan dalam catatan kaki. Selamat menikmati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Wordcount di MSWord&lt;/strong&gt;: 310&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Wordcount di CampNaNoWriMo&lt;/strong&gt;: 322&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2069221363205384479?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2069221363205384479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2069221363205384479' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2069221363205384479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2069221363205384479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2011/07/camp-nanowrimo-hari-ke-1.html' title='Camp NaNoWriMo, hari ke-1'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-6891565351146561204</id><published>2010-10-02T00:38:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T00:42:10.991-07:00</updated><title type='text'>2010!</title><content type='html'>Ketemu lagi dengan NaNoWriMo di tahun 2010! Hihi, belum deng, baru bulan Oktober! Seperti biasa, Oktober udah mulai pemanasan XD dan Ambu barusan ngetwit NaNoWriMo XDD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Ambu kumpulin di sini aja biar mudah nyariinnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa itu #NaNoWriMo? National Novel Writing Month adalah bulan penulisan novel bersama sedunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. #NaNoWriMo dirintis di Amerika oleh Chris Batty. Harusnya menjadi International Novel Writing Month :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Banyak yg suka bilang: ‘Suatu hari aku akan menulis novel’ tp ga dimulai2 aja. #NaNoWriMo bisa jadi alat pemicu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. #NaNoWriMo berlangsung dari 1 Nopember hingga 30 Nopember, waktu setempat. Karenanya, sesuaikan Region dalam pendaftaranmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. #NaNoWriMo kenapa Nopember? Konon karena itu bulan penuh hujan, enak untuk duduk mengetik di rumah daripada keluar :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. #NaNoWriMo Tujuannya menulis 50000 kata dalam sebulan, kira2 1667 kata sehari. Tidak sulit kan? Asal disiplin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. #NaNoWriMo Tulis dlm bahasa apa pun yg kau mau! Inggris,Indonesia,Jawa,Sunda,4l4y, :P selama bisa dihitung dgn wordcount&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tulis di komputermu, dgn software apapun. Yg penting, lapor wordcount pada #NaNoWriMo (tiap hari, 2 hari, dsb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Stlh tgl 25 Nop di web #NaNoWriMo akan ada Validator. Copy-paste naskahmu, kl sdh 50K kata, you’re WINNER!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. #NaNoWriMo tdk menilai kualitas tulisan. Hanya jumlah kata semata. Agar kita tahu, bhw kita bisa menulis sebanyak itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. #NaNoWriMo Kl mau curang, tulis saja ‘asdf’50K x, and you’re winner. Mau menang dengan cara itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. #NaNoWriMo Mau ikut? Buka www.nanowrimo.org dan sign up. Jangan lupa region-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. #NaNoWriMo Daftar bisa kapan saja, tapi Forum Baru baru akan dibuka awal Oktober (td dicek, belum ada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. #NaNoWriMo Oktober belum  menulis, baru buat profil, rancang plot, bikin excerpt kl mau, cari buddy kl mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. #NaNoWriMo Kl tak mau menulis, tak akan rugi daftar. Acak2 forumnya, dan dapatkan segudang tips menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. #NaNoWriMo merasa terlalu muda n gak bakal memenuhi target 50K? Ikut YWP saja http://ywp.nanowrimo.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. #NaNoWriMo dpt apa kl menang? Dpt title ‘Winner’, sertifikat n web icon. Yg sebenernya gampang ditiru, tp bangganya dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. #NaNoWriMo gimana kalo ceritanya udah selesai tp belum 50K? Ya, ga winner dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. #NaNoWriMo kalo udah 50K, udah winner tp ceritanya belum selesai? Hihi, kelanjutannya terserah anda XDD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Kenapa naskahnya tidak dimuat di web #NaNoWriMo, atau dibuat link-nya? Karena ini original fiction, biasanya-- (TBC)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. –kemungkinan besar diterbitkan penulis. Penerbit biasanya tak mau naskah yg sdh prnh dimuat di media manapun #NaNoWriMo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Jadi? Mari kita rame-rame menulis! Ingat, Nopember bulan #NaNoWriMo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XDD mari menulis!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-6891565351146561204?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/6891565351146561204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=6891565351146561204' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/6891565351146561204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/6891565351146561204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2010/10/2010.html' title='2010!'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-6322202489351276444</id><published>2009-11-21T01:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-21T03:27:40.809-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-21</title><content type='html'>OK, ternyata Fandom Harry Potter selesai sampai di sini *nyengir* nanti malem mulai lagi Supernatural :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ia bangun dengan semangat seperti kalau akan memenangkan pertandingan Quidditch. Berdebar-debar, tapi suka cita. Sedikit mulas, mimpi yang aneh-aneh, tapi lega. Seperti nasibnya akan diputuskan hari ini, tapi ia sudah tahu hasilnya. Dengan suasana hati yang seperti itu, ia berangkat ke Wizengamot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk rasa senang yang gagal disembunyikan itu, Kingsley menyambutnya dengan berseri-seri. Tanpa bicara, hanya menyerahkan gulungan perkamen Surat Keputusan Wizengamot, dan Harry otomatis tahu apa isinya. Tapi dibukanya juga, dibacanya, kalau-kalau ada kalimat yang tertinggal penafsirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sedang membicarakan kemungkinan pemindahannya ke Hogwarts, ketika seorang perawat Unit Kesehatan Wizengamot muncul. “Mr Shackelbolt, Mr Potter, ia sudah sadar—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa detik, Harry bingung sejenak. “Ia—ia siap—oh, kau maksudkan Profes—“ ia menoleh pada Kingsley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingsley mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry melesat secepat kilat ke Unit Kesehatan Wizengamot. Tapi setiba di muka pintunya, ia terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau Profesor Snape masih membencinya? Bagaimana kalau ia ternyata—ah, sudahlah. Apapun yang akan terjadi—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry membuka pintunya. Ia masuk, dan berjalan mendekati tempat tidur. Ulrich ada di sana, sedang melakukan pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya berseri-seri. “Harry, terapimu kemarin berha—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia melihat airmuka Harry yang tegang, dan berhenti bicara. Ia menyelesaikan pemeriksaannya, dan keluar. Membiarkan Harry berdua dengan Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mendekati tempat tidur, hingga ia berdiri tepat di sisi. Menelan ludah. Berbagai kalimat tergambar dengan jelas di kepalanya, tapi tak ada yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Severus yang pertama bicara. “—Jadi—kau selamat—“ sahutnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk perlahan, “Yes, Sir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengutuk lidahnya yang hanya mengeluarkan dua patah kata. Ia ingin bicara banyak. Ia ingin meminta maaf atas semua kelakuannya selama ini. Ia ingin—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—air,” suara Severus masih pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menuangkan air dari poci di meja, dan memberikannya. Severus menerimanya, meminumnya. Tangannya masih gemetar, tapi nampak ia bersikeras untuk melakukannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tak tahu mesti mengatakan apa, lagipula ia memperkirakan Severus masih belum cukup kuat untuk berbicara panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dugaannya keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengembalikan gelas, Severus mencoba untuk duduk. Harry membantunya dengan canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela napas. Dan menatap Harry tajam. “Jadi, kita tidak berada di alam kematian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau masih hidup walau Pangeran Kegelapan sudah merapal Kutukan itu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berkat Anda, Sir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau pasti bertanya-tanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tidak berani bertanya. Tidak berani bahkan untuk mengangguk. Ia hanya mengamati secara mencuri-curi, airmuka Severus ternyata muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak pernah punya sangkaan apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangkat mukanya sekilas, dan menggeleng. “Hermione—Hermione punya sangkaan bahwa Anda—ilmu Anda cukup tinggi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa pelan tapi getir itu tak pernah disangka Harry akan keluar dari mulut Severus. Ia menggeleng pelan-pelan. “Tak ada ilmu semacam itu, Potter. Tak ada. Tak ada seorangpun yang bisa mengelabui Inheritus Eliminarium. Dongeng bahwa jaman dulu ada orang-orang yang mampu mengelabui Kutukan itu, hanya cerita akal bulus mereka yang malu karena punya anak di luar nikah, atau sejenisnya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asli, Harry melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus memejamkan mata. “Kalau kau ingin tahu juga—“ ia membuka matanya. Airmukanya bertambah muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry merasa tak enak. “Jika—jika memang Anda tak enak mengungkapkannya—tidak usah saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi airmukanya berkhianat, tentu saja wajahnya akan menampakkan wajah ingin tahu yang sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela napas, Severus memejamkan mata lagi, bersandar ke kepala tempat tidur. “Kau tentu tahu, hanya satu wanita yang kucintai—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadanya pahit. Nadanya getir. Masygul. Perih. Itu kesimpulan yang ditarik Harry mendengar suaranya. Suara guru yang biasanya memancing amarah, atau bahkan membuat orang lain mengkeret ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini, hanya rasa perih yang bisa ia tarik, yang tersirat, yang ia tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus nampaknya tak mendengar, ia tetap meneruskan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, banyak cerita kejahatan yang bermula dari alkohol? Dan itulah awal mula cerita ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar Harry duduk langsung di sisi tempat tidur, tak mempedulikan kursi yang biasanya ia pakai. Mata dan telinganya terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan itulah yang paling aku sesali,” suaranya lirih. “Kau benar, aku memang pengecut. Aku sangat pengecut. Tak ada seorangpun yang pernah mendengar cerita ini, mereka semua mengira aku berbaik hati mengantarnya pulang, membebaskannya dari penculikan di markas Pangeran Kegelapan, padahal—“ ia menarik napas panjang lagi, “—bahkan dirinya sendiri pun aku kenai Obliviate, untuk melupakan apa yang pernah ia rasakan, penganiayaan, kekerasan, ketakutan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry nyaris tak percaya melihat titik bening itu mengalir begitu saja di wajah gurunya, yang biasa berwajah keras ini—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—ia tak pernah tahu. Sampai akhir hayatnya, ia tak pernah ingat—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Harry berada di sisi Lily, tentu yang ia rasakan adalah rasa jijik. Rasa benci. Amarah. Dan entah rasa apa lagi. Tapi kini ia berada di sisi Severus, dan yang ia lihat langsung adalah laki-laki yang biasa ia benci, dengan emosi yang berbeda. Jauh berbeda, 180 derajat berbeda dari apa yang biasa ia lihat. Jika saja ia tak ada di sini, jika saja ia mendengar dari orang lain, ia tentu takkan percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—ia tak pernah ingat. Tapi aku—“ Severus menelan ludah yang ia rasa susah karena tenggorokannya mendadak kering, “—selalu teringat. Selalu terbawa mimpi. Tiap malam, tiap hari, tiap saat—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan ada yang menyayat hati Harry, seakan ada yang mengoyaknya. Tak heran kalau sikap Severus selama ini—Harry menghela napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya benar, IBUNYA lah yang diperlakukan demikian, tetapi yang ia lihat sekarang adalah penyesalan yang dalam, yang ia tak tahu sampai di mana dasarnya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry perlahan mengangsurkan tangannya, memegang lengan Severus pelan-pelan. Dan ia terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengan itu gemetar hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia teringat diagnosa Ulrich. Nervous breakdown. Kelelahan mental yang sangat. Ia teringat citra yang ia dapat dari memori yang diberikan. Kepenatan mental. Menyembunyikan sesuatu yang sangat besar artinya, dalam waktu yang sangat lama. Di samping menyembunyikan hal-hal lain dalam tugasnya sebagai mata-mata—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan seorang Muggle psikolog, bukan Muggle psikiater, bahkan mendengar istilahnya saja ia baru tahu dari Ulrich. Tapi kedengarannya seperti suatu kasus yang gawat. Dan Severus seperti tak sadar sedang bicara dengan siapa, ia terus saja bertutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak normal. Ini tidak wajar. Harry lama kelamaan menyadari. Ini tidak seperti orang yang ia kenal seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—aku selalu memonitor kehidupannya. Sembilan bulan setelah mereka menikah, Lily melahirkan seorang anak laki-laki—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mencari matanya, tapi yang ia dapat adalah pandangan menerawang, pandangan yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, ini bukan orang yang biasa ia lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan aku minta tolong pada Dumbledore, bahkan sampai aku minta tolong pada Dumbledore, tapi tetap saja gagal. Pangeran Kegelapan tetap memburunya, membunuhnya. Ia meninggal,” suaranya bagai lenyap ditelan angin lalu, tapi ia terus melanjutkan, “—dan Dumbledore mengingatkan padaku akan temuannya, bahwa Pangeran Kegelapan masih akan bangkit kembali, bahwa aku harus membantunya melindungi anaknya. Anak Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu aku, pikir Harry. Ia sudah pernah melihat citra adegan ini dalam memori, tapi mendengar langsung suaranya gemetar sewaktu menyebutkan dirinya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan saat aku sedang limbung, saat aku sedang jatuh, saat aku sedang mencari pegangan, justru malam itu—malam itu—Dumbledore—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanar Harry mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mungkin. Tak mungkin. Bagaimana mungkin, orang yang selama ini ia hormati, yang sangat ia sayangi, bisa melakukan itu? Dalam keadaan yang normal pun ia tak akan mampu mendengarnya. Ini, yang mengatakannya adalah korbannya—kalau ia boleh mengatakannya sebagai korban—sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjentikkan tongkatnya perlahan, menghasilkan sebuah kotak tisu. Diambilnya selembar, dan hati-hati disekanya wajah gurunya yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus terdiam, membiarkan wajahnya diseka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Harry sendiri tak berbicara. Ia terdiam. Pertama, ia tak tahu harus berbicara apa, ia begitu terkejut dengan kenyataan. Kedua, Ulrich yang mengatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan saja ia bicara, ujar Ulrich dulu, tak ada obat untuk nervous breakdown atau hal-hal semacamnya. Paling tidak, tak ada yang bisa langsung mengobati seperti mengobati pilek atau demam. Mungkin Muggle mengobatinya dengan pik-pil, tapi itu hanya untuk menenangkan, hanya mengobati gejala, bukan mengobati langsung. Dengarkan saja ia bicara. Setelah ia tenang, ia akan kembali pada dirinya yang asli—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana ia bisa menenangkan orang yang mengalami nervous breakdown jika ia tegang begini? Bagaimana bisa ia mendengar bahwa orang itu adalah—ayahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang berkecamuk dalam hatinya saat ia dengan hati-hati mengeringkan wajah gurunya—ayahnya. Apa yang sudah ia lakukan pada ibunya? Tapi juga, apa akibat yang terjadi padanya dengan menyimpannya dalam-dalam, menutupnya rapat-rapat, sekian lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas-jelas ia bukan seorang Slytherin karena pertempuran dalam hati itu dimenangkan oleh rasa Hufflepuff-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sir—“ ujarnya, berusaha menenangkan. Walau ia tak tahu harus bagaimana, canggung dan kikuk menghadapinya. Setengah dari dirinya mengharap Ulrich atau siapapun membantunya, tapi setengah dari dirinya berharap tak ada yang mendengar apa yang sedang dituturkan. Biarlah hanya ia yang mendengarnya. Biarlah—kalau bisa—tak ada yang mendengarnya, walaupun dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan aku selalu membencinya. Aku tak tahu kalau ia bisa saja anakku, aku terlalu bodoh, aku terlalu pengecut, aku tak berani bahkan untuk mencoba menghitung antara tanggal kelahirannya dengan peristiwa itu. Aku selalu membencinya, aku selalu mencoba membuatnya dihukum—“ suaranya parau,”—tapi pada saat yang sama juga aku selalu melindunginya. Aku mencoba menipu diriku sendiri, mencoba berbohong pada diriku, bahwa itu semua aku perbuat karena aku sudah berjanji pada Dumbledore untuk melindungi anak Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahu kenapa, spontan saja Harry bertanya, “Dan tak ada yang tahu, Sir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng pelan. “Tak ada yang tahu. Tak ada yang tahu aku berjanji untuk melindungi anak Lily. Dumbledore seorang yang tahu. Tapi, walau ia tahu aku melindunginya, ia mengira aku berbuat demikian karena aku mencintai Lily. Saja.” Severus memejamkan matanya. Perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada yang tahu, alasan yang sebenarnya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry memandangnya, setengah kasihan. Setengah sedih. Itulah mengapa ia nampak begitu misterius, nampak tak bisa ditebak, karena ia memang tak mengijinkan seorangpun untuk mengetahui apapun dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menutup dirinya. Tak membiarkan siapapun mendekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’ve built walls A fortress deep and mighty That none may penetrate I have no need of friendship, friendship causes pain It’s laughter and it’s loving I disdain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t talk of love But I’ve heard the words before It’s sleeping ini my memory I won’t disturb the slumber of feeling that have died If I never loved I never would have cried&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have my books And my potions to protect me (aslinya ‘my poetry to protect me’) I am shielded in my armour Hiding in my room, safe within my tomb I touch no one and no one touches me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am a rock I am an island And a rock feels no pain And an island never cried&lt;br /&gt;[I Am A Rock – Simon &amp;amp; Garfunkel]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menyimpannya sendiri, batin Harry, bersyukur karena ia punya kawan-kawan terbaik di dunia. Ron memang banyak berprasangka, dan mereka sering bertengkar, tapi apa artinya teman kalau tak pernah berselisih paham? Bukankah yang penting ialah bagaimana mereka menangani perselisihan paham itu? Hermione, dia memang sok tahu, tapi itulah dia, dan ia merasa nyaman dengan itu. Belum lagi yang lain, teman-teman sebaya, teman-teman yang lebih tua, keluarga Weasley, Remus, Sirius—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah penting, kalau kau tak pernah menangis, tak pernah menumpahkan emosimu, tak punya kawan untuk melepas keluh kesahmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar, tangan Harry yang tadinya hanya memegang lengan Severus, kini mengusap-usapnya. Seolah ingin berbagi, seolah ingin mengurangi kepenatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tak menarik tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih bersandar, memejamkan mata, menarik napas panjang. Seolah menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang ya. Sejak kapan coba, ia merasakan yang seperti ini? Dan siapa yang akan berani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu hanya sebentar. Ia tiba-tiba menarik tangannya, membuka matanya, menyahut dengan dingin. “Kau tahu dengan siapa kau berhadapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ia merasa heran sendiri, mengapa ia bisa begitu mantap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitu berhadapan dengan mata yang sedang menatapnya itu, ia merasa yakin, ia memang harus mantap. Ia sedang berhadapan dengan seorang yang labil, seorang yang sedang mengalami kelelahan mental, kepenatan. Ia harus mantap. Atau, setidaknya, terlihat mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pada awalnya ia merasa gamang. Ia belum lagi berusia delapan belas. Bahkan tidak sampai setengah umurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tertawa terkekeh tertahan, tapi terdengar begitu mengerikan. “Kau berhadapan dengan seorang pemerkosa, pembunuh, penipu, pembohong—dan yang lebih mengerikan, seorang pengecut. Pengecut yang tak mau mengakui kalau ia sudah melakukan kejahatan-kejahatan, pengecut yang melampiaskan semua ketakutannya pada semua anak yang seharusnya ia didik—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defense mechanism, ulang Harry dalam hati, mengulang kata-kata Ulrich. Ulrich memang benar. Ia bahkan bisa menganalisis saat pasien masih dalam keadaan koma. Mekanisme pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat seseorang mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, hal-hal yang dirasa menyerang dirinya, ia akan mengeluarkan mekanisme pertahanannya sendiri-sendiri. Ada orang yang akan menyerang balik, ada juga yang menyangkal serangan itu, tapi ada juga yang menutup diri rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan ia mengeluarkan semuanya, Harry. Bertahan saja, biarkan saja sampai ia lelah mengeluarkan semua isi hatinya. Sudah lama ia tak bisa mengeluarkan isi hati. Kalau otaknya penuh, ia bisa mengeluarkannya pada Pensieve, tapi isi hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sebentar Severus memaki-maki diri sendiri, nada suaranya semakin lemah, suaranya tergugu. Tersendat-sendat. Terdiam. Hanya isaknya terdengar lamat-lamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah bingung—Harry belum pernah bertemu dengan suasana seperti ini, hanya naluri yang membimbingnya—ia menyentuh bahu Severus. Perlahan, awalnya bahkan Harry tak yakin tersentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus membiarkan bahunya disentuh. Awal yang baik. Ia tidak mengelak, tidak berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“McGonagall sudah kangen akan pertengkaran kalian tiap kali menjelang Quidditch,” suara Harry pelan. “Hagrid juga, ia tahu bukan kau yang membakar pondoknya, atau mengurung anjingnya dalam api.” Harry berusaha mempertahankan suaranya, pelan tapi mantap. “Ia selalu berkata, bahwa kau adalah satu-satunya anak Slytherin yang tak pernah mencoba mengeluarkannya dari Hogwarts.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry berusaha memandang tepat pada mata Severus. Mata itu perlahan mulai jinak, atau itulah kesan yang dia lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tahu trik yang kau mainkan waktu kau mengirim Neville dan teman-teman padanya sebagai hukuman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan ia mengusap-usap bahu Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng pelan. “Aku tak bisa bertemu mereka lagi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus terdiam. Lalu menarik napas panjang. “Ini Wizengamot. Kau tahu sendiri untuk apa aku ada di sini. Aku tinggal menunggu vonis—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry melepaskan tangannya dari bahu Severus. Dipandangnya sejenak, sebelum ia merogoh saku dalam jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulungan perkamen dari Kingsley tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberikannya pada Severus, tanpa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus memandang Harry lama sekali sebelum ia menerima gulungan perkamen itu. Hati-hati, pelan-pelan, dibukanya, seolah akan meledak jika terlalu cepat membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkat wajahnya, dan ditatapnya wajah Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mencoba tersenyum, walau ia tak tahu ia harus tersenyum atau menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus masih tak percaya, dibacanya lagi berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata hitamnya mendadak melebar mendengar panggilan itu. Benarkah panggilan itu ditujukan padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—mari kita pulang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah ada yang mau mengatakan bahwa suara itu adalah nyata, real. Bahwa suara itu seakan mengatakan seolah mereka berasal dari tempat yang sama dan sekarang akan kembali ke tempat yang sama. Bersama-sama. Pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi suara itu mengulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad, mari kita pulang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—pulang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk. “Spinner’s End. Atau Hogwarts. Yang manapun yang kau mau—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi suara itu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu indah untuk menjadi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There'll come a day when you're losing your way And you won't know where you belong They say that home is where the heart is So follow your heart and know that you can't go wrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you feel you lost And on your own And far from home You're never alone you know Just think of your friends The ones who care They all will be waiting there&lt;br /&gt;[Your Heart Will Lead You Home – Kenny Loggins/Ost Tigger Movie]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;EDIT TO ADD&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPILOG:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daaaaaad!” jeritan seorang anak laki-laki mengisi seluruh ruangan. Berikut kemudian si empunya suara menerobos dapur dari pintu belakang, terus ke ruang depan di mana si ayah sedang membersihkan Firebolt-nya. Benar-benar rajin, sepulang kerja ia membersihkan Fireboltnya dulu sebelum membersihkan diri. Katanya, agar ia bisa dengan cepat mengejar penjahat-penjahat itu, maka diperlukan sapu yang terawat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi si ayah tenang-tenang saja, meluruskan ujung-ujung sapu kebanggaannya itu. “Ada apa, Jimmie?” katanya tenang. Sapunya sudah bersih, dimasukkannya ke lemari sapu di bawah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Grandpa. Tidak. Adil,” sahutnya sambil terengah-engah, “—Grandpa benar-benar tak adil, Dad! Ia mengijinkan Al ikut membuat Ramuan, malahan katanya ia akan disuruh mengaduk Ramuan, sedang aku disuruhnya belajar Arithmancy atau Rune saja di kamar—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah malah meluruskan posisi kacamatanya, “—kalau aku tak salah dengar, ada sesuatu yang kau perbuat di kamar kerja Grandpa kemarin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh—“ pemuda kecil itu tersipu-sipu, “—sedikit. Hanya menumpahkan Ramuan Grandpa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan kau juga memasukkan bubuk kepala kecoa dalam Ramuan yang lain, belum lagi meledakkan kuali di ruangan bawah tanah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda kecil itu benar-benar salah tingkah sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry merendahkan badannya, posisinya berlutut hingga kini tingginya hampir sama dengan tinggi James, “—kukira sebaiknya kau membantu ibumu saja bersama Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“APAA? Tapi mereka sedang mencoba resep masakan baru, masa’ aku—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry berdiri lagi sekarang, mengangkat ranselnya yang berat dan membawanya ke ruang tengah. “Kalau begitu, sebaiknya kau turuti perintah Grandpa saja untuk belajar Arithmancy—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: males untuk bikin huruf italic, nanti aja di FFn ya?&lt;br /&gt;*ditabok*&lt;br /&gt;Hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS wordcount: 2483&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total NaNo wordcount: 23890&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: 35000&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyah! Semakin jauh! Tapi nanti malem mau dicoba dikejar *terengah-engah* Oya, total wordcount untuk &lt;strong&gt;Harry Potter, dalam MS wordcount: 19147&lt;/strong&gt;. Nanti kalau mau dimasukin FFn, baru mau akan diedit. Sekarang mau kejar kata lagi :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-6322202489351276444?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/6322202489351276444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=6322202489351276444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/6322202489351276444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/6322202489351276444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-21.html' title='Hari ke-21'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2843436906016652784</id><published>2009-11-20T17:24:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T17:44:43.124-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-19 dan 20</title><content type='html'>OK, rencananya sih hari ke-20 bisa selesai, tapi ternyata ada gangguan. Mudah-mudahan hari ini bisa selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hasil hari ke-19 dan 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulrich kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh setelah menyuruh Harry duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku boleh tahu, apa saja yang ia alami selama ini sehingga bisa seperti ini?” katanya sembari memeriksa pupil mata Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang aku tahu pasti, ia digigit Nagini, ular Voldemort. Kau mungkin bisa berkonsultasi dengan Penyembuh Hippocrates Smethwyck,” Harry berhati-hati berucap, “tapi aku tak tahu apakah Penyembuh Smethwyck tahu apa yang ia lakukan waktu menyembuhkan Arthur Weasley—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulrich mencatat nama Penyembuh itu di selembar kertas dan memasukkannya ke dalam saku—terkesan serampangan, namun Harry tak mau menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?” tanya Ulrich lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh,” Harry masih merasa harus berhati-hati, “—setelah digigit, ia seperti sudah meninggal, tapi temanku mengatakan sepertinya ia menggunakan Stopper in Death—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kuduga,” Ulrich mengambil catatan rekam medik di gantungannya di sisi tempat tidur, dan memberi tanda check, “—jadi, Stopper in Death. Apakah temanmu itu menyalakan lilinnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk, tak tahu seberapa dalamnya pengetahuan obat-obatan si Penyembuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa lama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kami—kami tak tahu, karena sedang Perang, maka kami meninggalkannya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia muncul berapa jam setelah lilin dinyalakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menghitung-hitung. “Sekitar—sekitar tiga jam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke,” ia mencatat lagi, “—sekitar tiga jam, waktu yang wajar. Setelah itu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menelan ludah, berusaha tak membuat diri kelihatan penting. “Sa-saya sedang bertempur—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan Voldemort, ya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—waktu ia datang. Saya tidak memperhatikan saat Voldemort mengeluarkan Kutukannya, tapi menurut teman-teman, itu—itu Inheritus Eliminarium—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulrich berhenti mencatat, dan memperhatikan Harry secara seksama. “Inheritus Eliminarium, yang diarahkan padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk. Ia melanjutkan, “Voldemort mati, tapi saya juga kemudian tak ingat apa-apa lagi. Menurut teman-teman, saya kejang-kejang, mata terbalik, mulut berbusa—lalu Snape menukar darahnya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau masih hidup sampai sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasanya—rasanya saya belum jadi hantu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulrich memandanginya lagi dari atas hingga bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau harus mulai memperhitungkan Severus sebagai anggota keluargamu,” Ulrich menyimpan clipboard yang berisi catatan rekam medik itu di gantungannya, bersungguh-sungguh. Ia menarik sebuah kursi ke pojok ruangan, memberi isyarat pada Harry agar menarik kursinya juga ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran, Harry mengikuti kemauannya, duduk di pojok, canggung. Tak tahu harus berbuat apa, tak tahu harus berkata apa. Ulrich membuka-buka sesuatu—terlihat oleh Harry seperti catatan pasien, tapi tidak seperti rekam medik yang digantung di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kasusku yang paling menarik sejak aku ditugasi di pos Wizangamot,” Ulrich nampak sangat bergairah, “—biasanya hanya kasus terluka karena mengamuk di depan pengadilan perdata, atau pingsan karena terlalu ketakutan jadi saksi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apakah yang bisa saya bantu? Kesaksian saya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesaksianmu, barang-barang bukti yang bisa kau hadirkan, itu bawa saja ke pengadilan. Untuk kali ini, aku ingin bantuan yang lebih privat sifatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry duduk lebih tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kau dibesarkan di lingkungan Muggle, kupikir akan lebih mudah menerangkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mempelajari ilmu Muggle?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedikit—“ Ulrich menggeleng sambil tersenyum, “—sedikit ini, sedikit itu, dan terkadang suka sok tahu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau Harry juga tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dalam istilah Muggle, mereka menyebutnya nervous breakdown—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nervous break—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nervous breakdown. Biasanya depresi yang bertumpuk menyebabkan kelelahan mental, dalam waktu tertentu baik fungsi fisik atau fungsi psikis atau keduanya, tidak bekerja dengan baik—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry terdiam, citra dari Memori yang diberikan Severus padanya di Shrieking Shack berkelebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi,” Ulrich meneruskan, “karena dia dalam keadaan koma begini, kita tidak bisa menganalisis lebih lanjut—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya, mengapa dia bisa koma begini, Ulrich?” tanya Harry dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyebabnya macam-macam, bertumpuk, berakumulasi, dan dia sampai pada satu titik terendah di mana ia sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku dengar dari ceritamu, digigit Nagini, itu saja sudah satu faktor. Yang kalau untuk penyihir biasa, itu saja sudah cukup untuk membuatnya koma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum lagi di sini ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tim interogator yang begitu banyak dan melelahkan, fisik maupun psikis—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi semua peristiwa sebelumnya, yang pasti sudah disimpannya untuk sendiri saja, batin Harry getir, mengingat semua yang dilihatnya dalam Memori Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu, bagaimana kita bisa menyembuhkannya?” tanya Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulrich menggeleng pelan. “Selain membuat suasana senyaman mungkin seperti sekarang ini, tidak banyak yang bisa kita lakukan, Harry. Kita hanya bisa berharap. Nervous breakdown ditambah dengan luka fisik, bisa Nagini, peristiwa tukar darah denganmu, itu semua menguras habis staminanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menoleh ke arah di mana Severus berbaring. Perlahan ia berdiri. Berjalan ke arahnya, dan berhenti tepat di sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang selama ini paling ia benci, orang yang sudah membuat ia bersumpah untuk membunuhnya, ternyata—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Harry terjulur, membetulkan selimutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya jauh lebih pucat dari yang biasanya ia lihat. Kalau bukan karena gerakan dada sesekali yang nyaris saja ia tidak bisa lihat, mungkin ia akan percaya kalau gurunya ini sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut hal itu akan menjadi kenyataan, ia menjulurkan tangan lagi, menyentuh lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadarinya Ulrich sudah berdiri tepat di sampingnya. “Sebenarnya, kalau boleh tahu, Mr. Snape ini siapamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menggeleng. “Aku sendiri tak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenyataan bahwa ia melepaskanmu dari Kutukan Inheritus Eliminarium—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menggelang lagi, pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kutukan itu, kalau bukan dilepas oleh keluargamu, atau dilepas oleh seseorang dengan ilmu yang sangat tinggi. Dan rasanya sudah berabad-abad tak ada yang mencapai tahap bisa mengelabui Kutukan ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah dua orang yang menyatakan itu,” gumam Harry. Cepat-cepat ia membelokkan perhatian, “—bolehkah aku mengunjunginya besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap hari juga boleh. Lebih banyak perhatian, akan lebih membantu, walau secara medis-sihir, tak ada gunanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Aku datang lagi besok,” sahutnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya masih terpusat pada Severus walau ia sudah keluar ruangan. Sadar kalau ia sudah di luar, ia cepat melihat ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, sebaiknya ia bertemu dengan Kingsley lagi. Berjalan agak sedikit terlalu cepat, ia sampai di depan ruangan Kingsley, pintunya tak ditutup. Diketuknya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Harry, bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih sama dengan apa yang kau ceritakan. Boleh aku besok mengunjunginya lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu. Hm, kalau begitu, sekalian saja kau membuat kesaksian untuknya, besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Tunggu dulu, aku buatkan surat pemanggilan saksi untukmu—“ Kingsley mencari-cari formulir di tumpukan surat di mejanya yang berantakan, dapat, mengisinya dengan satu jentikan tongkat, dan menandatanganinya. “Ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks. Sampai besok pagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Hogwarts di mana Ron, Hermione, dan Ginny setia menunggu, ia menceritakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas saja lama tak ada kabar dari Wizengamot, ternyata ia koma di sana—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah fasilitas di Wizengamot cukup baik?” Hermione bertanya cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Malahan Penyembuhnya ternyata berpengetahuan cukup luas. Paling tidak, aku bisa meninggalkannya di sana dengan lega.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione memperhatikannya, lalu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya Harry, jengah diperhatikan begitu, apalagi kemudian disenyumi. Bisa-bisa Ron memancungnya :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” Hermione masih tersenyum, “—jadi ingat kalau aku dulu selalu mengingatkanmu untuk memanggilnya ‘Profesor Snape’ tiap kali kau menyebutnya ‘Snape’ saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry terpaksa tersenyum juga, pahit tetapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku ingat-ingat,” Ginny menyela, “dulu waktu ia menjadi Kepala Sekolah di sini, ia pasti tersiksa tiap kali kedua Carrow itu menjatuhkan hukuman pada murid-murid,” wajahnya muram, “—seharusnya aku heran, saat ia menghukum aku, Neville, dan Luna dengan mengirim kami ke Hagrid—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, mungkin itu resikonya menjadi mata-mata untuk kedua pihak,” sahut Harry pelan. “Hari sudah larut, dan aku ingin istirahat. Besok aku akan kembali ke Wizengamot—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ia tidak bisa dirawat di St Mungo? Atau paling tidak di Hogwarts?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menggeleng. “Statusnya masih tahanan Wizengamot, sehingga ia tidak bisa keluar dari sana. Makanya, besok aku akan memberi kesaksian, mudah-mudahan ia bisa bebas. Dan bisa kita bawa ke St Mungo, atau Hogwarts paling tidak—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling mengucapkan selamat malam, Hermione dan Ginny kembali ke ruang anak perempuan, sedang Harry dan Ron masuk ke dalam selimut masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nite—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nite—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Harry kembali ke Wizengamot, kali ini untuk memberikan kesaksian dan bukti-bukti. Pengadilan tertutup berjalan seharian penuh, tapi selesainya ia masih menyempatkan diri untuk menjenguk Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih belum ada kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setiap hari ia mengunjunginya, kadang bahkan sehari penuh ia berada di sana. Kadang ada Ulrich, kadang ia sendiri. Hermione ingin mengunjunginya juga, jadi suatu hari ia berada di sana bersama Ron, Hermione, dan Ginny. Suatu hari bahkan ada McGonagall bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ia baru datang, dan baru melewati kantor Kingsley, Kingsley memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah ada kemajuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menghela napas. “Sedikit sekali. Tapi Ulrich mengatakan, ada kemajuan sedikit itu lebih baik daripada stagnan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingsley menepuk bahu Harry. “Kemungkinan keputusan Wizengamot tentang vonisnya, bisa keluar besok. Kalau ia divonis bebas, kau bisa membawanya ke tempat yang lebih baik, apakah ke St Mungo, atau kalau kau tak percaya St Mungo, mungkin kembali ke Hogwarts—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mencoba tersenyum, “—trims, Kingsley. Aku ke sana dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingsley mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di ruangan sakit, Harry tak melihat Ulrich. Biarlah, toh ia sudah biasa ini. Seorang perawat melihatnya, dan mengatakan kalau Ulrich ada keperluan ke St Mungo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ia sendiri memasuki ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk di samping tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat wajahnya, begitu damai. Kenapa dulu tidak seperti ini penampilannya? Mungkin ia tidak akan langsung memusuhinya, tidak akan selalu membangkang pada setiap kata-katanya. Apalagi—setelah ia tahu ceritanya bersama ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ia setengah menyalahkan ibunya juga. Mengapa begitu saja menjauhkan diri, dan bahkan kemudian mengapa merapat pada James? Apakah ibunya tak pernah merasakan bahwa Snape mencintainya, bahkan hingga saat ini? Walau sedikit tanda-tanda, apakah ibunya tak pernah tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry membetulkan selimut yang sebetulnya baik-baik saja letaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napasnya teratur. Kalau saja ia tak tahu bahwa gurunya ini sedang koma, mungkin saja akan dikiranya sedang tidur biasa. Menurut Ulrich, ini saja sudah kemajuan. Biasanya napasnya tak seteratur ini, dan jaraknya juga lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ia bisa memberitahunya bahwa besok vonisnya akan jatuh. Kingsley saja sudah memberi bocoran, kemungkinan bebas. Kalau ia sudah bebas, ia mau ke mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tidak ia beritahu saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry berdeham. “Sir,” sahutnya pelan, “tadi saya bertemu dengan Kingsley. Dan ia memberitahu saya, keputusan Wizengamot akan keluar besok. Jika Anda bebas, Anda mau ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, rasanya lega mengucapkan itu. Seolah-olah mengucapkan kabar baik pada seseorang yang mampu mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ia juga menceritakan hal-hal yang sudah terjadi. Apa saja yang terjadi. Siapa saja yang tewas dalam Perang Besar kemarin—ia agak tercekat menyebutkan Fred, Remus, Tonks, dan Colin—bahwa mereka semua dimakamkan di Hogwarts. Bahwa mereka akan kembali bersekolah lagi seperti biasa 1 September nanti. Tapi McGonagall masih belum bisa menemukan guru Ramuan—Horace Slughorn bersikeras akan mengundurkan diri, janjinya pada Dumbledore dulu hanya sebatas bantuan hingga Voldemort jatuh—dan juga guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Mungkin para Auror akan ada yang ditunjuk sebagai guru tamu, dan Kingsley mungkin mau memberikan Kuliah Umum Pertahanan terhadap Ilmu Hitam untuk semua kelas, tapi mereka kan sibuk, sehingga tidak bisa diharapkan menjadi guru tetap—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa hari sudah sore. Rasanya cepat sekali. Padahal ia rasanya hanya bercerita saja, tak melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pulang dulu,” sahutnya sambil berdiri. “Besok aku ke mari lagi. Mudah-mudahan Kingsley benar, Wizengamot mengeluarkan keputusannya besok.” Agak bimbang ia mengucapkannya, “—kalau keputusan sudah keluar, apakah Anda mau di Hogwarts saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tak ada jawaban, tapi Harry merasa lega sudah mengucapkannya. Ia menyentuh selimutnya, di bagian tangan. Halus saja, nyaris tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar. Di luar sudah ada Ulrich, yang mengangguk sambil tersenyum. “Bagus juga terapi-mu. Kenapa tidak terpikir dari dulu ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tersenyum kecil. “Aku juga tidak terpikir. Hanya spontan saja, kukira. Aku pulang dulu, Ulrich!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total kedua hari ini: 1814&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NaNo Wordcount: 21474&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: Euh ... 33334 *nyengir*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ayo! Semangat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2843436906016652784?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2843436906016652784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2843436906016652784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2843436906016652784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2843436906016652784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-19-dan-20.html' title='Hari ke-19 dan 20'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-4378656967514374368</id><published>2009-11-18T17:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-18T18:03:48.952-08:00</updated><title type='text'>Hari 17 dan 18</title><content type='html'>Duuh, internet kok jadi lelet ya? Mau post aja lama T_T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, ini post hari ke-17 dan hari ke-18. Hari ke-17 cuma sekitar 1.000 kata, jadi disatuin aja, selain karena internetnya menyebalkan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu menuju benteng menjeblak terbuka sekali lagi dan di sana berdiri Severus, tongkat sihirnya tercengkeram di tangan ketika mata hitamnya menyapu pemandangan itu, dari tubuh Dumbledore yang merosot di tembok, ke empat Pelahap Maut, termasuk si manusia serigala yang marah, dan Malfoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita punya masalah, Snape,” kata si gendut Amycus yang mata maupun tongkat sihirnya tertuju ke Dumbledore, “anak ini tampaknya tak sanggup—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada orang lain yang memanggil nama Severus, cukup pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Severus ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu menakutkan Harry lebih dari segala yang telah dialaminya malam itu. Untuk pertama kalinya, Dumbledore memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tidak berkata apa-apa, namun berjalan maju dan mendorong Malfoy dengan kasar agar menyingkir. Ketiga Pelahap Maut mundur tanpa kata. Bahkan si manusia serigala tampak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Severus memandang Dumbledore, dan kejijikan serta kebencian terpahat pada garis-garis keras wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Severus ... tolong ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangkat tongkat sihirnya dan mengacungkannya tepat ke arah Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Avada Kedavra!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancaran sinar hijau meluncur dari ujung tongkat sihir Severus dan menghantam Dumbledore tepat di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gerak cepat ia membuat Draco dan Pelahap Maut lainnya keluar dan berlari. Berlarian mereka menuju titik Apparation terdekat, seperti rencana. Sekilas ia melihat Harry muncul, nampaknya dari Jubah Gaibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah mendekati titik Apparation. Pondok Hagrid, gerbang, dan sampailah sudah. Tinggal ber-DisApparate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada satu penghalang. Potter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa harus menghadapinya. Ia dan Potter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu melancarkan Kutukan-Kutukan, yang semua bisa dipatahkan. Sudah bisa dibayangkan. Dengan kemampuan yang hanya sedang-sedang saja, dengan emosi yang meluap-luap. Semua mudah dipatahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Pelahap Maut mungkin merasa Severus terlalu memberi hati, melancarkan Crucio pada Potter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu terjungkal di atas rerumputan, kesakitan terbayang jelas di wajahnya. Tidak—tidak boleh. Dumbledore memberikan instruksi untuk menjaga sekolah ini, Pangeran Kegelapan memberi instruksi untuk meninggalkan Potter—ia bagian Pangeran Kegelapan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan!” raung Severus, menghentikan Kutukan itu. Nampaknya kesakitan itu pun berhenti, dan Potter berbaring meringkuk di rerumputan, mencengkeram tongkat sihirnya dan tersengal-sengal. “Kau sudah lupa perintah yang diberikan pada kita? Potter milik Pangeran Kegelapan—kita harus meninggalkannya! Pergi! Pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pelahap Maut mematuhi, berlari ke arah gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Potter mengejarnya. Bahkan menyerangnya dengan Kutukan-Kutukan yang dibuat oleh Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, Dumbledore sudah menginstruksikan agar jangan menghiraukan Potter. Jangan menyerang. Menangkis saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi—ia anak Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangkis saja. Walau anak itu sukses membuat ia marah, tetapi ia harus menjaga emosi saat ini. Tanggung jawabnya besar. Walau ia marah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berani-beraninya kau menggunakan kutukanku untuk menyerangku, Potter? Akulah yang menciptakan kutukan itu—aku, si Half-Blood Prince! Pangeran Berdarah-Campuran! Dan kau mau menggunakan ciptaanku untuk menyerangku, seperti ayahmu yang licik, ya? Tak akan kubiarkan ... tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu berusaha menyambar tingkat sihirnya. Severus meluncurkan kutukan dan tongkat itu terbang beberapa meter jauhnya ke dalam kegelapan dan menghilang dari pandangan. Hanya tangkisan, tidak boleh serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anak itu tak kenal takut. “Bunuh aku, kalau begitu,” sengalnya, terlihat ia sama sekali tidak merasa takut, hanya marah dan jijik. “Bunuh aku seperti kau membunuhnya, pengecut—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi Severus benar-benar naik saat ini, “JANGAN—“ jeritnya, wajahnya mendadak liar dan bengis, semua emosi tercampur aduk, “—SEBUT AKU PENGECUT!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidka boleh menyerang, tidak boleh menyerang, dan ia menebas udara. Seekor Hippogriff turut campur, dan Severus menggunakannya sebagai pengalih perhatian agar bisa ber-Disapparate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Hogwarts, tempat yang membuatnya merasa nyaman. Jadi, inilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore sudah memberi peringatan di awal tahun ajaran. Ia akan memberikan mata pelajaran yang sudah dari dulu diinginkan oleh Severus, Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, tapi ia memberi tahu sesuatu. Kenapa dari dulu Severus tidak diberikan mata pelajaran ini? Karena mata pelajaran ini dikutuk oleh Pangeran Kegelapan, setiap guru tak akan bertahan lebih dari setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berlari mendekati para Pelahap Maut yang sudah jauh mendahuluinya, Severus tersenyum pahit. Jadi itulah sebabnya, Dumbledore tak pernah memberinya posisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menepis bayangan Dumbledore. Sebentar lagi ia akan menghadap Pangeran Kegelapan, ia harus menutup semua pikirannya tentang Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirkan saja tentang penyerangan tadi. Pikirkan—Potter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, Potter tentu sedih atas kematian Dumbledore. Jelas ia akan menyerangnya, membunuhnya kalau bisa. Tapi, mengapa ayah dan anak sama saja, menyerang menggunakan Kutukan yang ia ciptakan? Mengapa tidak menciptakan sendiri, dasar moron! Dan Potter junior ini, dengan kepandaian yang sedang-sedang saja, bagaimana ia bisa membunuh Pangeran Kegelapan dengan kualitas sihir yang menyedihkan itu? Belum lagi Potter mengabaikan pelajaran Occlumency yang harus ia berikan, dan memudahkannya untuk membaca Kutukan apa saja yang akan dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menarik napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai sekarang, ia harus menutup pikirannya lebih rapi lagi. Tidak seperti beberapa bulan kemarin, ia hanya perlu menutup pikiran saat menghadap Pangeran Kegelapan, mulai saat ini kemungkinan besar ia harus lebih sering berada di Riddle’s House. Berarti ia harus lebih rapat menutup pikirannya, memilah pikiran mana yang akan dipamerkan untuk diterobos oleh Pangeran Kegelapan, pikiran mana yang harus ia simpan rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menutup matanya sejenak. Mengatur pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia menyusul rekan-rekan Pelahap Mautnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, kita ke Riddle’s House!” perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekannya mengangguk, dan mereka ber-DisApparate nyaris bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Riddle’s House, Pangeran Kegelapan sudah menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, siapa yang harus diberi selamat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malfoy gagal,” Amycus masih terengah-engah, langsung nyerocos. Jelas-jelas ia ingin terlihat eksis, cari muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan—“ Pangeran Kegelapan menunggu lanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Snape yang melakukannya. Dumbledore sudah mati,” sambung Amycus berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh?” Pangeran Kegelapan tidak terlihat kaget, rupanya ia sudah menduga. Ia maju mendekati Severus, yang menunduk, membungkuk, sambil terus berharap pikirannya tertutup dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang Mulia,” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Severus, sahabatku,” Pangeran Kegelapan tersenyum, “—kalau tak ada kau, entah bagaimana mereka bisa melakukan rencana itu dengan benar. Hanya sebegitu saja sudah tidak becus,” Pangeran Kegelapan memegang bahunya, “—ikutlah aku,” dan ia masuk ke ruangan di sebelahnya, mengacuhkan Pelahap Maut yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti Pangeran Kegelapan, Severus masuk ke ruangan remang itu, berdiri sedikit di belakangnya, menunggu titah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin kau kembali ke Hogwarts,” sahut Pangeran Kegelapan, agak pelan agar Pelahap Maut di ruangan sebelah tak mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana titah Yang Mulia,” Severus membungkuk. Seperti apa yang sudah diduga oleh Dumbledore, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pecinta Muggle itu sudah jatuh. Kau tentu bisa memimpin sekolah itu. Kita jadikan basis untuk pendidikan para calon Pelahap Maut,” mata Pangeran Kegelapan berkilat saat mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau boleh beristirahat. Jangan lupa, nanti siapkan kurikulum untuk sekolah kita. Mungkin—“ Pangeran Kegelapan nampak berpikir, “—aku akan tambahkan guru-guru baru untuk membantumu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau boleh pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus membungkuk dalam-dalam, dan mundur sampai di pintu, barulah ia berbalik. Tak memandang Pelahap Maut yang lain, ia berjalan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris setahun ia menjadi Kepala Sekolah Hogwarts. Tapi sekarang, ia tahu saatnya sudah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menyelipkan tongkatnya, dan berbalik menghadap Lukisan Dumbledore. “Aku rasa, Pangeran Kegelapan sudah akan masuk ke kompleks Hogwarts,” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore mengangguk. “Pergilah. Semoga spirit Merlin menyertaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menghela napas. “Aku pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya, kenapa ia mendekati orang yang sekarat itu: ia tidak tahu apa yang dirasakannya ketika ia melihat wajah pucat pasi Severus, dan jari-jari yang berusaha menyumbat luka berdarah di lehernya. Harry melepas Jubah Gaib dan emnunduk memandang orang yang dibencinya, yang matanya melebar menemukan Harry ketika ia berusaha bicara. Harry membungkuk di atasnya, dan Severus menyambar bagian depan jubahnya dan menariknya mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara serak berdeguk menyeramkan keluar dari tenggorokan Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil ... ini ... Ambil ... ini ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu selain darah keluar dari Severus. Biru keperakan, bukan gas bukan pula cairan, mengalir keluar dari mulutnya dan telinganya dan matanya, dan Harry tahu apa itu, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah botol, disihir dari ketiadaan, disorongkan ke tangannya yang gemetar oleh Hermione. Harry memasukkan zat keperakan itu ke dalamnya dengan tongkat sihirnya. Ketika botolnya sudah penuh, dan Severus sepertinya sudah kehabisan darah, cengkeramannya pada jubah Harry mengendur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tatap ... lah ... aku ...” ia berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata hijau bertemu mata hitam, tetapi selewat sedetik sesuatu dalam kedalaman sepasang mata hitam itu menghilang, meninggalkan mata itu kosong dan hampa. Tangan yang memegang Harry berdebam ke lantai, dan Severus tak bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry bergerak refleks menyangga agar badan Severus tidak terjatuh. Tapi ia tak tahu apa yang harus dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hermione—“ bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione dan Ron bersamaan keluar dari Jubah Gaib dan mendekatinya, berlutut di samping Severus. Memberi isyarat agar Harry tidak menghalangi, Hermione memeriksa denyut jantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita baringkan saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk. Pelan ia berusaha memangku Severus—tidak seberat perkiraannya—dan membaringkannya di ranjang setelah Hermione menepuk-nepuk debunya. Kemudian Hermione melkanjutkan lagi usahanya memeriksa denyut jantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menghela napas. “Aku tak tahu, Harry, aku pernah membacanya, tapi belum pernah melihatnya dalam kenyataan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi ia hidup atau mati?” sergah Ron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia belum mati. Tapi tanda-tanda kehidupannya tipis sekali. Aku curiga ia menggunakan—Stopper in Death—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stopper—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stopper in Death. Yang ia katakan waktu kelas satu dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, benar-benar ada obat untuk menghidupkan orang mati?” Ron bertanya bego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan menghidupkan orang mati, Ron. Orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup lagi. Ini cara kerjanya, menghambat faktor-faktor kematian, seperti ditusuk pisau, dan sebagainya. Kasus Profesor Snape ini, dipatuk ular—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron mendengus ketika Hermione menyebut Snape sebagai Prefesor Snape, tapi Harry sudah tak menghiraukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, apa yang harus kita lakukan, Hermione?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stopper in Death ini bekerja dalam dua bagian. Pertama, Profesor Snape pasti sudah meminum bagian pertamanya. Lalu ia dipatuk ular. Nah, berikutnya, ia harus meminum bagian keduanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan tangan Harry meraba jubah Severus. Di bagian sakunya, ia menemukan beberapa tabung kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mana, Hermione?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan tabung, Harry. Seperti kotak kayu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mencari lagi. Ia memperoleh sebatang kayu, pejal, sekitar tiga kali sepuluh sentimeter, dan diberikannya pada Hermione. “Yang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione mengangguk, menyambarnya, dan menarik salah satu ujungnya. Ternyata kayu itu berrongga, dan berisi cairan. Hermione meminumkannya pada Severus, hati-hati, karena otot rahangnya sudah tak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis cairan, ia menutup lagi rongga kayu, dan ganti membuka ujung yang satu lagi. Menggosokkannya di lantai, dan menyala! Nampaknya seperti terbuat dari bahan lilin, malam, atau semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione meletakkannya di atas lantai, menjauhkannya dari barang-barang yang mudah terbakar. Apinya memang kecil, tapi siapa yang tahu—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apinya kecil,” sahut Hermione, seolah bisa membaca pikiran Harry dan Ron, “—api itu justru memberikan gambaran pada kita, seberapa banyak kita bisa mengharap kehidupannya. Sejalan dengan masuknya obat tadi ke dalam sistem pencernaan, kemudian ke sistem peredaran darah, kuharap apinya akan makin membesar—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita tinggalkan di sini, tidak akan apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione mengangguk. “Tak ada yang tahu kalau ia ada di sini, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk. “Lagipula, keadaan di luar masih berbahaya. Sedangkan kita masih harus mengerjakan tugas-tugas yang lain—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione mengangguk. Melihat sekali lagi pada tubuh Severus yang masih terdiam. Lalu ia berdiri. “Ayolah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar dari ruangan diikuti Ron dan Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengeratkan pegangan pada tongkat Hawthornnya. Inilah akhirnya. Inilah penentuan. Dan ia mau tak mau harus menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, segalanya tergantung ini, kan?” bisik Harry. “Apakah tongkat sihir di tanganmu tahu pemiliknya yang terakhir sudah dilucuti senjatanya? Sebab kalau dia tahu, akulah pemilik sebenarnya Tongkat Sihir Elder itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendar merah keemasan tiba-tiba menebar di langit sihir di atas mereka, ketika tepi matahari yang menyilaukan muncul di atas ambang jendela yang terdekat. Cahayanya menimpa wajah mereka berdua pada saat bersamaan, sehingga wajah Voldemort mendadak menjadi kabur menyala. Harry mendengar suara tinggi itu memekik ketika ia, juga, meneriakkan harapannya yang terbaik ke langit, mengacungkan tongkat sihir Draco:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inheritus Eliminarium – Avada Kedavra!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Expelliarmus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaaaaaaaaak!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir terperangah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letusannya seperti ledakan meriam dan lidah api keemasan yang berkobar di antara mereka, persis di pusat lingkaran yang mereka tapaki, menandai tempat kedua mantra—mantra yang dua—itu bertabrakan. Sebelum Harry sadari, salah satu mantra Voldemort melesat, langsung menuju ke arah Harry. Dalam gerak lamban terlihat, semburan cahaya hijau Voldemort bertemu mantranya sendiri, melihat Tongkat Sihir Elder terbang tinggi, gelap dilatarbelakangi matahari terbit, berputar menyeberangi langit-langit sihir seperti kepala Nagini, berputar di udara menuju majikan yang dia tak mau membunuhnya, yang telah datang untuk menjadi pemilik sahnya akhirnya. Harry dengan ketangkasan seorang Seeker, menangkap tongkat itu dengan tangannya yang bebas. Sementara Voldemort jatuh terjengkang, lengannya merentang, mata merahnya terbalik ke atas, dan pada saat itu juga kilasan mantranya yang terakhir menyambar tubuh Harry. Harry bagai tercekik, terhenti berdiri kaku, kemudian rubuh juga di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi ruangan, Severus berdiri tertatih ditopang tongkatnya, mendekati Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuh rendah. Sebagian merasa tak percaya, Voldemort sudah jatuh. Sebagian lagi juga tak percaya bahwa Harry juga jatuh. Dan, sebagian kecil mempertanyakan, apa yang dilakukan Severus di sini, mendekati tubuh Harry?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat jelas bahwa Harry tidak terbunuh, tapi mungkin saja akan mati dalam beberapa saat, karena ia kemudian menjadi kejang-kejang. Kedua matanya terbuka tapi tak melihat apa-apa, terbalik dengan bagian putih menutupi bagian yang hijau. Jika dilihat dari dekat, di ujung bibirnya ada sedikit busa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HARRY! HARRY!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, HARRY!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas ada Molly, Ginny, Ron, dan Hermione berlari mendekati Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anggota Order yang juga Auror—di antaranya Kingsley—bergerak cepat mendekati Severus, mencoba menangkapnya. Tapi Severus dengan gerak secepat kilat, membentuk udara menjadi setajam pisau, memotong tipis pergelangan tangan Harry, urat nadi Harry, sebelum ia memotong juga urat nadinya sendiri, dan menyatukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejang-kejang itu berhenti. Mata Harry kembali normal. Ketiga Weasley mengerumuni Harry, berikut Hermione yang menghentikan pendarahan di pergelangan Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingsley memegang bahu Severus, “Kami menginginkan keterangan darimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara, Severus berdiri, memegang pergelangan tangannya untuk menghentikan darah yang keluar, dan mengikuti Kingsley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Rumah Sakit hening. Hening yang dipaksakan. Apalagi di suatu ruangan yang terpisah dari pasien-pasien yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbaring, diam dengan gerakan bernapas teratur yang perlahan. Di sisi pembaringan, Ginny duduk di kursi, pandangannya tak lepas dari si pasien. Kalau bisa sih, tidak usah berkedip ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak jauh, Ron duduk canggung, tak berbuat apa-apa. Di sebelahnya, Hermione sedang sibuk membuka-buka buku, mencari sesuatu. Dekat pintu, suami istri Weasley. Dalam diam Arthur merangkul istrinya, mengelus-elus bahunya. Terkadang pintu terbuka. Dengan suara pelan, George, atau Neville, atau Luna, atau siapapun, melongokkan kepala dan bertanya, ‘sudah ada kemajuan?’ dan kembali menghilang jika yang di dalam kamar menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menghela napas. Bukunya ditutup dan disimpan di atas tumpukan. Rupanya selama itu, ia sudah mencari di buku sebanyak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak berhasil menemukan Kutukan yang diucapkan Voldemort,” suaranya lirih. “Mungkin di Restricted—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa, Hermione,” bisik Ginny, “—jangan menyalahkan dirimu. Kau juga lelah, sama dengan kita semua—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin—“ Arthur mencoba mengusulkan, “—kita bisa minta ijin pada Minerva untuk mencari di Restricted Section?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada yang menjawab, pintu terbuka lagi dengan hati-hati. McGonagall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum ada kemajuan?” tanya penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah—apakah aku bisa mencari di Restricted Section, Profesor?” tanya Hermione hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McGonagall memandangnya sejenak sebelum mengangguk. “Oke. Pergilah mencari di sana. Bilang pada Irma, aku memberimu ijin—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai tersambar kilat, Hermione melesat menghilang ke Perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McGonagall mendekati tempat tidur Harry, dan memandangnya lama-lama. Menghela napas. “Sebenarnya kau itu kena Kutukan apa sih?” lebih terdengar prihatin daripada bertanya. Lalu ia berusaha membuat kronologi versinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Voldemort mengirim Avada Kedavra pada Harry. Harry mengirim Expelliarmus untuk mengambil tongkatnya. Avada-nya Voldemort berbalik menyerang dirinya sendiri. Tapi ada satu Kutukan yang ia katakan sebelum Avada Kedavra, dan Kutukan apakah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada di situ menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, Severus masuk dan—dan mengiris nadi Harry, menempelkan nadinya sendiri di sana. Tukar darah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kita bisa mencari informasi dari Severus?” Molly berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McGonagall menggeleng. “Belum ada berita lagi dari Wizangamot. Biasanya, mereka sedang mengadakan tanya jawab intensif, dan belum selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helaan napas di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbuka lagi. Madam Pomfrey masuk, memeriksa lagi keadaan Harry. Semua mata memandangnya. Tapi ia menggeleng perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua luka di permukaan sudah menjelang sembuh. Dan dari pemeriksaanku, tidak ada luka lagi, baik luka fisik maupun luka sihir. Tapi kenapa dia belum bisa sadar saja ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke,” McGonagall mengambil keputusan, “—kita gantian saja menunggui Harry. Yang lain, istirahat dulu. Kita belum tahu kapan ia sadar, bagaimana menyadarkannya. Jadi, kita harus menyimpan stamina—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madam Pomfrey mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthur menepuk bahu Molly, “—lebih baik kau istirahat dulu. Sekarang biarkan Ginny yang menunggui, nanti gantian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tak rela, Molly kemudian menurut, mengikuti Arthur pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau juga mending istirahat dulu, Ron,” sahut Ginny, “—nanti gantikan aku—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela napas, Ron mengangguk. “Oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah berganti malam ketika Hermione masuk, lusuh dan lelah. Di tangannya ada sebuah buku tua, yang dari penampilannya terlihat memprihatinkan, kemungkinan jika ditiup sedikit saja halaman-halamannya akan berhamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron yang baru saja akan menggantikan Ginny, memberikan sebuah kursi untuk Hermione. “Duduklah dulu. Ada hasil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione duduk dan menerima segelas air yang disodorkan Ginny, dihabiskan sekali teguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada,” sahutnya, membuka halaman yang sudah ditandai. “Mantranya-- Inheritus Eliminarium.” Ia menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron mencoba melihat halaman yang dibuka Hermione, tapi langsung mundur menyerah karena hurufnya Rune. “Ceritakan saja—“ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menelan ludah, “Mantra ini diciptakan untuk membunuh secara tak langsung. Disebut juga Mantra Pembunuh Yatim Piatu. Begitu Mantra dirapalkan, sasaran akan kejang-kejang, mata terbalik, keluar busa dari mulut—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika mantra ini dirapalkan padamu—“ Hermione memandang Ron, “—kau takkan apa-apa, karena kau masih punya ayah, ibu, kakak-kakak, adik. Mereka tinggal mengiris nadi mereka, mengiris nadimu, lalu menyatukannya. Tukar darah. Sejenak saja, sudah cukup. Kejang-kejang, mata terbalik, busa dari mulut, akan berhenti. Memang kau masih akan pingsan sekitar tiga sampai lima hari, tapi itu hanya agar darah bisa menyesuaikan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione memandang Harry lagi, “—tapi kalau si korban sama sekali tak punya keluarga—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—ia akan mati?” Ginny berbisik ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiam. Hermione kemudian berbisik lagi, “—yang aku herankan, Harry—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron memandangnya, yang terdiam beberapa lama. “Harry kenapa, Hermione?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat sendiri. Gejala-gejalanya ada semua. Ia kejang-kejang, matanya terbalik, mulutnya mengeluarkan busa. Lalu, Snape mendekatinya dan melakukan tukar darah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan semuanya berhenti. Harry masih pingsan, tapi menurut Madam Pomfrey, tak ada apa-apa yang haurs dikhawatirkan pada dirinya—“ Ginny menyahut pelan, tak fokus. “Apakah—Snape masih ada hubungan saudara dengan Harry?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menggeleng. Ron menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiam beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron menghela napas. “Kalian istirahat sajalah. Ginny, nanti kalau ada apa-apa, aku akan langsung membangunkanmu. Hermione, kau juga. Kau sudah lelah mencari data—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua gadis itu berdiri ogah-ogahan. “Baiklah.” Jarang-jarang mereka sepatuh itu pada Ron, tapi ia memang benar, mereka sudah lelah.&lt;br /&gt;“Masalah ini—“ Hermione berhenti sejenak sebelum mereka keluar dari kamar, “—jangan dibicarakan dulu dengan orang lain ya? Katakan saja bahwa Harry akan selamat, tak ada penyakit atau apa begitu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron dan Ginny mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian mereka silih berganti menjaga Harry, dan memang nampak kemajuan. Kalau dilihat-lihat, Harry nampak seperti sedang tidur saja, bukan sedang pingsan. Hal ini memang melegakan. Walau ada hal yang ganjil, namun mereka mencoba mengesampingkannya. Biarlah ditanyakan pada Harry kalau ia bangun nanti, atau mungkin bahkan pada Snape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, Ginny akan menggantikan Ron menunggui. Tapi di ruangan juga ada Hermione, ada George, ada Neville, ada Luna. Mereka sedang bercakap-cakap dengan suara rendah, ketika Ginny melihat pada Harry dan berseri-seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia bangun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengejap-ngejapkan mata, silau oleh terangnya ruangan. Ia mencoba bangun, duduk. Tadinya akan dicegah Ginny, tetapi karena merasa Harry bersikeras, ia membantunya duduk. Ginny memakaikan kacamatanya, dan mengambilkan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada—ada apa?” Harry melihat berkeliling, “—aku kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pingsan setelah membinasakan Voldemort,” sahut Ron, wajahnya ceria. “Bagaimana perasaanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry terdiam sejenak, tetapi ia menjawab pendek. “Baik. Kurasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madam Pomfrey!” sahut Hermione, dan ia melesat ke kantor Madam Pomfrey untuk memberitahunya. Dalam waktu sedetik ia sudah kembali bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat lamanya Madam Pomfrey memeriksanya, dan nampaknya ia puas. “Kau masih akan kutahan semalam di sini untuk observasi, tapi semuanya baik-baik saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bersorak. Bahkan Madam Pomfrey pun tak meletakkan telunjuk di bibir sebagai pertanda harus diam. Tapi kemudian ia kerepotan sendiri karena kemudian pengunjung tak henti-hentinya datang, semua ingin melihat The Boy Who Save Us Once More. Akhirnya, di sore hari, ia memasang tanda ‘Dilarang Masuk’ di depan kamar Harry, agar Harry bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar sekarang hanya ada Ron, Hermione, dan Ginny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergilah kalian juga tidur,” sahut Harry, “aku kan hanya semalam ini, besok aku sudah bisa bersama kalian la—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan,” sahut Hermione serius. Ia melihat ke arah pintu, berharap Madam Pomfrey tidak akan datang dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa? Kalian begitu seriusnya? Seperti di masa Voldemort masih hidup saja—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini memang serius, Harry. Setidaknya, untukmu,” Hermione mengeluarkan buku kuno bertuliskan Rune yang kemarin dibacanya. “Aku bilang pada McGonagall, Harry tidak menderita apa-apa, dan ia percaya. Tapi—“ ia membuka halaman yang sudah ia beri tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih, kau tahu aku tidak bisa membaca Rune—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau perhatikan, Voldemort mengucap mantra apa sebelum Avada Kedavra?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—aku tidak perhatikan. Yang menjadi pusat perhatianku adalah Tongkat Elder itu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini,” Hermione menunjuk huruf Rune di buku, “—adalah Mantranya. Inheritus Eliminarium.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inheri—Mantra apakah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron menyela, “Pada pokoknya sama saja dengan Avada Kedavra, kecuali kalau kau punya keluarga. Kalau seseorang dikenai Mantra itu, dia akan kejang-kejang, mata terbalik, mulut berbusa, tak lama dia akan mati. Yang bisa menolongnya adalah yang mempunyai hubungan keluarga dengannya, ayah, ibu, kakak, adik—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—tapi aku sudah tak punya keluarga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah yang menjadi pertanyaan kami. Begitu kau kejang-kejang, Snape—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Snape? Kita melupakannya di Shrieking Shack—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Ia bangun sendiri, datang ke Aula Besar, tepat saat kau dan Voldemort saling bertukar Mantra itu. Dan ia mendengar sendiri apa yang diucapkan oleh Voldemort,” ujar Hermione.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“La-lalu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mulanya tak mengerti, tapi ia langsung mendekatimu, mengiris nadimu hingga keluar darah, mengiris nadinya sendiri, dan menempelkan nadinya pada nadimu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tukar darah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Ya. Kau berhenti kejang, dan pingsan selama empat hari ini. Madam Pomfrey tak menemukan ada apa yang salah dengan dirimu. Aku mencari di Restricted Section atas ijin McGonagall, dan menemukan buku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kalian tidak memberi tahu siapa-siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermione menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian bilang apa pada McGonagall?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bilang, itu gejala wajar, dan sebentar lagi juga kau akan sadar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menyandarkan diri di kepala tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fakta yang jelasya,” Hermione mengurai, “Snape adalah keluargamu, atau ia punya ilmu yang cukup tinggi sehingga bisa menipu sensor keluarga dalam Mantra itu, dan menyelamatkanmu. Keluarga atau bukan, ia menyelamatkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Harry menyisir rambutnya, yang segera saja berantakan lagi. “Ia menyelamatkanku dalam entah berapa kesempatan,” suaranya pelan, dalam, seperti sedang berpikir. “Memori yang ia berikan—“ ia memandang Ginny, Hermione, dan Ron, “kalian jangan bilang siapa-siapa ya? Aku sudah bertekad akan menutupinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara yang muram ia menceritakan bahwa ibunya sudah berteman dengan Snape sejak kecil, sejak sebelum masuk Hogwarts. Mudah untuk melihat bahwa Snape jatuh cinta padanya. Lalu pada keinginan Snape untuk membuktikan bahwa penyihir itu lebih baik dari Muggle—dendamnya pada ayahnya—membuat ia dibenci Lily. Lily kemudian menikah dengan James, Snape masuk Pelahap Maut, dan terjadilah malam 31 Oktober itu. Padahal Snape sudah meminta pertolongan pada Dumbledore, masih saja gagal. Sejak saat itu juga Dumbledore meminta Snape untuk membantunya melindungi anak Lily dari Voldemort—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Hermione dan Ginny sudah basah oleh airmata, sedang airmuka Ron kini tidak lagi mengeras setiap mendengar kata ‘Snape’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau memang begitu ceritanya—“ Ron memecah keheningan, “—tidak heran kalau dia begitu benci padamu. Kau baginya adalah cerminan orang yang paling tidak disukainya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ia tetap menepati janjinya pada Dumbledore, melindungimu,” Hermione menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk. “Ia—sekarang ia ada di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling berpandangan. “Kami tidak tahu. Kemungkinan ia ada di Wizangamot. Begitu ia selesai menukar darah, Kingsley mendekatinya, dan ia dibawa pergi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry membuka selimutnya dan sudah akan bergerak, ketika Ron menahannya. “Jangan tergesa-gesa dulu. Besok pagi aku akan bertanya pada Dad, ada di mana ia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sulit, akhirnya Harry bisa dibujuk untuk tetap berada di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istirahat total malam ini, dan besok pagi-pagi aku akan tanya Dad—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah Harry mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada saat Madam Pomfrey masuk dan menyuruh mereka keluar. “Biarkan Harry istirahat. Besok juga dia sudah boleh pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah enggan Harry melepas mereka. Lalu pemeriksaan terakhir hari itu oleh Madam Pomfrey, dan ditutup dengan menyuruhnya tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Harry tak bisa tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski suasana di Wizengamot cukup ramai—masih banyak Pelahap Maut yang baru tertangkap dan sedang diadili—namun rasanya Harry dapat mendengar degup jantungnya sendiri seraya ia dan Arthur berjalan menelusuri koridor. Berbelok di ujung, ia bisa melihat sebuah ruangan dengan nama Kingsley di pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini ruangan Kingsley saat ia berada di sini. Ia benar-benar sibuk, sebentar di Kementrian, sebentar di Wizengamot, nanti siang ia harus bertemu dengan Perdana Menteri Muggle—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthur mengetuk pintu. Nyaris bersamaan pintu dibuka, seperti yang sudah ditunggu. Wajah Kingsley menampakkan kesan lelah, tapi sepertinya ia lega dengan keadaan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry. Bagaimana keadaanmu?” ia menyorongkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik,” Harry menjabat tangan Kingsley. Kingsley menyuruhnya duduk, sedang Arthur langsung saja berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih banyak pekerjaan di Kementrian,” kilahnya, dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Arthur menutup pintu, Harry langsung pada pokok permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa bertemu dengan Profesor Snape?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingsley mengusap wajahnya, kesan lelah nyata sekali terlihat. “Sebenarnya aku juga tak tahu, kau sebaiknya bertemu atau tidak—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa?” sergah Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, baiklah. Kita lihat saja,” ia memberi isyarat agar Harry mengikutinya. Harry berdiri dan membuntutinya, keluar dari kantornya, berjalan sepanjang koridor yang panjang, membelok dan menyusuri lagi koridor, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruang bercat putih berbau obat yang entah mengapa membawa kesan tak enak bagi Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu ia dibawa ke mari,” Kingsley memberi keterangan, “ia bekerja sama dengan baik. Memberi jawaban atas semua pertanyaan. Sebenarnya—“ mereka berhenti tepat di muka pintu ruangan berbau obat itu. “—sebenarnya kami melihat bahwa ia tak sehat. Namun ia menolak diobati hingga ia selesai dengan ... interogasi itu.” Kingsley menelan ludah. “Pada pertanyaan ke-seratus sekian, ia pingsan, dan hingga sekarang malah menjadi koma—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung Harry serasa meloncat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I-Ia kami temukan sudah dipatuk ular Voldemort,” sahut Harry pelan, “untungnya ia memakai Stopper in Death. Hermione yang menemukannya, membawanya kembali ke alam ini. Tapi ia bahkan belum diobati, ketika ia menemukanku saat diserang Voldemort itu, dan-dan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu. Kita akan berusaha sekuatnya untuk memulihkan ia. Tapi menurut Penyembuh di sini, ia seperti tak punya keinginan untuk sembuh lagi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry memandangnya bertanya. Tapi Kingsley tidak menjawab, ia mendorong pintu lalu masuk. Harry mengikutinya. Ada beberapa ruangan kecil lainnya di dalamnya ternyata. Mereka masuk ke salah satu ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranjang terbaring Severus. Pucat pasi, lebih dari sehari-hari. Seorang Penyembuh sedang berada di sisi ranjang, memeriksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry, ini Penyembuh Ulrich Dowsen, dia yang bertanggung jawab tentang Severus. Ulrich, rasanya kau tak perlu kuperkenalkan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulrich tertawa kecil, “Harry, semua orang tahu siapa kau. Tenang saja, tak kan kuberitahu pada siapa-siapa kau ada di sini,” tawanya sambil menjabat tangan Harry. Harry hanya bisa tersenyum, rasa hatinya sedang tak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry, kami ingin agar kau juga menjalani pemeriksaan. Kesaksian,” buru-buru Kingsley menambahkan, “karena aku tahu seperti apa Severus, aku hapal apa yang ia lakukan, tapi selama kami menginterogasinya, yang ia berikan pada kami adalah pernyataan dan barang bukti yang memberatkan, yang menyudutkan kita agar menjatuhkan vonis bersalah padanya. Aku tahu ia tidak seperti itu, tetapi tentu saja kita tidak bisa bertindak berdasarkan perasaan di Wizengamot ini. Kita harus bertindak berdasarkan bukti dan saksi-saksi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry mengangguk. “Tentu saja. Aku akan memberikan kesaksian kapan kau mau—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingsley tersenyum. “Nanti kami beritahukan lagi jadwalnya, sekarang kau bisa di sini dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk pada Ulrich, dan kembali ke kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 4455&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total NaNo Wordcount: 19486&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: 30000&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jyah, masih 10K lagi untuk bisa disejajarkan dengan daily quota!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini masih kerasa ada janggalnya, maklum ditulis secepatnya. Kemungkinan nggak akan di-publish dulu di FFn, selesai NaNo mau di-edit dulu, baru di-publish. Mungkin malah akan ada pemotongan besar-besaran, atau justru penambahan :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-4378656967514374368?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/4378656967514374368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=4378656967514374368' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4378656967514374368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4378656967514374368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-17-dan-18.html' title='Hari 17 dan 18'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-8365203116837183822</id><published>2009-11-16T00:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T00:30:49.405-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-16</title><content type='html'>OK, lumayan juga pendapatan hari ini. Kalau nanti malem bisa, mau ditambahin, tapi paling tidak ini juga udah lumayan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang kerja Horace Slughorn terang benderang, tidak temaram seperti ruang bawah tanah yang diminta olehnya sebagai ruang kerja. Sebagai magang, ia sudah berada di sini sejak sebelum Horace tiba. Mempersiapkan bahan-bahan ramuan, mengecek kesiapan alat. Nanti setelah Horace datang, mereka akan membicarakan kurikulum, dan tetek bengek yang berhubungan dengan pelajaran lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki terdengar, halus yang ini. Sepertinya wanita. Severus tidak repot-repot mengangkat wajah menengokkan kepala mengecek siapa yang datang, karena biasanya tamu untuk Horace. Tak akan ada yang mau bertamu padanya, lagipula untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Severus,” panggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah kaget, Severus mengangkat kepalanya. Madam Pomfrey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi ia menyempatkan diri ke Rumah Sakit, dan memberikan contoh Ramuan Tidur Tanpa Mimpi hasil ciptaannya pada Madam Pomfrey. Mungkin ada gunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madam Pomfrey,” sahutnya setengah sungkan. Apakah ada yang salah dengan formulanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi wajah Madam Pomfrey berseri-seri. “Sebentar lagi kau sudah jadi guru di sini, jadi panggil aku Poppy saja.” Ia memperlihatkan botol kecil contoh Ramuan yang tadi pagi ia bawa. “Formula yang luar biasa. Aku bahkan tidak memperhatikan kelemahan-kelemahan formula yang lama, dan kau memperbaikinya. Kurasa—kau bisa memproduksi agak banyak untuk persediaan Rumah Sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sering Severus bertemu dengan aura positif semacam ini, dan rasanya aura positif ini menular. Ia merasa tenang, ringan, dan yang paling penting—dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk. “Tentu saja Mad—Poppy. Akan aku buatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poppy menepuk bahunya. “Trims. Oh, itu Horace datang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horace datang dengan langkah pendek-pendek, dan senyumnya yang khas. “Oho! Ada apakah gerangan, Poppy, kau pagi-pagi sudah ada di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini,” Poppy menunjukkan botol contoh, “Severus membuat contoh perbaikan Ramuan Tidur Tanpa Mimpi, dan kurasa ia bisa mulai membuat untuk persediaan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu memang keahliannya Severus,” Horace menepuk-nepuk bahu Severus. Lalu ia berbalik lagi pada Poppy, “Poppy, aku khawatir ada sesuatu yang salah dengan Ramuan Pembalik Transfigurasi itu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu. Karenanya aku belum berani memintamu untuk membuatnya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah meminta Minerva dan Pomona untuk datang, kita bisa membicarakan—“ rupanya kedua wanita yang dibicarakan sudah terdengar datang, melangkah di tikungan dan muncul di pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Horace, ada apakah?” tanya Minerva. “Ah, Severus pagi-pagi sudah datang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk sedikit, dan meneruskan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tentang formula Ramuan Pembalik Transfigurasi. Kurasa kita bisa membicarakannya sambil menuju ke Aula Besar, sarapan, aku sudah lapar! Severus, kau tidak sarapan?” Horace mengusap-usap perutnya yang sebenarnya sudah bulat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi,” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, nanti jangan lupa menutup pintu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horace berjalan bersama ketiga wanita itu dan mulai menerangkan apa yang ditemukan salah dalam formula dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau menurutmu penelitian harus diulang, ulang saja,” sahut Minerva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poppy menambahkan, “—lagipula sekarang sudah ada Severus, dia akan bisa membantu banyak. Tadi pagi ia membuat perbaikan dari formula Ramuan Tidur Tanpa Mimpi. Kurasa—dia sangat berbakat dalam Ramuan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa juga demikian,” angguk Minerva, “—bagaimana penilaianmu mengenainya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horace mengusap dagunya. “Yang jelas, dia sangat berbakat. Kau tahu, mendiang Lily dulu juga sangat berbakat dalam Ramuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga wanita itu mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ini berbeda.” Horace berhenti berjalan, dan mulai menerangkan. “Ada orang-orang tertentu yang sangat ahli dalam menghapal. Sayangnya, golongan orang yang seperti ini selalu diberi label yang salah. Mereka disebut ‘pintar’. Padahal menghapal saja tidak cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lily sebenarnya termasuk ke dalam golongan ini, dia sangat cepat menghapal apapun yang diberikan padanya. Atau, bahkan apapun yang belum diberikan padanya, ia sudah mempelajarinya sendiri. Ditambah,” jari telunjuk Horace teracung, “—Lily ini punya bakat magis yang luas. Ia Muggleborn,” nada suaranya seperti sedikit meremehkan, “—tapi ia berbakat seolah-olah ia sudah berabad-abad ini menggunakan sihir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu Severus?” Pomona ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia itu &lt;em&gt;future learning&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Lily cepat menghapal, cepat mengasosiasikan keadaan dengan pengetahuan sudah ada dalam benaknya, maka ia termasuk dalam &lt;em&gt;past learning&lt;/em&gt;. Belajar dari masa lalu. Maksudku, dia menghapal apa yang sudah menjadi penelitian di masa lalu. Mantra yang sudah ditemukan, Ramuan yang sudah diteliti, dan sebagainya. Dia hanya tinggal menghapal—dan dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa—lalu otaknya mengasosiasikan dengan keadaan, mencari Mantra atau Ramuan yang tepat, dan &lt;em&gt;voila&lt;/em&gt;! Dia bisa menangani masalah apapun! Dia punya naluri untuk itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang Severus,” Horace menoleh-noleh dulu sejenak, meyakinkan bahwa Severus belum menyusul mereka sarapan, “—ia lebih pada—penemu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penemu? Maksudmu, sejenis Damocles dengan Ramuan Wolfsbanenya?” Pomona tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa ya,” Minerva mengangguk setuju, “sejak jaman sekolah dia selalu mencoba-coba sesuatu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah. Betul. Jadi dengan pengetahuan yang ada di kepalanya, dia akan berpikir—apakah sebaiknya X digunakan untuk Y? Apakah A bisa diolah menjadi B? Dan seterusnya. Penyihir seperti itu pasti akan melahirkan penemuan-penemuan baru, apakah itu Mantra atau Ramuan. Dahsyatnya mungkin akan seperti Damocles Belby, menemukan Ramuan Wolfsbane—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa ya, Severus mungkin akan berkembang menjadi Profesor Penemu,” Poppy menambahkan, “buktinya, tadi pagi dia bisa menemukan celah kelemahan dalam Ramuan Tidur Tanpa Mimpi, dan memperbaikinya,” ia menunjukkan botol yang sedari tadi dipegangnya. “Padahal Ramuan Tidur Tanpa Mimpi itu sudah puluhan tahun dipuji orang sebagai Ramuan Terbaik yang bisa menenangkan pasien—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horace mengangguk. “Itulah sebabnya, aku akan dengan tenang pensiun sebagai Guru Ramuan, dan menyerahkan posisiku padanya. Ia menggunakan logika untuk menyelesaikan masalah. Kalian tahu, dunia sihir perlu penyihir seperti dia. Dunia sihir akan &lt;em&gt;stagnan&lt;/em&gt; jika kita tidak punya penyihir sejenis Severus—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga penyihir wanita itu mengangguk-angguk setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah sampai di Meja Tinggi, dan menyebar ke kursi masing-masing. Meja para siswa pun sudah mulai penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore pun sudah ada. Ia menoleh sejenak pada Horace, sepertinya akan bertanya tentang sesuatu, tapi tak jadi karena di pintu ia melihat Severus juga sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmukanya tak terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mulai makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginannya adalah menghindar sejauh mungkin dari Dumbledore, tapi untuk keheranannya yang sangat, Severus menemukan seekor burung hantu di puncak gantungan mantel di ruang bawah tanahnya. Tak mempertanyakan bagaimana caranya seekor burung hantu bisa masuk ke ruang bawah tanah, ia justru penasaran akan pengirim suratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albus Dumbledore menginginkan kehadirannya setelah kelas selesai, di kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, dia adalah Kepala Sekolah. Seenggan apapun, ia terpaksa melangkahkan kakinya ke kantor Kepala Sekolah sore itu. Mengucapkan kata sandi pada gargoyle penjaga pintu, dan ia pun masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Severus. Duduklah.” Dumbledore nampak sedang menulis sesuatu. Diselesaikannya dulu tulisannya, disimpannya pena bulunya, digulungnya perkamennya, baru ia memandang Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan sepenuh hati, aku minta maaf untuk kejadian—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk. “Sudahlah, Albus. Kita lupakan saja. Sekarang, ada apa?” sahutnya pelan tapi to the point, setengah sarkastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebetulnya—“ Dumbledore berhenti sejenak, memilih-milih kata, “—ini kusadari dari beberapa hari kemarin. Aku minta maaf karena aku terbiasa melakukannya pada guru-guru baru, tapi beberapa hari terakhir kemarin, aku me-Legilimens-mu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tahu itu, ia pernah membacanya. Walau tidak diajarkan di sekolah, tapi tentu saja selalu ada bacaan tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—dan aku mendapati pada saat-saat tertentu, benakmu menutup diri sangat rapat. Occlumens. Yang kutahu sejauh ini, kau sama sekali belum pernah mempelajari Occlumency—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng. “Tidak. Belum pernah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tidak berkeberatan, maukah kau kuajari? Occlumency, sekaligus Legilimency?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas muncul rasa senang. Jikalau ia bisa menutup benaknya agar tak terbaca orang lain, bagus kan? Ia tak usah berpura-pura, tutup saja benak, dan tak ada orang lain yang tahu—tapi ada maksud apa Dumbledore mengajarkan Occlumency sekaligus Legilimency?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore nampaknya sudah bisa menduga. “Ini akan ada hubungannya, dengan posisimu sebagai mata-mata kelak—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apakah yang membuatmu yakin bahwa Pangeran Kegelapan masih hidup, bahwa Pangeran Kegelapan akan kembali lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan tidak. Tetapi ada beberapa bukti yang membuatku ragu akan kematian Voldemort—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus bergidik mendengar nama itu, tapi ia berusaha tetap tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore meneruskan, “—jika memang ia benar-benar sudah mati, anggap saja pelajaran ini bonus untukmu, tetapi kalau ia benar hidup kembali, maka kuharapkan kau sudah siap. Aku menyadari, ada banyak orang-orang yang siap mati dalam menjalankan tugas. Tapi kuharap mereka tidak mati konyol. Tidak mati sia-sia. Kalau bisa malah, jangan mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore memandang Severus dengan sungguh-sungguh. “Kuharap kau juga begitu. Aku tahu, pekerjaan ini akan sangat berat. Dan kau siap menanggungnya. Tapi kau harus punya bekal—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk pelan. “Baiklah. Kapan mulai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore menatap Severus lebih dalam lagi. “Sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus kembali ke kamarnya malam itu dengan kelelahan berganda. Kelelahan jasmani, di samping juga kelelahan psikis. Pelajaran Legilimency sekaligus Occlumency itu menguras staminanya. Terutama psikis. Ia serasa ditelanjangi, dibuka habis-habisan isi benaknya, sebelum akhirnya ia bisa menutupnya. Belum lagi secara fisik, pekajaran ini melelahkan. Entah berapa kalori terkuras untuk mempertahankan benaknya tetap tertutup, tidak bisa diterobos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menjatuhkan diri di tempat tidur, belum membuka jubahnya, belum berganti baju dengan baju tidur, belum membuka sepatu, belum apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal mereka rasanya hanya lima kali mempraktekkan, Dumbledore berusaha masuk ke dalam benaknya dengan Legilimency, dan ia berusaha menutupnya dengan Occlumency. Lima kali, batas terbanyak untuk sekali latihan, ujar Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menarik napas panjang. Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, mulai membersihkan diri. Air dingin dari shower mengingatkannya akan sesuatu. Saat setelah malam ia dihinakan—atau menghinakan diri—oleh Dumbledore. Dan saat setelah—Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus baru mengerti, apa yang dimaksud Dumbledore bahwa ia berbakat untuk Occlumency. Dumbledore tidak pernah bisa masuk ke dalam bagian memori yang satu ini. Dari sekian banyak latihan tadi, ada banyak peristiwa keluar, ada banyak peristiwa yang terbaca oleh Dumbledore, tapi peristiwa Lily tidak bisa keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah menutupnya rapat-rapat, tak membiarkan seorangpun membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini yang disebut Dumbledore, bahwa ia punya bakat untuk Occlumency?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengusap air yang membasahi wajahnya, walau air terus turun. Bukan karena airnya dingin, maka ia menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore tak tahu apa yang terjadi dengan ia dan Lily. Dumbledore hanya menduga, ia mencintainya, dan bersedih karena kematiannya. Dumbledore tak tahu yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tangannya menutup wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak akan ada yang tahu. Ia bertekad menutup memori itu selama-lamanya. Apalagi setelah Dumbledore memberinya ketrampilan baru, menutup benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori itu akan dikuburnya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar dari shower dan mematikannya. Mengeringkan badan lalu berpakaian. Tidak langsung tidur, tetapi masih memeriksa tugas murid-murid. Menyiapkan diri untuk bahan mengajar esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore sudah mengingatkan, ada kemungkinan ia yang akan aktif mengajar, sedang Horace hanya akan mengawasi. Horace akan lebih mementingkan permen nanasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tertawa getir. Sekarang saja sudah terlihat gelagatnya. Ia yang masuk kelas, ia yang menyampaikan materi, sementara Horace duduk di sudut belakang kelas. Mengawasi apa yang ia sampaikan. Sampai saat ini, belum ada protes. Lalu, semua tugas, ia yang memeriksa. Ia juga yang harus memberikan tugas apa yang harus dikerjakan oleh murid-murid. Bahkan, nampaknya ia juga yang harus menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk kuis hingga untuk ujian kenaikan kelas nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghembuskan napas. Tapi cepat-cepat ia mengeluarkan tumpukan perkamen tugas-tugas murid. Memeriksanya dengan seksama. Memberikan nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah berkonsultasi dengan Horace tentang nilai, dan Horace hanya tersenyum. “Kalau kau pikir tugas mereka memang buruk, kenapa harus diberi nilai bagus? Lagipula, setiap guru ada pola-nya masing-masing dalam memberi nilai. Aku dengan kebiasaanku, kau dengan kebiasaanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia menganggap itu sebagai ijin untuk membabat habis pekerjaan anak-anak yang ia anggap tak masuk standar. &lt;em&gt;Those dunderheads&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah ia mengira ia akan mengerjakan pekerjaan seperti ini: memeriksa tugas murid, menyiapkan pertanyaan untuk kuis dan ujian, memeriksa kuis ... Menyiapkan materi untuk pelajaran besok, menyiapkan bahan-bahan untuk praktek ... Kalau dikatakan ia menyukai tugas sebagai seorang guru ... itu salah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak pernah bisa menghayati bagaimana sebaiknya menjadi seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya menyukai kenyataan, bahwa semua kegiatan itu menjauhkannya dari melamun. Dari memikirkan hal-hal yang membuatnya mengutuk dirinya sendiri. Malam itu bersama Lily. Malam itu bersama Dumbledore. Selama ia masih bekerja, fokus pikirannya hanya pada pekerjaan. Boleh dibilang, pekerjaan itu hanya sebagai pelarian agar ia tidak terus menerus memikirkan malam-malam terkutuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya pelarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali saat ia berlatih Occlumency. Ia harus bekerja keras menyimpan semua memori-memori yang ia tidak inginkan siapapun melihatnya. Apalagi semakin hari, semakin keras Dumbledore melatihnya, semakin keras juga Dumbledore berusaha menggedor pertahanannya untuk menutup jalan masuk pada memori-memori itu. Terpaksa ia juga harus bekerja keras mempertahankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nampaknya Dumbledore puas akan hasil kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore mengingatkan, jika memang Voldemort—ia masih selalu berjengit mendengarnya—masih hidup, Voldemort adalah seorang Legilimens yang handal. Dumbledore menginginkan Severus paling tidak menyamai levelnya, sukur-sukur bisa melampauinya, baik Occlumency maupun Legilimency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menghela napas. Ia bisa saja membenci Dumbledore atas peristiwa malam hari itu. Tapi dalam hal lain, ia harus berterima kasih padanya. Dumbledore memikirkan semua segi dirinya, mengemukakan kelemahan-kelemahannya, memberikan saran untuk memperbaikinya. Mengemukakan kelebihan-kelebihannya, melatih semua sisi kuatnya agar lebih kuat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saat Wizengamot memperkarakannya, ketika Igor Karkaroff mengeluarkan tuduhan bahwa Severus adalah seorang Pelahap Maut, Dumbledore berani memberikan jaminan bahwa ia sudah bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuatnya sangsi. Apakah benar Pangeran Kegelapan akan bangkit kembali? Melihat kerasnya upaya Dumbledore melatihnya, melihat betapa percaya Dumbledore padanya, Severus terpaksa harus percaya juga bahwa Pangeran Kegelapan kemungkinan besar akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika harinya tiba, ia harus siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaannya sudah selesai. Masih ada dua-tiga jam lagi. Walau tak suka, ia harus tidur. Ia hanya bisa berharap, malam ini mimpinya tak seburuk malam kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik ke tempat tidur, menarik selimutnya, memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelapan mulai menjalankan aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu. Walau kau diam sekalipun, jarum jam terus berdetik. Berdasarkan itu, Dumbledore terus mengasah kemampuan Severus. Suka atau tak suka, Severus mau tak mau harus mengakui, itu semua ada gunanya untuk dia. Walau terkadang Dumbledore tak menyebutkan alasan mengapa harus A, mengapa tidak boleh B, namun akhirnya alasan itu akan muncul, cepat atau lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu yang sampai sekarang Dumbledore selalu menolaknya. Dan ia samasekali tak mau menyebut alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus selalu merasa ia akan lebih dibutuhkan di posisi Guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Tiap tahun gurunya berganti. Tak ada yang bertahan lebih dari setahun. Dan Severus selalu melamar untuk posisi itu. Dan tiap tahun pula Dumbledore menerima orang lain untuk mengisi posisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memang ia lebih pantas di Ramuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa, ia memang tak punya jiwa pendidik. Jadi, di posisi manapun, akan sama saja hasilnya. Tapi, mengapa Dumbledore selalu menolaknya untuk berada di posisi Pertahanan terhadap Ilmu Hitam? Pengalamannya dalam Ilmu Hitam sudah tak bisa disebutkan lagi, lalu mengapa? Apakah Dumbledore takut ia kembali terjerumus ke dalam Ilmu Hitam? Atau—tahukah Dumbledore akan penderitaannya tiap malam, dan takut kalau ia mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, ia akan bertambah tersiksa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu akan selalu bergaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ajaran 1991, menjadi tahun yang dinanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya anak Lily—anak Potter juga, akan masuk ke Hogwarts. Seberapa pun usahanya untuk menyembunyikan kebencian pada Potter, tetap saja semua orang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat benci pada Potter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, akan ada anaknya di Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat benci pada Potter, senior maupun junior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ia memperoleh lawan yang seimbang dalam hal membenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam setiap langkahnya, Dumbledore selalu menyertai. Paling tidak mengerem agar ia tak terlalu jauh bertindak. Dan mengingatkan janjinya untuk menjaga anak Lily baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ia memandang Potter—Harry—sebagai anak Potter senior, Dumbledore selalu muncul mengingatkan bahwa Harry adalah juga anak Lily. Mengingatkan bahwa selain penampilan yang mirip James, bakat Quidditch yang mirip James, Harry juga punya mata yang mirip Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata yang mirip mata Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus berusaha mengendalikan dirinya, walau ia tak tahu kenapa anak ini selalu membuat masalah, selalu keluar dari apa yang sudah digariskan. Entah ia memang gemar membuat masalah, atau masalah memang gemar mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun pertama, ia bahkan sampai rela menjadikan dirinya wasit Quidditch—ia paling benci naik sapu—hanya agar Quirrell tak bisa mencelakainya. Tahun berikutnya anak itu bertempur dengan Basilisk. Tahun berikutnya ia bahkan menemukan ayah baptisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tahun keempat Pangeran Kegelapan muncul kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak tahu penelitian apa yang dilakukan Dumbledore sehingga membuahkan kesimpulan bahwa Pangeran Kegelapan masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ia tahu, Pangeran Kegelapan masih hidup. Anak buahnya berhasil menculik Harry melalui Piala Api, dan meneteskan darahnya agar Pangeran Kegelapan kembali ke dalam wujudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti ia sudah harus bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam remang malam di Rumah Sakit, setelah mendengar cerita Harry tentang apa yang terjadi di saat ia di-portkey-kan lewat Piala Api, Dumbledore memandang Severus dengan harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Severus,” katanya, “kau tahu apa yang harus kuminta kau lakukan. Kalau kau bersedia ... kalau kau siap ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku siap,” kata Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tampak sedikit lebih pucat daripada biasanya, dan matanya yang hitam dingin berkilat ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, semoga berhasil,” kata Dumbledore, dan ia mengawasi, dengan keprihatinan di wajahnya, selagi Severus keluar dari Rumah Sakit tanpa kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang mengetahui bahwa malam itu Severus harus kembali ke dalam Kegelapan, Gelap yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua siksaan batin yang ia alami tiap malam, tak bisa tidur diganggu mimpi-mimpi buruk, mimpi-mimpi yang membuatnya lebih suka bekerja daripada tidur, kini akan merupakan kemewahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sekarang, dengan keharusan untuk berkumpul dengan para Pelahap Maut, akan muncul lagi adegan-adegan yang dahulu ia coba lupakan. Dengan keheningan di Hogwarts saja ia masih merasa tersiksa, masih ia tak bisa melupakan malam-malam terkutuk itu, apalagi jika ia harus berkumpul dengan Pelahap Maut, harus melaksanakan tugas-tugas Pangeran Kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah Dumbledore sudah membekalinya dengan Occlumency. Ia harus bekerja keras memang, tapi ia bisa menyembunyikan semua yang ingin ia sembunyikan. Dengan kerja ekstra keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening di kantor Kepala Sekolah malam itu. Di meja tergeletak cincin Gaunt, pedang Gryffindor, dan piala yang nampaknya tadinya berisi ramuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada Severus dan Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore, sekrang nampak jauh lebih tua dari hari-hari kemarin. Nampak lebih rentan. Fisik, dan psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sepertinya sedang membahas sesuatu, dan kini terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus akhirnya angkat bicara. Mengangkat alisnya, nadanya sinis ketika ia bertanya, “Apakah kau membiarkannya membunuhmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja tidak. Kau yang harus membunuhku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening lagi, lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin aku melakukannya sekarang?” tanya Severus, suaranya penuh ironi. “Atau kau perlu waktu dulu untuk menyusun kata-kata di batu nisan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidak, belum sekarang,” kata Dumbledore, tersenyum. “Aku berani bilang saatnya akan datang sendiri pada waktunya. Mengingat apa yang telah terjadi malam ini,” ia menunjuk tangannya yang kisut, “kita bisa yakin itu akan terjadi dalam setahun ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tidak keberatan mati,” kata Severus kasar, “kenapa tidak membiarkan Draco yang melakukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jiwa anak itu belum terlalu rusak,” kata Dumbledore. “Aku tak mau jiwa itu tercabik-cabik gara-gara aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jiwaku, Dumbledore? Jiwaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri yang tahu apakah membantu seorang laki-laki tua menghindari kesakitan dan penghinaan akan merusak jiwamu,” sahut Dumbledore. “Kecuali kalau—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tahu benar apa yang akan diucapkan Dumbledore. Ia menutup matanya. Menghela napasnya. Dan berbisik lirih, “—kecuali kalau aku menganggap membunuhmu berarti menyelesaikan masalah kita, masalah malam itu di Menara Astronomi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Ya,” sahut Dumbledore, tak kalah lirihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat bagi Severus untuk mengucapkannya. Tapi ia harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Aku—“ ia menarik napas panjang sebelumnya, “—aku selalu berusaha untuk melupakannya. Aku—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu,” ucap Dumbledore pendek. Pelan. “Kita selama ini selalu berpikir—bahwa waktu akan membuat kita melupakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk tak kalah pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore kali ini yang menarik napas panjang, berusaha duduk lurus-lurus, matanya menatap Severus, “Maukah kau memaafkan aku, Severus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditatap tepat di mata, Severus balas menatap Dumbledore. “Aku sudah memaafkanmu. Aku hanya—aku hanya—“ ia berusaha meneruskannya, tapi tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore sabar menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menelan ludah. “Aku hanya tak bisa melupakannya. Aku selalu berpendapat—aku selalu merasa itu adalah karma—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berusaha agar bisa meneruskan kalimatnya. “—dari apa yang sudah kulakukan selama menjadi Pelahap Maut—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore tak bisa berkata-kata lagi. Sepertinya matanya membentuk lapisan kaca dan runtuh sekaligus melelehi pipinya yang keriput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 3117&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total NaNo Wordcount: 15135&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: 26667&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, semakin mendekati :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-8365203116837183822?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/8365203116837183822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=8365203116837183822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8365203116837183822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8365203116837183822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-16.html' title='Hari ke-16'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-1934138613733205448</id><published>2009-11-15T06:56:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T07:24:08.635-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-15</title><content type='html'>Hari ini cuma bisa ngetik sedikit. Kalau anak-anak libur, makin sedikit kemungkinan bisa make laptop T_T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, biar sedikit juga lumayan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pemaksaan—lalu apa yang pernah ia lakukan pada Lily dahulu, apakah itu bukannya pemaksaan? Dan ada saatnya di mana tubuhnya berkhianat pada apa yang ia pikirkan, pada apa yang ia harus lakukan. Bibirnya merespon pada ketukan bibir Dumbledore agar diijinkan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin tempat berlindung. Ia ingin tempat bernaung, yang memayungi, yang mengayomi. Tapi yang ia dapat—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya berperang, antara menyerah pada keinginan Dumbledore, dengan kenyataan bahwa hal ini tidak pantas. Bukan seperti ini yang ia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kenyataan bahwa citra Dumbledore dalam pandangannya sudah berganti kini. Alih-alih dari pelindung, ia kini lebih nampak sebagai pemangsa yang siap menerkam. Dan pahitnya—ia terpaksa berlindung di tempat yang menjadi kekuasaan Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah merasa nyaman di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau tidak di Hogwarts, ia tak tahu lagi di mana ia akan berlindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah hati ia membiarkan lidah Dumbledore menjelajah. Setengah hati ia membiarkan Dumbledore melepas jubahnya, dengan tangkas melepas satu demi satu kancing bajunya. Dibiarkannya pikirannya berkelana ke mana-mana saat Dumbledore mengecup lehernya, terus turun. Setengah hati ia membiarkan Dumbledore membuka semuanya, melakukan apa saja yang ia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak menolak, tapi juga tak ikut berpartisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore seakan tak memahami, napasnya terus memburu, tak membiarkan satu sentipun dari tubuhnya lepas dari bibirnya, dari lidahnya. Severus bahkan tak memperhatikan saat Dumbledore menyiapkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya jeritan tertahan saat Dumbledore memasuki tubuhnya. Perih. Pedih. Nyeri. Ia merasa semua pembuluh darah yang ada di daerah yang dimasuki, putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perih. Pedih. Nyeri. Bukan hanya fisik, tapi juga psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perih, merasa bahwa ia hanya dimanfaatkan saja. Dumbledore merasa bahwa kesedihannya bisa disembuhkan oleh kegiatan fisik ini. Dan ia ingin berontak karenanya. Tapi ia merasa tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedih, perasaan bersalahnya pada Lily semakin bertambah. Mungkin ini adalah karma. Karenanya ia terdiam karenanya, membiarkan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari suaranya, dari gerakannya, Dumbledore sudah akan mencapai klimaks. Benar saja, dalam hitungan detik, ia meraung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Severus menangis dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Dumbledore membenahi pakaiannya—ia bahkan tak merasa perlu repot-repot untuk menanggalkannya, berbeda dengan seperti saat ia menanggalkan seluruh pakaian Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah membeku, Severus berusaha bangkit, mengumpulkan pakaiannya. Perlahan, satu-persatu dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua selesai, barulah Dumbledore angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau—tak bisa menikmatinya, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore menaruh tangannya di bahu Severus. “Maafkan aku. Kukira—kukira ini akan jadi semacam obat untukmu, tetapi ternyata tidak—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus terus terdiam. Seperti linglung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelan ludah, Dumbledore meneruskan perlahan, “Ini—tidak akan terjadi lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk tipis, nyaris seperti tak bergerak sama sekali, Severus menyetujui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore menghela napas. “Haruskah—kuantar kau ke kamarmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng. “Tidak perlu,” bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore meremas pelan bahu Severus. “Hati-hati. Kalau ada sesuatu yang kau rasa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menggeleng. “Tidak perlu,” ulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore mengangguk. “Pergilah. Dan selamat malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus merapatkan jubahnya. Udara memang semakin dingin, tapi bukan hanya itu yang membuatnya merapatkan jubahnya. Yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya gemetar saat ia menuruni tangga, kembali ke ruang bawah tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di kamarnya, ia langsung menuju kamar mandi. Membuka seluruh pakaiannya, menyalakan shower, sama sekali tak menghiraukan pemanas air. Dingin-dingin ia biarkan air yang nyari sebeku es itu membasahi seluruh tubuhnya. Digosoknya dengan keras, tiap senti tubuhnya seolah ia baru saja dilumuri lumpur kotor dan bau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pikirannya berperang kembali. Di satu pihak ia merasa jijik, merasa kotor, merasa lemah, merasa ingin berontak, walau tak berdaya diperlakukan demikian; namun di pihak lain ia merasa sangat pantas diperlakukan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lily tentu kesakitan. Lily tentu ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tersedu membayangkan peristiwa berbulan lalu itu. Dalam gigilnya ia merasa tersayat. Dalam bersimbah ia meradang, marah pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit tangannya sudah terlihat mengeriput tatkala ia menghentikan air yang mengalir dari shower. Tak tergesa, dikeringkannya tubuhnya. Diambilnya pakaian tidur, dikenakannya sambil masih menggigil. Diraihnya tongkat, diacungkannya pada tumpukan pakaian yang tadi dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap tumpukan itu berubah menjadi abu. Dengan jentikan tongkatnya, abu itu melayang masuk ke tempat sampah. Dibersihkannya sisa-sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih gemetar, ia berjalan sempoyongan ke lemari persediaan. Dikeluarkannya sebuah botol kecil. Ramuan Tidur Tanpa Mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Hanya malam ini saja,” janjinya, dan diteguknya sekali jadi. Diletakkannya botol di tempat kumpulan botol-botol kosong. Berjalan perlahan ia menuju ke tempat tidurnya, masuk ke dalam selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya seperti baru saja ia tertidur, sekarang ia sudah ada di—di manakah ia? Tempatnya gelap, mungkin bisa dibilang remang-remang karena masih ada sedikit cahaya. Dingin. Lembab. Bau khas lembab menguar di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya mencoba menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini—ruang bawah tanah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ia baru menempatinya beberapa minggu, ia tahu ini tempatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, mengapa suasananya menakutkan? Ia tak pernah takut akan suasana gelap di alam nyata, ia tak pernah takut akan kesendirian di kehidupan biasa, tapi di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu kuduknya merinding. Jantungnya memompa lebih cepat. Ia bagai anak kecil yang tak berdaya, mencari perlindungan dari sesuatu yang ditakutinya akan menghancurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan? Seorang tua berjanggut keabuan dengan kacamata bulan separo menghampiri, mengucapkan kata-kata menghibur sambil menepuk-nepuknya. Ia merasa nyaman. Namun kemudian citra orang tua itu berubah menjadi seekor burung phoenix raksasa, merah penuh amarah, dan Severus merasa dirinya mengecil, mengerut, dibandingkan dengan phoenix itu, yang sudah siap akan memakannya, paruhnya sudah membuka, mengarah tepat pada dirinya. Bagai sebutir jagung yang akan dipatuk seekor ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum paruhnya menyentuh dirinya, phoenix itu berubah menjadi seorang gadis berambut merah, tersenyum manis mengundang. Kedua tangannya terkembang, seperti menyambut. Severus mendekatinya, ketika kemudian ia melihat bahwa bibirnya yang tersenyum manis itu meneteskan darah dari kedua ujungnya. Arah kedua ujung bibir itu bukan ke atas lagi sebagaimana orang tersenyum tapi ke bawah. Selain di bibir, darah juga terdapat di bagian lain, di pipi, di kening, di mana-mana—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisinya langsung terduduk. Keringat mengalir deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bermimpi buruk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bahkan di saat ia sudah minum Ramuan Tidur Tanpa Mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengusap wajahnya yang basah. Ia bangkit, menyambar tongkatnya, mengambil segelas air dan menghabiskannya sekali teguk. Barulah sadar bahwa ia terengah-engah. Seperti habis dikejar-kejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemas ia menyandar ke dinding. Gemetar ia bergerak ke arah kursi dan terduduk di situ. Mengarahkan tongkatnya ke arah perapian, ia menyalakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api menyala melonjak-lonjak bagai anak kecil riang gembira. Severus tak mempedulikannya, ia hanya tercenung saja. Menarik napas panjang berkali-kali. Mengusap wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar di kursi, ia tidak mencoba untuk tidur lagi. Ia takut, ia gentar akan mimpinya yang tadi. Dan bagaimana mungkin ia bisa bermimpi, bukankah ia sudah minum Ramuan Tidur Tanpa Mimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menyandarkan kepala. Mencoba menutup mata. Tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bangkit, menuju ke arah tempat ia menyimpan botol Ramuan Tidur Tanpa Mimpi yang tadi. Diambilnya. Dibuka tutupnya, diendusnya. Ramuan yang benar. Lalu, kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditelusuri jejeran buku di rak buku di sebelahnya. Diambilnya satu, dan dibuka-bukanya. Bukan ini. Diambilnya satu lagi, diperiksanya. Hampir, tapi bukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa buku, akhirnya ia menemukan apa yang ia rasa tepat, apa yang ia maksudkan. Ia kembali ke kursi, dan membacanya secara cepat. Ditemukan bagian yang ia maksud, dan dibacanya lagi sekali pelan-pelan. Ia berdiri, mengambil pena bulu dan dicatatnya beberapa kalimat di bagian margin bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengambil lagi buku yang lain, mencari-cari, dan menemukan bagian tertentu. Dibukanya di atas meja, tepat di samping buku yang tadi. Dibuatnya juga catatan di margin buku yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru diambilnya perkamen kosong. Ditulisnya rangkuman yang baru dibuat, sebuah formula Ramuan. Dibawanya ke laboratoriumnya. Dicarinya bahan-bahan yang diperlukan, dipotong-potong, dihancurkan, diparut, atau diambil airnya. Disimpannya kuali di atas tungku, dinyalakan api, dan ia mulai meramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramuan sudah selesai ketika fajar datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membereskan bahan-bahan dan menyimpan botol Ramuan di lemari. Mengganti pakaian, ia menjentikkan tongkatnya untuk secangkir kopi hitam. Dihabiskannya tanpa menghiraukan panas. Ia siap untuk bertugas, magang bersama Profesor Slughorn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu kini, apa yang harus dilakukan kalau ia tak bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 1238&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total NaNo Wordcount: 12080&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: 25000&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jauuuuh! Semangat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-1934138613733205448?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/1934138613733205448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=1934138613733205448' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/1934138613733205448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/1934138613733205448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-15.html' title='Hari ke-15'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-7888300693231033814</id><published>2009-11-14T16:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-14T16:33:17.576-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-14</title><content type='html'>Ini hasil hari ke-14. Warning, Evil!Dumbledore. Don't like, don't read *nyengir*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gelap. Dingin. Membekukan. Tapi ia harus terus maju. Dan suara-suara itu terus mengganggu. Seperti dekat, tetapi jauh. Seperti jauh, tetapi ada di telinga. Terngiang-ngiang. Bagaimanapun ia mencoba untuk lepas, tak biasa. Seperti menempel, menggelayuti. Seperti tak ingin melepasnya pergi, ke mana pun ia melangkah, rasa gelap itu, rasa dingin itu, rasa dibebani suara-suara itu, terus setia menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tak bisa menghindar. Sekali ia berusaha berlari, tapi semua rasa itu ternyata lebih cepat. Berlari bersamanya, merendengi, seolah menyeringai, mencemooh. Kemudian semua rasa itu akan mengepungnya, menangkapnya, dan menenggelamkannya ke dalam kegelapan yang lebih pekat, yang kental, yang—&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Terbangun dengan terengah-engah, Severus merasa seperti tercerabut dari kegelapan. Kamar yang remang-remang seolah sangat terang jika dibandingkan dengan mimpinya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa malam ia terus dibayangi mimpi seperti tadi. Sudah berapa malam, sampai ia tidak berani tidur tapi kemudian tertidur karena lelah. Baru saja, ia terbangun, dan sadar ia ketiduran di kursi, buku yang sedang ia baca terlepas dan terjatuh terbalik di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipungutnya buku itu. Disimpannya baik-baik di rak. Ia berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bisa saja tidur dengan minum Ramuan Tidur Tanpa Mimpi. Tapi selain ia nanti akan ketagihan, juga ia merasa tak selayaknya minum hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus menghadapi kesemuanya. Ini hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa hari ini ia terus mencari kabar tentang Lily. Agak sulit, karena ia harus juga berkelit dari para Pelahap Maut lainnya. Akhirnya dapat juga, hari ini, 4 November, mereka jadi melangsungkan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ada desakan dalam diri, ia harus menghadirinya. Ia harus tahu apa yang terjadi pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tidak dapat menghadirinya seperti apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjalan ke arah laboratoriumnya. Membuka kunci sebuah lemari kaca, mengeluarkan sebuah botol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polyjus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti siang, jam 11, mereka akan menikah di Godric’s Hollow. Ia harus bisa menyelinap ke sana. Ia hanya ingin tahu. Ia hanya ingin melihat. Ia hanya ingin memastikan bahwa Lily baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya ingin memastikan bahwa Lily tak terluka, batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang nenek tertatih-tatih masuk ke dalam keramaian itu. Acara segera akan dimulai. Melihat keadaan si nenek, banyak yang segera memberi jalan. Memberi tempat yang nyaman. Si nenek hanya tersenyum, menepuk-nepuk tangan si pemberi tempat, berterima kasih. Dari tempatnya, nampak jelas posisi mempelai wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara akan segera dimulai. Hadirin sudah duduk dengan rapi. Mempelai wanita berjalan pelan dengan diantar Albus Dumbledore, yang dianggap wakil dari ayah si mempelai. Kemudian ia mempertemukan tangan Lily pada James. Keduanya menghadap petugas pernikahan, dan ia memulai upacaranya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau James William bersedia mengambil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan si nenek tak lepas dari wajah mempelai wanita. Wajah yang berseri-seri, menjawab ‘Saya Bersedia’ dengan mantap, berciuman dengan mempelai pria, melempar buket bunga—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ketika para hadirin mulai bergerak untuk memberi selamat pada kedua mempelai, nenek itu malah bergerak menjauh. Seperti akan pergi. Walau ia berhenti sejenak saat terdengar percakapan di dekatnya, beberapa gadis seusia mempelai wanita. Mungkin rekan sekolahnya dulu—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—kau tahu ia diculik Pelahap Maut beberapa hari yang lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu. Katanya ia sedang di dunia Muggle, baru pulang dari rumah orang tuanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, bagaimana ia bisa pulang? Kau tahu, betapa kejamnya para Pelahap Maut itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si Snape yang mengantarnya pulang. Kau tahu, aku selalu curiga kalau si Snape ini ada hati padanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, mereka sahabat akrab di kelas-kelas rendah, tapi ketika mereka sudah di kelas tinggi, nampaknya si Snape ini sudah terseret pergaulan, selalu bersama-sama dengan penjahat-penjahat itu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak diapa-apakan? Maksudku, Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Ia kembali tak kurang suatu apa. Kukira si Snape ini masih ingat akan persahabatan mereka waktu dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—syukurlah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek tadi seperti sadar akan sesuatu, bergerak kembali, dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik semak-semak, nenek tadi mulai berubah, menjadi laki-laki, lebih tinggi dan kurus—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, Severus terus memantau kabar tentang Lily. Diam-diam. Karena bagaimanapun jika diketahui rekan-rekannya—dan terutama jika diketahui Pangeran Kegelapan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah melihat sendiri bagaimana airmuka Lily saat pernikahan. Bahagia, dan tak kurang suatu apa. Oke, jadi tak ada yang tahu apa yang terjadi. Dari apa yang ia dengar dari teman-temannya, mereka mengira Snape membawa Lily pulang, melepaskannya dari penculikan, karena Snape masih teringat akan persahabatan mereka dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tertawa getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, itu yang mereka ketahui, pikirnya. Jadi, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah itu jadi rahasianya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan konsekuensinya, mimpi-mimpi buruknya di tiap malam terus berulang. Bahkan lebih sering, bahkan lebih mengerikan. Ia mencoba menerimanya sebagai hukuman. Mencoba tidak menggunakan Ramuan Tidur Tanpa Mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan bulan lebih—nyaris sepuluh—kemudian ia menerima kabar bahwa Lily melahirkan. Laki-laki. Ia tak tahu seperti apa rupanya, dan mencoba menyelidiki sepintas dari orang-orang sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan yang ia tangkap, mereka bilang, Harry persis seperti James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pusat perhatian Severus tetap hanya pada Lily. Lily seorang. Di samping pekerjaan tetapnya sebagai peramu untuk Pangeran Kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, itu yang kau dengar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Yang Mulia. Peramal itu trance dan mengucapkan kata-kata tadi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yakin akan kemampuan peramal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangguk, “Ya, Yang Mulia—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Kegelapan terkekeh. “Kau cari, anak mana yang lahir di akhir bulan Juli. Dan yang orang tuanya sudah tiga kali berhadapan denganku. Akan kita musnahkan terlebih dahulu, sebelum ia sempat belajar memegang tongkat—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Yang Mulia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan pencarian berdasarkan Catatan Sipil Penyihir, akhirnya disempitkan pada beberapa nama. Jika dimasukkan dalam kategori &lt;em&gt;born as the seventh month dies&lt;/em&gt; maka akan ada beberapa nama. Tapi jika disempitkan lagi dalam kategori &lt;em&gt;born to those who have thrice defied him&lt;/em&gt;, maka hanya akan tinggal dua nama. Harry Potter, dan Neville Longbottom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horor menyaput seluruh wajah Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia tahu betul, Pangeran Kegelapan tidak akan berhenti dengan membunuh si anak, tetapi tentu saja berikut orang tuanya. Kecuali kalau si anak berkeliaran sendirian. Dan kecil kemungkinan anak berusia setahun berkeliaran sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membawa dua nama ini ia menghadap Pangeran Kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang Mulia—“ sahutnya terputus, ragu apakah akan mengajukannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Severus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika boleh—hamba—hamba ingin mengajukan permintaan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apakah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika—jikalau Yang Mulia berkenan, jikalau Yang Mulia memilih keluarga Potter—“ Severus mencoba tidak terlalu cepat bicara, “—mohon ampuni ibunya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Kegelapan terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya dia siapamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tak menjawab. Ia sudah membuka mulut, tapi tak jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita lihat saja nanti. Lagipula, perempuan banyak di dunia ini, mau Muggle mau Pureblood, kenapa kau malah memilih dia? Belum lagi dia itu sudah jadi istri orang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus masih tak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha! Untuk apa aku berkhotbah begini, pokoknya kalau nanti sampai terbunuh, cari saja perempuan lain, ya?” Pangeran Kegelapan menjentikkan jarinya, seakan mengatakan: ‘itu hal kecil, untuk apa dipikirkan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ba-baik Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Kegelapan terkekeh lagi. “Oke, selesai, kau boleh pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus membungkuk dalam-dalam, kemudian mundur dan keluar. DisApparate dari Riddle’s House dan Apparate di Spinner’s House. Tapi pikirannya terus berjalan, sambil ia berjalan pulang, di jalan yang sudah ia hapal walau sambil menutup mata sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dumbledore,” bisiknya perlahan, “—yang paling ditakuti oleh Pangeran Kegelapan adalah Dumbledore. Jika saja ia bisa melindungi Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ber-Apparate sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Nah, Severus? Ada pesan apa dari Lord Voldemort untukku?”&lt;br /&gt;“Tidak ada—tidak ada pesan—aku datang atas kemauan sendiri!”&lt;br /&gt;Severus meremas-remas tangannya. Dia kelihatan agak sinting, dengan rambut hitamnya yang terjurai terbang berkibaran di sekelilingnya.&lt;br /&gt;”Aku—aku datang membawa peringatan—bukan, permohonan—tolong—”&lt;br /&gt;Dumbledore menjentik tongkat sihirnya. Meskipun dedaunan dan ranting-ranting masih beterbangan dalam udara malam di sekitar mereka, keheningan jatuh di tempat dia dan Snape berhadapan.&lt;br /&gt;”Permohonan apa yang bisa diajukan Pelahap Maut kepadaku?”&lt;br /&gt;”R—ramalan... prediksi... Trelawney...”&lt;br /&gt;”Ah, ya,” kata Dumbledore. ”Seberapa banyak yang kausampaikan kepada Lord Voldemort?”&lt;br /&gt;”Seluruhnya—seluruhnya yang kudengar!” kata Severus. ”Itulah sebabnya—karena alasan itulah—dia beranggapan itu berarti Lily Evans!”&lt;br /&gt;”Ramalan itu tidak merujuk ke seorang wanita,” kata Dumbledore. ”Ramalan itu bicara tentang anak laki-laki yang dilahirkan pada akhir bulan Juli—”&lt;br /&gt;”Kau tahu apa maksudku! Dia menganggap itu berarti anaknya, dia akan mengejar Lily—membunuh mereka semua—”&lt;br /&gt;”Kalau dia berarti sebegitu besar bagimu,” kata Dumbledore, ”tentunya Lord Voldemort tidak akan membunuhnya? Tidak bisakah kau meminta belas kasihan untuk ibunya, sebagai ganti anaknya?”&lt;br /&gt;”Aku sudah—aku sudah memintanya—”&lt;br /&gt;”Kau membuatku jijik,” kata Dumbledore, belum pernah terdengar nada penghinaan yang sebesar itu dalam suaranya. Severus tampak agak mengkeret. ”Kau tidak peduli, kalau begitu, soal kematian suami dan anaknya? Biar saja mereka mati, asal kau mendapatkan apa yang kauinginkan?”&lt;br /&gt;Severus tidak berkata apa-apa, hanya mendongak menatap Dumbledore.&lt;br /&gt;“Sembunyikan mereka semua, kalau begitu,” dia berkata parau. ”Jaga dia—mereka—agar selamat. Kumohon.”&lt;br /&gt;”Dan apa yang akan kauberikan kepadaku sebagai imbalannya, Severus?”&lt;br /&gt;”Im-imbalannya?” Severus ternganga memandang Dumbledore, sesaat seperti akan protes, tapi setelah diam lama dia berkata, ”Apa saja.”&lt;/em&gt; [Harry Potter dan Relikui Kematian, 891-892]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata harapannya hanya tinggal harapan. Pangeran Kegelapan datang juga ke rumah Potter, dan membunuh baik James maupun Lily. Namun begitu ia mencoba membunuh Harry, kutukannya berbalik, justru ia yang hancur lebur.&lt;br /&gt;Severus hanya bisa memandang jasad Lily dari kejauhan dengan hati hancur lebur. Ia tak bisa mendekat. Yang berkerumun dekat-dekat daerah rumah mereka itu kebanyakan para anggota Orde, plus beberapa Auror. Mereka sepertinya sibuk membicarakan sesuatu. Seorang setengah raksasa nampak seperti memangku seorang bayi. Mungkin bayi Lily? Karena konon justru bayinya yang selamat.&lt;br /&gt;Ia tak ingin tahu. Yang ingin ia lakukan sekarang hanya memandang wajah Lily, walau dari kejauhan, sepuasnya sebelum akhirnya mereka kemudian akan mengebumikannya. Sepuasnya. Ia tak akan mendapat kesempatan lagi. Ia bahkan tidak punya fotonya. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah merekam memori sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Apakah lebih baik ini terjadi, pikir Severus, bahwa Lily tak pernah sempat ingat lagi apa yang terjadi di Riddle’s House? Pernah terpikir sepintas bahwa Lily akan mengingatnya juga jika terjadi sesuatu dengan mantra Obliviate-nya, luntur atau apapun.&lt;br /&gt;Dan ia tak akan siap untuk berhadapan muka dengan Lily jika itu terjadi.&lt;br /&gt;Severus mengangkat wajah. Para Auror sudah memasukkan kedua jenazah ke dalam peti. Kemudian menutupnya. Severus menghela napas. Habislah sudah. Selesai.&lt;br /&gt;Tapi kemudian seseorang menoleh ke arah ia berdiri. Dumbledore.&lt;br /&gt;Merasa tak enak berdiri di atas dan seperti mengawasi mereka, Severus berbalik dan berjalan ke arah lain.&lt;br /&gt;Tapi rupanya Dumbledore menyusulnya. Ia berbicara dulu cepat-cepat dengan yang lain, tetapi kemudian ia melangkah ke arah Severus berdiri.&lt;br /&gt;“Severus.”&lt;br /&gt;Severus berbalik. Tak berbicara. Ia merasa kalah. Ia merasa kosong. Ia tak mampu berbicara.&lt;br /&gt;“Kita ke kantorku,” sahutnya pendek. Tak berbicara lagi. Tapi ia menjajari langkah-langkah Severus, bersama Apparate ke titik Apparation terdekat di Hogwarts, dan bersama-sama menaiki tangga ke kantornya.&lt;br /&gt;“Duduklah,” Dumbledore menawarkan. Ia sendiri berdiri di depan Severus, nampak muram. Ia membiarkan Severus mengeluarkan isi hatinya, tapi Severus bahkan sudah tak bisa menangis lagi. Suaranya mengerikan, seperti binatang yang terluka.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kupikir ... kau akan ... menjaganya ... agar selamat ...”&lt;br /&gt;“Dia dan James menaruh kepercayaan mereka pada orang yang salah,” kata Dumbledore. “Agak seperti kau, Severus. Bukankah kau berharap Lord Voldemort tidak akan membunuhnya?”&lt;br /&gt;Napas Severus pendek-pendek.&lt;br /&gt;“Anaknya selamat,” kata Dumbledore.&lt;br /&gt;Dengan sedikit kedikan kepala, Severus seolah mengusir lalat yang menyebalkan.&lt;br /&gt;“Anaknya hidup. Dia memiliki mata ibunya, persis mata ibunya. Kau ingat bentuk dan warna mata Lily Evans, aku yakin?”&lt;br /&gt;“JANGAN!” teriak Severus. “Pergi ... Mati ...”&lt;br /&gt;“Apakah ini penyesalan yang dalam, Severus?”&lt;br /&gt;“Kenapa bukan ... aku saja yang mati ...”&lt;br /&gt;“Dan apa gunanya itu bagi siapa saja?” kata Dumbledore dingin. “Kalau kau mencintai Lily Evans, kalau kau betul-betul mencintainya, maka jalanmu ke depan jelas.”&lt;br /&gt;Severus seolah mengintip melewati kekaburan rasa sakit, dan kata-kata Dumbledore tampaknya perlu waktu lama untuk dapat mencapainya.&lt;br /&gt;“Apa—apa maksudmu?”&lt;br /&gt;“Kau tahu bagaimana dan kenapa dia mati. Pastikan kematiannya tidak sia-sia. Bantu aku melindungi anak Lily.”&lt;br /&gt;“Dia tidak perlu perlindungan. Pangeran Kegelapan sudah pergi—“&lt;br /&gt;“—Pangeran Kegelapan akan kembali, dan Harry Potter akan dalam bahaya besar kalau dia kembali.”&lt;br /&gt;Sunyi lama, dan perlahan Severus berhasil menguasai diri, mengatur napasnya. Akhirnya dia berkata, “Baiklah. Baiklah. Tapi jangan pernah—jangan pernah bilang siapapun, Dumbledore! Ini hanya antara kita berdua. Bersumpahlah. Aku tak tahan ... apalagi anak Potter ... aku menginginkan janjimu!”&lt;br /&gt;“Janjiku, Severus, bahwa aku tak akan pernah membuka sisi terbaikmu?” Dumbledore menghela napas, menunduk memandang wajah Severus yang ganas, amat menderita. “Kalau kau bersikeras ...”&lt;/em&gt; [Harry Potter dan Relikui Kematian, 893-894]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumbledore menawarkan posisi guru padanya. Ia tak kuasa menolak. Selain ia sudah berjanji untuk membantu Dumbledore dalam melindungi anak Lily, ia sendiri ternyata menemukan perlindungan di sana. Di Hogwarts.&lt;br /&gt;Selama ini ia selalu merasa Hogwarts menjadi tempat yang nyaman. Rumahnya sendiri di Spinner’s End, baru terasa nyaman setelah kedua orangtuanya tak ada. Tapi Hogwarts, ada siapa atau tak ada siapa pun tak banyak berbeda. Selalu terasa nyaman baginya. Ia selalu menemukan tempat yang melindungi. Walau ada orang-orang arogan dari Gryffindor itu, tetapi selain itu, ia merasa tempat ini nyaman.&lt;br /&gt;Sekarang, di saat ia merasa sendiri di Spinner’s End, saat ia tak tahu harus berbuat apa, Hogwarts menawarkan kenyamanan lagi untuknya. Apalagi kemudian ia memilih ruang bawah tanah sebagai basisnya. Jauh dari gangguan siapa-siapa. Jauh dari gangguan apapun. Bahkan Dumbledore.&lt;br /&gt;Ia merasa nyaman di sini.&lt;br /&gt;Memang ia tidak langsung mengajar. Ia baru masuk bulan November, sedangkan sekoah sudah berjalan. Maka yang ia lakukan baru sebatas magang. Profesor Slughorn memang sudah berniat pensiun setelah Hogwarts menemukan penggantinya.&lt;br /&gt;Tadinya ia tak berniat mengisi posisi Ramuan. Ia mengajukan diri untuk mengisi posisi Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Tapi entah kenapa Dumbledore tak mengijinkan.&lt;br /&gt;Jadilah ia mengisi posisi Ramuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau belum tidur, Severus?”&lt;br /&gt;Severus hanya menoleh sedikit untuk memastikan siapa yang datang. Dari suaranya, ia sudah tahu. Dari kedatangannya saja ia sudah tahu. Tidak ada yang berani mendatanginya di malam selarut ini kecuali Dumbledore.&lt;br /&gt;Ia menggeleng.&lt;br /&gt;“Kau masih memikirkan Lily?”&lt;br /&gt;Severus tak menggeleng atau mengangguk. Sama saja. Memikirkan atau tidak, ia sudah tahu apa yang akan ia rasakan. Perih. Pedih. Nyeri. Rasa bersalah yang menyayat.&lt;br /&gt;Walau Lily sudah meninggal. Walau tak ada yang tahu apa yang terjadi di Riddle’s House malam itu. Tapi justru itu yang semakin dalam menggerogoti, semakin dalam menyerap dalam setiap tetes darahnya.&lt;br /&gt;Dumbledore rupanya tak memerlukan jawaban. Ia berdiri tepat di sisi Severus, di puncak Menara Astronomi, di jendela pengamatan langit yang lebar. Selama beberapa menit ia tak mengucapkan apapun, hanya mengamati langit sama seperti Severus. Atau tepatnya, Dumbledore memandangi langit, dan Severus menerawang tak tentu arah. Hanya mata yang tertuju pada kumpulan bintang di langit, sementara pikiran entah di mana.&lt;br /&gt;Sejenak memandang langit, kemudian Dumbledore mengalihkan pandang pada Severus.&lt;br /&gt;“Kau baik-baik saja, Nak?”&lt;br /&gt;Severus menghela napas. Matanya masih menerawang ke langit. “Secara fisik—tak ada kekurangan.”&lt;br /&gt;“Tapi—“&lt;br /&gt;“Kau tahu sendiri.”&lt;br /&gt;Hening lagi.&lt;br /&gt;“Kau tak ingin membicarakannya dengan orang lain?”&lt;br /&gt;Severus menggeleng.&lt;br /&gt;“Kalau kau ingin membicarakannya, aku siap mendengar—“&lt;br /&gt;“—terima kasih.”&lt;br /&gt;Dumbledore menepuk bahu Severus perlahan. Lalu mengusap punggungnya. “Kau perlu seseorang. Aku tak tahu siapa, tapi kau perlu seseorang untuk menumpahkan—“&lt;br /&gt;“Aku tahu.”&lt;br /&gt;Terdiam lagi. Tangan Dumbledore masih melekat di punggung Severus. Perlahan tangan itu menarik Severus lebih dekat, membuat Severus memutar sembilan puluh derajat hingga posisinya menghadap pada Dumbledore.&lt;br /&gt;Matanya tak percaya menatap mata Dumbledore.&lt;br /&gt;“Kau perlu seseorang—“ Dumbledore mengulang lagi perkataannya sebelum bibirnya menyentuh bibir Severus.&lt;br /&gt;Severus tak dapat bergerak.&lt;br /&gt;Pertama, ini kejutan baginya. Ia belum pernah mengalami yang seperti ini. Ia tak tahu harus merespon bagaimana. Kedua, ia tak tahu bahwa orang yang ia hormati selama ini—bisa berlaku seperti ini. Ketiga, kalaupun ia punya jawaban atas semuanya, bisakah ia menghindar?&lt;br /&gt;Karena Dumbledore dengan lembut mengarahkan tubuhnya agar lebih merapat. Bibirnya lebih penuh menguasai bibir Severus. Lidahnya mulai menari-nari.&lt;br /&gt;Pahit Severus mengikuti apa yang diperintahkan seluruh anggota badan Dumbledore.&lt;br /&gt;Dumbledore terus merapat. Janggutnya lembut menggesek bagian tubuh Severus yang merapat. Tangan Dumbledore yang berada di punggung lembut mengusap dengan gerakan-gerakan melingkar, seakan menghipnotis agar tetap diam, agar bergerak hanya seperti apa yang diminta.&lt;br /&gt;Severus tak tahu apa yang harus dilakukan. Pikirannya menyuruhnya agar berontak, agar keluar dari kungkungan ini, tapi rasa canggung membuatnya terdiam, merasakan apa yang ia dapatkan. Rasa aneh yang ia rasakan, rasa tak pada tempatnya, bukan seperti ini yang ia inginkan.&lt;br /&gt;Ia ingin dirangkul, ia ingin dipeluk, tapi bukan seperti ini. Ini—tidak benar. Rasanya tidak benar.&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba ada sesuatu yang mengingatkan. Hal seperti ini juga yang ia lakukan pada Lily. Lily tentu ingin dipeluk, ingin ditenangkan, tapi yang ia dapatkan adalah—ia tak kuasa untuk mengingat lebih lanjut. Benaknya meneruskan apa yang ia ingat, tapi hatinya menjerit. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Bukan dengan pemaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Kalau kejadian Godric’s Hollow adalah 31 Oktober 1981, maka itu berarti sudah masuk tahun ajaran baru. Kemungkinan Snape mulai mengajar di tahun ajaran 1982-1983. Jawabannya pada Umbridge bahwa ia sudah 14 tahun mengajar, diberikan pada tahun 1995, kemungkinan cocok dengan kapan ia mulai mengajar. Tapi, selama itu ia melakukan apa? Maka Ambu membuatnya menjadi magang Profesor Slughorn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 2729&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total Nano Wordcount: 10835&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyah. Masih banyak!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-7888300693231033814?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/7888300693231033814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=7888300693231033814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/7888300693231033814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/7888300693231033814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-14.html' title='Hari ke-14'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2605806470509764055</id><published>2009-11-13T01:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T01:32:33.503-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-13</title><content type='html'>Oke, karena kemarin-kemarin majunya lambat banget, Ambu coba lompat ke Layar 2: Fandom Harry Potter. Perhatikan, &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ratingnya M&lt;/span&gt;, bukan tanpa alasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAYAR 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PULANG&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Harry Potter kepunyaan JK Rowling&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chara: Severus Snape, Lily Evans, Harry Potter&lt;br /&gt;Genre: full-angst&lt;br /&gt;Rating: M&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Warning: Severitus, language, violence, rape&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa lama Severus tidak menginjakkan kaki di Three Broomstick sejak ia lulus. Tapi kali ini, ia terpaksa. Yaxley memintanya bertemu untuk satu keperluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang tidak ia suka adalah keramaiannya. Three Broomstick selalu ramai. Apalagi jika sedang akhir minggu di mana ada jadwal kunjungan anak-anak Hogwarts. Maka selain orang dewasa pengunjung Three Broomstick yang biasa, akan ada banyak pengunjung ABG siswa-siswa Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kau tahu bagaimana keributan yang ditimbulkan oleh mereka. Karena ia sendiri juga baru saja beberapa bulan yang lalu meninggalkan Hogwarts. Baru saja meninggalkan keramaian yang memusingkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Yaxley justru memilih Three Broomstick. Dengan alasan, di tempat yang ramai, justru akan aman untuk berbisik-bisik. Tak akan ada yang curiga, tak akan ada yang mencuri dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang si &lt;em&gt;moron&lt;/em&gt; itu benar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tetap saja ia benci keramaian. Maka setelah memesan sebotol butterbeer, Severus melayangkan matanya berkeliling, mencari tempat yang sepi. Ada sebuah meja dengan dua kursi, di sudut, terhalang oleh tiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduklah ia di sana. Perlahan menyesap butterbeer sambil menanti. Tak usah terburu-buru. Yaxley biasanya juga suka terlambat. Matanya berkelana ke seluruh Three Broomstick. Ada tiga ABG cewek, sedang terkikik sambil memperhatikan entah apa, surat mungkin. Ada dua orang dewasa, laki-laki, sedang serius berbicara, sambil yang satu mengoret-oret perkamen. Menghitung sesuatu, rupanya. Ada seorang ibu, masuk sambil kerepotan mengawal empat anak kecil yang terus ingin berlari-larian, plus satu anak di pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu, kebiasaannya. Teliti memperhatikan detil keadaan sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyesap butterbeernya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha untuk tak mencolok, ia terus memperhatikan keadaan sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalaulah ia seekor kucing, tentu telinganya akan meruncing, tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua gadis duduk di seberangnya, sedikit terhalang oleh tiang itu. Tapi suara mereka jelas terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—jadi, kau mau pakai baju apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lily tentu akan cantik pakai gaun putih. Kalau kita pakai gaun putih juga, bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha! Kau mau menyaingi pengantin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya jelas, enggak. Lagipula, jangan yang ribet, yang simpel aja. Jadi kesan bahwa kita teman mempelai wanita, lebih terasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener juga sih. Tapi aku nggak punya uang untuk beli mendadak,” gadis yang satu menyeruput minumannya, “Rasanya aku ada baju putih. Nggak putih banget sih, &lt;em&gt;broken white&lt;/em&gt;. Punya ibuku, warisan dari nenek—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, bagus itu! Keren tau, pakai baju &lt;em&gt;vintage&lt;/em&gt;! Aku juga mau cari baju &lt;em&gt;vintage&lt;/em&gt; aja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terkikik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus berusaha tak menghiraukannya. Ada banyak nama Lily di seluruh Inggris Raya, tentunya. Tapi percakapan mereka terdengar terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya, Lily jadi memakai Mary sebagai &lt;em&gt;best lady&lt;/em&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lily dan Mary&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Mereka bersahabat dari kelas satu sampai tujuh, pastilah Lily akan memilih Mary.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—seperti James pasti akan memilih Sirius sebagai &lt;em&gt;best man&lt;/em&gt;—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terkikik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lily, Mary, James, dan Sirius? Tak salah lagi! &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, 4 November ya? Masih berapa hari lagi? Kita harus mengepas baju dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau potong rambut dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir Jason akan datang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm, rasanya tidak. Mungkin James tidak akan mengundangnya, mereka tidak begitu akrab—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah. Mungkin ada keluarga James yang cukup cute untuk di—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terkikik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tercenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada rumor bahwa Lily Evans dan Potter-arogan-dari-Gryffindor itu akan segera mengakhiri masa pacaran mereka, tapi secepat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mencengkeram botol butterbeernya erat-erat, nyaris saja rasa masygulnya memecahkan botol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi muncul sedikit kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Untuk apa kau memikirkannya lagi, Severus! Ia bahkan sudah tak melihat sebelah mata pun lagi padamu. Untuk apa ia dipikirkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depanmu bersama Pangeran Kegelapan! Ia bahkan hanya percaya padamu untuk semua hal yang berurusan dengan Ramuan. Padahal kau baru saja lulus Hogwarts, dan kau sudah langsung dimasukkan ke dalam Lingkaran Terdalam, &lt;em&gt;Inner Circle&lt;/em&gt;, oleh Pangeran Kegelapan, membuat iri bahkan seorang Malfoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menyesap habis butterbeernya. Dan bersyukur Yaxley muncul detik itu juga, dan mengalihkannya dari obrolan dua gadis di seberangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Yaxley membosankan juga. Yang ia bicarakan hanya bagaimana teknik penyiksaan Muggle, bagaimana serta di mana mereka bisa menemukan Muggle dalam jumlah yang cukup, dan blablabla—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katamu, di daerah itu ada jenis-jenis tumbuhan magis langka untuk Ramuanku?” Severus mencoba mengalihkan percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, yeah,” Yaxley menghentikan bualannya, dan merogoh-rogoh saku jubahnya, “—kalau tidak salah, ini termasuk langka?” Ia mengeluarkan beberapa helai daun. Sudah lusuh, sudah terlipat-lipat di dalam saku jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengambil daun-daun itu, dan meneliti kesemuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang ini sih, di Hogsmeade juga ada,” Severus memilah-milah daun lusuh itu, “—yang ini, kalau kita jeli, kita bisa menemukannya di Knockturn Alley,” tapi tangannya berhenti di salah satu daun yang paling kecil, “—yang ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya membesar, “—jadi, kau dapat di mana Yaxley?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di daerah operasiku kemarin. Kalau kau mau, akan kuantar kau ke sana—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—tidak perlu. Sebutkan saja koordinatnya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaxley menelan ludah. Terpaksa menyebutkan wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, thanks!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—tapi kau mau kan, menyebutkan namaku sebagai orang yang memberitahu lokasinya, pada Pangeran Kegelapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Sebagai orang dalam Lingkaran Terdalam, bahkan hanya menyebutkan nama sebagai orang yang punya jasa juga, dinanti-nanti orang. Severus mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu. Jika Pangeran Kegelapan menanyakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seulas senyum lega muncul di bibir Yaxley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Kau mau minum apa, Severus? Aku yang trak—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah minum tadi. Sekarang aku akan mencari bahan Ramuan.” Severus berdiri. “&lt;em&gt;Thanks&lt;/em&gt;, Yaxley!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;You’re welcome&lt;/em&gt;,” sahut Yaxley lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, terimakasih karena kau telah memberiku alasan untuk menghindari percakapan kedua gadis di seberangku, pikir Severus sambil melangkah keluar dari Three Broomstick. Tanpa sadar, diulang-ulangnya percakapan kedua gadis tadi. &lt;em&gt;Jadi, 4 November ya? Jadi, 4 November ya? 4 November!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Masih beberapa hari lagi, Severus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya, dalam beberapa hari itu, apa yang akan kaulakukan? Apa yang bisa membuat Lily berpaling padamu, dan bukan pada idiot-Potter itu, dalam beberapa hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus ber-DisApparate dari Hogsmeade, dan Apparate di pinggiran sungai daerah Spinner’s End.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal hanya beberapa menit jaraknya dengan kompleks perumahan keluarga Evans, tapi seolah-olah ada tembok tebal yang menghalangi, yang membuat mereka tidak dapat bertemu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sepi, karena sejak kedua orangtuanya meninggal, rumah itu hanya ditinggali olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup pintu dan menguncinya. Melepas jubahnya dan menggantungnya di gantungan dekat pintu. Terduduk di kursi. Berusaha menenangkan hatinya, meraih sebuah buku, dan membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jadi, 4 November ya&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damn it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus melempar buku di tangannya sekuat tenaga, menimpa rak lampu, dan terguling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus berusaha sekuat tenaga untuk melupakan percakapan gadis-gadis di The Broomstick itu. Hari berganti hari, diisinya dengan membuat ramuan. Apakah pesanan Pangeran Kegelapan. Ataukah ramuan yang hanya ia yang tahu untuk apa fungsinya. Dan memusatkan perhatian pada buku-buku Dark. Dan membuat riset untuk mantra baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya. Karena dengan tidur, ia kehilangan hal yang bisa dijadikan pengalih perhatian, yang akan mengalihkan fokusnya. Pada saat-saat menjelang tidur, percakapan gadis-gadis itu akan kembali terngiang-ngiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya dalam beberapa hari terakhir ini, wajah pucatnya semakin pucat. Lingkaran di bawah mata terlihat semakin jelas. Tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia harus melupakannya. Ia harus melupakannya. Ia, seorang Slytherin, seorang Pelahap Maut, tak akan luluh hanya oleh seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak. Akan. Pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat ia sedang melakukan pengadukan terakhir untuk ramuan malam ini, ia merasa Tanda Kegelapan di tangan kirinya panas terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaduk sekali lagi ramuannya, mematikan apinya, menutup kualinya. Mengenakan topengnya, mengenakan jubahnya, dan ber-Apparate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Riddle’s House, sudah banyak Pelahap Maut berkumpul. Severus langsung masuk ke ruangan terbesar. Di salah satu sisinya, ada kursi mewah, bagaikan singgasana. Pangeran Kegelapan duduk di sana, mengawasi anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dark Revel&lt;/em&gt;. Pesta para Pelahap Maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus benci pada pesta semacam ini. Ia lebih suka menyendiri di ruang bawah tanahnya, meramu, atau membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa boleh buat. Pangeran Kegelapan sendiri yang mengundangnya. Mungkin ia akan minum sedikit, bercakap-cakap dengan Pangeran Kegelapan sedikit, dan minta diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus maju, berhenti tepat di depan Pangeran Kegelapan, dan berlutut. Mencium ujung jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdirilah,” desis Pangeran Kegelapan, sambil memberi isyarat agar Severus berdiri di sebelah kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus berdiri, berjalan ke kanan Pangeran Kegelapan. Seorang Pelahap Maut dari level rendah menghampiri membawa baki dengan berjenis-jenis minuman. Praktisnya sih, seorang penyihir bisa mengambil minuman sendiri dengan ‘&lt;em&gt;Accio&lt;/em&gt;’, tapi kalau kau bersama Pangeran Kegelapan dan kau dibawakan minuman, itu adalah penghargaan besar untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus memilih yang jenis alkoholnya paling rendah, seperti kebiasaannya. Pangeran Kegelapan pun tahu ini, dan tidak pernah protes. Dengan dalih ia memerlukan konsentrasi tinggi untuk meramu, ia tentu saja tidak boleh sampai mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Kegelapan menepukkan tangannya sekali untuk meminta perhatian. Dengan sendirinya, semua terdiam. Fokus tertuju pada Pangeran Kegelapan, dan Severus di sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kawan-kawanku,” desisnya dingin, “—dengan gembira aku ucapkan selamat pada keberhasilan kita mengadakan serangan kemarin. Bukan hanya serangan fisik yang kita lancarkan, tetapi dengan kepiawaian kawan kita, Severus Snape,” ia menoleh pada Severus. Dan otomatis perhatian teralih padanya. “—kita bisa membuat seluruh penduduk desa tunduk pada kita. Ramuan Imperius yang dimasukkan ke dalam sumber air minum mereka, telah membuat mereka menjadi abdi kita—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan membahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bersulang!” sahutnya. Seorang Pelahap Maut membawakan gelas padanya. Ia mengacungkan gelasnya tinggi-tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To Severus Snape!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To Severus Snape!” ulang para Pelahap Maut keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mengangkat gelasnya juga, mengangguk memberi tanda berterima kasih, dan meneguk minumannya sekali jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, silakan menikmati!” Pangeran Kegelapan berjalan meninggalkan mereka, diikuti ularnya mendesis-desis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuh rendah kembali menyelimuti Riddle’s House.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus hampir meletakkan gelasnya dan pergi juga, ketika ia teringat, di Spinner’s End pun ia sedang tak ada kerjaan. Ramuan yang tadi, sudah ia selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ia memberi isyarat pada Pelahap Maut yang tadi untuk menambah isi gelasnya. Dan bahkan, ia mengganti isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar alkohol yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali ia pernah mencicipi, tapi tak pernah banyak. Selain itu, paling ia hanya minum Mead. Jarang ia mencoba Firewhiskey atau Vodka. Apalagi Muggle Bourbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini mungkin bolehlah sesekali minum Firewhiskey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak repot-repot memanggil Pelahap Maut untuk membawakannya, ia menjentikkan tongkatnya, dan segelas Firewhiskey tiba di tangannya. Dihabiskan dalam sekali teguk. Ada rasa aneh menelusuri kerongkongannya. Panas. Pahit. Tapi tak dihiraukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, ternyata dengan minum ia bisa melupakan kesusahan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus menyeringai. Kesusahan apa? Ia tak pernah punya kesusahan. Seorang Pelahap Maut tak akan punya kesusahan. Semuanya bisa dilampiaskan pada para Muggle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjentikkan lagi tongkatnya, dan segelas lagi menggantikan yang tadi. Lagi. Lagi. Dan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah setengah sadar ketika keriuhan di ruangan semakin menjadi-jadi, ketika seorang Pelahap Maut berteriak meminta perhatian. “WOOOOIII! Mereka dapat Muggle lagi! Kali ini bisa kita pakai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa Pelahap Maut memasuki ruangan, dengan tertawa terbahak-bahak, menyeret beberapa orang—beberapa wanita muda. Severus tadinya tak menghiraukan, ia belum pernah terlibat langsung dalam penyiksaan fisik, apalagi perkosaan. Yang biasa ia lakukan adalah penyiksaan melalui ramuan. Dan biasanya itu akan lebih menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini, Severus menahan napasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian wanita muda yang dilemparkan di tengah-tengah mereka, ada Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Lily di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muggle lain yang diseret-seret, tak dikenalnya. Baguslah, jadi berarti bukan dari lingkungan tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selangkah ia maju, dan yang lain mundur. Levelnya yang paling tinggi di antara Pelahap Maut yang lain, membuat mereka sungkan. Ada semacam kode etik di antara mereka, biarkan Pelahap Maut yang paling tinggi levelnya memilih, sisanya baru bisa untuk Pelahap Maut yang lebih rendah levelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia maju lagi. Tepat selangkah di depan Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Lily tak mengenali, karena ia memakai topeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus merendahkan tubuhnya, menangkap tangan Lily dengan kasar, menariknya agar berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkohol sudah menguasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya kasar, menuju jejeran kamar di sisi Riddle’s House. Terasa olehnya, Lily gemetar. Ia tak bersuara, entah karena takut atau marah, tapi Lily gemetar. Namun sudah tak dihiraukannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung masuk ke sebuah kamar, ditutupnya dengan Alohomora. Didorongnya Lily, terjerembab di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ap-apa maumu—“ akhirnya Lily bisa membuka mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mendekatkan wajahnya pada wajah Lily. “Kau pikir, apa mauku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai disambar halilintar, Lily tersentak. Wajahnya langsung pucat. “Se-Severus—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus tertawa. “Kau tahu, kalau aku tak berhasil mendapatkan apa yang kumau dengan baik-baik—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lily mencoba mundur. Ada yang terendus dari mulut Severus. “Ka-kau mabuk, Sev—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus kembali terkekeh. “Apa bedanya?” Wajahnya semakin mendekat. Lily mencoba menghindar, tapi tak bisa. Kedua tangannya di tekan Severus di atas kepala, seluruh badannya ditindih. Bibir Severus melumat bibirnya dengan paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilly berusaha menggoyangkan kepalanya, tapi tak bisa. Serasa lemas tak bertenaga. Nampaknya Severus memperhatikan ini, dan ia malah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak akan bisa berontak, sayang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa—apa yang kau laku—lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mantra Melemaskan. Kau tak kan kuat memberontak, bahkan hanya untuk ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus kembali melumat bibirnya dengan paksa. Lidahnya menerobos masuk, menari-nari di seluruh wilayah. Mencicipi seantero daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lily berusaha memberontak, tapi tak bisa. Tubuh Severus menindih seluruh tubuhnya. Dan ada bagian yang mengeras dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Severus menarik bibirnya dari bibir Lily, tapi tidak bisa membuat Lily menarik napas lega, karena Severus mengalihkan perhatian pada lehernya. Seluruh wilayah lehernya dikecup tergesa, digigit hingga mengeluarkan darah. Severus menyeringai, menjilat darah yang menetas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ia menarik diri sedikit, membuat tubuhnya berjarak dengan tubuh Lily, tapi itu ternyata untuk maksud lain: ia merobek pakaian Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lily menjerit perlahan. Tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menjerit keras-keras saja ia sudah tak bisa. Sudah tak ada daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mencicipi tiap senti tubuhnya. Dengan teliti, semua tak terlewatkan. Napasnya semakin memburu. Sebaliknya Lily, semakin tak berdaya. Sudah tak bisa menjerit, sudah tak bisa berteriak. Bahkan, kemudian menangis pun tak bisa. Bahkan menyebut nama pun sudah tak bisa. Menangis pun hanya berupa isakan pelan, tak berair mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu,” bisik Severus tepat di telinga Lily, menjilat daun telinganya hati-hati, “—aku tak semujur Potter, bisa menikahimu. Tapi, kini aku bisa menikmatimu, justru sebelum that-arrogant-bloke—“ ia mengoyak sisa baju yang tertinggal pada tubuh Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus hanya membuka sedikit celananya, cukup hanya untuk membuatnya bersatu dengan Lily. Teriakan tertahan Lily saat ia masuk, membuatnya terhenti sejenak, dan tertawa pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baru tahu kalau kau masih perawan, Lil. Kukira Potter sudah sering menidurimu saat masih di Hogwarts,” terkekeh pelan lagi. Kekeh yang keji, karena setelahnya ia menghunjamkan kelelakiannya sekali jadi. Membuat Lily menjerit panjang menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak hati Severus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghentak berkali-kali dengan kekuatan penuh, dengan kecepatan penuh. Seolah meluapkan seluruh nafsunya. Yang sudah dipendamnya bertahun-tahun, yang tak terucapkan, yang tak bisa terucapkan, kini lepas bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas memburu. Kedua tangannya merengkuh tubuh Lily, mengeratkannya seolah agar tak lepas. Hanya dalam hitungan menit, tapi dalam hitungan Lily bagai berabad-abad, ketika akhirnya Severus masuk ke dalam puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlahan-lahan keringat itu mengeliminasi efek samping alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Severus berubah perlahan-lahan. “Lily—“ sahutnya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lily nampaknya sudah jatuh pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Severus memisahkan dirinya dari Lily. Dipakainya lagi celananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada darah yang tercipta. Beberapa noda di paha Lily bagian dalam. Ada yang menyerap di seprai. Cairan putih meleleh juga dari paha bagian dalam. Baju Lily terserak di mana-mana, terkoyak dan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merlin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sudah kulakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sudah kulakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Tidak. Apa yang sudah kau lakukan, Severus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus maju lagi. Diulurkan tangannya di dekat hidung Lily, mencari jejak kehidupan. Masih ada. Ia masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ia sampai membunuhnya, ia tak akan pernah memaafkan diri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak. Saat ini pun, dengan apa yang sudah ia lakukan, ia tidak bisa memaafkan diri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direngkuhnya tubuh Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didekatkan pada dirinya. Didekatkan ke wajahnya, dan ia berbisik di telinga Lily, “—maafkan aku, Lily. Ampuni aku, Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dieratkan tubuh Lily. Bergetar karena emosi. Dan ia terisak. “—maafkan aku, Lily. Maafkan. Ampuni aku, Lily. Kumohon. Ampuni aku, Lily—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa menit ia tak bergerak, hanya getaran tubuhnya saja berikut suaranya melafalkan mantra, ‘maafkan’ dan ‘ampuni’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam menit-menit kemudian, benaknya mulai bekerja. Dilepaskan tubuh Lily, dan diambilnya tongkatnya. Diarahkan pada bagian-bagian yang terluka, dan ia komat-kamit mengucapkan mantra, “&lt;em&gt;Vulnera Sanatur&lt;/em&gt;,” berulang kali dengan nada seperti bernyanyi. Perlahan luka-luka yang ada menghilang, kulit menjadi nampak seperti baru lagi. Ia melakukan hal yang sama dengan bagian kewanitaan Lily, dengan lebih teliti dan lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membersihkan seluruh tubuh Lily. Ia membuat baju Lily kembali seperti semula, dan dipakaikannya hati-hati. Kini tinggal bagian terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OBLIVIATE MAXIMA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cahaya berpendar ke seluruh penjuru kamar, berbeda dengan hati Severus yang justru ciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak yakin bahwa mantra ini akan berhasil. Ia tahu, apa yang sudah ia lakukan tadi, akan membekas sangat dalam, akan menimbulkan trauma. Apakah akan bisa dihapuskan dengan Obliviate semata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus memejamkan mata, menarik napas panjang berkali-kali. Tidak berani langsung menyentuh. Tidak seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia memberanikan diri menyentuh pipi Lily, nyaris tak menyentuh sebenarnya. Dan berbisik, “—aku tahu aku salah, Lily. Dan itu karena aku mencintaimu. Sangat dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghembuskan napas. Lalu berdiri. Berjalan ke arah pintu, dan didengar-dengarkan bunyi di luar. Masih ramai—seruan gembira, jeritan memelas, makian kotor—semua ada. Ia tak berani membayangkan apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau membandingkan dengan apa yang baru saja ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkatnya Lily perlahan, dipangkunya, dan diayunkan tongkatnya. Side-Along Apparation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lesu Severus ber-Apparate di pinggiran sungai di Spinner’s End. Malam kelam, dingin menggigilkan, hujan rintik-rintik membuat sakit kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja ia mengantarkan Lily kembali ke Godric’s Hollow. Setahunya, Lily sudah berdiam di sana untuk beberapa lama, apalagi menjelang pernikahan seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya—mengantarkan bukanlah kata yang tepat. Karena ia berjumpa dengan James Potter dan beberapa pendukungnya, sedang mencari-cari ke mana gerangan Lily. Ada kabar kalau ia diculik Pelahap Maut, ada yang bilang ia sudah dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, James girang ketika melihat Lily tak kurang suatu apapun terkecuali bahwa ia sedang dibawa oleh Severus dalam keadaan pingsan! Tapi Severus sama sekali tak berbicara separah katapun. Saat James melancarkan serangan-serangan, ia hanya menangkis dan menangkis sebisanya, lalu ber-DisApparate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia kini di sini, di rumahnya sendiri. Sendirian. Dingin. Hingga ke hati. Pedih. Miris. Dan bukan hanya karena Lily memang sudah memilih James. Bukan hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi karena kenyataan bahwa ia sudah melakukan hal yang tak terampuni pada Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak tahu mana yang lebih baik. Lily tahu keadaan sebenarnya, membencinya, membuat semua orang juga turut membencinya; atau membuat Lily tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi? Dan hanya ia sendiri saja yang tahu, yang memendam terus di hati dalam-dalam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severus membuka pintu rumahnya pelan-pelan, menutupnya juga sama pelan, dan menyandarkan punggungnya di pintu. Memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berani ia membayangkan akan seperti apa malam-malamnya akan berlalu. Tak berani ia membayangkan mimpi buruk seperti apa yang akan selalu menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bergerak, masuk ke kamarnya, masuk ke kamar mandi. Tanpa membuka pakaian, ia menyalakan shower. Biasanya malam-malam seperti ini ia memakai air hangat, tapi sekarang tidak. Ia tidak menyalakan penghangat, tak menjentikkan tongkat untuk menyalakannya. Ia membiarkan air dingin sebeku es mengalir membasahi kepalanya yang panas, membasahi wajahnya, membasahi seluruh tubuhnya, membasahi hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak akan bisa mencintai orang lain lagi. Dengan kenyataan bahwa, orang yang ia cintai pun sudah ia celakai. Sudah ia sakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak akan bisa mencintai orang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 3.078&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total MS Wordcount: 8.328&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Total NaNo Wordcount: 8.179&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: 21.337&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huwaaa! Masih jauh! Tapi kalau bisa seperti tadi, mungkin bagus, masih akan bisa kekejar :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2605806470509764055?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2605806470509764055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2605806470509764055' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2605806470509764055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2605806470509764055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-13.html' title='Hari ke-13'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-4631036681503138086</id><published>2009-11-13T01:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T01:18:46.722-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-11</title><content type='html'>Oke, ini telat nge-post :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan lajunya Impala, pelan-pelan Dean mulai menangkap pemikiran Sam. “Kau ingin menyelidiki kematian Amanda kemarin kan, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum polos, tertangkap basah. “Habis, kau kelihatan kuyu begitu. Mentang-mentang dia cantik dan sexy, dan sudah memberikan tanda-tanda padamu. Jadi penasaran kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terkekeh. “Masih banyak yang lain, Sammy, masih banyak yang lain.” Dean menambah kecepatan saat ambulans sudah terlihat, tapi nampaknya akan membelok. Tak mau ketinggalan jejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu masuk ke lingkungan Fairbanks Memorial Hospital, sambil mencari tempat parkir, Dean melirik Sam, “Sebaiknya aku saja yang turun. Kau sudah dikenal, baik oleh tenaga kesehatan maupun sheriff. Tiap ada kesempata berbicara, kau yang maju. Mungkin mereka tidak begitu mengenalku. Jadi mungkin saja aku akan lebih berhasil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserahlah—“ Sam membuka tasnya, meraih laptop dan menyalakannya. “Aku cari di sini, kau cari di rumah sakit. Siapa tahu ada perawat sexy—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkekeh keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Sam asyik browsing mengenai totem, tapi lama-lama ia bosan juga. Dilihatnya arloji. Sudah nyaris tiga jam. Ada apa dengan Dean?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam sudah mengeluarkan ponsel dari saku jaket, ketika dilihatnya Dean keluar dari pintu samping yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terburu-buru, ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan keluar dari halaman parkir. Tanpa bicara. Sam terdiam saja, ia sudah hapal akan kelakuakn kakaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, tidak jauh mobil mencari tempat parkir lagi, dan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” Sam bertanya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bicara, Dean mengeluarkan kertas dari sakunya. Nomer telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Sam berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Dean tak mampu menahan tawa, dan meletuslah tawanya. “Itu nomer telepon Heddie, perawat se—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deeeeean!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean masih tertawa, tapi sudah berusaha menghentikannya, “OK, OK. Bukan itu. Tapi itu juga ada hubungannya, Heddie berjanji akan menghubungiku kalau dia mendapat informasi baru,” kini Dean mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari balik jaketnya. Memberikannya pada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar, Sam, kita harusnya menjadi detektif kriminal. Ada satu peristiwa kriminal yang sedang terjadi disini, walau aku tak tahu apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tak berkata-kata. Ia mengeluarkan kertas-kertas dari dalam amplot coklat itu. Laporan kematian. Ada juga rekam medik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau bisa mendapat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heddie.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. Itulah makanya Dean keluar dari lingkungan rumah sakit, untuk membaca laporan yang sebenarnya tak bisa didapatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman demi halaman. Sam mengangkat wajah yang sudah berkerut berlapis-lapis. “Tapi, bagaimana bisa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng pelan, “Aku juga tak tahu, Sammy.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melihat lagi halaman-halaman fotokopian itu. “Yang aku tahu, anak kembar satu telur saja punya sidik jadi yang berbeda. Yang ini, tiga orang punya sidik jadi yang sama? Dan anehnya, terkumpul di rumah sakit yang sama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk, tangannya memainkan dagunya. “Itulah. Amanda Schell, datang dari Seattle—menurut polisi ia datang dari California. Karena artis kelas bawah, tentu saja tak cukup punya uang untuk naik pesawat ke Alaska, dan memutuskan naik mobil saja. Mustang itu mobil kawan laki-lakinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menunjuk halaman yang lain, “Brandon Smith, mahasiswa, dari Iowa, naik bis ke Fairbanks. Begitu turun di perhentian bis, orang menyangka ia terpeleset di tangga bis, dan jatuh ke aspal, tapi ternyata ia sudah tak bernyawa. Tak ada luka, tak ada tanda-tanda kekerasan. Petugas medis memperkirakan stroke. Memang ia masih muda, tapi konon penyakit stroke sekarang bisa menyerang siapa saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memisah halaman berikutnya, “Yang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini yang tadi di rumah dekat perpustakaan, Jordi Heath. Programer komputer. Ia masih tinggal bersama orang tuanya, tapi kamarnya di pavilyun karena sering pulang malam. Tadi ibunya berulang kali mengetuk pintunya, akan menyuruhnya makan, tapi tak ada jawaban. Tapi suara musik dan sebagainya, tetap keras sebagaimana biasa. Ibunya mengintip dari jendela, sepertinya Jordi duduk di depan komputer, tapi tak menjawab panggilannya. Curiga, ibunya membuka dengan kunci cadangan, dan menemukan anaknya sudah tak bernyawa, masih dalam posisi mengetik di keyboard.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kening Sam berkerut, halaman-halaman fotokopian itu dilihat-lihatnya lagi. Dan, “Dean, kau lihat tanggal lahirnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. “Ya. Tanggal lahir sama, sidik jari sama. Jam kematian juga sama,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam buru-buru meneliti halaman-halaman itu dengan seksama. “Ya. Jam kematian sama. Tiga orang dari tiga latar belakang, dari tiga negara bagian—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Sam menerawang, “Apakah—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—apakah masih akan ada korban yang lain, Sammy, itu juga yang menjadi pikiranku. Mari kita mencari ke rumah sakit lain. Tanggal lahir sama, meninggal pada saat yang sama—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita cari di internet saja, kurasa data rumahsakit di sini sudah online—“ Sam kemudian sibuk mengetik-ngetikkan sesuatu, mencari dan menelusuri. Dean mencondongkan badannya ke arah Sam sehingga terlihat jelas apa yang ada di layar laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat dua orang,” Sam menunjukkan pada nama yang ada di tabel, “tapi ini hanya ada tanggal lahir dan jam kematiannya saja, tak ada data sidik jari. Rupanya sidik jari ada di arsip rumah sakit, dan tak dimasukkan online—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita anggap saja sidik jarinya sama. Kau punya teori, bagaimana bisa ini terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kening Sam berkerut, matanya menatap ke arah layar, tapi ia tidak sedang melihat layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm ... hm ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tak mendengar apa yang dikatakan Dean, Sam mengetikkan beberapa kata dalam search engine. Memilih-milih link. Membukanya. Membaca sekilas artikel-artikel yang terbuka. Menggeleng. Mengetikkan lagi kata-kata baru dalam search engine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sudah hapal kebiasaan adiknya itu, duduk bersandar, menutup matanya sejenak, menunggu hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Dean—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup?” Dean langsung dalam posisi siaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—mungkinkah mereka ... kloning?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kloning? Tapi, bukankah kloning pada manusia belum diperbolehkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Resminya demikian. Percobaannya saja belum boleh dilakukan pada manusia, hanya pada hewan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dugaanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dugaanku, ada percobaan sembunyi-sembunyi dengan kloning ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk akal. Walau sedikit. Bagaimana dengan—jenis kelamin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum terpikirkan. Mungkinkah—ilmuwannya mencoba-coba membuat satu seri anak-anak kloning dengan gender berbeda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm,” Dean mencoba memahami apa yang sudah dipahami adiknya, “—jadi kalau kloning, harusnya—haruskah dikandung oleh satu ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teorinya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi lima anak? Wow!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin—lebih, Dean. Hanya saja kita belum tahu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Lalu, setelah beberapa saat, Dean menghidupkan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita kembali saja dulu. Mungkin Pavarell punya ide tentang hal ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pusat kota ke kediaman Pavarell hanya memerlukan beberapa puluh menit, tetapi rasanya panjang. Keduanya sama-sama mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dapat. Agak susah diterima akal. Beberapa orang dengan tanggal lahir yang sama, meninggal di waktu yang sama, dan ternyata mereka punya sidik jari yang sama—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di tempat kediaman Pavarell, sudah menunggu kejutan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang mereka cari?” Sam berbisik, saat petugas medis dari FMH mengangkat tandu Pavarell ke dalam ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tak menjawab, karena selain Sam tak perlu, ia juga tak tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi mendekati. “Kalian tak akan ke mana-mana kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menggeleng. “Kami akan tetap di sini, atau di rumah sakit menungguinya. Setidaknya sampai Pavarell bisa kembali—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey. Rumah sudah bisa dibereskan, penyelidikan sudah selesai. Tetapi kalau-kalau nanti ada pertanyaan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih. Selamat sore.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sore.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menatap hingga mobil sherif dan ambulans menghilang di tikungan, lalu saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Totem itu?” sahut keduanya nyaris bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah berlari keduanya menuju ruang bawah tanah. Turun dengan bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bungkusan totem itu ada di sana. Mengecek, jangan-jangan bungkusan itu hanya bungkusan yang serupa tanpa isi, mereka bersepakat membuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totemnya masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengeluarkan EMF-meternya dan mendekatkan pada totem itu. Seperti saat pertama dikeluarkan, mata totem itu menjadi merah, jelas apalagi di ruang bawah tanah yang remang-remang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ini bukan sasaran pencurian. Atau mungkin para pencuri itu tak mengira kalau Pavarell menyimpannya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membungkus totem itu kembali, menyimpannya seperti sediakala. Lalu mereka naikke atas, menutup tingkap dan menguncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, apa yang mereka cari?” tanya Sam menggantung. Ia memunguti barang-barangyang berserakan di lantai, menempatkan mereka sebisanya agar seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah gelap ketika mereka selesai membereskan rumah Pavarell—sebisanya. Dean membuka lemari dapur, mencari makanan kaleng, dan memanaskannya. Mereka makan, Dean sambil membuka halaman-halaman yang tadi ia fotokopi di rumah sakit, Sam browsing ke sana ke mari sambil mengecas laptopnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kloning pertama kali dipublikasikan 1984,” sahut Sam, membaca sambil lalu artikel-artikel yang diperoleh saat browsing. “Tahun lahir mereka—1985?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yups!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah—mereka hasil kloning yang diproduksi diam-diam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi—kenapa mereka harus berkumpul di Alaska?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memandang Dean. Dean memandang Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laboratorium yang memproduksi mereka ada di Alaska?” sahut mereka nyaris bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu!” Dean mengeluarkan buku alamat Amanda dari saku jaketnya, dan membuka-buka halamannya, “—rasanya pernah kubaca ada nomer telepon lab—“ dan ia tiba di halaman itu, “—ini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Inuit Laboratory?” Sam membaca keheranan, “—bukannya Inuit itu suku Indian? Eskimo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan tangkas ia mengetikkan nama itu di search engine-nya. Muncul sederetan link. Ditelusuri dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—Dean—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memiringkan badannya agar bisa turut membaca temuan Sam. “—ditutup karena kesulitan keuangan sejak 1989—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada alamatnya? Tak ada alamatnya di buku Amanda,” Dean nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja. Mereka berpikiran sama. Laboratorium yang sudah ditutup, dan tak akan ada yang mengira masih ada kegiatan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menelusuri artikel yang baru saja dibaca. “Ini ada.” Dibacakannya, dan Dean mencatatnya dalam selembar notes yang diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kemaren lupa nggak nge-post, jadi aja nggak tau hitungan NaNo-nya. Yang pasti, berdasarkan NaNo Validator wordcount-nya &lt;strong&gt;5151. &lt;/strong&gt;Target seharusnya &lt;strong&gt;18.334&lt;/strong&gt; :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-4631036681503138086?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/4631036681503138086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=4631036681503138086' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4631036681503138086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4631036681503138086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-11.html' title='Hari ke-11'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-8355226355789984632</id><published>2009-11-10T17:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T17:22:30.884-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-10</title><content type='html'>Ini hasil di hari ke-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. Sam mengangguk. Diliriknya, nampak airmuka Dean kusut tak terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kalian istirahat saja dulu,” Pavarell menunjukkan pada Sam dan Dean kamar mereka, “—nanti setelahnya baru akan kutunjukkan artifak itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka setuju. Membersihkan diri, dan setelahnya Pavarell menyajikan sup krim yang tak ditolak oleh Dean, habis itu merekapun lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sudah menyelinap dari jendela saat Dean terbangun. Sam sudah tak ada. Selesai menggosok gigi dan mencuci muka, ia keluar kamar, dan terlihat di teras depan Sam, Pavarell, dan beberapa orang lagi sedang berbicara. Tapi tak lama, orang-orang itu menjabat tangan Sam dan Pavarell, dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah bangun,” sahut Sam tatkala memasuki rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sarapan dulu,” Pavarell berjalan ke daerah kompor yang menyatu dengan daerah kursi-meja. Menyalakan api dan mulai mengaduk-aduk sesuatu dalam panci, lalu membagikannya ke dalam 3 buah piring. Dibantu Sam, menghidangkannya di atas meja. Bertiga mereka makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa mereka?” tanya Dean sambil mencicipi chili di hadapannya, “—kelihatannya seperti polisi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya memang, polisi dari Fairbanks. Tanya-tanya tentang kejadian kemarin—“ Sam menyendok chili banyak-banyak. Di daereah dingin seperti ini, chili memang membuat hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterangan yang kemarin kita berikan, belum memuaskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nampaknya, ada sesuatu yang baru mereka temukan,” Pavarell ikut nimbrung, “—entah apakah dia itu korban kriminal atau bukan. Tapi kalau mendengar cerita kalian, sepertinya dia kelelahan menyetir sekian jauh sendirian, lalu kehilangan konsentrasi, dan menabrak pohon jadinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kesimpulan kami juga. Polisi juga tidak memperoleh tanda-tanda telah dilakukan kekerasan,” Sam menghentikan sendoknya di pinggir piring. “Hey, Dean, buku alamatnya masih ada padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menyuap sesendok, meletakkan sendoknya di piring, sebelum mencari-cari di saku-saku jaketnya. Dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini. Walau aku tak tahu, apa yang bisa kita dapat dari sini—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tertawa kecil, “—mau berubah menjadi detektif?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuka-buka buku itu. Kebanyakan memang nama-nama pencari bakat, jelas dari nama perusahaan yang mereka wakili berikut alamatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—karena itulah kau tak memberikannya pada polisi waktu ditanyai?” Pavarell mengumpulkan piring kotor dan menatanya di dalam dishwasher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menggeleng. “Lagipula polisi tak menanyakan. By the way, mana artifak yang kau bilang itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell menghilang sejenak ke ruang bawah tanahnya, naik lagi kemudian membawa sebuah bungkusan kain hitam kira-kira sebesar seekor kucing. Ia meletakkannya di meja, tapi tidak langsung membukanya. Ia menutup semua tirai dulu sehingga ruangan menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak gelap sempurna. Kalau malam hari, akan terlihat jelas,” sahutnya, perlahan membuka bungkusan kain itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang aneh. Seperti sebuah patung, mungkin miniatur dari sebuah totem, warnanya kecoklatan, atau dulu mungkin berwarna-warni, tapi karena umurnya sudah tua, lama kelamaan menjadi kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—seperti ... patung biasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell mengangguk. “Di tempat-tempat konservasi Indian-Eskimo akan ada banyak patung yang seperti ini, dijual sebagai cindera mata. Ini beda. Keluarkan EMF-mu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam merogoh saku jaketnya, penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum EMF-nya bergerak dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam memandang Pavarell dengan takjub. Tapi Pavarell seperti belum puas, ia seperti sedang menunggu sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benarlah. Dalam remang ruangan, daerah mata totem itu bersinar kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—berubah?” Sam tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell mengangguk puas. “Itu yang ingin kuperlihatkan. Kalau ia dibiarkan saja, tak akan ada apa-apa. Tapi kalau dicek—seperti dengan EMF meter, atau apapun sejenisnya, matanya akan berubah seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean turut memperhatikan, penasaran. “Sudah kau coba mencari tahu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng pelan. “Sampai sekarang belum ketemu. Aku sudah mencoba membandingkan dengan suvenir yang banyak terdapat itu. Kubelah. Dan suvenir itu memang terbuat dari kayu biasa. Tapi ini, tak bisa dibelah. Kalau kau merabanya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean meraba patung itu. “Kayu biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell mengangguk. “Tapi kau tak akan bisa membelahnya. Kalau patung ini didekatkan pada sebuah pisau, atau pahat, atau yang semacamnya, mata merah itu keluar lagi. Seperti yang ... terancam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell duduk. Sam menjauhkan EMF-meternya. Warna merah itu memudar, dan lama kelamaan menghilang. Pavarell perlahan membungkus patung totem itu dengan kain yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum ada akibat yang—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Korban maksudmu?” Pavarell menjawab rasa penasaran Sam, “—sampai sekarang belum ada, untunglah. Yang jelas, aku bermaksud menemukan terlebih dahulu, kenapa bisa menyala begitu. Apakah berbahaya, dan kalau iya berbahaya, kita harus mengetahuinya terlebih dahulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell kembali ke ruang bawah tanah untuk menyimpan totem itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean sudah berdiri dan bersiap-siap ketika ia kembali ke ruang atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, kalian mau ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari sesuatu di perpustakaan kota,” Sam juga turut berdiri. “Kau mau ikut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pavarell menggeleng. “Ada pekerjaan di bengkel. Tapi menjelang sore juga pasti sudah selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, nanti sore kami pulang,” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fairbanks lumayan ramai ternyata. Puluhan perpustakaan yang di-search Sam dari internet membuat pusing Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pilih satu saja,” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menambahkan kata ‘Eskimo’ pada entry search, dan itu menyaring pilihannya. Satu perpustakaan dia pilih, yang terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu lama mereka mencari, mereka mendapatkannya. Totem yang persis seperti yang ada di rumah Pavarell, hanya ini berwarna-warni. Bentuknya seperti anjing laut, beruang kutub, dan ular melingkar. Warna-warnanya didominasi oleh warna putih, walau warna lain juga ada. Kalau dilihat selintas, tidak akan sama dengan yang ada pada Pavarell, tetapi kalau dibayangkan sudah lama, dan warnanya sudah kusam, persis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membawa Sam pada satu pertanyaan. Totem itu biasanya warnanya tahan lama, karena pewarnaannya alami. Kenapa yang ada pada Pavarell itu sampai begitu kusam? Kalau itu cindera mata, mungkin saja kusam, karena buatannya lebih komersial daripada totem asli. Tapi mengingat bahannya, tidak mungkin. Sepertinya totem ini asli. Atau ... sudah lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mencari-cari jawabannya, tapi sampai waktu makan siang, belum dapat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lapar,” sahut Dean, “kita cari makan dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka berdua mencari kedai cepat saji di sekitar perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja beberapa suap, terdengar suara sirine meraung. Sebuah ambulans melaju, kemudian melambat ketika membelok ke salah satu rumah. Berhenti di situ. Ternyata di situ sudah ada mobil sheriff. Memasang garis kuning. Satu-satu penduduk di situ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melihat pada Sam, dan Sam pada Dean, dan keduanya kemudian keluar dari kedai, ikut berkerumun dengan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama petugas membawa tandu jenazah dan dimasukkan ke dalam ambulans. Mengurus ini-itu, dan ambulans pun melaju lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“FMH?” Sam mengeja nama ambulansnya. “Hey, Dean, kita tanya-tanya yuk ke sana—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Dean seakan bertanya, tapi ia tak banyak berkata, hanya mengikuti Sam ke tempat parkir. Menstarter Impala-nya, dan melaju, mencoba mengikuti laju ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 998&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NaNo Wordcount akumulasi: 3748&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NaNo akumulasi seharusnya: 16667&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huwaaa! Ayo ngetik lagi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-8355226355789984632?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/8355226355789984632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=8355226355789984632' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8355226355789984632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8355226355789984632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-10.html' title='Hari ke-10'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-6425662526507987179</id><published>2009-11-09T22:24:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T22:37:04.222-08:00</updated><title type='text'>Hari ke-9</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Ini hasil sampai hari ke-9. Hari ke-10 masih terus diketik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa tahun ini kok kaya'nya susah nulis ya? Semangat nulis berapi-api *cie* plot udah ada, sebagian di kepala, sebagian udah ditulis, tapi begitu menghadapi laptop, kok kaya'nya terbang menghilang begitu saja. Browsing nyari bahan untuk tambahan pengetahuan saat nulis, malah kelamaan, browsing hal-hal lain yang ga perlu, FB-an, FFn-an, Infantrum-an ... &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Musik yang didengar: Your Heart Will Lead You Home - Kenny Loggins&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Cemilan: Cheesecake, coklat, teh susu :P&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAYAR 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAIDURI API&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Fanfic Supernatural crossover dengan sedikit Chronicles of Ancient Darkness&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supernatural kepunyaan Eric Kripke, dan Chronicles of Ancient Darkness milik Michelle Paver&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o- &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chara:&lt;br /&gt;* Supernatural: Dean Winchester, Sam Winchester&lt;br /&gt;* Chronicles of Ancient Darkness: Torak, Renn, Seshru, Saeunn, Fin-Kedinn, Serigala&lt;br /&gt;* Original Character: Torak (versi modern)&lt;br /&gt;Genre: Adventure&lt;br /&gt;Rating: T&lt;br /&gt;Warning: MPREG &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Dalam satu jam kita akan berada di pos perbatasan, right?” Dean menyetir sambil matanya lurus ke depan, sementara Sam sibuk meneliti peta yang dibuka lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup,” sahutnya pelan, “dan sebaiknya kita isi bensin saja dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—belok kanan?” tak mengharapkan jawaban, Dean sudah terlebih dahulu memutar setir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kanan, masuk rute 5,” Sam melipat petanya, “—dan kita berhenti dulu di Bellingham untuk isi bensin. Full tank, karena kita baru akan bertemu dengan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya, aku tahu—“ Dean menyalakan tape-nya, tapi kemudian mematikannya. Ia mengalihkannya pada radio, memutar-mutar tombolnya, “—mana sih. Kemarin sudah kudapat, spesialis classic rock, nah ini—“ ia mengeraskan radionya sambil memukul-mukul—pelan tapi berirama—setirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam melengos mendengar Unforgiven-nya Metallica mengisi seluruh ruang Impala. Ia kemudian membuka-buka lagi peta tadi, meneruskan membaca informasi yang mungkin diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekitar 20 jam kalau kita menyetir terus menerus,” sahut Sam sambil matanya terus memandang peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—huh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seattle – Fairbanks sekitar 1500 mil lebih. Jadi kalau kita bisa terus dengan kecepatan 80 mil begini, 20 jam baru kita sampai. Itu tanpa berhenti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hitung saja pakai berhenti isi bensin dan makan,” sahut Dean sambil terus menyenandungkan Unforgiven.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kau mau menyetir selama itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean menoleh pada Sam, memandangnya lama-lama, sebelum terpaksa mengalihkan pandangan pada jelan karena ada mobil dari arah yang berlawanan. “Yah, kalau terpaksa, kau menggantikan aku—“ sahutnya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tertawa kecil. “Jarang-jarang denger aku boleh menyetir—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terpaksa, Sammy, terpaksa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kubilang, mending naik pesawat saja. Tiga jam Seattle – Fairbanks—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pelototan mata Dean bisa membunuh Sam, tentu Dean sudah ditangkap dengan tuduhan pembunuhan :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak , dan tidak, Sammy! Mending capek cross-border bolak-balik, daripada—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya, aku dengar,” Sammy melipat lagi petanya, menyimpannya dalam laci dashboard, dan mengatur posisi duduknya agar bisa memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, hei, jangan tidur dulu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bellingham masih sejam lagi kan? Bangunkan aku kalau sudah sampai di sana—“ Sam menyahut sambil nyengir jail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata ia tidak benar-benar tidur, hanya tidur-tidur ayam, dan mengomentari apapun yang lewat atau yang terlihat. Sudah hampir sejam ketika papan nama kota Bellingham terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, isi bensin dulu sampai penuh, baru cek di perbatasan,” Sam memperbaiki duduknya. “—mau pakai identitas yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang asli saja. Biar mudah kalau ada pemeriksaan surat-surat kendaraan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK,” Sam menyiapkan dompetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan di perbatasan Amerika Serikat – Kanada memang biasanya mudah. Untuk warganegara Amerika, kalau ada sih paspor, tapi kalau tidak ada, kartu identitas seperti SIM juga bisa, asal ada fotonya. Surat kendaraan kadang ditanya kadang tidak. Barang apa yang dibawa juga, kadang hanya basa-basi ditanya, kadang suka diperiksa sampai teliti. Pemeriksaan yang teliti biasanya dilakukan kalau baru saja ada kejadian, misalnya ada yang ketahuan membawa narkoba, atau sejenisnya, maka kendaraan selanjutnya akan diperiksa dengan lebih teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengurangi kecepatan Impala ketika dilihatnya ada rambu stasiun pengisian bahan bakar. Baru disadarinya, kendaraan di depannya, sebuah Mustang merah manyala juga menjalankan kendaraannya pelan-pelan, berbelok di pom bensin itu. Jadilah Dean mengambil urutan kedua antri di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemudi Mustang itu turun. Cewek. Dean langsung saja bersiul. Umur sekitar awal dua puluhan, rambut pirang ikal, celana jeans skinny plus kaos ketat dengan jaket jeans juga. Dia mengambil selang bensin dan mengisi tangki mobilnya, sembari sesekali melihat jam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai. Ditaruhnya selang bensin di tempatnya, lalu kembali ke belakang kemudi. Tapi berkai-kali ia mencoba, tidak bisa distarter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melirik Sam, bibirnya membentuk senyuman nakal. Sedikit anggukan, mereka berdua keluar dari mobil dan menghampiri Mustang merah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perlu dibantu, Miss?” Dean bertanya dengan senyuman mautnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh—eh, aku tak tahu, kenapa jadi begini. Tidak bisa distarter—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami dorong dulu, agar leluasa memeriksanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean memberi isyarat pada Sam, dan mereka berdua mendorong mobil itu sampai tempat parkir. Melempar kunci pada Sam agar ia meneruskan mengisi bensin, Dean lalu membuka kap mesin dan mencari-cari apa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tersenyum kecil. Kembali ke Impala, ia mengisi bensin, lalu memarkirnya di samping Mustang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa saja yang dikerjakan oleh Dean, tapi dalam beberapa menit kemudian ia menyuruh nona tadi menstarter mobil, dan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, terima kasih,” nona pirang itu tampak sangat gembira. Kelihatannya ia terburu-buru, kesal karena mesinnya bermasalah, dan karenanya benar-benar berterimakasih pada Dean. “—harus kubayar berapa—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean trersenyum nakal, “Tidak perlu, Miss—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggil saja Amanda. Amanda Schell.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin nomer anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda tertawa kecil. Jelas-jelas ia kagum pada Dean, hanya sekedar nomer telepon tentu saja tak mengapa. Ia mencondongkan tubuh, membuka laci dashboardnya, mengambil tas tangannya. Mencari-caari sesuatu. Mengeluarkan sebuah kotak, kotak kartu nama ternyata, dan membukanya. Diambilnya selembar, dan diserahkan pada Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow!” Dean bersiul membaca apa yang ada di tangannya, “ternyata kau artis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum Amanda menutup tasnya, menaruhnya di laci dashboardnya kembali. “Belum terkenal. Masih level lokal,” katanya, dan menutup pintu mobilnya. “Sayang aku terburu-buru, tapi mungkin kita bisa bertemu lagi lain kali, er—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dean. Dan itu Sam, adikku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Thanks sekali lagi, Dean!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustang bergerak maju, dan ia melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean juga Sam melambaikan tangan.&lt;br /&gt;“Aku ke kamar kecil dulu,” mata Dean masih memandang ke arah jalan walau Mustang itu sekejap saja sudah menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yo.” Sam mengibas-ngibaskan tangan di depan mata Dean sambil tertawa, dan diikuti dengan tawa Dean juga. “Aku beli kudapan dulu. No beer, kau akan menyetir jauh—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okay!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean berjalan ke bagian belakang stasiun pengisian bahan bakar itu, sementara Sam ke bagian depan bangunan, yang sekaligus digunakan untuk minimarket. Beberapa menit kemudian keduanya kembali ke mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey, awal perjalanan jauh.” Sam masuk ke mobil dengan membawa kantong belanjaannya. Dean juga sudah akan masuk, ketika ia berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang ke tanah. Tempat Mustang merah menyala tadi parkir. Dan ia memungut sesuatu dari situ, seperti buku kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk ke mobil, tapi konsentrasinya pada buku kecil itu. Membuka-bukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku alamat?” Sam bertanya penasaran, melihat kakaknya memusatkan perhatian pada temuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Sepertinya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepunyaan Amanda?” terka Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. “Sepertinya jatuh tadi waktu ia mengambil kartu nama dari tas,” sahutnya, memberikan buku kecil itu pada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menerimanya, menyimpan belanjaan di kursi belakang, dan mengikuti perbuatan Dean tadi, membuka-buka buku alamat tadi. Khas artis baru muncul, buku alamatnya penuh dengan alamat, nomor telepon, dan email produser, talent-searching dan orang-orang sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membuka dompetnya, mencari kartu nama yang tadi diberikan Amanda, dan mulai memencet-mencet nomer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya ponsel Amanda tidak diangkat, atau tidak diaktifkan, karena Dean menanti beberapa lama, tapi tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudah,” Dean mengembalikan kartu nama ke dalam dompet, menge-save nomer Amanda, menutup pintu mobil, dan menstarter mesin. “—kita coba lagi beberapa saat nanti. Mudah-mudahan saja dia sudah mencatat nomer-nomer dan alamat itu dalam ponselnya, jadi dia tidak merasa terlalu kehilangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. “Lagipula perbatasan sudah di depan mata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk, dan menjalankan Impalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa menit, mereka masuk Posko Perbatasan. Seperti yang sering dibicarakan orang, masuk ke Kanada lebih mudah daripada masuk kembali ke Amerika Serikat. Kalau dihitung-hitung, pemeriksaan hanya berjalan selama tigapuluh detik, hanya mengantrinya agak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil di depan mereka ternyata membawa seorang lansia, yang merasa tidak enak badan, dan ingin keluar dulu, sepertinya ingin muntah dulu, dan memang benar. Ia muntah tepat di depan pintu mobilnya. Baik pengemudinya, anggota keluarganya yang lain, maupun petugas perbatasan sibuk dulu sejenak membereskan keributan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar hanya tigapuluh detik,” sahut Sam sambil memasukkan kartu pengenalnya ke dalam dompet. Mobil mereka sudah masuk ke wilayah Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean tak berbicara, ia sibuk memencet-mencet tombol ponselnya sambil terus menyetir. “Masih dimatikan ponselnya,” sahutnya, memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, dan konsentrasi menyetir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah,” Sam mengambil posisi duduk yang nyaman, dan menutup mata, “—kalau berhenti, atau mau digantikan, bangunkan aku ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aye!” dan Dean menyalakan lagi radio pada gelombang yang tadi. “Damn! Sudah mulai tak tertangkap radio tadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Streaming saja,” sahut Sam setengah tertidur, sambil setengah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kau!” Dean bersungut-sungut, jelas-jelas Sam menertawakan tape mobilnya yang butut hingga hanya bisa menyetel kaset dan menangkap gelombang radio secara manual, tidak bisa menyetel CD ataupun streaming gelombang-gelombang radio se-dunia. Ganti mendengar radio, ia mencari-cari kaset Metallica dengan tangan yang satu, menyetelnya, mengeraskan, dan mulai bernyanyi keras-keras bersama Hetfield. Sam tertawa kecil sambil berbalik dan memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berpuluh bahkan beratus mil kemudian yang terdengar hanya suara Hetfield. Jalan terhitung sepi, mungkin karena fajar juga baru mulai muncul. Mobil dari arah yang berlawanan bisa dihitung satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca bisa dibilang bersahabat. Untuk bulan-bulan sekarang, Mei-Juni-Juli, sudah memasuki musim panas. Tapi karena mereka memasuki wilayah utara, mendekati garis balik lintang Utara, suhu semakin dingin, walau matahari mulai bersinar malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah di mana?” Sam duduk lebih tegak, menggosok-gosok matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir Prince George. Kau mau berhenti dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa kita makan dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey. Dan mengisi bensin,” Dean kembali berkonsentrasi pada kemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, papan nama Prince George muncul di sisi jalan, dan mereka mulai memasuki kawasan yang lebih ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengurangi kecepatan sekarang, mencari kedai yang menyediakan breakfast. Dari kejauhan nampak satu. Berbelok, mencari tempat parkir yang kebetulan penuh. Untung dapat satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua turun, mencari tempat duduk, dan memesan sarapan. Dean sudah kembali memencet-mencet keypad ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes!” sahutnya, “—dapat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangkat alisnya, sebelum mengerti saat Dean mulai bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amanda? Ya, ini Dean, yang tadi. Buku alamatmu jatuh—Oya, bagus kalau begitu. Kau mau ke mana? Fairbanks—tapi kami juga akan ke sana—Sudah sampai di mana? Okey, mudah-mudahan Mustang-mu bisa kami susul—tertawa—Okey, kau tak apa-apa menyetir sendiri?—Okey, sampai ketemu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarapan datang, dan Dean mencomot cheeseburgernya. “Seperti sudah kubilang tadi, ia sudah menyalin info dari buku alamat—“ ia menggigit sepotong besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi nekad juga cross-border menyetir sendirian,” Sam menusuk kentang gorengnya dengan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah. Apalagi kelihatannya dia tidak begitu terbiasa dengan mobil. Maksudku, seperti umumnya kaum wanita—Dean terdengar sedikit merendahkan—hanya bisa menyetir, dan tak tahu apa-apa soal mobil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, dan kaulah yang paling tahu soal mobil—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean melempar serbetnya, tapi Sam mengelak sambil tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan keadaan seperti itu, paling-paling juga kita akan bisa menyusulnya dalam beberapa jam. Cepat juga, Mustang itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dia pakai Mustang karena memang dia perlu kecepatan. Kaudengar tadi, dia seperti terburu-buru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm,” Dean menghabiskan cheeseburgernya, menghabiskan kopinya, dan mengelap mulutnya dengan tisu, “—tujuan kita di Fairbanks?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum Fairbanks,” Sam mengeluarkan peta lipat dari saku jaketnya, membukanya di atas meja setelah terlebih dahulu menyingkirkan piring sarapannya yang sudah kosong. Menunjukkan tempatnya pada Dean. “Ada belokan ke kiri, dan nanti di situ kita telepon saja Pavarell, dia akan menunjukkan arahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melipat lagi petanya, “—memangnya Amanda juga mau ke Fairbanks?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaps,” Dean bersendawa, mengundang pelototan Sam, tapi ia mengacuhkannya seperti biasa, “—kalau perlu kita susul saja dia.” Ia berdiri, mengeluarkan lipatan uang dari saku celana, menyimpan beberapa lembar di meja, dihimpit piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengikuti berdiri, dan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perhentian kita selanjutnya?” Dean buru-buru menambahkan, “—untuk mengisi bensin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Meziadin Junction. Atau Dease Lake.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.” Masuk ke dalam mobil dan kembali merambah jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mil demi mil dilahap. Kali ini Sam tidak terlelap. Seperti sedang berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir—Pavarell tahu apa yang ia kerjakan?” sahut Dean memecah kesunyian, setengah bertanya setengah mengeluarkan pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Lagipula, kalau Bobby mendukung, kemungkinan besar ia memang benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, artifak Inuit di Fairbanks? Bukannya Eskimo itu di kutub?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah. Pavarell mengatakan, artifak itu seperti bukan berasal dari tanahnya. Seperti diambil dari tempatnya, lalu dibawa ke tempatnya, dan dikubur di sana, entah kenapa. Mungkin takut ada yang melihat, atau bagaimana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cari di internet?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit. Email yang dikirim kemarin, fotonya buram. Lebih baik kita langsung melihatnya saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening lagi. Jalan relatif sepi, apalagi ukurannya besar, lurus-lurus, membuat Dean memacu Impala dengan kecepatan maksimal. Sam membuka email dari ponselnya, tapi tak ada yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Dease Lake, istirahat sejenak dan makan, mengisi bensin, Dean melempar kunci kontak Impala pada Sam. “Ganti menyetir. Aku mau tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Okey.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan lewat sore hari, tapi matahari masih betah menemani tatkala mereka masuk Yukon. Walau demikian, suhu makin rendah di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhenti, makan dan mengisi bensin, lalu melaju lagi. Dean yang pegang kemudi kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia cepat juga,” sahut Dean seperti sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh? Siapa—oh, Amanda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Dan sekian jam menyetir tanpa diganti. Maaf kalau terkesan meremehkan, tapi dia perempuan, dan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mungkin kita sudah melewatinya, tanpa kita sadari? Atau dia berbelok dulu di salah satu kota kecil? Atau mungkin juga ada yang naik, dan menggantikannya menyetir? Apa saja bisa terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. Tapi sambil menyetir, dikeluarkan ponselnya susah payah dari saku jaket, dan dipencet nomer terakhir yang ia hubungi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersambung, tapi tak ada yang mengangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua-tiga kali, berakhir sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin sedang kagok menyetir,” Sam menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin,” Dean menyimpan ponselnya di dalam saku jaketnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap sudah turun tatkala Impala itu berhenti di perbatasan Kanada – Amerika Serikat. Di sini ternyata pemeriksaan lebih ribet dari perbatasan Amerika Serikat – Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya juga lebih teliti,” sahut seorang pengemudi yang mobilnya berhenti tepat di depan Impala, sama-sama menunggu giliran diperiksa, “tapi konon tadi ada yang berusaha menyelundupkan narkoba, jadi—biasa, petugas jadi jauh lebih waspada—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk. Dean masih terdiam, entah apakah dia waspada atau kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigaperempat jam lewat, dan mereka sudah lolos dari perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Putar arlojimu satu jam lebih lambat,” Sam mengulang perkataan petugas di perbatasan tadi, “dan kukira semakin mendekati Fairbanks, semakin rendah suhunya—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaps,” Dean menghentikan Impala di tepi jalan, memutar arlojinya, lalu keluar dari mobil. “Ambil jaketmu yang lebih hangat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengikuti kakaknya, membongkar tas duffel-nya dan mengeluarkan jaketnya yang lebih tebal. Tanpa mengganti, ia melapisi jaketnya dengan yang lebih tebal. Lalu mengeluarkan peta lipatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kita isi bensin di sini, lalu makan juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk. “Aku juga mau periksa dulu my baby. Suhu rendah di sini, aku harus lihat dulu penyesuaiannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya betul. Sampai Delta Junction, sulit ditemui orang ataupun pemukiman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mereka menghabiskan hampir sejam untuk makan, memeriksa mobil sekaligus mengisi bensin. Malam sudah benar-benar gelap tatkala mereka melaju kembali. Jalan sungguh sepi, apalagi suhu benar-benar rendah. Dean tidak bisa memacu Impala secara maksimal karena kemungkinan jalan menjadi licin dalam suhu seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk Delta Junction, mereka keluar dari Alaskan Highway, dan masuk jalan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa jauh lagi ke Fairbanks?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tidak langsung menjawab, tapi membuka petanya dulu. “Sekitar 100 mil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean masih konsentrasi mengemudi, tapi memang sudah terlihat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau diganti?” Sam menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean terdiam. “Okay. Aku ingin tidur barang sejam.” Ia menepikan mobil. Sam keluar, memutar ke kursi pengemudi, sementara Dean bergeser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara normal sih paling sejam. Tapi dalam kondisi jalan seperti sekarang, mungkin dua jam,” sahut Sam sambil menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Apakah kita akan cari Pavarell dulu, atau cari penginapan dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa tempat Pavarell cukup luas,” tawa Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekejap tawa Sam berhenti. “A-apa itu, Dean?” Ia menghentikan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean yang sudah bersiap meringkuk di kursinya mendadak bangkit lagi, “Apa? Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tak menjawab, malah memundurkan mobil. Dean juga tak memerlukan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Mustang merah manyala, dan sebuah pohon. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suara sirine meraung-raung membelah malam yang sepi. Mobil sheriff, dan ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa dilakukan lagi oleh kedua Winchester itu karena korban seperti sudah agak lama dalam kondisi seperti itu. Darah yang keluar dari kepala sepertinya sudah membeku. Bibir membiru. Anggota badan sudah kaku, bahkan untuk mengeluarkannya dari mobil, kemudi harus digergaji terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Winchester diminta keterangan secukupnya. Saat akan dicatat alamat, Sam memberikan alamat Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemungkinan kami akan menginap beberapa hari di sana,” ujar Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berbalik menuju mobil, dan menggamit Dean agar bergerak. Dean seperti tak bisa bergerak menyaksikan tubuh Amanda dimasukkan ke dalam kantong mayat, dimasukkan ke ambulans, dan dibawa pergi. Mobil sheriff mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia akan dibawa ke mana?” Dean masih menerawang ke arah ambulans yang makin lama makin kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fairbanks Memorial Hospital. Belum jelas saudara atau orangtuanya ada di mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean meraba jaketnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengerti. Ada buku alamat Amanda di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sebaiknya buku ini kita serahkan pada sheriff?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terdiam. “Kalau—kalau semua nomer di sana memang sudah disalin ke ponsel, kukira kau bisa menyimpannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa bersalah pada diri Sam, karena tahu itu hal yang tidak benar, tapi ada sesuatu yang menahannya agar menyimpan buku itu. Entah kenapa. Seperti ada—yang ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean masuk ke mobil, kursi penumpang. Sam otomatis duduk di belakang kemudi. Melaju lagi, lebih hati-hati kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berkali-kali melihat peta, catatan alamat Pavarell, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Pavarell. Pria sebaya Bobby, penuh janggut keabuan, mata hitam berkilat itu membukakan pintu gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Langsung saja ke garasi, masukkan mobilmu,” sahutnya. Ia menunjukkan jalannya. Setelah menutup pintu garasi, mereka masuk melalui pintu samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, biasanya Dean yang menyetir?” tanya Pavarell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Giliranku,” sahut Sam, “kami menyetir non-stop dari Seattle.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Seattle?” sahutnya tak percaya, “kupikir kalian akan menginap di suatu tempat di Kanada, melihat-lihat dulu, sebelum sampai ke Alaska—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam menyeringai, tapi terlihat olehnya Dean diam saja, maka seringainya menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—menyetir sejauh itu tentu melelahkan—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah. Seseorang yang kami kenal tak sengaja di Seattle, bertujuan sama ke Fairbanks, menyetir sendiri, dan tahu-tahu kami temui—kecelakaan di Delta Junction—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh. Sirine ambulans yang tadi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NaNo Wordcount: 2769&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MS Wordcount: 2820&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target: 13334&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Huwaaa! Jauh banget!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-6425662526507987179?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/6425662526507987179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=6425662526507987179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/6425662526507987179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/6425662526507987179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/11/hari-ke-9.html' title='Hari ke-9'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-9113587363803502275</id><published>2009-10-25T23:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T23:37:30.871-07:00</updated><title type='text'>NaNo 2009</title><content type='html'>&lt;div&gt;OK, tahun ini sudahkah siap?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pertama, menyiapkan cerita. Bingung karena ide cerita yang melompat-lompat di kepala banyak, dan belum tentu akan selesai di 50.000 kata, maka Ambu ambil keputusan aja, bikin Antologi Fanfic. Ada 3 yang mau dibikin, Baiduri Api - Supernatural (yang mau dibikin tahun lalu), satu Severitus - Harry Potter dan belum ada judulnya, lalu Cahaya Di Ujung Terowongan - Naruto.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Itu juga terkait dengan target Ambu untuk menyelesaikan minimal 101 fics dalam tahun ini. Kenapa 101, soalnya 1 fic dalam list (&lt;a href="http://www.fanfiction.net/s/4802721/1/Birthdayfic"&gt;Birthdayfic&lt;/a&gt;) itu punyanya Devina (&lt;a href="http://www.fanfiction.net/u/1808074/devinna_mizushima"&gt;devinna.mizushima&lt;/a&gt;) :P Saat tulisan ini dibuat, udah 96 fics yangada dalam list. Dengan 3 target yang akan dikerjakan pada NaNo di bulan November, maka sampai akhir November diharapkan udah 99 fics. Kalau nggak ditambahin dalam beberapa hari belakangan ini *nyengir* Mudah-mudahan terlampaui.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kedua, taun 2007 berat badan Ambu naik sekilo karena NaNo. Tahun 2008 naik sekilo karena naik haji. Dan mudah-mudahan juga, tahun ini bisa naik lagi sekilo gara-gara NaNo juga, wkwkwk!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketiga, dalam rangka NaNo di bulan November, Ambu bertekad menyelesaikan beberapa fics yang melompat-lompat di kepala. Minggu kemarin selesai tiga. Mudah-mudahan aja minggu sekarang juga selesai tiga :P&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lalu, seperti biasa, menjelang NaNo itu selalu juga pas dengan diadakannya Lomba Foto di Taman Safari *liat entry-entry terdahulu* tapi yangsekarang, selain nggak ada juara satu-nya, juga nggak ada foto elangnya euy!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Last but not least, nemu art ini di &lt;a href="http://roby-boh.deviantart.com/art/The-HBP-and-his-book-98104980"&gt;deviant art&lt;/a&gt;:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SuVC_4a73MI/AAAAAAAAAlI/txxCnNQjceA/s1600-h/The+HBP+and+his+book1.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 90px; DISPLAY: block; HEIGHT: 90px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396793393717959874" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SuVC_4a73MI/AAAAAAAAAlI/txxCnNQjceA/s320/The+HBP+and+his+book1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;OK, sampai ketemu dalam beberapa hari ini!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*mulai nyari-nyari widget buat ngitung kata di blog*&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-9113587363803502275?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/9113587363803502275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=9113587363803502275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/9113587363803502275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/9113587363803502275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2009/10/nano-2009.html' title='NaNo 2009'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SuVC_4a73MI/AAAAAAAAAlI/txxCnNQjceA/s72-c/The+HBP+and+his+book1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2143109790280774250</id><published>2008-11-03T02:09:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T02:17:51.617-08:00</updated><title type='text'>Baiduri Api</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Baiduri Api&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rating: T&lt;br /&gt;Genre: Adventure&lt;br /&gt;Timeline: dalam Season 2&lt;br /&gt;Crossover: Chronicles of Ancient Darkness – Michelle Paver&lt;br /&gt;Character: SPN: Dean Winchester, Sam Winchester, CoAD: Torak (ancient), Renn, Saeunn, Serigala, Finn-Kedin. OC: Torak (modern), Seshru (modern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat yang ditulis dengan italic, menandakan POV Serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terima kasih,” sahut Sam sambil menutup notesnya dan beranjak menuju saudaranya yang juga sama baru menyelesaikan pertanyaan-pertanyaannya. Tanpa bicara keduanya berjalan menuju Impala, masuk, dan meninggalkan TKP. Tidak ada yang bicara selagi mereka melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah tiga orang jadinya,” sahut Dean memecah keheningan. Tidak ada jawaban. Diliriknya adiknya, yang sedang membuka-buka catatan hasil wawancara tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang kau temukan?” tanyanya. Sam masih sibuk membanding-bandingkan kedua catatan, seperti tidak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang kau temukan?” ulang Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmh? Sebentar,” ia menutup kedua catatan itu. ”Ketiganya memang matinya aneh, seperti orang yang tenggelam, padahal mereka berada di tempat kering. Sepertinya ketiganya tak punya kesamaan, jenis kelamin berbeda, usia berbeda, warna kulit juga berbeda, pekerjaan berbeda ... mungkin mereka pernah tinggal di tempat yang sama? Nanti di penginapan aku cari lebih jauh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean mengangkat bahu. Memacu Impalanya lebih cepat agar segera tiba di penginapan. Di sana Sam mungkin akan menemukan lebih banyak lagi, menyimpulkan hasil perburuan tiga hari penuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam tak banyak bersuara ketika mereka tiba. Dean yang bertugas membelikan makanan dan mereka makan tanpa suara. Membuka laptopnya dan mencari-cari dalam internet, sambil membuka-buka semua yang mereka dapat tiga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga korban, seorang kulit hitam besar berumur sekitar 50-tahunan. Seorang kulit putih muda 30-an. Seorang wanita keturunan Asia 20-an. Di 3 negara bagian. Dengan pekerjaan berbeda, dengan keadaan kesehatan berbeda, keadaan ekonomi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mati dalam waktu yang berbeda. Satu-satunya yang sama hanyalah cara mereka mati. Persis sama seperti jika mereka mati tenggelam. Dan wajar jika ditemukan di sungai, kolam renang, atau laut. Hanya, ini ditemukan di tempat kering, di kamar mereka, di apartemen mereka, atau di tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean kemudian ikut mencari juga, mengobrak-abrik benda-benda pribadi korban yang mereka dapatkan sebagai barang bukti, tanpa tahu apa yang seharusnya mereka cari. Tapi kemudian ia mengangkat kepalanya, ”Hey, Sam ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan waktunya, Sam mengangkat kepalanya dan menoleh pada Dean, dan, ”Hey, Dean...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oke, kau duluan,” sahut Dean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”’Key. Mereka ternyata pernah bekerja di proyek yang sama. Eksplorasi Greenland. Meski dengan kapasitas yang berbeda. Tracy Leung, jadi penyelam. David Smith asisten peneliti. Kevin Williams—pria hitam itu—jadi tukang masak. Proyek ini kecil saja, dan menurut apa yang kubaca di sini, hasilnya tak begitu sukses.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus. Berarti menguatkan apa yang kutemukan,” Dean menyorongkan tiga buku alamat, berbeda-beda. Yang satu buku amburadul, semua ditulis di situ; satu lagi rapi sistematis, yang satu lagi pink dan harum. Ia mengambilnya acak dari benda-benda peninggalan almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean membuka pada alamat yang sama, yang ditulis ketiganya. Alamat seseorang. Namanya aneh. Torak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-o0o-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit menemukan alamatnya. Sebuah apartemen untuk kelas ekonomi menengah ke bawah yang ribut, penuh sesak. Saat Dean hendak memencet bel, belnya jatuh dari dudukannya di dinding. Terpaksa Dean mengembalikannya lagi ke tempat semula, dan mengetuk saja pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki sekitar 50 tahun, berkulit coklat seperti Indian, membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mr ... Torak?” Sam memastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu mengangguk, belum membuka rantai penghalang pintunya, malah seperti yang sedang meneliti kedua tamunya dari ujung rambut sampai ujung kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Er ...” entah kenapa Sam malah tidak menggunakan samaran yang mereka sudah rencanakan, ”aku Sam Winchester, dan ini Dean kakakku. Kami ingin ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masuklah,” katanya, melepaskan rantai penghalang pintu dan membuka pintunya lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean ternganga, tapi Sam kemudian menggamitnya agar masuk. Torak kemudian menutup pintu rapat-rapat dan mengisyaratkan agar mereka berdua masuk ke kamar yang satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheranan, tapi mereka masuk saja. Ruangan itu temaram, dengan berbagai asesoris ala Indian, terka Sam, kesannya jadi ... agak kumuh. Kesan itu hilang seketika ketika Torak menyalakan lampu, lalu menyuruh mereka duduk di karpet di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku sudah mendapat visi kalian akan datang,” ia mengangkat tangannya memberi isyarat agar Sam tidak bertanya dulu, ”elang laut dan kuda hutan akan datang. Begitu katanya. Kau,” ia menunjuk Dean, ”klan kuda hutan. Dan adikmu itu klan elang laut,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam berpandangan. “Klan?” tanyanya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torak tersenyum tipis. “Dahulu kala, sekitar 6.000 taun yang lalu, ada komunitas masyarakat di kawasan Eropa bagian ini,” ia menunjuk wilayah tertentu di peta dunia yang tergantung di dinding. “Termasuk mereka yang ada di Greenland, termasuk yang ada di kawasan yang sekarang sudah menjadi wilayah Kanada. Masyarakat itu terbagi-bagi dalam beberapa klan,” ujarnya. Ia duduk di hadapan mereka, sama di karpet, tapi di belakang meja pendek yang penuh barang-barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dari apa yang kuamati barusan, kau berasal dari klan kuda hutan sementara adikmu dari klan elang laut,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Walaupun bersaudara, ... bisa dari klan yang berbeda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torak tersenyum, ”Bisa saja. Kalau ibumu dari klan A dan ayahmu dari klan B, maka kau harus membagi anakmu jadi dua. Kecuali kalau anakmu hanya satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dean dan Sam mengangguk-angguk mengerti. Tapi Sam langsung membelokkan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mr Torak, kami ingin menanyakan sesuatu …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang ekspedisi Greenland itu kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam mengangguk heran. “Bagaimana kau bisa …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… tahu? Sudah kubilang, ada visi datang padaku,” Torak berdeham. “Lima tahun yang lalu, kami tergabung dalam penelitian di Greenland tentang artefak kuno. Penelitian biasa, menyingkap masyarakat kuno, bagaimana cara mereka hidup, cara mereka berpindah, dan sebagainya. Sampai kami menemukan Baiduri Api.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiduri Api?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torak mengangguk. “Batu ini, jaman dahulu dipakai untuk membuka pintu pada kekuatan gelap. Semacam kunci untuk pintu ke Dunialain. Kerajaan para setan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya Sam dan Dean masih tak mengerti, sehingga Torak melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dulu sekali, beribu tahun lalu, ada kelompok yang menamakan dirinya Pemakan Arwah. Kelompok ini lintas klan. Ketujuhnya merupakan dukun-dukun dari berbagai klan,” Torak menghela napas. ”Mulanya mereka hanya merupakan Penyembuh, dengan kekuatan khas bagi tiap dukun. Lama kelamaan mereka menginginkan kedudukan yang lain, yang lebih tinggi. Mereka ingin menguasai semua klan yang ada saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Satu Pemakan Arwah itu sadar bahwa mereka akhirnya tersesat di jalan yang salah, dan ingin keluar dari kelompok itu, tetapi tidak bisa. Rekan-rekannya menghalanginya. Mereka harus tetap bertujuh. Lagipula, mereka sudah mendapatkan Baiduri Api, kunci untuk membuka Pintu ke Dunialain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dunialain itu apa?” sela Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dunialain itu alam di mana setan-setan dikurung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam dan Dean saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para Pemakan Arwah merasa yakin, mereka akan bisa mengendalikan setan-setan itu jika pintu dibuka, karena Baiduri Api itu juga berfungsi mengendalikan. Setan-setan itu takut pada Baiduri Api.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tetapi kemudian Pemakan Arwah yang ingin keluar itu, Fa, mencurinya,” Torak melanjutkan, ”terjadi pertempuran, kebakaran besar, satu Pemakan Arwah tewas di sana, dan yang enam lagi terpencar-pencar. Begitu pula Baiduri Api. Jatuh dan pecah dalam pertempuran, satu bagian dipegang Fa, dan yang lain juga ada yang mengambilnya. Terpisah-pisah entah di mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torak menghela napas lagi, “Fa melarikan diri bersama istri dan bayinya, tidak hidup bersama klan-klan, tapi mengasingkan diri. Istrinya kemudian meninggal, dan pada saatnya Fa juga tewas, menjadi korban salah satu Pemakan Arwah. Tapi Baiduri Api-nya selamat di tangan anaknya, Torak. Ya, orangtuaku memberiku nama Torak mengikuti namanya, berharap dalam hidupku akan melakukan sesuatu yang hebat seperti Torak itu,” ia tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi yang kulakukan selama ini hanya menjaga agar aku tidak punya catatan kriminal di kepolisian,” tawanya berubah sinis, ”kau tahu kan bagaimana buruk prasangkanya para kulit putih itu terhadap kulit berwarna, baik kulit hitam atau lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meneruskan, ”Jadi, Torak ini berhasil mengumpulkan tiga pecahan Baiduri Api dan memadamkannya. Untuk kau ketahui, batu ini bercahaya. Cahayanya bisa dilacak bahkan dari jauh sekalipun. Jika kau ingin memadamkannya, kau bisa menguburkannya di bawah tanah atau batu, tapi harus bersama satu jiwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torak mengangguk, melihat Sam dan Dean menatapnya penuh perhatian. “Bersama satu jiwa, berarti ada kematian saat itu, disengaja atau tidak. Maka Baiduri Api akan padam, tak berfungsi lagi. Torak berhasil memadamkan tiga bagian, satu dengan nyawa dukun Klan Anjing Laut, Tenris; satu dengan dukun Kelelawar, Nef; dan satu lagi dengan nyawa dukun Ular, Seshru,” jari-jarinya dikembangkan satu-satu saat ia menghitung.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;”Dalam visi magang dukun Klan Gagak, batu itu pecah jadi tiga bagian. Jadi masyarakat saat itu merasa lega karena batu itu akhirnya bisa dilenyapkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;---------&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Belum selesai. Dalam Word Count MS Word, 1326 kata :P&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2143109790280774250?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2143109790280774250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2143109790280774250' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2143109790280774250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2143109790280774250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2008/11/baiduri-api-rating-t-genre-adventure.html' title='Baiduri Api'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-1704085084703996046</id><published>2008-10-20T19:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T20:06:22.598-07:00</updated><title type='text'>2008 dan nasib Sang Elang</title><content type='html'>Yaiy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sekarang udah tanggal 21 Oktober 2008. Sebentar lagi masuk masa ngitung-ngitung kata :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Ambu akan meneruskan Sang Elang? Kaya'nya sih enggak. Maksudnya ... akan diteruskan sih, tapi bukan dalam masa NaNoWriMo. NaNo sekarang pengen nulis fanfic :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pengen aja. Kedua, pengen menulis yang agak mudah --kata siapa fanfic lebih mudah dari ori-fic-- Pengen menulis yang, kalau pun nggak nyampe 50k juga gapapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, ada kemungkinan Ambu berangkat sebelum November berlalu. Jadi, menulis sesuatu yang mungkin selesai sebelum pertengahan November. Gapapa nggak nyampe 50k juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/nanowrindo/files/TRANSKRIP%20YM%20CHAT%20KITA/Conf/"&gt;conf kemaren&lt;/a&gt;, Ambu ga bisaaaaa! Euh, minggu depan mesti berusaha! Hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kemarin dapet gambar-gambar keren. Masih mengenai judul tahun lalu, Sang Elang. Sepertinya, bulan-bulan ini memang biasa ada &lt;a href="http://www.tamansafari.com/agp/news24.html"&gt;lomba foto di Taman Safari &lt;/a&gt;ya? Soalnya tahun lalu juga dapet foto elang keren dari lomba Taman Safari itu. Tahun ini dapat 3, tapi baru nominasi, belum ada juaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGePEJ6I/AAAAAAAAAjU/sUFyd5jtqvs/s1600-h/TamanSafari01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259437016848017314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGePEJ6I/AAAAAAAAAjU/sUFyd5jtqvs/s320/TamanSafari01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Targetting, by Eko Hapsoro Susilo  &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGY1fCyI/AAAAAAAAAjc/u9YW-GSB6tc/s1600-h/TamanSafari02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259437015398550306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGY1fCyI/AAAAAAAAAjc/u9YW-GSB6tc/s320/TamanSafari02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Di Sarang by Edward Nugroho&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGsrMy6I/AAAAAAAAAjk/ODacj6Z-AMg/s1600-h/TamanSafari03.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259437020724120482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGsrMy6I/AAAAAAAAAjk/ODacj6Z-AMg/s320/TamanSafari03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Hinggap by Edward Nugroho&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Foto yang pertama itu dibikin wallpaper HP Ambu. Boleh ya, mas Eko? Kan udah dicantumin creditnya :P&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;OK, kita menghitung hari!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-1704085084703996046?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/1704085084703996046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=1704085084703996046' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/1704085084703996046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/1704085084703996046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2008/10/2008-dan-nasib-sang-elang.html' title='2008 dan nasib Sang Elang'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/SP1GGePEJ6I/AAAAAAAAAjU/sUFyd5jtqvs/s72-c/TamanSafari01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-7797503968198370600</id><published>2008-03-07T23:07:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T23:10:07.939-08:00</updated><title type='text'>Script Frenzy</title><content type='html'>Untuk yang nggak sabaran nunggu Nopember, bisa ikutan April ini, bikin Script.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka di &lt;a href="http://www.scriptfrenzy.org/"&gt;sini&lt;/a&gt;. Yang sudah terdaftar di NaNoWriMo otomatis udah terdaftar di sana juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 hari juga, 100 halaman, dan bisa bikin berdua kalau mau!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-7797503968198370600?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/7797503968198370600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=7797503968198370600' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/7797503968198370600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/7797503968198370600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2008/03/script-frenzy.html' title='Script Frenzy'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-8761509676231763528</id><published>2007-12-13T07:09:00.000-08:00</published><updated>2007-12-13T07:13:36.050-08:00</updated><title type='text'>Wordcount</title><content type='html'>OK, sampai tanggal 13 wordcountnya cuma nyampe 4.100 dan itu terjadi karena ngedit! Wekekek, dulu di NaNo, nggak ngedit, ngetik terus. Sekarang, ngedit lagi, liat lagi, hapus lagi, ganti lagi ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca FF-nya di &lt;a href="http://www.fanfiction.net/s/3942668/1/Expecto_Patronum"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-8761509676231763528?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/8761509676231763528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=8761509676231763528' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8761509676231763528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8761509676231763528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/12/wordcount.html' title='Wordcount'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-3486136448537475088</id><published>2007-12-09T23:28:00.003-08:00</published><updated>2007-12-09T23:31:49.485-08:00</updated><title type='text'>Desember, postingan pertama post-NaNo!</title><content type='html'>Hehehe,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah dibilang, kalau sendirian mah jadi nggak termotivasi. Dulu 3000 kata bisa selesai dalam sehari. Dan selalu terpikir, hari ini bisa sebanyak apa ya? Selesai nggak ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, begitu Desember, yang keluar jadi males. Udah mah Diva sakit cacar, jadi waktu lebih banyak untuk ngurusin pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi baru selesai nulis FF, dari awal Desember, sampai sekarang, hanya dapet 3.730 kata. Wekekek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin nanti mau dimasukin ke Fanfiction.net, tapi sekarang mau bikin versi bahasa Inggrisnya dulu. Mudah-mudahan nggak lama, soalnya ada beberapa FF lagi yang harus diselesaikan ... :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-3486136448537475088?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/3486136448537475088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=3486136448537475088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3486136448537475088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3486136448537475088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/12/desember-postingan-pertama-post-nano.html' title='Desember, postingan pertama post-NaNo!'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-3769942195437916062</id><published>2007-11-30T21:33:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T21:36:08.280-08:00</updated><title type='text'>Hasil Akhir</title><content type='html'>Hasil OK, dari 53 pendaftar region Indonesia, ini hasilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;endah 51.463&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-syl- 14.885&lt;br /&gt;alzena -&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ambudaff 50.136&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;anasier 108&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;annabelle 50.110&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aretha Luthien 1.750&lt;br /&gt;baskerville 28.267&lt;br /&gt;beneton -&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;black_wolf 61.429&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;blazing-snow 539&lt;br /&gt;calibannn 14.015&lt;br /&gt;Cat-claws -&lt;br /&gt;cinta -&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;clueless_psycho 50.159&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;creat3 -&lt;br /&gt;daniramdani -&lt;br /&gt;Davian Mel -&lt;br /&gt;dayaster 6.000&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Drewskya 50.018&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Eshtar -&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;eve15 50.437&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ghinanina 1.005&lt;br /&gt;Griffu -&lt;br /&gt;hafiz 8.735&lt;br /&gt;HulkJR 1.504&lt;br /&gt;Irvinges -&lt;br /&gt;Juan Chavalito -&lt;br /&gt;kopisusu2 16.954&lt;br /&gt;luv-alan 18.127&lt;br /&gt;l-clausewitz -&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mahir Pradana 50.022&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;mandymals 447&lt;br /&gt;Meliko 22.391&lt;br /&gt;Mikan Kauro 3.930&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Miyuri 50.149&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;monet_pasaribu -&lt;br /&gt;Muscat-Dunghill 1.449&lt;br /&gt;Narcistwitch 3.562&lt;br /&gt;nismadewi 20.481&lt;br /&gt;outlawserenade 19.755&lt;br /&gt;param1ta 1.341&lt;br /&gt;petewarrior 461&lt;br /&gt;Salemwrimo 15.264&lt;br /&gt;sarah.lewman 2.123&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sharakael 50.017&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;shaven 6.500&lt;br /&gt;sihirhujan 2.500&lt;br /&gt;Sonatone 2.045&lt;br /&gt;storymasterq 2.748&lt;br /&gt;Sulfiza Ariska -&lt;br /&gt;watashi wa kawai desu 12.010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang di&lt;strong&gt;bold&lt;/strong&gt; itu winner-nya&lt;br /&gt;10 dari 53! Keren juga euy!&lt;br /&gt;Sampai ketemu tahun depan ya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-3769942195437916062?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/3769942195437916062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=3769942195437916062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3769942195437916062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3769942195437916062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hasil-akhir.html' title='Hasil Akhir'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-8600408740362207010</id><published>2007-11-27T20:48:00.001-08:00</published><updated>2008-12-08T22:44:29.570-08:00</updated><title type='text'>Winner!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/R0zzk7Kr5GI/AAAAAAAAAJU/fTdT5cufhi0/s1600-h/nano_07_winner_large.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137749090606244962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/R0zzk7Kr5GI/AAAAAAAAAJU/fTdT5cufhi0/s320/nano_07_winner_large.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-8600408740362207010?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/8600408740362207010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=8600408740362207010' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8600408740362207010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/8600408740362207010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/winner.html' title='Winner!'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/R0zzk7Kr5GI/AAAAAAAAAJU/fTdT5cufhi0/s72-c/nano_07_winner_large.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-5840454880447721864</id><published>2007-11-27T20:43:00.000-08:00</published><updated>2007-11-27T20:47:37.361-08:00</updated><title type='text'>Hari keduapuluhdelapan</title><content type='html'>Hari memang sudah pagi. Tapi suasananya tidak seperti pagi. Burung-burung pagi yang biasa berkicau mengiringi matahari menampilkan diri, tidak ada sama sekali. Sepertinya mereka pergi secepat dan sejauh sayap-sayap mereka yang kecil bisa membawa. Serangga-serangga kecil seperti tonggeret juga tak ada yang berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sendiri juga tidak menampakkan diri seperti biasanya. Hanya ada seberkas sinar sayup memberi tahu bahwa ini pagi bukan malam. Selebihnya gelap. Gelap karena bayangan menaungi seluruh Sumekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu mentari masih dengan gembira membagikan cahayanya, sekarang bayangan menghalanginya. Kalau matahari yang begitu perkasa saja tidak mampu menghalau bayangan, bagaimana manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan itu juga bukan hanya menghalangi sinar, tetapi menghalangi kegembiraan, menghalangi harapan, menghalangi segala hal yang indah. Hanya kesuraman, keputusasaan, yang timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah hanya berharap bahwa rakyatnya yang berperang di sampingnya tidak kehilangan rasa ingin mempertahankan negara, karena bayangan itu juga memupus harapan. Jika rakyatnya sudah kehilangan harapan, bagaimana mereka bisa dibangkitkan semangatnya? Mereka sudah kalah jauh dalam jumlah, mereka kalah jauh dalam ketrampilan berperang, mereka kalah jauh dalam persenjataan, apakah mereka juga akan kalah dalam semangat mempertahankan negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menghela napas. Ia menoleh ke sampingnya, Kepala Bala Keamanan, menoleh juga padanya. Laki-laki berjanggut hitam lebat itu menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baru satu hari, Yang Mulia. Walau berat, kita harus mempertahankan semangat rakyat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mengangguk. Ia melihat sendiri, seperti juga para rakyat melihat sendiri, korban yang jatuh di hari pertama seperti apa. Kalau berjalan seperi ini terus, dalam beberapa hari saja Sumekar sudah akan habis. Mungkin akan tinggal wanita dan anak-anak yang tidak berperang, yang masih akan hidup. Itupun kalau tidak dihabisi oleh Morion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengeratkan pegangan pada pedangnya. Kepala Bala Keamanan melirik bentara di sampingnya, dan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentara itu meniup sangkakala, panjang dan lantang. Lalu menegakkan panji-panji, dan hari itupun mulailah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kemarin, bahkan lebih dahsyat, lautan tentara Morion melaju menyerbu Sumekar. Kemarin mereka belum bisa menembus pertahanan di perbatasan Morion, sekarang, akankah mereka berhasil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dentingan pedang, tombak, dan trisula beradu, suara desingan panah-panah, suara jeritan dan teriakan memenuhi kancah peperangan, darah menetes, memancar, menggenang. Burung-burung nasar bergerombol di ujung kancah, menunggu santapan besar mereka terhidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Euh, nggak bisa menggambarkan adegan peperangan, euy! Susyah! Segini aja ya?]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah maju ke siang karena hawa semakin panas. Keringat bercampur darah membasahi Ibu Pertiwi, saat angkara murka semakin membahana. Dan Dyah seperti disambar petir tatkala Kepala Bala Keamanan di sampingnya jatuh oleh sabetan kapak seorang .. atau sebuah makhluk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk itu memang seperti manusia, tetapi dia sangat gelap, walau bukan hitam. Ia tinggi dan besar, aromanya memuakkan dari kejauhan, suaranya mengerikan, dan ia membantai semudah membalikan telapak tangan, ia mencabut nyawa semudah ia mengibaskan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kapaknya ia menebas ke kanan dan ke kiri, kepala-kepala terpisah dari tubuh entah berapa nyawa sudah ia kirim ke alam sana hari ini. Dan ia terhenti di depan Kepala Bala Keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hrrrr. Kau pasti punya kedudukan. Ilmu berperangmu cukup tinggi. Berarti, gadis ini juga punya kedudukan cukup tinggi, kalau kau sampai mengawalnya. Hrrrrr, ...” dania tertawa terbahak-bahak saat mengerakkan kapaknya menyerang, tertawa saat Kepala Bala Keamanan berusaha menghindar, menangkis dengan ilmu yang dimiliki. Ia akhirnya menyerah juga saat kepalanya juga berpisah dari tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk itu mendekatinya. Dyah sudah bersiap dengan pedangnya, tapi ia dengan mudah mematahkan pedang itu semudah mematahkan tusuk gigi, menangkap Dyah, menelikung tangannya, dan melemparnya ke atas bahunya. Ia berjalan dengan cepat ke arah datangnya ia tadi, menuju ke perkemahan mereka. Menyibak-nyibakkan mereka yang masih sedang berjuang dengan satu tangan yang bebas. Tak sabar, ia meraih beberapa pisau kecil dari strapnya [bayangin aja kunai dalam Naruto, wekekek], dan melemparnya dengan tepat ke arah beberapa orang, tak peduli itu rakyat Sumekar ataupun prajurit Morion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin pembunuh yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah bergidik saat ia membayangkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ia akan dibawa ke mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin pembunuh itu terus berjalan lurus, dan akhirnya tiba di perkemahan mereka. Ia menuju tenda yang nampaknya paling mewah dan dijaga ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenda itu remang-remang, dan baunya memuakkan. Tidak ada siapa-siapa di situ, tapi ada jajaran kursi seperti ruangan rapat, ada meja peta yang besar, dan sisinya ada meja tempat sesuatu seperti bola kristal diletakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin pembunuh itu tidak meletakkan Dyah, ia tetap memanggulnya di bahu. Ia berjalan ke arah bola kristal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hrrrrrr,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola kristal itu bercahaya, dan kemudian nampak seseorang kurus dan mengerikan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gagak Hitam, apa yang akan kau laporkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hamba mendapat ini, Yang Mulia, sudah cukupkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu seperti mendekat melihat dari kejauhan sana, dan ia terkekeh. Wajahnya nampak jauh lebih mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia Ratu Sumekar. Bagus kerjamu, Gagak. Umumkan peperangan dihentikan, dan bawa Ratu itu ke mari.” Pada Dyah ia melirik dan tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah melengos dengan geram. Itukah Dark Soul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada waktu untuk berpikir. Bola kristal itu gelap kembali. Gagak Hitam membawanya lagi ke tenda lain, tendanya kecil dan sama gelapnya. Ia melempar Dyah ke –tempat duduk ataukah tempat tidurkah itu—dan mengunci tendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah langsung berusaha berdiri, tapi ia jatuh lagi. Ia menghela napas. Kembali dicobanya perlahan-lahan, dan ia berdiri sempoyongan. Keadaan di luar sama sekali tidak  bisa ia lihat. Dyah mencoba berkonsentrasi agar bisa mendengar sekeliling, tapi ia tidak bisa menembus tenda ini. Pendengarannya tak bisa mendengar apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan tenda itu sudah diberi mantra sehingga tidak ada apapun yang bisa keluar ataupun masuk, pikir Dyah. Dengan gemetar ia duduk, dan baru kali ini ia merasa sangat marah, takut, dan sedih sekaligus. Kepala Bala Keamanan dibunuh di hadapannya dengan cara yang sangat keji, bagaimana dengan rakyatnya yang lain? Kepala Bala Keamanan saja yang memiliki ilmu bela diri yang bagus, bisa dihentikan hanya dalam waktu singkat, bagaimana dengan rakyatnya yang sama sekali tidak bisa berkelahi, hanya mengandalkan semangat saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah hanya bisa berharap pada keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar terdengar suara yang sepertinya dibesarkan oleh sihir, menggema ke seluruh kancah peperangan, bahwa Ratu Sumekar sudah ditangkap, bahwa Kepala Bala Keamanan sudah dibunuh, dan agar prajurit Morion menghentikan perangnya dan mundur teratur kembali ke kemah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah membayangkan suasana yang terjadi di luar sana. Para prajurit pasti kegirangan, tugas mereka telah selesai dengan mudah, seperti perkiraan. Negara Sumekar hanyalah negara kecil, pasti mudah diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan keadaan rakyat Sumekar, pikir Dyah kalut. Dengan adanya ia di pucuk pimpinan peperangan, akan mudah mengobarkan semangat mereka. Tanpa ia, ia yakin, pasti semangat mereka seperti bara api disiram air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah kalah jumlah, kalah keahlian, kalah persenjataan, dan sekarang kalah juga dengan ditangkapnya pucuk pimpinan mereka. Dyah hanya bisa berharap, rakyatnya tidak diapa-apakan. Janganlah ada pembantaian di saat ia sudah tertangkap begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendanya terbuka. Gagak Hitam masuk dan mendekatinya, menarik tangannya, memaksanya berdiri dan berjalan. Tanpa bersuara setengah menyeret ia membawanya keluar, ke sebuah kereta yang tertutup. Ia didorong masuk ke dalamnya, dan pintunya dikunci. Terasa bahwa Gagak Hitam juga naik, naik ke tempat duduk di samping kusir, dan mereka kemudian berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta ini nampaknya tidak kedap sihir, pikir Dyah. Ia mencoba memusatkan konsentrasinya, dan ia sekarang bisa mendengarkan suara-suara dari kejauhan. Hatinya ngenes [ngenes bahasa Indonesianya apa ya?] mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut manapun ia mendengar, yang ada adalah suara-suara tidak percaya bahwa ia tertangkap. Bahwa Kepala Bala Keamanan sudah meninggal. Suara kaget, suara kemarahan, suara pesimis bahwa mereka bisa menang sekarang karena Ratu saja sudah tertangkap, bagaimana nasib mereka nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menutup pendengaran jauhnya. Tidak bisa, pikirnya dalam hati, aku tidak bisa mendengarkan suara mereka dalam keadaan seperti ini, hatinya mencelos. Ia yang dijadikan tumpuan harapan rakyat senegaranya, sekarang bahkan tak berdaya seperti ini. Satu-satunya harapan hanyalah bahwa Ki Seta akan menemukan Silmë sebelum Dark Soul, dan menggunakannya untuk memusnahkan regim laknat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa dua butir cairan bergulir menelusuri pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta itu berjalan tak henti. Siang malam. Sama sekali tidak berhenti. Hanya berhenti beberapa saat untuk memasukkan makanan untuknya, yang ia tidak lihat lagi isinya apa. Dimakannya tanpa melihat. Yang penting ia bertahan hidup, itu harus. Rakyatnya harus tahu bahwa ia masih hidup, dan ia tidak menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana kusirnya bisa menjalankan kereta tanpa beristirahat, ia tidak tahu. Bagaimana kudanya bisa terus berjalan tanpa lelah berhari-hari dan bermalam-malam, ia juga tidak tahu. Janganlah bertanya bagaimana Gagak Hitam bisa bertahan selama itu sadar tidak mengantuk, apalagi. Ia tak tahu. Yang ia tahu hanyalah ia harus bertahan hidup. Selama ia masih hidup, masih ada kemungkinan untuk membebaskan rakyatnya dari cengkeraman iblis ini. Walau kemungkinan terkecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari dua malam, hitung Dyah, saat akhirnya mereka berhenti. Gagak Hitam turun dan membuka keretanya, menariknya turun juga. Ia berkejap-kejap membiasakan matanya. Tapi mau bagaimana lagi, di sini juga keadaannya remang-remang. Walau menurut perhitungan Dyah sekarang sudah malam, tapi di Sumekar biasanya tidak segelap begini, apalagi di lingkungan istana. Pasti terang benderang, selain lampu istana, lampu yang dibawa-bawa oleh pejalan kaki juga akan ramai di jalan. Setidaknya sampai jam sembilan, jalan masih akan ramai. Lalu sesudahnya, lampu yang dibawa para peronda juga akan menerangi jalan bahkan sampai ke pelosok desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini tidak, batin Dyah. Ini nampaknya bisa disebut istana. Terasa luas tapi tidak melapangkan hati. Tidak hijau meneduhkan seperti istana Sumekar. Teringat cerita Ki Seta di mana dulu Morion bernama Lembuwungkuk, mungkin dulu istananya pernah menjadi istana yang meneduhkan. Tapi sekarang tidak ada bekas-bekasnya. Pohon-pohon besar di sisi jalan masuk ke istana bukannya meneduhkan, malah membuat hati ciut, malah mengerikan kesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi tidak ada yang berlalu lalang. Hanya pengawal yang banyak jumlahnya. Tidak seperti istana Sumekar, banyak orang yang lewat sekedar menikmati asrinya lingkungan istana yang terbuka untuk semua orang, atau bahkan masuk ke istana untuk mengadukan nasibnya pada hari-hari tertentu, atau bahkan hanya sekadar menghaturkan setandan pisang yang tumbuhnya bagus untuk Ratu. Pengawal hanya sedikit, dan berjaga dengan waspada tapi penuh senyum. Di sini pengawalnya semua berwajah seram, dan tak ada orang lain yang berlalu lalang, selain dari mereka yang berseragam militer dan nampaknya beberapa gelintir penyihir yang menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak Hitam membawanya ke sebuah ruangan luas diterangi beberapa obor di dinding. Baunya menyesakkan dada, seperti bau belerang atau entah mineral apa. Tidak seperti di Sumekar yang diterangi oleh obor berbahan bakar biru terang tak menyisakan jelaga, sepertinya obor di sini penuh dengan jelaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang sepertinya tahta bercokol seorang penyihir tua kurus dan menyeramkan. Dark Soul nampaknya. Dan benar saja, Gagak Hitam menghormat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang Mulia, ini dia tawananku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul tertawa mengerikan saat ia berdiri dan berjalan mendekati Dyah. Dyah berusaha untuk tetap tegar dan tak terlihat takut. Disimpannya ketakutan dalam-dalam, aku harus tegar untuk rakyatku, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau berani melanggar Layang Kamasan!” sahut Dyah tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul tertawa menusuk, ”Kau tahu? Aku tidak akan berani melanggar Layang Kamasan, kecuali ada back up. Dan pendukungku itu akan segera keluar dalam waktu dekat. Kita lihat saja,” dan ia tertawa lagi pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah berharap Ki Seta masih dapat bertahan, ia berharap Ki Seta segera menemukan kunci pamungkas masalah ini, tapi Dark Soul rupanya bisa mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau menugaskan penyihir kemarin sore untuk menjaga Pertambangan? Dalam hitungan detik saja ia akan kulibas. Dan Silmë akan menjadi milikku, batunya untuk menjaga kekuasaanku, inti cairannya untuk membuatku hidup selama-lamanya. Kau tahu kan? Inti cairan untuk hidup abadi! Itulah yang kucari selama ini, dan kulihat ia akan muncul di Pertambangan di Sumekar. Karena Silmë akan melindungiku dari sihir delapan negara yang ada dalam Layang Kamasan, aku berani untuk menerjang Layang. Hihihi....” kikiknya terdengar mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul semakin mendekatinya. ”Keberanianmu rupanya jauh melebihi kemampuanmu. Baiklah, kita lihat sejauh mana kau menurut padaku,” ia melihat berkeliling ruangan. Ada beberapa cleaning service sedang membersihkan sudut ruangan. Nampak dari jauh mereka seperti manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul menjentikkan jarinya, dan memanggil, “Kau! Ya, kau, kemari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memanggil seorang dari mereka, dan orang itu mendekat. Membuat Dyah kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaget karena penampilan orang itu mengerikan. Tinggi dan besar, bulu halus kecoklatan nampaknya di seluruh tubuhnya. Di kepalanya tumbuh sesuatu seperti tanduk. Wajahnya kalau diperhatikan baik-baik seperti seekor banteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaget juga karena nampaknya orang ini tidak takut pada Dark Soul. Tunduk memang pada perintahnya, tapi tidak takut. Tidak seperti Gagak Hitam yang menjalankan perintah dengan unsur takut, orang ini tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau takut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menggeleng dengan pandangan menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kalau nasib rakyatmu tergantung pada keputusanmu, aku yakin kau akan memilih nasib rakyatmu,” Dark Soul terkekeh. "Aku akan bermurah hati padamu Ratu. Aku akan menarik mundur pasukanku, bila kau mau memenuhi satu permintaanku,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kau menikah dengannya," Penyihir itu melayangkan pandangnya ke cleaning service yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah terpekik kecil. Orang yang ditunjuk Dark Soul itu bergeming. Dyah menelan ludah. Bukan seperti ini makhluk yang ia impikan menjadi suaminya. Ia sudah akan menolak, ketika teringat olehnya rakyatnya. Anak-anak yang masih polos. Wanita-wanita yang ketakutan. Bahkan para prajuritnya yang sebenarnya tak tahu apa-apa, dan mereka akan mati sia-sia dalam melaksanakan tugas, karena jumlah yang jauh dari seimbang, jangan pula disebut martial art dan persenjataan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menghela napas panjang dan berusaha tak terdengar gemetar ketika mengucap, "Baiklah. Aku terima persyaratanmu," ia menatap tajam Dark Soul, "dan bagaimana aku tahu kau akan menepati janjimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul terkekeh, "Kau akan tahu, manisku. Kau akan tahu,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah tahu kalau ia tidak punya posisi tawar. Ia mengangguk lemah. Dari sudut matanya ia melihat makhluk itu bergerak seolah hendak mengucapkan sesuatu tetapi tak jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menguatkan hatinya lagi, "Setidaknya aku harus tahu siapa namanya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul menyeringai menyebalkan, "Ah-ha! Ratu sudah mulai tertarik rupanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mencoba menenangkan jantungnya yang terus berdetak tak karuan. Ia di kamar sendiri. Sesudah upacara pernikahan, sesuai tradisi Morion, mempelai perempuan menunggu di kamar sementara mempelai laki-laki bersama dengan undangan berpesta minum-minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mencoba tak memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Mungkin monster itu akan  mabuk dan langsung tertidur pulas. Sehingga tak akan terjadi apa-apa padanya. Mungkin pula justru karena ia mabuk maka ia akan diperlakukan sangat kasar .. Mau copot rasanya jantung Dyah. Dan ia sama sekali tak tahu apa yang mesti diperbuat untuk mengalihkan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbuka keras. Dyah nyaris terlonjak. Ia tak menduga secepat ini. Makhluk itu masuk membelakangi pintu, menutup dan menguncinya. Ia mendekati Dyah. Jantung Dyah berdetak makin kencang tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia makin mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah tak kuat lagi, ia menutup matanya. Ingin rasanya ia bisa menghilang dari sini. Tapi walaupun ia bisa, tak mungkin dilakukannya. Rakyatnya. Negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah merasakan makhluk itu tak berjarak lagi darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bisa merasakan napasnya. Tak ada bau alkohol di sana. Dyah memberanikan diri membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tepat menatap mata hitam itu. Dengan jarak sangat dekat. Hangat napasnya satu-satu menerpa wajah Dyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah merasakan kedua tangan besar itu merengkuh bahunya. Inilah dia, pikirnya, inilah dia saatnya, pikirnya pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tangan itu meraih rambut Dyah yang jatuh menutupi wajahnya, menaikkannya ke atas telinga sehingga ia bisa melihat wajah Dyah dengan jelas dan juga sebaliknya. Wajah itu kian mendekat, dan Dyah menutup matanya lagi. Ia tak ingin melihat apa yang dilakukan makhluk itu padanya. Ia bahkan tak ingin merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah merasakan sentuhan bibir di keningnya. Ia membuka matanya untuk lagi-lagi langsung bertatapan dengan mata hitam itu. Dan nyaris terlonjak ia mendengar suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan takut. Aku hanya akan menyentuhmu bila kau bersedia,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menatapnya tak percaya. Tapi mata hitam itu menyorotkan kesungguhan. Ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang sekali aku tidak bisa menemukan kamar terpisah untukmu. Akan terlalu mencurigakan, apalagi di malam pernikahan kita," dia melepaskan tangannya dari bahu Dyah, "begitu pula dengan tempat tidur terpisah. Mungkin aku akan tidur di lantai saja," sahutnya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah tidak bisa langsung menanggapi. Ini benar-benar di luar dugaannya. Kejutan yang melegakan. Matanya mengikuti gerak-gerik makhluk itu menyiapkan tempatnya tidur di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa engkau melakukan hal ini?" tanyanya ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak makhluk itu tak menjawab. Ia berhenti bergerak dan menghela napas panjang, "Anda sendiri, Yang Mulia? Mengapa setuju untuk menikah dengan .. monster sepertiku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran Dyah tercenung. "Aku tak punya pilihan lain. Kalau tidak, rakyatku akan menderita. Selain itu, tolong jangan panggil aku Yang Mulia. Bagaimanapun kau adalah suamiku. Panggil aku Dyah saja,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah. Dyah," makhluk itu terdengar agak ragu,"dan sebaliknya juga panggil aku Lembu saja. Kembali pada pertanyaanku tadi, bagaimana kau yakin bahwa dengan menikah denganku, dia .. er .. akan menepati janjinya?" Kedengarannya Dark Soul cukup ditakuti. Menyebut namanya saja makhluk besar ini ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak tahu," gumam Dyah putus asa, "yang aku tahu kalau aku tidak melakukannya dia akan menghancurkan Sumekar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu alasan apa yang membuatnya menyerang negaramu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menggeleng, "Aku hanya tahu ia mengincar Pertambangan kami. Memang di sana banyak batu-batu berharga. Juga kadang-kadang ditemukan batu berkekuatan magis. Tapi aku tak tahu kalau Dark Soul menganggapnya cukup berharga untuk diduduki. Kukira Morion sendiri cukup kaya dengan hasil tambang dan hasil bumi yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya ia menginginkan Silmë?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah memandangnya tajam. “Kau … tahu juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembu mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kau sendiri? Apa yang kau kerjakan di sini? Sepertinya kau bukan bawahan Dark Soul?" Dyah bertanya takut-takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembu menggeleng. "Tidak. Aku mengabdi untuk Morion. Tepatnya, untuk Lembuwungkuk. Jauh sebelum dia mengambil alih kekuasaan." Matanya menyiratkan ada sesuatu yang ingin disimpannya sendiri. Dyah tidak bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembu menyuruhnya segera tidur. "Tidurlah. Hari sudah larut. Kalau kau memang ingin melakukan sesuatu untuk negaramu, kau harus menyimpan tenagamu, menjaga kesehatanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah ragu melangkah ke ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan takut. Tak akan ada yang terjadi padamu. Seperti sudah kukatakan padamu, aku tidak akan melakukan apa-apa diluar kehendakmu. Selamat malam," Lembu meniup pelita di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat malam," Dyah membaringkan dirinya. Apa yang akan terjadi, terjadilah, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nyatanya memang tidak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menutup matanya, sebersit pikiran melayang di benak Dyah. Siapa sebenarnya Lembu ini? Ia menoleh ke arah Lembu membaringkan dirinya di lantai, memandangnya diam-diam saat Lembu memejamkan mata. Lembu ini seperti ... orang yang sudah lama ia kenal. Seperti familiar untuknya. Tapi ia tidak tahu siapa. Dicobanya mengingat-ingat, semua yang ia kenal dari Sumekar, tidak ada yang berwajah seperti Lembu. Jangankan berpenampilan seperti Lembu, mirip pun tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menghela napas dan memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap jatuh di seluruh wilayah Sumekar. Entah sekarang sedang malam atau masih siang, kalau kau tidak melihat jam, kau tidak akan tahu. Bahkan untuk mereka yang melihat jam pun, kalau baru saja bangun misalnya, kau tidak akan tahu ini pukul 12 siang atau pukul 12 malam, sama saja kegelapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana sini ada beberapa obor yang dinyalakan, yang tidak banyak menolong. Bukan obor berbahan bakar biru dengan nyala tak berbekas seperti yang biasa dinyalakan di Sumekar, tetapi obor berbahan bakar kasar dengan jelaga hitam susah dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah sunyi tanpa suara. Jalan-jalan tak ada yang melewati. Angin sesekali meniup dedaunan yang gugur, menyampah di jalanan. Tidak ada yang menyapunya karena tidak ada yang peduli. Tidak ada yang peduli karena semua orang punya sesuatu yang lebih ditakuti daripada sekedar jalanan yang menjadi kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh Sumekar terdiam dalam ketakutan. Seluruh Sumekar jatuh dalam dukacita yang dalam. Langit cerah seperti mimpi yang sudah berabad-abad tidak pernah ada di Sumekar, demikian pula harapan. Serasa jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali Pertambangan. Di Pertambangan masih ada kegiatan, mempertahankan Sumekar. Masih ada pertempuran mati-matian dari beberapa gelintir orang dan beberapa penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak Hitam masih menyambar-nyambarkan pisau-pisau kunainya. Tapi sekarang tidak begitu mempan. Seluruh penyihir yang ada di situ, masih mencoba melindungi para pekerja yang sekarang berubah menjadi tentara dengan senjata alakadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark Soul telah berjanji pada Dyah untuk tidak membunuhi rakyatnya, tapi setidaknya tidak di Pertambangan. Pasukannya dalam jumlah besar dikerahkan ke Pertambangan. Sudah tak terhitung jumlah kematian di sana. Sekarang yang masih ada tinggallah beberapa orang pekerja, ditambah segelintir penyihir yang bekerjamati-matian melindungi sumber utama Pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta sudah bermandi keringat dan darah. Ia bekerja ganda, melindungi para pekerja ditambah terus memantau akan kemunculan Silmë. Beberapa hari yang lalu ia mendengar kematian Kepala Bala Keamanan, dan ditangkapnya Ratu, dibawa ke Morion. Tanpa rencana, tentunya ia akan segera berangkat ke Morion dan membebaskan Ratu-nya. Tapi dengan rencana ini, ia harus tetap ada di sini. Mempertahankan Pertambangan sebisa mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, para pekerja sudah nyaris habis, para penyihir sudah ada di titik nadir mereka, tapi Silmë belum menampakkan tanda-tanda akan memunculkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penyihir menghimpun kekuatan mereka dan menyalurkannya ke kumpulan pasukan Dark Soul. Meledakkannya. Berkurang sedikit pasukan mereka, tapi jumlahnya memang seperti tidak ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak Hitam merangsek lebih jauh, mendekati Ki Seta, mendekati Sumber Utama Pertambangan dengan beberapa pasukannya. Ki Seta mengeluarkan jurus-jurusnya sambil matanya terus ke Sumber Utama. Jangan sampai lengah, jagan sampai lengah, bisiknya. Ia tahu, musuhnya terus mendekati Sumber Utama. Ia harus menjaganya sekuat tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beberapa pasukan menyerangnya, ia mengeluarkan dentuman,d an tahulah ia bahwa Gagak Hitam hanya mengecohnya. Dengan perhatian ke para pasukan, Gagak Hitam bisa mendekati Sumber Utama. Dan Ki Seta sudah merasa bahwa Silmë sudah akan muncul. Waktunya akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sisa kekuatannya, disemburkan jurus api pada Gagak Hitam, yang dengan entengnya menahannya dengan perisai. Gagak Hitam mengeluarkan dua pedang pendek, dan dengan gerakan cepat bagai tak terlihat mata, ia menyerang, ia merangsek terus ke Sumber, mendesak Ki Seta agar bergerak terus ke luar lingkaran Sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta bertahan. Taoi dalam waktu yang sangat cepat itu ia bahkan tak bisa mengeluarkan sihirnya, ia terus bertahan dengan cara manual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia merasa Silmë sudah waktunya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya Gagak Hitam juga merasakannya, karena ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk meledakkan Ki Seta, menjauhkannya dari Sumber Utama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BLAAAAAAR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta hanya sanggup mengeluarkan jurus bertahan, sebelum ia terlempar jauh dari Sumber Utama, lubang utama tempat keluarnya batu-batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak Hitam tertawa terbahak-bahak saat Ki Seta jatuh terguling, dekat lubang-lubang Pertambangan kecil di sekitar Sumber Utama. Dengan percaya diri ia mendekati Sumber Utama, menunggu kemunculan Silmë.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta berusaha untuk bangun, berusaha untuk kembali ke Sumber Utama, ketika ia merasa sesuatu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar bulan lembut muncul dari salah satu lubang kecil Pertambangan, dekat tempatnya jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silmë.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya Bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sisa-sisa tenaganya, Ki Seta meraih Silmë, seiring raungan kemarahan Gagak Hitam melihat batu itu justru keluar dari lubang kecil, bukan dari Sumber Utama. Ki Seta melancarkan jurus Halimunan, dan ia menghilang dari pandangan Gagak Hitam bersama Silmë.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 3.554&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 50.167 (MS Word) 50.136 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 46.667&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woohoo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ... akhirnya cliffhanger! Hihi.. Enggak sih, soalnya cerita ini belum selesai, jadi masih akan ada terusannya. Jangan takut, kalau diterusin pasti dipost di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woohoo!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-5840454880447721864?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/5840454880447721864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=5840454880447721864' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/5840454880447721864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/5840454880447721864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhdelapan.html' title='Hari keduapuluhdelapan'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-4459316507728773351</id><published>2007-11-27T20:39:00.000-08:00</published><updated>2007-11-27T20:42:28.355-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluhtujuh</title><content type='html'>Avis masih menatap pintu yang tertutup beberapa detik. Setengah tak mengerti ia kembali ke kamar. Upi masih terlelap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Teruslah bertahan’ terus terngiang-ngiang. Ada apa dengan kang Nata? Apakah dia tahu apa yang selama in ia impikan? Ataukah dia yang mengirim mimpi-mimpi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih setengah tak mengerti, ia mengganti piama dan membaringkan diri di sebelah Upi. Sebelum ia memejaman mata, Upi berbalik, dan mengucapkan kata-kata tak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Duh, Upi, kalau sore main sampai cape, pasti deh ngelindur,” bisik Avis sambil terus menepuk-nepuk paha Upi menenangkannya. Pintu kamar diketuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Vis, Upi nggak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma ngelindur, teh,” Avis berdiri dan membukakan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dia mah begitu. Hampir selalu ngelindur. Kumaha atuh nya?” teh Alia masuk dan menenangkan Upi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tersenyum, ”Nggak apa-apa, teh. Bagus malah, jadi otaknya tumbuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lho, memang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau kita tidur, berarti sel-sel tubuh kita diganti dengan yang baru. Kalau tidur kita lelap, berarti yang sedang diganti adalah sel-sel tubuh. Kalau tidur nggak lelap, mata masih bergerak, REM –rapid eye movement—berarti sel otak yang lagi tumbuh. Kalau dia lagi ngelindur gini,” Avis memperlihatkan gerakan mata Upi, “berarti sel otaknya yang sedang bertumbuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi hampir setiap malam, lho Vis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti tumbuh setiap malam,” Avis tertawa ditahan, “Anak sekarang sih otaknya bagus-bagus, teh, gizinya kali ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia tersenyum juga. Upi berbalik dan memanggil, “Umi! Umi!” tapi matanya masih tetap tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, udah, pindah kamar aja deh,” usul teh Alia, ”daripada nanti malem keganggu,” dan dia sudah akan memindahkan Upi, ketika tangannya ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biar sama Avis aja teh,” katanya dan hati-hati mengangkat Upi. ”Sebenarnya biar di sini aja, teh, kan sebentar lagi si Ade lahir. Jadi dia dibiasakan tidur sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia tersenyum, ”Duh, mau lahir adiknya malah tambah ogoan. Sekarang aja ada Avis di sini, dan dia bisa ogoan ke Avis, kalau enggak sih, nempel aja terus ke Umi-nya, seperti permen karet nempel di rambut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengangkat Upi, teh Alia berbisik, ”Pak ... er, kang Nata tadi marah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ha?” Avis kaget, ”Enggak. Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enggak. Cuma nanya aja. Abis kedengarannya diem-dieman gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yee .. ngedengerin ...” kalau dia tidak sedang memangku Upi pasti dicubitnya teh Alia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamarnya, si Aa malah sedang ngaringkuk, ”Aa. Ini si Upi ngalindur, jadi sama teteh dipindahin lagi ke sini katanya,” sahut Avis sambil membaringkan Upi di sebelah Aa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ye, kirain mau tidur sama Bi Wis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Udah tidur, tapi tadi ngelindur dan manggil-manggil Umi, dan sama Umi disuruh dipindahin lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nah, itu mah Umi-nya aja yang kangen tidur sama Upi,” dan teh Alia sekarang yang mencubit Aa. Sukurin, hihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Udah ah, Avis mau tidur,” dan ia menghilang ke kamar sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditutupnya pintu, dan ditariknya napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Teruslah bertahan’ kata kang Nata tadi. Oke, baiklah, kucoba untuk bertahan, pikir Avis. Walau Avis tidak tahu apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kecamuk perang segera melanda. Keadaannya gelap, meski menurut hatinya, ini masih siang. Tapi tadi Ki Seta memperingatkan, jika bayang-bayang Dark Soul tiba di suatu tempat, tempat itu akan menjadi gelap oleh bayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah keadaannya sekarang. Pasukannya yang tidak terlatih, bertempur dengan pasukan yang banyak, terlatih, dan tidak punya belas kasihan. Hanya rasa mempertahankan negara yang bisa menjadikan mereka bersemangat begitu, pikir Dyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar penyihir negara dikerahkan ke garis depan. Ki Seta dan beberapa penyihir lainnya, ditugaskan bersiaga di Pertambangan, kalau-kalau Silmë keluar, dan bisa segera dikuasai. Jangan sampai dikuasai pasukan Dark Soul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau hatinya tersiksa melihat keadaan pasukannya, namun ia menegarkan diri. Ia harus memberi contoh yang baik pada pasukannya. Ia harus memperlihatkan keberanian pada mereka. Dan pedangnya menyabet kian kemari, tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam menjelang, dan kedua pasukan mundur sejenak, ada rasa getir dalam hatinya. Sudah berapa banyak yang harus pulang hanya nama? Air matanya nyaris menetes tatkala melihat banyak wanita yang bekerja di garis depan sebagai Penyembuh. Malam begini tatkala perang dihentikan, mereka justru keluar, mengumpulkan mereka yang masih bisa diselamatkan untuk diobati , mengumpulkan mereka yang sudah tidak bisa diselamatkan untuk dikremasi. Coba kalau dalam situasi normal, wanita biasanya segan keluar malam, walau di Sumekar jarang ada penjahat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bala Keamanan yang sedari pagi mendampinginya menghunus pedang, masuk ke tendanya, ”Daulat Tuanku,” hormatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada ... kabar buruk dari para juru telik, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kabar buruk ... apakah?” ia ragu untuk mendengarnya, tapi ia harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dua Panah Merah kembali kosong, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panah Merah adalah cara berkomunikasi yang paling cepat yang mereka ketahui. Jika ada kabar yang harus segera disampaikan, kabar itu biasanya diisi ke dalam Panah Merah dan dikirimkan secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Juru Telik memiliki Panah Merah. Jika ia mati atau lebih parahnya, tertangkap dengan kemungkinan disiksa, maka Panah Merahnya akan kembali kosong. Dan dua Panah Merah sudah kembali kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah terdiam. Lalu berkata lirih, ”Dan tiga Panah lainnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bala Keamanan menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketukan di pintu tenda membuat perhatian mereka terpecah. ”Masuk,” sahut Dyah tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta, dalam keadaan lusuh dan kotor. Biasanya busananya putih bersih bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Ki Seta?” Dyah berharap bahwa Ki Seta sudah menemukan Silmë.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kabar buruk, Yang Mulia. Konon dua Panah Merah sudah kembali kosong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menoleh pada Kepala Bala Keamanan, tak perlu jawaban untuk pertanyaan itu. ”Apa kau tahu di mana tiga Panah lainnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta menghela napas, dan maju ke meja peta, menggulung peta yang ada di atas meja, dan menebarkan sebuah kain hitam. Lalu ia menebarkan bubuk entah apa namanya, membaca mantra, dan terlihatlah gambar-gambar mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima juru telik sudah ditemukan oleh pasukan Morion, dan entah apa saja yang sudah mereka lakukan pada mereka. Rasanya tidak akan lama lagi tiga Panah sisanya akan sampai dalam keadaan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiam sejenak. Lalu Dyah memecahkan keheningan, ”Kukira tradisi meramalkan pemerintahan berjalan baik atau tidak berdasarkan ringan atau beratnya diadem, sudah harus ditinggalkan. Saat pelantikan aku merasakan diadem yang ringan, ternyata ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang Mulia, peramalan itu masih tetap berlaku. Itu meramalkan apakah Yang Mulia berhasil atau tidak dalam memerintah, dan sampai sekarang bukankah rakyat masih melaksanakan perintah Yang Mulia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi bisakah kau memerintahkan rakyatmu untuk menyongsong kematian? Yang kau tahu persis akan terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Kepala Bala Keamanan maupun Ki Seta tak bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mendesing menandakan ada sesuatu yang terbang melintasi tenda. Kepala Bala Keamanan cepat-cepat melihat apakah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Panah Merah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang Mulia,” ia menyerahkan panah itu pada Dyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah lagi yang memecahkan keheningan. ”Baiklah. Kita akan bertahan selama kita bisa, berharap kita bisa menemukan Silmë sebelum Dark Soul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berbalik pada Ki Seta, ”Ki Seta, aku meletakkan harapan terakhir padamu. Berjagalah dengan waspada, aku berharap kau tidak melewatkan satu detikpun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk, memberi hormat, dan hendak pergi, ketika ia berhenti sejenak dan memandang Kepala Bala Keamanan, ”Aku percayakan keamanannya padamu, sobat!” baru ia berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi belum lagi sepenuhnya menyentuh Sumekar ketika tentara-tentara Morion bersiaga. Dyah sudah bersiap pula bersama Kepala Bala Keamanan. Harus berapa lama lagi ia menyaksikan rakyatnya bertumbangan di depannya, pikirnya dengan prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.120&lt;br /&gt;Akumulasi:&lt;br /&gt;Target:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-4459316507728773351?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/4459316507728773351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=4459316507728773351' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4459316507728773351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4459316507728773351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhtujuh.html' title='Hari Keduapuluhtujuh'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-3495662791377989186</id><published>2007-11-26T21:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T22:44:29.813-08:00</updated><title type='text'>Davian Mel</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/R0u0yrKr5FI/AAAAAAAAAJM/rpdRfWvDSMk/s1600-h/mand_amanda.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137398582620185682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/R0u0yrKr5FI/AAAAAAAAAJM/rpdRfWvDSMk/s320/mand_amanda.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Postingan pertama di thread &lt;a href="http://www.nanowrimo.org/eng/node/1000523"&gt;'Nanowrimo's Indonesia: Chat in Indonesia, please&lt;/a&gt;' ditulis oleh &lt;a href="http://www.nanowrimo.org/eng/user/200381"&gt;Davian Mel&lt;/a&gt;. Serasa kenal deh, sama ni anak. Lagian dia seperti sok kenal juga, coba kalau yang seperti Doggu-chan (dari Aestera) Hafiz (Aestera juga) dll, yang udah lama nggak berhubungan, tetapi mereka memang pernah kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin waktu lagi conference, Myu bilang gini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(05:28:44 PM) *Myu:* Ambu: (05:28:21 PM) *mand_amanda:* &lt;&lt;-- Davian Mel :-"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wekekek! Jadi &lt;a href="http://lord-and-amanda.blogspot.com/"&gt;Manda&lt;/a&gt; toh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*jitak Manda tujuh turunan*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-3495662791377989186?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/3495662791377989186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=3495662791377989186' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3495662791377989186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3495662791377989186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/davian-mel.html' title='Davian Mel'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tFDFQYRtO7c/R0u0yrKr5FI/AAAAAAAAAJM/rpdRfWvDSMk/s72-c/mand_amanda.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-4837114183561841839</id><published>2007-11-25T20:35:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T20:40:07.014-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluhenam</title><content type='html'>*soalnya Minggu kemaren nggak nulis, hari keluarga :P*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah nampak murung. Wajah yang biasanya berseri, sekarang bagai tersaput awan. Seorang juru telik –mata-mata—berdiri di hadapannya. Pakaiannya lusuh dan kotor, menandakan baru pulang dari perjalanan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Minta Ki Seta segera menghadap,” titahnya pada seorang pengawal di sampingnya. Pengawal itu menunduk memberi hormat dan segera menghilang di balik pintu. Tak berapa lama kemudian ia kembali dengan Penyihir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat dan Sejahtera untukmu, Yang Mulia. Ada apa gerangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Juru telik melaporkan,” Dyah mengisyaratkan orang di hadapannya, ”bahwa pasukan Morion dalam jumlah besar menuju ke arah kita, Ki Seta,” tak ada senyum sedikitpun di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Ki Seta mengeras. ’Mereka datang juga,’ pikirnya, tapi disembunyikannya pikirannya itu baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mereka mengincar sesuatu, Ki Seta. Aku tak tahu apakah itu. Yang jelas mereka berniat melanggar Layang Kamasan kalau melihat gelagatnya begitu,” Dyah meneruskan ketika melihat Ki Seta terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mereka mengincar sesuatu yang keluar dari Pertambangan, Yang Mulia,” akhirnya suara Ki Seta keluar juga, perlahan. ”Silmë. Batu Bulan. Dalam naskah-naskah kuno, batu Silmë jarang muncul. Tak ada yang bisa memperkirakan kapan ia akan muncul. Tapi kalau ia sudah akan muncul, dengan cara-cara khusus Penyihir tertentu akan mampu mendeteksinya, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau ... tahu tentangnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hamba baru saja mendapat Penglihatan, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi ... mengapa ... Da-Dark Soul mengincar Silmë?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menguasai Silmë, seseorang bisa menguasai dunia, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena itulah ia berani melanggar Layang Kamasan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hamba kira begitulah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah terdiam. Lalu lirih ia berkata, ”Kalau begitu, sekarang kita harus memikirkan cara yang terbaik untuk melindungi rakyat ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk. ”Pertama, apa yang akan Yang Mulia lakukan dengan Silmë? Lebih mudah jika Yang Mulia yang menguasai Silmë, karena Dark Soul bisa kita taklukkan dengan mudah. Masalahnya, jika Dark Soul terlebih dahulu menaklukkan Sumekar, sebelum Silmë keluar, dan itulah yang hamba kira akan dilakukannya.”&lt;br /&gt;Dyah mengangguk. ”Jika Silmë keluar sebelum Dark Soul menaklukkan kita, tentu saja akan kita pertahankan. Jika Silmë belum keluar di saat pasukan Dark Soul sudah datang ... akankah kita korbankan rakyat kita untuk mempertahankan Pertambangan?”&lt;br /&gt;Perlahan Ki Seta mengangguk. ”Kita tidak mempertahankan batu itu demi mendapatkan kekuasaan, demi kemuliaan, Yang Mulia. Kita hanya akan mempertahankannya agar tidak jatuh ke tangan yang salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menatap Ki Seta lama sebelum ia mengangguk, ”Baiklah.” Ia memalingkan wajah pada pengawal, ”Panggil Kepala Bala Keamanan segera. Dan, oh ya, jangan lupa Tetua Tabib!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawal itu menghormat dan menghilang secepat ia bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon ampun, Yang Mulia, hamba punya usul,” Ki Seta menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena ini menyangkut Layang Kamasan, maka negara lain yang menandatanganinya perlu diberitahu. Negara-negara yang maish ada, yang belum menjadi bagian dari Morion.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mengangguk. “Walau, kalau melihat Morion berani berkonfrontasi dengan Layang Kamasan, pasti akan ada negara yang takut membantu. Tapi kita coba saja,” ia melihat pada juru telik yang selama ini diam di sudut, “Aku akan segera menulis surat resmi. Sampaikan segera pada negara-negara itu. Pilihlan orang-orangmu yang terbaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru telik menghormat dan amit mundur. Kepala Bala Keamanan masuk dengan tergesa-gesa, disusul Tetua Tabib dengan perutnya yang gendut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang Mulia,” sahut mereka bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pasukan Morion akan segera menyerang negara kita,” Dyah menerangkan cepat, lalu memandang Kepala Bala Keamanan. ”Kumpulkan semua laki-laki yang sudah mendapat pelatihan. Cek lagi persenjataannya, juga seragam. Setelah itu, bersama dengan semua Pelatih Utama, buat perencanaan akan ditempatkan di mana saja pasukan-pasukan itu, lalu laporkan secepatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau wajahnya keheranan, Kepala Bala Keamanan menganggukkan kepala, memberi hormat dan amit mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tetua Tabib, mulai sekarang hentikan pembuatan ramuan-ramuan lain. Konsentrasikan pada ramuan penyembuh, terutama penyembuh luka, luka biasa ataupun luka sihir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetua Tabib pun menganggukkan kepala dan amit mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah memandang ke arah pintu di mana mereka mundur. ”Apa mereka tahu apa yang menyongsongnya di sana?” gumamnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derap pasukan yang begitu seirama itu bagai menggetarkan bumi. Nyata sekali bahwa mereka sangat terlatih, tegas langkah mereka, dingin sorot mata mereka, mantap pegangan mereka pada senjata masing-masing seolah senjata dan pemegangnya lumer jadi satu. Dan derap mereka seolah tak berakhir, jumlah mereka seakan tidak terhitung. Pasti tujuan mereka, ke Timur, ke arah matahari terbit. Sumekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sumekar, terdapat kesibukan yang tidak biasanya. Di lapangan kecil samping istana orang-orang berseragam berkumpul. Dan makin banyak jumlahnya, seiring dengan kedatangan orang-orang berseragam lainnya dari seluruh penjuru negeri. Senjata mereka beragam, pedang, panjang maupun pendek, tombak, trisula, panah, dan entah apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan itu segera saja jadi tontonan, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Sudah berabad-abad mereka tidak pernah melihat tentara dalam jumlah begitu banyak. Biasanya mereka hanya melihat tentara jika mendekati istana, itupun sekedar pengawal penjaga istana. Lalu sedikit personil penjaga keamanan, semacam polisi, untuk mendamaikan keributan kecil-kecilan antar penduduk, atau pencurian yang amat-sangat jarang terjadi. Bala Keamanan pendeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emak, siapa sih mereka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu namanya tentara, Euis," seorang ibu mengusap kepala anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku belum pernah melihat tentara," sahut anak kecil itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangankan kau, akupun belum pernah melihat mereka. Pernah, sih, satu-dua, tapi belum pernah melihat sebanyak ini," seorang ibu-ibu gemuk setengah umur menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga baru melihat langsung sekarang. Persis seperti yang digambarkan di buku-buku sejarah di sekolah ya?" seorang gadis belia menyetujui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu di sebelahnya diam saja. Wajahnya nampak bersaput mendung. Melihat hal itu, si ibu gemuk bertanya penasaran, "Ada apa, Bu? Anda tidak senang melihat begiu banyak tentara kita berkumpul?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ibu yang ditanya menggeleng. Ia menunjuk ke arah tentara itu, "Suamiku dan anak sulungku ada di sana. Meski mereka bukan tentara, tetapi ia termasuk Bala Cadangan, dan dipanggil untuk maju. Hanya Dewa-dewa yang tahu apa yang akan mereka hadapi,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, kau betul," ibu yang lain menanggapi, "suamiku juga masuk Bala Cadangan. Untuk apa, kita belum tahu. Mungkin cuma untuk menjaga perbatasan. Atau Ratu hendak berkunjung ke luar negeri dan perlu parade,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi sebanyak itu?" ibu dengan wajah sedih tadi menukas pesimis, "belum pernah kudengar seluruh Bala bahkan hingga Bala Cadangan dipanggil tak bersisa, hanya untuk sebuah parade. Pasti ada sesuatu yang mengerikan yang akan kita hadapi sehingga kita perlu mengerahkan tentara sebanyak itu. Dan .." suaranya tertahan isak, "kalau itu cukup mengerikan, mungkin kita bahkan tak akan pernah melihat mereka lagi .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu di sekitarnya terdiam. Mereka tak tahu harus mengatakan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheningan terpecahkan ketika seorang anak perempuan berkucir dua menarik-narik baju ibunya, "Emak, aku mau jadi tentara juga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hus, kamu kan perempuan. Hanya anak laki-laki yang boleh jadi tentara,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, Ratu juga jadi tentara," anak itu menunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perhatian tertuju ke lapangan. Kerumunan orang-orang berseragam tadi kini sudah membentuk barisan yang rapi. Di depan mereka berdiri seorang gadis dengan seragam yang sama, di atas podium, dan memberi pengarahan pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup diterpa angin yang dapat sampai pada kerumunan penonton hanyalah kata-kata seperti 'membela negara', 'mempertahankan kebenaran' dan 'Morion'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Morion," desis seorang gadis, "apakah benar negara sebesar itu menyerang kita? Ini benar-benar mimpi buruk,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja ketakutan mencekam segenap penduduk yang mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertambangan, kali ini tidak ada shift seperti biasanya. Seluruh pekerja laki-laki yang kebagian giliran hari kemarin, ditahan, tidak boleh pulang. Seluruh wanita dipulangkan. Kriya ditutup sementara, di pertambanganpun tidak ada pekerjaan yang dilakukan. Para pekerja yang tersisa dibagi seragam, dan persenjataan sekadarnya. Selesai itu, mereka diberi pengarahan singkat, dan sedikit latihan penggunaan senjata. Mengulangi latihan dulu yang mereka pernah ikuti. Juga prosedur pengamanan tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak kuduga kita benar-benar akan berperang," gumam seorang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga begitu. Kupikir negara ini tidak akan pernah mengalami apa yang dinamakan perang. Dan sungguh mimpi buruk kita terperangkap kebagian mesti mempertahankan pertambangan ini," pemuda lain yang ternyata adalah Rama, menukas sambil menimang-nimang pedang di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mimpi buruk apaan. Lebih buruk lagi mereka yang langsung harus maju ke garis depan,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak begitu," Rama menanggapi, "pikir saja, mereka yang harus maju ke garis depan berarti langsung berhadapan dengan Morion? Mereka bisa saja musnah dalam waktu singkat,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sudah kutahu, lalu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau musuh bisa sampai ke sini, dan harus kita hadapi, berarti pasukan kita sudah habis. Berarti kita ini pasukan terakhir untuk mempertahankan Sumekar. Bila kita sampai sudah harus menghadapi Morion, berarti sudah tak ada lagi yang tersisa di Sumekar selain kita. Apa itu bukan mimpi buruk namanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda di sebelah Ren itu mengangguk-ngangguk. Ada rasa ngeri tersirat di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong, aku tak mau mati tanpa tahu siapa orang yang terakhir kuajak ngobrol. Aku Rama, kamu siapa?" Rama mengulurkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku Ujang," ia menyambutnya sambil tertawa kecil. Di tengah-tengah ketakutan seperti ini masih saja sempat bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Avis terbangun tersentak terengah-engah. Di tengah udara dingin ia malah berkeringat, bantalnya basah, bajunya juga basah. Ia menggelengkan kepalanya cepat, mengetes apakah itu mimpi atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi. Ia sekarang ada di Hambalang, dan tidak ada pasukan berseragam di hadapannya. Tapi ... semuanya terlihat begitu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bangun dan keluar kamar. Suasana subuh sudah terasa, sudah ada yang mengaji di surau terdekat menjelang adzan, sudah ada kicau burung-burung fajar. Ia masuk kamar mandi, dan menghela napas panjang. Ia gemetar ternyata, saat ia mengangkat gayung. Dipejamkan mata tan menghela napas lagi. Pelan-pelan disiramkan air ke tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar kamar mandi dan digantikan teh Alia. Beberapa saat kemudian saat teh Alia masih di kamar mandi, Upi menangis. Ia berlari ke kamar kakaknya. Aa pasti sudah ke lokasi tadi subuh. Upi terbangun dan menangis. Ditepuk-tepuknya paha anak gendut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sssh, jangan nangis. Umi lagi di kamar mandi. Ini ada Bi Wis. Yuk, mau bangun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau susu,” katanya sambil matanya masih menutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digendongnya anak itu, berat banget! Dibawanya ke dapur, didudukkannya. Dibukanya pintu dapur, seperti biasa sudah ada botol susu segar di dekat pintu. Diambilnya, dituangkan sebagian ke panci dan dihangatkan. Sebelum mendidih, diangkatnya dan dituangkan ke gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil ditiup-tiup agar tidak terlalu panas, diberikan pada Upi. Upi minum sekali teguk habis, dan sekarang matanya membuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bi Wis, mau pipis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yuk, tuh Umi udah keluar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia sudah keluar dari kamar mandi dan melihat mereka ada di dapur, menegur, ”Upi, udah minum susu sama Bi Wis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Udah. Sekarang mau pipis,” dan ia segera berlari masuk ke kamar mandi yang terbuka. Teh Alia dan Avis tertawa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan mengurus Upi sepagi itu membuatnya agak melupakan ketakutannya akan mimpi tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis sedang mengiris bawang ketika teh Alia masuk ke dapur membawa seikat kangkung dan ikan mas yang diikat di mulutnya, masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduh, ikannya seger-seger. Masih hidup lagi. Mau digoreng kering?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Si Aa kemarin pesen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ikannya panjang-panjang lagi, nggak berlemak ini sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia mengangguk, ”Kalau yang gendut-gendut, yang bulet-bulet itu, nggak akan kering walau digoreng lama juga. Girinyih lemakna,” sahutnya sambil menyimpan ikan-ikan itu di tempat cuci piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau dibersihin sama Avis atuh? Katanya yang lagi hamil mah nggak boleh melakukan pembunuhan,” sahutnya sambil tertawa renyah, walaupun dia sendiri juga agak ngeri ’melakukan upaya pembunuhan’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia tertawa. ”Biarin aja dulu, nanti juga mati,” katanya seperti tahu akan kengerian Avis. ”Kamu nggak ke atas tadi pagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enggak ah. Lagian agak tersaput awan begitu,” sahutnya berdalih. “Masih ada beberapa hari Avis di sini, masih banyak hari,” katanya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu bener mau keluar dari Sekolah?” tanya teh Alia duduk di bale-bale, dan mulai membuka ikatan kangkung, memetikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kaya’nya sih. Sekarang sedang mencari alasan buat keluar. Nggak enak sama temen-temen yang masih bertahan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bilang aja mau kawin, ikut suami, beres,” goda teh Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iih, si teteh mah. Meni geus jiga si Aa ari ngaheureuyan teh,” niatnya sih mau mencubit teh Alia, tapi karena sedang memegang pisau, diurungkannya juga niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eeh, beneran sok geura. Di mana-mana juga cowok yang ngapelin cewek, sedang ini? Coba hitung berapa kali Kang Nata dateng ke Bandung? Trus coba hitung berapa kali kamu dateng ke Hambalang? Belum lagi, kalau kamu ke sini, pasti berhari-hari. Itu kan berarti udah ngebet!” teh Alia berkelit karena pisau Avis sudah disimpan sehingga dia bisa mencubitnya dengan bebas tanpa takut pisaunya salah arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Teteeeeeeeeh! Aku kan ke Hambalang mau nengokin teteh, mau negokin Aa, mau nengokin Upi, bukan kang Nata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi sekalian kan?” teh Alia masih saja menambah-nambahi, sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Avis sampai merah seperti tomat, dan dia menjawab, cuma manyun dan komat-kamit baca mantera, hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah teh Alia kemudian berubah serius. ”Tapi beneran, Avis. Umur kamu itu kan udah tiga puluh. Kang Nata juga sudah ... berapa? Tiga delapan kalau tidak salah. Sudah bukan masanya lagi pacaran seperti budak leutik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis membawa pisaunya ke tempat cuci piring, dan menekan-nekan ikannya. Kalau sudah mati, mau dibersihin. Ternyata sudah. Dia membuka ikatan tali gedebog pisangnya, dan mengambil satu, menyisiki sisiknya, membelah perutnya dan mengeluarkan isi perutnya, mencucinya, mengambil satu lagi ikannya, tanpa mengucap sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa, Avis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. ”Kalau bisa dibilang pacaran, sih Avis seneng. Tapi ini ... Avis juga bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bingung kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia nggak pernah bilang .. apapun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia nggak pernah … ‘nembak’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. “Dia terkadang sangat care. Seperti Avis itu pacarnya, semua diurusin. Tapi kadang juga cuek sekali, dan tak ada kabar. Sama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau kamu jalan sama cowok lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggk tahu. Hubungan kami kan jauh, kalau di Bandung Avis jalan sama cowok lain juga dia nggak tahu dan nggak peduli kaya’nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kaya’nya? Belum pernah dicoba?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. Sambil menoleh, dilihatnya sambil lalu tumpukan kangkung yang sudah dipetiki oleh teh Alia, ”Itu kangkung mau ditumis begitu saja? Avis bawa oncom kemarin, dibikin ulukutek aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, Aa juga bilang dibikin ulukutek,” kata teh Alia sambil membereskan batang-batang kangkung yang sudah gundul dipetiki daunnya dan menumpukkannya di lobang dekat dapur, dibikin kompos. Lalu, ”Kembali ke laptop, Avis,” katanya tersenyum, dan disambut oleh senyum juga oleh Avis, ”kalau memang arahnya susah ditebak, kamu aja yang ambil inisiatif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inisiatif?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cewek aja yang nembak, jangan cowok aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idih si teteh mah. Nggak, ah,” Avis menggigil sambil menyimpan semua ikan yang sudah bersih ke dalam baskom, menggaraminya, dan, “Sini kangkungnya Avis cuci!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia menyerahkan baskom berisi kangkung ke Avis. ”Kalau kamu nggak mau nembak, apa mesti ditolong pihak ketiga? Si Aa pasti mau nolong menyelidiki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tersenyum. “Nggak ah. Untuk sementara, Avis nggak apa-apa. Biarin aja dulu.” Avis ingin mengatakan, bahwa sekarang ini ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dia nggak mau memikirkan hal-hal lain. Tapi, bagaimana menceritakannya pada teh Alia? Apakah bijak untuk menceritakan mimpi yang aneh itu? Apalagi dia seorang lulusan psikolog, sedang teh Alia malah lulusan pertanian, apa nggak kebalik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia nampaknya juga membiarkan hal ini mengambang, setidaknya hari ini. Apalagi kemudian Upi masuk dari rumah-rumahan tehnya, dan mengajak Avis bermain di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bi ’Wis, hayu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nanti dulu, ini bi ’Wis mau ngebersihin kangkung dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah, sana, main aja dulu. Kan udah beres, bumbu udah diiris, tinggal masukin katel,” teh Alia mengusir Avis sambil tertawa-tawa melihat Avis kewalahan menghindar dari Upi. Favorit Upi memang Bi Wis, kalau sedang tidak ada kunjungan, dia pergi main ke belakang Rumah Besar, selalu ada anak-anak pemetik teh di sana, yang besar yang kecil. Kalau ada Bi Wis, dia diam di rumah dan main dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharian ini Avis terus bermain dengan Upi, sampai akhirnya malam tiba, dan Upi sudah ada di kasur, kasur Avis bukan kasur Umi. Seharusnya ia sudah tidur, tapi sampai berapa dongeng diceritakan Avis, malah Upi makin cenghar, makin seger, dan menuntut cerita yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang selu,” katanya begitu Avis akan memulai lagi ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euh, kalau ceritanya yang seru, bagaimana bisa tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gini,” Avis akan memulai cerita yang baru, ”tapi Upi nggak boleh ngomong kalau ceritanya belum selesai ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upi mengangguk dengan khidmat, menyetujui rule of the game.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Begini ceritanya. Ada seorang raja. Dia punya tiga anak. Yang pertama, laki-laki. Dia pandai main pedang. Anak yang kedua, laki-laki juga. Dia pandai naik kuda. Yang ketiga, perempuan. Dia cantik tapi manja. Dia pengen diceritain. Begini ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang raja. Dia punya tiga anak. Yang pertama laki-laki. Dia pandai main pedang. Anak yang kedua laki-laki juga. Dia pandai naik kuda. Yang ketiga anaknya perempuan. Dia cantik tapi manja. Dia pengen diceritain. Begini ceritanya ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga empat kali dia mengulang, dan Upi tertidur. Napasnya sudah teratur. Hehe, itu dulu taktik Papi dalam menidurkan anaknya, kata Mami. Kalau si anak nggak mau tidur dan terus menuntut dongeng. Tapi setelah dua-tiga kali diulang, si anak hapal taktiknya, dan terpaksa dicari akal lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akalnya bagus juga.” Suara Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis berbalik, kepala kang Nata muncul di balik pintu. Dia tersenyum, dan sambil meletakkan telunjuknya di bibir, isyarat agar dia jangan ribut, diselimutinya Upi, dimatikannya lampu, dan ia keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara teh Alia dan Aa seperti berada di kamar. Apakah mereka memang sengaja agar dia dan Nata berdua saja di ruang tengah? Avis tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa tadi nggak ke atas? Kukira, kalau pagi nggak ke atas, sore mau, ternyata sama sekali nggak ke atas,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya ... kan masih ada beberapa hari lagi kok aku di sini.” Bagus, alasan yang bagus sekali. Biasanya walau hari sudah mau hujan, tetap saja dia naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak ada alasan lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. Dia berusaha menghindar dari pandangan Nata, tapi dia terpaksa menatapnya juga, dan matanya itu seperti menyiratkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu sesuatu sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba dia merasa, dia bisa menceritakan mimpi-mimpinya pada Nata. Dengan teh Alia, dia merasa tak bisa. Apalagi dengan Aa. Tapi ia mendadak merasa bisa menumpahkan segala isi hatinya, segala mimpi-mimpinya pada Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia bahkan tidak perlu berbicara sama sekali. Dia merasa mata Nata mengerti. Mengerti menembus pikirannya, tentang mimpi-mimpinya, tentang siapa dia dalam mimpinya. Terutama, mengerti ketakutan Dyah, mengerti kekhawatiran Dyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan takut,” bisiknya, kepalanya mendekat ke kepalanya, bisikannya tepat di telinganya. ”Teruslah bertahan.” Tangannya merengkuh seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nata mencium keningnya, lama. Hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, menebar rasa aman, rasa dilindungi, rasa ditemani dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata melepas bibirnya, melepas pelukannya. Matanya masih menatap mata Avis. Kemudian tak berbicara sepatah katapun, ia keluar dan menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 2.867&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 45.493 (MS Word) 45.464 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 43.337&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-4837114183561841839?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/4837114183561841839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=4837114183561841839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4837114183561841839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/4837114183561841839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhenam.html' title='Hari Keduapuluhenam'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-7173971576841208072</id><published>2007-11-25T20:31:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T20:35:29.818-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluhempat</title><content type='html'>“Bi ‘Wis, Bi ‘Wis!” celoteh anak kecil berlari keluar dari rumah saat mobil masuk ke kompleks rumah itu. Dia berdiri di depan pintu rumah, menunggu mobilnya berhenti, lalu melompat-lompat tak sabar saat Avis turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bi ‘Wis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya. Bi Wis turun dulu. Halo, Upi, sudah minum susu belum?” Avis merentangkan tangannya dan memeluk bulatan kecil itu sepuasnya. Ibunya datang menyusul kemudian, selalu kalah langkah, soalnya walau belum bundar membesar, tapi badannya sudah terlihat seperti ibu hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo, Upi, candak tasna Bi Wis ka lebet,” teh Alia menggebah anaknya masuk berikut adik iparnya sekalian. Dan juga, “Kang Nata, masuk dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata ikut masuk tapi hanya sebatas mengantar Avis, “Vis, aku ke Rumah Kaca dulu ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menoleh dari sisi keponakannya yang digendongnya, “Oke. Sori mengganggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng, ”Sama sekali tidak. Sore, mau lihat lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. ”Nuhun nya, kang Nata!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata memandangnya sejenak dan kemudian pamitan juga pada teh Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Avis sudah tenggelam dihujani entah apa oleh Upi, mengajak ke sana mengajak kemari, memperlihatkan hasil menggambarnya, dan entah apa lagi. Setelah makan siang, ia malah mengajak ke rimbunan teh di belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak disuruh tidur, teh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau tidur siang, malemnya malah jadi terlalu larut tidurnya. Kalau dibiarin main sepanjang siang, asal jangan yang terlalu bikin capek, setengah delapan malam juga sudah lima watt.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya ya? Udah empat tahun seperti Upi begini, daripada tidur malam, mending dibiairn sepanjang siang. Lagian, kebiasaan tidur siang juga nggak dikenal sih sebenarnya, hanya di beberapa kebudayaan, seperti kebudayaan Belanda, Spanyol ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siesta ...” teh Alia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bi ’Wis, Bi ’Wis, hayu, kita lumah-lumahan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rimbunan teh itu sudah disulap jadi seperti rumah-rumahan. Cukup sih untuk Upi masuk ke dalamnya, tapi Avis nggak bisa masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pi, Bi ’Wis nggak bisa masuk. Terlalu kecil. Cukupnya cuma buat  Upi aja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yaaaa,” nadanya kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gini, Upi di situ, Bi ’Wis di luar, jadi ceritanya tetanggaan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”O, iya. Tetanggaan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekejap permainan menjadi lari-larian, jerit-jeritan, ketawa-ketiwi. Melelahkan, kata siapa permainannya di siang hari itu ’asal jangan yang terlalu bikin capek’ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Udah ah, Bi ’Wis mah cape. Kita nyanyi yuk!” dan keluarlah perbendaharaan lagu-lagu anak-anak Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pi, tau nggak lagu tentang teh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menoleh, dan Nata sudah berdiri dekat Upi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upi menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begini, ikutin ya:&lt;br /&gt;sora no shita de ookiku nattewakai shinsen na midoriyakuni tatemashoushinme chan ookiku natte.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sola ...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sora no shita ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sola nos... Susaaaah!” Upi putus asa. Avis dan Nata menertawakannya, tapi langsung memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya apa?” tanya Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kurang lebih begini artinya :Tumbuhlah tinggi di bawah langitJadi hijau muda berseriKau akan selalu bergunaTumbuhlah tinggi daun teh ku sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis terdiam, memeluk Upi. ”Kenapa orang lain memandang tinggi pada teh, menghargainya sekali, sedang kita? Kalau menyuguhkannya selalu diembel-embeli ’hampura, mung tiasa nyuguhkeun enteh’...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata menggelengkan kepala. ”Entah.” Pelan. Matanya menerawang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menoleh pada Avis, ”Jadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis memandang pada anak kecil di pangkuannya, ”Dia bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ajak aja. Dia kuat kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tertawa. Tentu saja Nata kenal baik bagaimana kekuatan anak itu, wong sehari-harinya bergaul dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku bilang dulu ke emaknya, ya!” dan dialihkan pangkuannya ke Nata, ”Mau ikut ke atas? Bi Wis bilangin dulu ke Umi ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu mengangguk, ”Mau! Mau!” dan ia memanjat ke pangkuan Nata, yang sekarang sudah berdiri. Avis tertawa, dan bergegas ke dalam rumah. Sebentar kemudian sudah  kembali dengan sebuah jaket kecil dan sebuah tas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jalan ah, jangan dipangku,” sahut Nana sambil menurunkan anak kecil itu dan menuntunnya. Mereka berjalan beriringan sambil Upi mencoba menyanyikan lagu terbaru yang diajarkan Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rasanya aku sering denger lagu itu. Ada di iklan. Iya. Ada. Iklan apa ya?” Avis berpikir-pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya iklan minuman. Teh botolan. Ada. Makanya aku denger itu sekali, langsung inget lagu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tertawa, ”Gimana bisa sekali denger langsung hapal? Lagian dengernya juga kapan, di sini jarang nonton tivi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enggak, dari dulu udah sering denger lagunya, pas denger ada di iklan, jadi aja inget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ow,” Avis baru ngeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata menyenandungkannya pelan-pelan. Upi mengikutinya dengan penuh kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tiba-tiba tertawa. ”Kang Nata ternyata bisa nyanyi juga ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, suka nyanyi pelan-pelan gitu kok,” Upi berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mendadak menghentikan senandungnya, mukanya menjadi merah, ”Ah, suara jiga radio butut kieu ge!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menghentikan tawanya, dan meletakkan tangannya di bahu Nata. ”Nggak kok, kang. Tong pundung atuh,” dan matanya bertatapan dengan mata Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kerisauan di sana. Bukan, pasti bukan karena sedang ditertawakan. Ada masalah yang jauh lebih besar yang sedang dipikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata meraih tangan Avis yang disampirkan di bahu, dan memeganginya, sambil terus berjalan. Jadi mereka bertiga berpegangan sampai di puncak. Tak ada suara kecuali kaki berpijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di puncak, mereka mengambil posisi. Avis mengeluarkan isi tasnya, teropong dan kamera dengan lensa yang sudah seperti wartawan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anaknya sudah menetas,” lapor Nata saat Avis mengeker sarang dari kejauhan, sementara Upi menggunakan teropong Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lucu,” komentar Avis pendek saat melihat anak elang kecil itu masuk dalam lensa kameranya. Jepret-jepret-jepret. ”Bersyukurlah mereka tidak tergeser pembangunan, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mengangguk. Tak terlihat oleh Avis, tapi terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Kenapa kamu tidak jadi penulis saja? Lepas saja pekerjaan di sekolah itu kalau memang sudah tidak sejalan lagi dengan idealismu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menurunkan kameranya. ”Memang sedang kupikirkan. Daripada terus di sekolah yang ternyata semakin lama semakin matre, mending aku jadi penulis lepas saja. Bisa menulis apa saja, tidak terbatas pada psikologi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata menyetujui, ”Psikologi jadikan latar. Biasanya orang akan lebih suka tulisan yang dipandang dari sudut yang berbeda,” dia menatapnya lama, ”Atau, mengapa tidak kau tulis tentang elang ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tersenyum, ”Masih kurang pengetahuan kalau aku menulis tentang mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan yang full pengetahuan, yang ringan saja. Pasti banyak yang bisa kau tulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa kang Nata tidak menulis saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Nata tersenyum, ”Aku menulis kok. Jurnal pohon teh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis terkekeh. ”Bukan jurnal ilmiah. Tulisan sehari-hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada,” sahutnya pelan, ”tapi cuma buat pribadi. Nggak dipublikasikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada suaranya begitu penuh rahasia sehingga Avis berhati-hati menanggapinya, ”Boleh Avis lihat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suatu waktu nanti,” katanya bersungguh-sungguh, ”tapi kembali lagi ke topik awal, jadi, keluar saja ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. ”Aku sedang cari alasan biar bisa keluar dengan enak. Soalnya pemegang sebagian saham itu temen, banyak tenaga edukasi di sana juga temen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiam. Matahari semakin tenggelam. Avis kembali memotret dengan latar cahaya jingga yang semakin menghilang. Suasana semakin gelap. Avis mengecek, ternyata Upi tertidur di pangkuan Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidur?” tanya Nata berbisik. Avis mengangguk. Ia membereskan kamera dan teropongnya, dan mereka berdiri, berjalan kembali ke rumah. Nata di depan dengan Upi terbungkus jaket di pangkuannya, disusul Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upi tetap tertidur saat dibaringkan di ranjangnya. Nata berbisik di dekatnya agar Upi tak terbangun, ”Aku kembali ke Rumah Kaca ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. Mata mereka bertemu, dan Avis menemukan rasa kekhawatiran di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata menggelengkan kepala. ”Tidak. Belum saatnya,” bisiknya lirih. ”Nanti malam, kalau ada apa-apa, aku ada di Rumah Besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis memandangnya heran. Tapi ia tak bertanya lagi, hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu dijalani seperti biasa. Tiba saat tidur, ia sempat ragu. Nyaris setiap malam saat ia bermalam di Hambalang, tidurnya selalu dipenuhi mimpi aneh, tentang dia sebagai Dyah. Ia belum menceritakan pada siapapun tentang mimpi-mimpi itu. Dan ia ragu apakah malam ini ia akan mengalaminya lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah pernah akan menceritakannya pada Aa, atau juga bahkan pada Nata, tapi saat itu Aa sibuk, dan Nata perangainya sedang tidak bisa ditebak, jadi ia membatalkannya. Sampai kini belum ada seorang pun yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, apapun yang terjadi, terjadilah, ia pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia pun menutup mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ada dalam dunia yang gelap. Suasananya mencekam, mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada seorang –apakah itu benar seseorang?—di sana, sedang menatap sebuah bejana berisi air. Air yang gelap juga. Dark Soul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegelapan di kamar bawah tanahnya, Dark-Soul nampak sedang memusatkan perhatian pada bejana berisi air di hadapannya. Perlahan di permukaan air yang tenang itu muncul bayangan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silmë .. Silmë .. Jadi dia kini muncul .." ia mendesis "tak lama lagi kekuasaanku akan abadi. Aku akan abadi. Aku adalah kekuasaan. Aku akan menguasai seluruh jagad raya .. Qiqiqiqiqiqiq .." ia terkikik menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ketukan di pintu menghentikan kekehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda memanggilku, Yang Mulia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang baru masuk adalah seorang berbadan besar menyeramkan dengan kilapan mata seorang pembunuh. Dadanya tak mengenakan apa-apa selain sebuah strap kulit menyilang dipenuhi pisau-pisau kecil, belum lagi golok di kedua sisi pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, Gagak Hitam. Aku baru saja melihat bahwa Silmë akan segera muncul,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silmë?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Sumber keabadian. Sumber kekuasaan," Dark-Soul kembali terkekeh menyeramkan, "Aku melihatnya akan muncul di kawasan Sumekar. Amankan. Kau tahu apa yang mesti kau perbuat,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak Hitam mengangguk bagai robot. Lalu melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang tadi seluruhnya lenyap dengan dikibaskannya tongkatnya. Tongkat Ki Seta. Ternyata Ki Seta sedang berada di ruang kerjanya, sendiri. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. Bukan karena panas pasti, hari itu malam dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa selalu bayangan ini yang muncul dalam beberapa hari ini? Noda-noda yang selalu muncul dalam mimpiku akhirnya datang juga, tapi mengapa seperti ini wujudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berdiri, dan berjalan mondar-mandir. Wajahnya risau. Jika Ratu diberitahu, ia mungkin akan khawatir, apalagi dengan persiapan yang sudah dilakukannya beberapa tahun ini. Jika Ratu tidak diberitahu …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.447&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 42.565 (MS Word) 42.571 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 40.000&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-7173971576841208072?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/7173971576841208072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=7173971576841208072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/7173971576841208072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/7173971576841208072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhempat.html' title='Hari Keduapuluhempat'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-1526185498545485254</id><published>2007-11-25T20:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T20:31:16.890-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluhtiga</title><content type='html'>Avis mengejap sebentar sebelum ia bisa mengenali suasana sekelilingnya. Mami di sebelahnya, dengkuran terdengar halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ia masih di rumah Aa di Hambalang. Masih malam, atau paling tidak dini hari, karena belum ada suara-suara pagi. Belum ada suara burung fajar, belum ada sayup-sayup adzan. Diraihnya ponselnya, dilihat jamnya, pukul tiga. Mau tidur lagi, mata sudah melotot. Lagian, ada kebiasaan aneh, kalau ia sudah melihat jam, maka ia tidak akan bisa tidur nyenyak lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia turun dari kasur, ke dapur dan menuangkan air dari kendi. Di sini tidak perlu kulkas, air jadi dingin sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau kembali ke kamar, sudah tidak bisa tidur lagi. Mau bangun terus, masih ada waktu dua jam sebelum ia bisa bergerak dan bersiap untuk pulang. Ia duduk di sofa ruang tengah. Suasana benar-benar sunyi, bahkan Upi nampaknya sedang lelap karena tidak ada suara dari kamar Aa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melihat ke tirai jendela. Dalam kegelapan di dalam, cahaya bulan purnama di luar, tirai itu menjadi berbayang. Tirai itu bisa diraihnya tanpa ia berdiri dari sofa. Maka ia menyentuh ujungnya dan menyibaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar juga sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Semua masih terbuai mimpi. Pohon besar di samping Rumah Besar juga seperti tak bergerak. Er, ... pohon bergerak mah Dedalu Perkasa ya? Hihi.  Pokoknya seperti tidak ada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tirai dilepas lagi, mendadak ia terkejut. Seperti ada yang bergerak di bawah pohon itu. Ia bergerak maju untuk meraih ujung tirai dan membukanya, dan terlihat memang tadinya ada orang di bawah pohon itu! Ia tidak melihatnya tadi! Mungkin karena orang itu tadi tak bergerak seperti benda-benda lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi orang berpakaian hitam-hitam itu bergerak secepat kilat sehingga pada saat ia mengedipkan mata saja ia sudah lenyap. Dan hal-hal lain masih seperti tadi. Bahkan suara jangkrik saja masih terus tak berhenti, seperti tak terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, baiklah, mungkin itu hanya halusinasi, hanya mata yang baru bangun dan baru diganggu mimpi, ia berpikir. Menepis pikiran-pikiran yang aneh-aneh dalam benaknya. Ia bersandar di pinggir sofa, dan mencoba memejamkan mata sejenak. Tapi tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicobanya mengingat-ingat mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mimpi itu melukiskan dia dalam umur yang sedang dijalaninya. Mimpinya bertumbuh seperti dirinya. Dan mimpinya itu –anehnya lagi, ingat-ingatnya—terjadi di awal waktu tidurnya, sebelum ia ingat bahwa ia sedang berusaha untuk tidur. Begitu ia memejamkan mata, belum lagi ia memasuki frase tidur, ia langsung seperti dilontarkan ke alam lain. Dan setelah selesai, ia seperti dilemparkan kembali ke masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apakah gerangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada dirinya di dunia dimensi lain, yang sejajar dengan dunianya sekarang? Ow, jangan mulai dengan cerita-cerita sci-fi deh. Untuk bisa percaya bahwa dunia-dunia semacam itu ada saja, tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah mimpi-mimpi itu semacam pertanda? Dicoba mengurutkan, dari dia masih Puteri sampai dia menjadi Ratu. Dan ... ayahnya persis sekali Papi. Rasa rindunya pada Papi terkuak lagi. Matanya basah, walau ia berusaha mengusir rasa itu. Sudah berapa tahun ia tidak menangis lagi setiap ia mengingat Papi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar sudah berapa lama ia duduk di sini. Kehidupan pagi mulai bergerak. Ia mengusap matanya, bangkit dan menuju kamar mandi. Didengarnya Upi menangis, pasti terbangun dan membangunkan Abi dan Umi-nya, begitu Aa dan teh Alia menyebut diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mulai bergerak. Selesai ia mandi, Mami sudah mengantri. Bik Juju sudah mengetuk pintu, mengirim sebaskom singkong rebus masih menguapkan asap, berikut gula aren yang sudah disisir. Hm, dengan air teh pahit pasti sedap untuk sarapan! Bukan sarapan, mumuluk kata orang Sunda mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibekali segambreng pepatah dari Mami tentang hidup sendirian sama bik Niah, karena Mami mungkin masih akan tinggal di sini seminggu dua minggu lagi, belum lagi dari Aa, nggak ada pepatah sih dari Ayah dan Ibu, hanya tersenyum saja melihatnya kewalahan mendengar Mami dan Aa susul-menyusul mengatakan ini dan itu, Avis selesai juga beres-beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibarengi pertanyaan Aa kapan dia akan ke sini lagi, cipiki-cipika pada teh Alia yang masih ada di kamar menyusui Upi, mencubit halus pipinya yang menggemaskan, cium tangan pada Mami, Ibu, dan Ayah, dan meleletkan lidah pada Aa yang sudah mulai akan meledek lagi, ia keluar dan berjalan ke Rumah Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata sedang memanaskan Kijang-nya di sana. Masih telanjang kaki, dan berbaju kaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah siap?” tanyanya. Avis mengangguk. Nata tak berbicara lagi, dan kembali ke Rumah Besar. Beberapa menit ia sudah kembali, rapi berkemeja dan bersepatu. Tanpa bicara ia mengisyaratkan Avis agar naik, dan mereka pun melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kiranya setengah jam mereka saling diam diri, kemudian Nata memecah keheningan. ”Jadi, sudah tahu kira-kira akan bekerja di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin di Bandung saja. Ada teman yang mau mendirikan pusat pendidikan anak berkebutuhan khusus, mungkin aku akan mencoba di situ dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata terdiam seolah mencari kata yang lain. ”Tidak ada lapangan pekerjaan untuk bidangmu di Hambalang, ya?” sahutnya seperti yang menutupi kekecewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng sambil tersenyum. ”Mungkin kalau ada banyak anak, mungkin bisa dicari. Tapi kita di desa masih belum menganggap penting bahwa kita bisa mengidentifikasi anak yang autis atau anak yang hiper, dan bahwa mereka memerlukan pendidikan yang khusus. Biasanya anak yang berbeda, dianggapnya bandel aja, titik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Nata lurus ke depan, ”Tapi kalau memang autis dan sejenisnya itu bisa dipicu oleh makanan juga, mungkin memang tidak perlu diadakan penelitian apakah di desa ada anak autis, selama makanan mereka masih alami, tidak mengandung pengawet dan sejenisnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikirannya kadang bisa jalan juga, pikir Avis. Ia mengangguk saja membenarkan. ”Makanya, kata Mami, enak sekali teh Alia, anaknya lahir di tempat dimana segalanya masih sangat alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata menoleh, memandang pada Avis lekat-lekat sejenak, lalu memandang lagi ke depan. ”Kau tidak ingin jadi seperti Alia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa Avis merasa wajahnya mendadak menjadi merah. Untung Nata sedang memandang ke depan, jadi tak terlihat olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tak tahu,” katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Nata tidak memperpanjang lagi. Ia diam lagi selama beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah akan masuk tol Padalarang ketika Nata berbicara lagi, ”Kau mau langsung ke kampus, atau ke rumah dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, ke rumah dulu. Mau nyimpen ransel, dan ngambil berkas-berkas yang mau diurus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oke,” katanya dan tanpa banyak bicara lagi ia mengarah ke Kembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengira akan diturunkan di Kembar saja, makanya dia sudah akan mengucapkan terima kasih pada Nata, tapi Nata mengatakan, kalau ia akan mengantar Avis ke kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, nggak usahlah. Makasih, ini juga udah ngerepotin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak apa-apa. Lagian jadwal ketemuan di Dinas Pertanian itu jam sepuluh, sekarang setengah sembilan juga belum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh,” dia terdiam sejenak. ”Kalau begitu, turun dulu. Aku mau beresin berkas-berkas yang harus diurus,” kata Avis sambil membuka pintu pagar, agar mobil dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tak banyak bicara, Nata memasukkan mobil ke halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bik Niah membuka pintu depan. ”Eh, eneng tos uih. Kumaha, eneng?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lucu budakna, bibi. Meni rampus deuih enenna,” sahut Avis sambil mengisyaratkan agar Nata duduk di ruang tengah saja, tidak di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bik, pangdamelkeun eueut kanggo pak Nata,” sahut Avis sambil terus masuk ke kamarnya, menyimpan ranselnya dan membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bade ngaleueut naon, Encep teh atuh? Bilih bade kopi?” tanya Bik Niah, kelepasan menawari dengan bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Euh, ulah kopi Bi. Wios ciherang oge teu nanaon,” Nata menjawab dengan bahasa halus. Avis sedikit kaget, tidak pernah tahu kalau Nata pemakai bahasa Sunda yang halus juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atuh ulah ciherang nya Cep, ciamis panginten?” tawar Bik Niah lagi. “Sapertosna tos kirang kulem,” Bik Niah rada sok tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata hanya mengangguk sambil mencoba tersenyum, “Mangga tuh, teu langkung bibi we.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis masuk lagi ke ruang tengah dengan tas kuliahnya, dan ia jadi penasaran dengan kata-kata Bibi, dan Bibi ternyata benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nata, seperti yang kurang tidur ya? Bibi jeli juga euy, penglihatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah enggak juga sih,” Nata seperti berusaha menutupi, ”Kau juga seperti kurang tidur.Apa di lokasi memang enggak enak tidur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa tadi subuh bangun jam tiga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis kaget. ”Jadi yang duduk di bawah pohon itu Nata?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata seperti yang kelepasan ngomong, diam sejenak, kemudian berdalih, ”Hanya cari udara saja ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bik Niah masuk membawa minuman, tapi Nata tidak teralihkan, ”Jadi, kenapa bangun jam tiga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku mimpi, pas kebangun nggak bisa tidur lagi. Dan haus. Jadi aku keluar. Tahu ada Nata di luar, mungkin aku juga keluar,” Avis mengeluarkan stoples-stoples dari lemari, ”Hayo, minum dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata minum dan tidak memperhatikan stoples-stoples tadi, ia malah mengisyaratkan agar pergi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oke. Bik Niah,” Avis memanggil bibi, ”Abdi ka sakola heula nya. Moal emam ke siang, ke wengi we.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Muhun, neng, mangga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata sudah berdiri dan pamitan pada bibi, ”Nuhun nya, Bi. Mangga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bi Niah mengangguk, senang rasanya melihat anak muda berbahasa Sunda halus, santun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih berdiam diri ketika mobil melaju lagi. Sudah nyaris sampai ketika entah kenapa Avis tiba-tiba punya ide itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nata .. er, sebenarnya ... kita, jarak umur kita jauh juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enggak enak panggil Nata. Kalau ... kang Nata saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Avis berani sumpah, dia tidak sedang melihat bibir Nata yang sedang berusaha membentuk senyuman nggak berbentuk, tapi sedang melihat mata Nata, yang berkilatan. Asli, mata itu sedang tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau ingin melihat kang Nata sedang tersenyum, lihatlah matanya, pikir Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Boleh saja. Kalu kau suka,” katanya ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sampai di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku antar sampai sini saja ya? Nggak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak apa-apa. Makasih lho, kang!” Avis turun dan akan menutup pintu. Tapi kang Nata menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau kau mau ke Hambalang lagi, jangan lupa telpon aku ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oke,” Avis tersenyum, ”Tapi nggak usah dijemput ke Bandung segala. Dijemput di jalan masuk saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis sekarang sudah tahu di mana mencari senyum kang Nata. Ia tersenyum, ”OK. Aku jemput di jalan masuk. Minggu depan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tergelak. ”Waduh, masa’ tiap minggu mesti ke Hambalang. Eh, ... bulan depan aja ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Nata tersenyum, ”Nggak, becanda. Terserah kamu, mau kapan, yang penting kalau ke sana, telepon. Ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. Dia membiarkan pintu depan ditarik dan ditutup oleh kang Nata. Dan dia juga melambaikan tangan saat mobil bergerak maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Nggak tau bagaimana melukiskannya masa empat tahun sesudah ini, pokoknya Avis mendapat pekerjaan di kota, tapi tetap sering ke Hambalang. Perasaannya masih belum menentu karena sikap Nata padanya masih aneh. Kadang seperti baik, kadang seperti tak kenal. Mami sudah mendesak-desak agar Avis cepat mencari pendamping apalagi Yudha konon katanya sudah akan menikah. Belum lagi Alen sudah punya balita. Teh Alia sedang mengandung lagi ...Dan ia masih mendapat mimpi-mimpi aneh itu, terutama, Avis perhatikan, saat ia di Hambalang]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponselnya bisa dibilang keluaran baru, nggak terbaru sih, tapi lumayan nggak memalukan. Memalukan siapa? Nggak ada yang merhatiin kok .. Ehehe, iya, cuma mau bilang bahwa, ponselnya bukan yang kuno, tapi ringtonenya standar. Persis seperti saat keluar dari pabriknya, nggak ditambah-tambah seperti ponsel anak-anak muda sekarang. Lagian, dia sudah bukan anak muda lagi kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringtonenya berbunyi tiga kali sebelum diangkat. Dilihatnya dulu nama yang ada di situ. Elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Avis, di mana?” tanyanya begitu ponselnya diangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kang Nata. Aku udah di jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jalan mana, jalan Kembar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tergelak. ”Menurut pal kilometer, sepuluh kilometer lagi nyampe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK. Tunggu di tempat biasa kalau aku belum ada ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yups. Bye!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ponselnya ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibereskannya dulu pekerjaannya, dikuncinya Rumah Kaca, lalu keluar. Tidak usah berlari juga sudah cepat karena jalannya menurun. Sampai di Rumah Besar, dilihatnya, Kijang ada. Diambilnya kunci, dan ia berjalan ke kamar kerja kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kang, nambut. Avis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah berbicara, hanya mengangguk juga, sudah saling mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Kijang itu sudah menelusuri jalan tanah ke jalan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis belum ada saat ia sampai di sana. Ia memutar mobil sehingga arahnya kembali ke lokasi, dan ia baru selesai parkir, ketika ada sebuah bus berhenti. Avis turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu berlari kecil menuju Kijang. “Udah lama?” tanyanya agak terengah. Naik dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru muter,” katanya sambil menunjuk pada seatbelt. Avis mengancingkan seatbeltnya. Tak banyak bicara lagi, mereka melaju ke lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.884&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 41.118 (MS Word) 41.095 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 38.341&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-1526185498545485254?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/1526185498545485254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=1526185498545485254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/1526185498545485254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/1526185498545485254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhtiga.html' title='Hari Keduapuluhtiga'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-106347365115499652</id><published>2007-11-25T20:18:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T20:27:46.170-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluhdua</title><content type='html'>Hehe, sori, belum post di sini :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa sikap Nata membingungkan. Kadang baik penuh perhatian, tapi kadang seperti cuek, tak ada yang bisa menarik perhatiannya sama sekali. Tapi ... sudahlah. Yang penting sekarang, melihat elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ia melihat tiga ekor elang, dua elang dewasa dan satu elang muda melesat datang dan pergi, sepuasnya. Er, ... sebenarnya bukan sepuasnya sih. Ia terpaksa turun karena matahari sudah tinggi, sudah panas membakar. Sebenarnya juga bukan matahari sih, dia kan punya topi dengan pelindung tengkuk, tapi entah kenapa ia mau saja menuruti kata orang, orang lain yang kadang sama sekali tidak perhatian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang siang ia tidak melihat Nata. Ya, mungkin saja, dia di kumpulan rumah di bawah, sedang Nata mungkin sedang bekerja di Rumah Kaca. Ya sudah, Avis kemudian bercengkerama dengan Mami, dengan Aa, dengan teh Alia, dengan Ibu, dengan Ayah, yang ternyata tukang bergurau kelas wahid juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aa, nanti sore ada yang mau keluar nggak?” tanyanya ketika ia selesai mencuci piring habis mereka makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu mau pulang nanti sore?” tanya Ardi sambil mengupas pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau bisa sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memangnya mau buru-buru kenapa?” tanya Ardi dengan mulut penuh pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, abis kemarin aku kan bisa dibilang diculik dengan paksa ke sini. Jadi aku tinggalin semua urusan surat-surat di kampus sampai besok,” sahut Avis sedikit berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau sore sih nggak ada, kecuali kalau mau sengaja. Besok pagi aja, pak Nata mau ke Bandung juga tuh, ngurus sampel tanaman ke Dinas Pertanian Propinsi. Minta perginya pagi-pagi aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya .. oke deh.” Sebenarnya datang ke kampus siang-siang atau besoknya juga nggak apa-apa, ini sih agar memberi kesan penting aja. Ih, dasar Avis! ”Jadi, sore ini Ade masih bisa ngeliat elang!” katanya sambil menari-nari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eta budak, meni kawas kitu,” Mami mengurut dada sambil geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mami liat elang yuk! Elangnya beda dengan yang waktu dulu Mami kecil. Ini elangnya cakep, kaya’ Tom Cruise pake F16 lho, Mam, kaya Top Gun,” bujuk Avis sampai Ardi dan Ayah tertawa bareng-bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sore itu Avis sudah nangkring di puncak bukit lagi seperti dulu, melihat ketiga elang itu menunggu ratusan kelelawar keluar, menunggu makan malamnya. Setelah cukup puas, setelah cahaya malam tak mengijinkan melihat mereka lagi, Avis beranjak turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata Nata baru sampai di puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah telat, Nata. Mereka sudah kembali ke sarangnya ...” Avis berhenti bicara, karena Nata menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku bisa lihat itu setiap hari. Nggak lihat sehari juga nggak apa-apa,” katanya datar, ”Besok kau mau pulang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku berangkat jam enam, kalau kau mau ikut. Tidak terlalu pagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. “Tidak, cukup kok. Makasih ya! Datang ke sini dijemput, pulangnya diantar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mengangguk pelan. “Sudah mau pulang?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum pernah lihat purnama di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi yang bisa dilakukan Avis hanya menggeleng, atau mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Duduk di sini, kalau kau masih belum pegal,” Nata juga duduk di batu di bawah pohon. Avis mengikutinya duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja tangannya tersentuh punggung Nata saat ia duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada getar di sana. Ia merasa seperti ... kesetrum. Gemetar ia duduk di batu, di samping Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar purnamanya sangat indah. Bagai muncul dari puncak gunung. Tak puas-puasnya Avis mengaguminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah malam. Nanti kau kedinginan, masuk angin. Belum lagi nanti orang-orang mencarimu ,” Nata berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menarik Avis agar berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah berada di udara dingin sekian lama, tapi tangan Nata hangat saat menyentuh tangannya. Dan walau Avis sudah berdiri, tangan itu tidak dilepaskan. Mereka berdua menuruni bukit berdiam diri. Hening, hanya suara jangkrik di sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di depan rumah barulah pegangan tangan itu dilepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih ya, Nata,” Avis mencoba tersenyum, masih gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata tersenyum juga –senyum khasnya yang tak begitu kelihatan—. Ia seperti mau mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Yang dikatakan hanyalah, ”Besok jangan lupa, jam enam. Aku tunggu di Rumah Besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk dan ia masuk ke rumah. Membuka pintu, masuk, dan saat akan menutup pintu, dilihatnya Nata masih terpaku di sana. Setelah ia menutup pintu, barulah didengarnya langkah Nata menuju Rumah Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya seisi rumah sedang membicarakannya, saat ia masuk, karena mereka serentak diam, dan memusatkan pandangan pada piring-piring di depannya. Baru setelah beberapa detik, Mami berucap, ”Aeh, aeh, meni nepi ka poek. Heulangna oge geus kamana, boa!” sambil, maksudnya sih tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tersenyum, malu jadinya. ”Sori. Punten. Abis ngeliat elang, juga ngeliat bulan keluar dari puncak gunung. Bagus banget deh. Sayang nggak bawa kamera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sendirian? Oh, iya, lupa. Sama Pak Nata kan?” Aa pura-pura sibuk menyendok sesuatu di piringnya yang sudah hampir kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iiiih, Aa! Kerjaannya ngegodain melulu!” Avis mencubit Ardi sampai Ardi mengaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Duh, ini jadi biru nih! Teh Aliaaaa ... ini adik iparmu kok jahat banget sih?” Ardi pura-pura mengadu sambil mengusap-usap bekas cubitan Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh Alia muncul dari balik pintu sambil menggendong Upi yang masih saja menyusu dari tadi, ”Idih. Adik adiknya sendiri, kok malah dilaporin ke sini. Iya kan, Avis?” katanya mengedip pada Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalah deh dia. Posisinya 1 banding 2 sih, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sini, makan dulu Vis. Yang lain nggak mau nungguin, udah kelaperan sih,” lerai Ibu sambil menyodorkan piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menerima piringnya, ”Makasih, Ibu. Bentar, mau ke kamar mandi dulu,” katanya, diletakkan piringnya, dan ia ke kamar mandi dulu sejenak. Masih didengarnya suara halus Mami berbisik saat ia ada di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, beneran nih kaya’nya Mami bakal punya menantu di desa semuanya, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih belum begitu malam ketika ia bersiap tidur. Mami, Ibu, dan Ayah masih ramai mengobrol. Maklum, ternyata ketiganya klop sekali, seperti anak-anak mereka yang bisa-bisanya menikah. Ternyata para besan juga seperti sahabat lawas yang sudah lama tidak bertemu, segala hal diomongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis pamitan tidur duluan. Rasanya lelah sekali, lelah dari masa menyiapkan tesis saja belum terbayar, apalagi langsung dibawa ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia masih terbangun, mengingat-ingat mimpinya. Mengurut apa yang pernah ia mimpikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diurutkan, sejak mereka pindah ke Bandung, ia mengalami mimpi seperti itu, dia menjadi Puteri, di tengah-tengah kerajaan. Dan anehnya Puteri itu seumur dengannya. Atau ... ia memang menjadi Puteri itu? Karena umur Puteri itu selalu mengikuti umurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengingat-ingat. Apa saja yang pernah dimimpikan. Dan mimpinya jelas teringat saat ia terbangun, biasanya mimpi kembang tidur begitu ia bangun langsung dilupakannya. Jangan-jangan ... jangan-jangan, apakah ada pesan dalam mimpi itu? Apakah malam ini ia akan mengalami mimpi itu lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis berganti posisi, berbaring ditutup selimut. Begitu menutup mata, dia tiba-tiba ada di Pertambangan. Ia ingat, itu Pertambangan, dia sudah pernah ada di sana. Dia sedang berjalan bersama dengan Ki Seta menuju ke arah Kriya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ki Seta, sebenarnya ada cerita apa tentang Morion ini? Kubaca di buku sejarah, namanya dulu Lembuwungkuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta menghela napasnya panjang sebelum menjawab. ”Ya. Dulu negara ini bernama Lembuwungkuk. Dan dari dulu juga memang sudah agresif, berkembang terus. Namun tidak seagresif Morion sekarang. Kemudian peristiwa meninggalnya anak Raja itu menjadikan Lembuwungkuk tidak punya penerus. Dan diambil alih oleh Penasihat Spiritualnya.” Ki Seta menunduk sejenak sebelum ia mengangkat kepala dan berbicara lagi, “Dark Soul namanya. Nama yang jarang disebut, orang ketakutan, bahkan akan namanya pun takut menyebutnya. Entah siapa nama aslinya, tapi semenjak ia berkuasa, julukannya itu. Dia sendiri yang menyebut dirinya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menatap Ki Seta dan memintanya untuk melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Negara tetangganya, Mahesa, konon punya hubungan khusus dengan klan Lembu yang dulunya menguasai Lembuwungkuk. Yang kemudian menjadi Morion. Desas-desusnya, pengikut-pengikut Baginda Lembuwungkuk banyak yang bermigrasi ke negara Mahesa. Walau kemudian Mahesa juga jatuh ke tangan Morion. Walau dari dulu juga Lembuwungkuk sudah menjadi negara agresif, tapi tidak sekejam Morion. Kalau Lembuwungkuk menyerang sedikit demi sedikit, menata dulu yang sudah didapat, terutama budaya dan pendidikannya, baru menyerang lagi yang lain. Morion tidak. Penyerangan ke satu negara akan berhenti jika sudah ada mangsa yang baru. Lalu penyerangan selalu berupa pembumihangusan, penduduknya dijadikan budak, dijadikan tentara untuk penyerangan berikutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa tidak ada pemberontakan, Ki Seta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pemberontakan selalu ada, Yang Mulia. Tapi entah bagaimana selalu bisa dipadamkan. Menurut desas-desus, ia menggunakan sihir untuk membuat para tentaranya menurut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sihir untuk sekian banyak tentara?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk. ”Itu juga bisa membuktikan bahwa dia memang kuat. Mungkin bahkan ... penyihir terkuat di dunia ini, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah nampak seperti setengah melamun. Lalu keluar juga apa yang dia ingin tanyakan, ”Ki Seta .. apakah, ... apakah kalau memang dia kuat, itu berarti dia tidak takut apapun? Apakah kalau memang pola agresifitasnya lebih kasar daripada Lembuwungkuk, itu berarti ... dia tidak akan segan-segan menyerang Sumekar, Ki Seta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta memejamkan matanya. Pertanyaan yang ia takuti, pertanyaan yang ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. ”Hamba ... tidak berani meramal, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah memandang dengan tatapan memohon, ”Bukan meramal, Ki Seta.” Ia berhenti di gedung Kriya terdekat, menuju ke terasnya, mengeluarkan sebuah gulungan, gulungan peta, dan membeberkannya di lantai lalu duduk di dekatnya. Ki Seta pun duduk di seberangnya. ”Coba analisis, Ki Seta. Secara logis saja, tidak usah pakai unsur-unsur lain. Negara mana yang paling mungkin akan menyerang kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta menunjuk gmbar di peta, ”Secara lokasi, Bumbari. Tapi kemungkinannya kecil, karena secara politis, dia tidak punya kepentingan apa-apa di Sumekar. Jika dari segi kepentingan, maka Morion-lah yang paling mungkin menyerang karena kita punya pertambangan yang kaya, juga hasil pertanian yang banyak, dengan tentara yang bisa dibilang tak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan Dyah pada Ki Seta seolah kini berkata ’nah, apa sudah kubilang!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlahan Ki Seta meneruskan, ”Tapi kita juga harus yakin akan kekuatan Traktat, akan kekuatan magis Layang Kamasan, karena Dark Soul tidak akan begitu saja menyerang kita tanpa memperhitungkan Layang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Dyah menunduk. ”Kalau melihat pola agresifitas Morion ...” ia nampaknya tidak berani menyebut namanya, tapi kemudian dicobanya juga, ”pola agresifitas D-Dark Soul, kukira ia akan mencobanya, Ki Seta. Itu yang aku takutkan,” suaranya melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang Mulia, kita harus percaya akan kekuatan Layang Kamasan. Dulu delapan negara besar membuat Layang itu dengan sihir masing-masing yang terkuat, dan kalau sihir-sihir yang terkuat digabung, maka hasilnya akan sangat kuat. Delapan tongkat masing-masing memang kuat,tapi kalau digabungkan akan menghasilkan kekuatan yang maha besar, yang bahkan tidak akan bisa dikalahkan oleh satu kekuatan saja. Lagi pula, Layang ini sudah berusia beratus tahun, sihir yang sudah digabungkan beratus tahun akan terus bertumbuh, menjadi semakin kuat setiaptahunnya.” Nada suaranya sangat meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menarik napas panjang. ”Aku tak tahu, Ki Seta. Teorinya memang begitu. Seandainya memang begitu. Seandainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah berdiri lagi, menggulung petanya, dan berjalan ke gedung utama Kriya. Ki Seta mengikutinya, tak berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah tak melihat pandangan mata menerawang Ki Seta. Dyah tidak mendengar apa kata hati Ki Seta. Ki Seta sebenarnya sangat takut itu akan terjadi. Jika Dark Soul memang benar-benar akan menyerang Sumekar, berarti dia sudah sangat kuat sehingga berani menentang delapan kekuatan yang ada dalam Layang. Kalau dia memang benar sudah sangat kuat, bagaimanakah melawannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta memandang ke atas, ke langit biru cerah tak berawan, matahari bersinar sangat terik. Dipandangnya sepuas-puasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jika Dark Soul bisa sampai menancapkan kukunya di sini, maka yang ada hanyalah kesuraman. Kegelapan. Bayang-bayang menjelangkah? Ki Seta menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengikuti langkah Ratu-nya menuju gedung utama Kriya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kriya Dyah seperti hanya menjalankan kewajibannya sebagai Ratu. Biasanya dia menunjukkan antusias yang tinggi saat melihat hasil-hasil kerajinan di sana, bahkan sampai harus diingatkan akan waktu, bahwa dia masih punya kewajiban di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang seperti hanya menjalankan kewajiban saja, melihat hasil-hasil yang biasa, melihat hasil yang istimewa juga sambil memberikan komentar sekedar agar pembuatnya tidak kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Gedung Utama Kriya sebentar saja, kemudian Dyah mengusulkan agar ke pelatihan Bala. Ki Seta tahu apa yang sedang dipikirkan ratunya, mengikutinya tanpa banyak cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak biasanya Dyah berkunjung ke Pelatihan di luar jadwal. Biasanya yang menjadi fokus utamanya Kriya dan Perkebunan berikut ruangan percobaan ramuan-ramuan. Itu yang menjadi perhatian utamanya. Sejak dia masih berstatus puteri, itulah yang menjadi kesukaannya. Hal lain tidak diperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejak ia menjadi Ratu, baru sadar ia. Bahwa ada banyak yang harus ia perhatikan, bukan hanya hal-hal yang menyenangkan dirinya saja, tetapi juga hal-hal yang tidak dia sukai, hal-hal yang menakutkan, hal-hal yang biasanya tidak dia pikirkan. Hal-hal yang –saat ayah masih ada—ia pikir memang sudah semestinya seperti begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah ternyata memikirkan segalanya saat ia masih berkuasa. Ayah nampak sebagai orang yang bahagia, tapi ternyata segala hal ia urus dan atur agar rakyatnya bahagia. Dan itu hanya di negara kecil begini, bagaimana dengan raja di negara-negara besar ya? Memang pasti ada bawahan-bawahannya, tapi kan raja juga tidak bisa lepas tangan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah bersama dengan Ki Seta mendatangi Pelatihan. Setiap anak yang sudah menginjak usia enam belas tahun, laki-laki maupun perempuan, wajib mengikuti Pelatihan. Dimulai dengan pelajaran teori selama seminggu, lalu pelatihan berbagai alat dan berbagai medan selama seminggu juga, lalu pelatihnya akan melihat alat apa yang disukainya atau paling dikuasainya, dan semingu yang terakhir akan diisi dengan latihan dengan alat itu. Setelah itu, alat itu boleh dibawa pulang. Ada yang membawa pulang pedang, ada panah, tombak, tapi ada juga yang dilihat oleh pelatihnya sebagai cerdas dalam strategi, maka dia bisa saja tidak membawa pulang senjata tetapi berjilid-jilid buku strategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang namanya negara damai, bisa dibilang sudah berabad-abad tidak pernah perang, maka senjata-senjata perang itu dibawa pulang oleh anak-anak yang lulus Pelatihan, disimpan di langit-langit rumah, dan dilupakan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Dyah memperhatikan jalannya Pelatihan dengan seksama. Memang latihannya bagus, bermutu, tapi sekali lagi ini negara damai, sehingga segala materi seperti mengawang begitu saja. Bagaimana menjelaskan mengenai menghindari ranjau jika tak terbayangkan ranjau itu untuk apa kegunaannya? Jangankan peserta latih, pelatihnya saja hanya mengenal benda-benda perang itu dalam gambar. Selain itu, pedang, panah, tombak, dan lain-lain, tak terbayangkan untuk apa kegunaannya. Karena apa yang diajarkan adalah, melukai musuh, bahkan membunuh musuh, mengetahui strategi musuh lalu menghalangi jalannya, itu semua untuk apa? Sumekar tidak pernah punya musuh. Makanya, paling-paling tombak yang dibawa pulang bisa berguna untuk menakuti-nakuti pencuri, itu juga kalau ada, atau bisa juga untuk menakut-nakuti rubah yang masuk ke halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang etos perang, pikir Dyah, karena mereka memang bukan negara militer. Negara mereka memang negara penyembuh, lebih banyak tabib di seluruh negara. Negara mereka memang negara perajin, lebih banyak pekerja tambang dan pekerja kriya di seluruh negara, dibandingkan dengan mereka yang memilih karir sebagai penjaga keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah menghela napas. ”Pelatihan ini selesai saat makan siang, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benar, Yang Mulia,” sahut seorang pelatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jam dua, seluruh pelatih utama menghadap di istana,” katanya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Daulat, Tuanku!” semua menyembah, sambil diam-diam saling melirik dengan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan ada apa-apa,” sahutnya mengubah nada, mereka mungkin saja heran karena ketegasannya. Tuan Puteri biasanya dikenal lemah lembut, tidak tegas keras seperti ini. ”Hanya pertemuan pertama setelah aku naik tahta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah mereka tidak sepucat tadi. Dyah tersenyum, ”Kembalilah berlatih.” Dan ia juga berbalik kembali ke istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengikuti tanpa suara. Dyah juga diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Setibanya di istana ia langsung ke laboratorium, tempat para tabib sedang membuat ramuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyaksikan mereka bekerja, lalu memeriksa persediaan ramuan yang ada di lemari-lemari. Ia lalu mendekati Tabib Kepala yang sedang mengaduk suatu ramuan, bau yang sedap menguar dari kuali gerabah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tabib Kepala, sedang membuat apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang Mulia, ini untuk mengurangi demam. Biasanya anak-anak suka mengeluh kalau mereka diberi kompres yang berbau, menggunakan ini mudah-mudahan mereka menjadi tidak rewel lagi kalau sedang sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengurangi kerewelan anak-anak yang sedang sakit sama saja dengan menyembuhkan setengah penyakitnya,” Dyah berseri-seri, “Tabib Kepala, aku juga akan menghargai jika anda semua yang di sini lebih berkonsentrasi pada ramuan penyembuh daripada ramuan kosmetika. Ramuan kosmetika memang bagus, tapi untuk saat ini aku akan lebih menghargai ramuan penyembuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Daulat, Tuanku,” sahut mereka serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tabib Kepala, aku juga mengundangmu untuk pertemuan jam dua nanti, bersama dengan para Pelatih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabib Kepala mengangguk, memberi sembah tanda mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari laboratorium. Nini Saroja sudah nampak dari kejauhan. Ki Seta tersenyum. ”Yang Mulia, nampaknya kalau Nini Saroja sudah mendekat, Yang Mulia juga tidak bisa mengelak lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mau tak mau tersenyum juga. “Nampaknya yang paling berkuasa justru adalah Nini Saroja ya, semua tunduk di bawah perintahnya. Kalau tidak menuruti jadwalnya, maka kau akan terancam masuk angin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta terkekeh. Nini Saroja mendekat, ”Yang Mulia, makan siang sudah siap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terima kasih, Nini Saroja,” Dyah menahan tawanya, dan mengedip pada Ki Seta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sambil berjalan ke ruang makan, Dyah merasa semua yang ada di depannya bergoyang, terlihat kabur, dan lenyap. Gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terdengar hanyalah jangkrik yang berderik. Sunyi. Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 2.654&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 39.237 (MS Word) 39.212 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 36.667&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-106347365115499652?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/106347365115499652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=106347365115499652' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/106347365115499652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/106347365115499652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhdua.html' title='Hari Keduapuluhdua'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-5873926865901671509</id><published>2007-11-21T00:17:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T00:21:05.365-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluhsatu</title><content type='html'>Ujian semester sudah lewat. Selama itu Avis berhasil menutup kabar tentang Yudha rapat-rapat. Selesai ujian baru Alen mengetahuinya, saat ia berencana mengajak doule date, nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku enggak jalan sama Yudha lagi, Len,” sahut Avis saat Alen mencari-cari Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu putus?” tanya Alen penuh selidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan putus Len, kami memang belum pernah jadian,” sahut Alen pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Avis, memangnya ada apa? Kalian kelihatannya matching banget,” Alen menyayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis cuma mengangkat bahu sambil menggeleng. “Nggak ada apa-apa kok, Len. Kami memang nggak cocok aja untuk jadian, sahut Avis ringan, atau tepatnya berusaha terliat ringan. ”Aku ke perpus dulu ya?” tanpa menunggu jawaban Avis berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apakah mereka memang sibuk, atau Yudha memang menghindar, selama saat ujian dan sesudahnya, Avis sama sekali tidak bertemu dengan Yudha. Mami dan Bik Niah sekali-dua kali bertanya, tapi karena Avis menjawab pendek dan dingin, mereka pun mafhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa datang sendiri –teh Alia sudah positif, dan belum aman dibawa jauh-jauh ke Bandung—dan seperti hendak bertanya tentang Yudha, tapi sebeum sempat bertanya, terlihat olehnya raut wajah Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, kau sudah memutuskan?” tanyanya langsung. Avis mengangguk. Aa tidak bicara lagi tentang itu, dan mengajaknya sekali lagi ke Hambalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. ”Lagi persiapan tesis,” katanya pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya udah. Tapi jangan memaksa diri. Kalau perlu menghilangkan stress, ke sana aja ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. Dan tidak ada pembicaraan lagi tentang Yudha. Pembicaraan beralih pada kehamilan teh Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aa-mu itu beruntung sekali,” sahut Mami, ”hidup di tengah alam yang masih asri, jauh dari polusi, kadar timbal yang tinggi, dan apapun itu sejenisnya,” ujar Mami bersemangat. ”Pertama kali ke dokter dulu. Di Bogor saja, nggak usah jauh-jauh ke Bandung. Nanti Mami tanyain nama dokter spesialis kandungan langganan tante Lidya,” Mami sudah hendak akan memutar nomer telepon oom Narto, ”trus nanti kalau dokter udah bilang normal, cari bidan deket lokasi, blablabla...” dan Mami pun meluncurkan segunung nasihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya udah. Mami ke lokasi aja, yuk! Sekarang Aa mau ke Ayah,” katanya, Ayah adalah panggilan untuk ayahnya teh Alia, ”katanya Ibu juga mau ke lokasi. Barengan aja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Euh ... gimana?” Mami bingung bercampur senang, ”Avis baturan Mami atuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yee, Mami. Sok issssin-isssssin,” Avis meledek Mami, “Sana pergi sama Ayah sama Ibu nengok teh Alia. Avis kan lagi ngebut bikin tesis, biar bisa seminar bulan depan. Mudah-mudahan pas bayi lahir nanti, Avis udah lulus, ya kan Aa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi akhirnya Mami berangkat dengan Ayah dan Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu beneran mau tinggal?” tanya Aa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya bener. Mami aja yang pergi. Salam buat teteh, cipika-cipiki! Salam buat pak Praja dan pak Hadi!” sahut Avis mendorong Mami naik ke mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang satu lagi nggak disalamin?” wajah Aa terlihat sangat jahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” Avis nggak ngeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Nata? O iya, Ade manggilnya Nata ya, nggak pakai ‘pak’,” dan Aa melarikan diri dari kejaran cubitan yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak Nata teh saha, A?” Ibu yang duduk di sebelah Mami bertanya heran. Karena teh Alia juga sama-sama anak cikal, maka Ayah dan Ibu memanggil Ardi dengan Aa, sama dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu, Bu, adiknya pak Praja, bos Aa,” sahut Ardi yang sudah berhasil menghindar dari ancaman kematian, dan duduk di belakang kemudi dengan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih muda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih muda, Bu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cakep?” Mami ikut-ikutan bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, kalau cakep sih relatif, tapi dia orangnya diem. Sama orang lain biasanya jarang ngomong, itu yang udah kenal, apalagi sama orang baru, biasanya nggak pernah ngomong, Tapi sama Avis, ngobrol terus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalau begitu anak Mami semua nanti tinggal di Hambalang, cuma Mami yang tinggal di kota, kumaha ieu teh?” Mami berlagak khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, nggak apa-apa toh, Bu Arman. Jadi orang lain mudik ke desa kalau Lebaran, anak kita mudiknya ke kota,” kekeh Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Uuuh, si Aa nih ngerjain melulu,” Avis sudah mangkel, tapi di depan mertua-nya Aa terpaksa agak jaim deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mobil pun melaju. Dan Avis pun kembali mengerjakan persiapan seminarnya. Dan hari-hari pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu dia maju sidang tesisnya, dan ia agak gelisah. Bukan kenapa-kenapa, kemarin Ayah dan Ibu-nya teh Alia sudah berangkat ke Hambalang bersama Mami lagi untuk menengok teh Alia. Nginep. Karena Aa sudah menelepon, nampaknya teh Alia akan melahirkan setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tadi subuh ada yang menelepon. Nomer ponsel, buka nomer telepon fixed. Dan subuh-subuh biasanya berita penting. Maka males-males juga diangkatnya ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamualaikum…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waalaikum salam. Avis? Saya Nata ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis langsung terduduk. Nata? Ada apa dengan Aa? Dengan Mami? Dengan teh Alia dan kedua orangtuanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, bikin kaget saja. Ada ap..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu Alia sudah melahirkan, barusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Alhamdulillah. Laki-laki perempuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Laki-laki. Sehat. Tiga koma satu kilo, empat puluh sembilan senti,” laporan lengkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wow,” cuma itu yang bisa diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, kau mau ke sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis terdiam. Hari ini sebenarnya dia maju sidang tesis, dan Mami sebenarnya nggak mau ninggalin dia sendirian, tapi karena dia menjamin semuanya akan baik-baik saja, lagian momen sidang dia udah pernah waktu S1 dulu sedang momen teh Alia baru kali ini, maka Mami dengan was-was berangkat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Er, nggak tau juga, Nata. Hari ini aku mau maju sidang ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, aku juga tau. Pak Ardi yang bilang. Sesudah sidang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun. Hari ini juga? Avis bingung. Sidang biasanya selesai jam dua, beres-beres paling sampai jam tiga, pulang ke rumah dulu, paling cepat di baru bisa pergi jam empat sore. Jam empat sore, jam berapa dia sampai di Hambalang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesudah sidang?” ulangnya ragu, ”emm ... sekitar .. jam empat aku baru pergi, dan nyampenya mungkin udah magrib...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku jemput kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jemput?” Avis serasa kehilangan kata-kata. Sudah mah tadi malam tidurnya larut, bangun kaget subuh-subuh pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya. Jemput. Tadi bu Arman nitip beberapa hal yang harus dibawa dari rumah, bu Mukhtar juga ada beberapa barang yang harus diambil dari rumahnya, jadi sekalian saja aku jemput kamu. Ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di lokasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Er ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis benar-benar kehabisan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK. Aku anggap itu sebagai persetujuan. Aku berangkat dari sini jam sembilan, ke rumah bu Mukhtar dulu, terus ke kampus kamu, terus ke rumah kamu dulu, baru balik ke lokasi. Kamu ujian di gedung mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gedung D lantai tiga,” tanpa sadar Avis memberikan nama tempatnya, dan itu berarti dia menyetujui rencana Nata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK. Selamat sidang, ya, semoga sukses!” dan ponselnya ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis terdiam beberapa lama sebelum akhirnya tersadar, bergegas membereskan beberapa potong pakaian ke dalam ransel, dan menyimpannya di ruang tengah, lalu berjalan ke dapur menemui Bik Niah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bik, teh Alia sudah melahirkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduh eneng! Alhamdulillah. Bagja temen! Istri pameget? Eneng bade ka ditu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalaki, tilu kilo. Abdi ka kampus heula, engke bade dijemput ku rerencangan Aa. Bibi tunggu bumi nya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mangga. Da bibi mah biasana ge tunggu bumi. Sing atos-atos we,” sahut Bik Niah. Perempuan tua itu mengusap kedua mata dengan ujung kebayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis bergegas mandi, hampir tidak sarapan kalau tidak dipaksa oleh Bik Niah. Dan untung saja ia sarapan. Di kampus ia bisa saja pingsan kalau tidak sarapan, begitu tegang perasaannya. Dulu waktu sidang S1 enggak begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia baru sadar, waktu S1 dulu, tidak ada peristiwa apa pun yang menyertai. Kalau sekarang, selain dari teh Alia sudah melahirkan, habis sidang ia akan dijemput Nata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang sudah dihapal, kata-kata untuk presentasi, data untuk pembuktian pada para dosen pembimbing, seakan lenyap begitu saja. Ia seperti tidak merasa apa-apa saat ia dipanggil, masuk ruangan, memaparkan penelitian, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan menunggu hasil di ruangan dekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu hasil dua rekan lain, ia melayangkan pandangan ke jendela luar. Rekan-rekannya yang masih belum akan selesai musim wisuda sekarang, melambai-lambaikan tangannya di luar. Ia melambai-lambai juga membalas. Alen juga ada, aduh tuh anak, kapan mau lulus? Mentang-mentang sudah punya calon suami –keluarga Tio sudah melamarnya bulan lalu—Tio sudah lulus dan bekerja, dia kok malah jadi malas menyelesaikan kuliahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas jurusan masuk. Sepertinya hasil kedua rekan yang tadi sudah selesai dihitung, dan sebentar lagi pasti acara judisium. Benar saja. Ibu Reni yang sedari tadi nampak paling sibuk, memberi isyarat padanya dan rekan-rekannya agar berdiri mendengarkan hasil judisium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sembari berdiri membereskan roknya, dilihatnya dengan ujung mata di jendela, ada sosok yang ia kenal. Dua malah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tidak saling mengenal memang, tapi mengapa bisa datang bersamaan begitu? Yudha memakai kemeja putih tangan panjang dengan celana panjang hitam, sepertinya baru sidang juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ... mesti bersamaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan di sampingnya menyentuhnya perlahan, dan ia tersadar, mendengar samar-samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” ... dengan judisium Sangat Memuaskan.” Tepuk tangan. ”Dina Adiati, nomor pokok ...” dan dia menoleh-noleh mencuri-curi ke arah kedua laki-laki tadi. Mereka berdiri hampir berdampingan, tanpa saling mengetahui siapa yang ada di sisinya. Tepuk tangan lagi, dan selesai. Oke, jadi Sangat Memuaskan. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia disalami oleh Dekan, oleh beberapa orang dosen yang ada, beberapa karyawan administratif, dan sesama peserta sidang. Lalu keluar dan berjalan pada mereka berdua. Pasang senyum, pastilah harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Halo Yudha, halo Nata!” serunya riang yang seperti tidak dibuat-buat pada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selamat Avis,” Nata mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Yudha agak melongo melihat orang di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia mengulurkan tangan juga memberi selamat, “Selamat Avis,” ujarnya, “dapat Sangat Memuaskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk, ”Kamu juga sidang hari ini? Sudah judisium?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha mengangguk. ”Sama,” katanya tanpa ditanya hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oya, lupa, Yudha, ini rekan kerja Aa Ardi di Bogor, mau menjemputku, teh Alia melahirkan tadi subuh. Nata, ini Yudha, temanku, beda fakultas tapi ternyata sidangnya bareng ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua saling berpandangan sesaat sebelum mengulurkan kedua tangannya dan berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada yang harus dibereskan dulu?” tanya Nata, tapi memberikan isyarat bahwa mereka akan pergi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak. Paling hanya beres-beres barang di ruang ujian. Urus surat-surat nanti hari Senin, jam sekarang SBU udah tutup. Yudha bagaimana?” tanyanya sambil berjalan ke Ruang Ujian diikuti oleh keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sama, SBU baru buka lagi Senin, mending Senin saja beresin surat. Kamu sekarang langsung ke Bogor?” tanyanya agak kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. ”Kamu enggak pulang ke Jakarta dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha menggeleng. ”Selesai urusan surat, baru pulang ke Jakarta. Keluar langsung dari tempat kost. Paling ke Bandung lagi nanti kalau wisuda, itu juga kalau nggak tabrakan dengan kerjaan,” tawanya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyayat hati Avis, tapi ia harus cepat-cepat menepisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang-barangnya sudah beres, ia bersalaman dan berpelukan dengan rekan-rekannya, ada yang sudah lulus, ada yang belum, ada yang sepertinya entah kapan waktunya membikin tesis karena kerjaannya hanya luntang-lantung saja :P Cipika-cipiki dan dadah-dadah, selesai sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka keluar ke lapangan parkir, dan Yudha mengulurkan tangannya, ”OK, selamat sekali lagi, dan titip salam buat Aa, selamat atas kelahiran anaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. ”Makasih. Selamat juga buat kamu. Kita masih ketemu kan, Senin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mudah-mudahan sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis naik ke mobil. ”Bye!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata juga memberi isyarat dengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah agak jauh ketika Nata bertanya, “Cowoknya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. “Enggak. Temen biasa kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, cowoknya mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis hanya tersenyum sambil menggeleng, malas menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponselnya berbunyi. SMS. Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Cowok yang ini bukan?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng. Yudha kok kepikiran begitu sih. Ia mengetikkan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak ada cowok yang mana-mana, Yud. Aku cuma belum mau saja. Dia cuma disuruh jemput sama Aa kok’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan soal ponsel membuatnya terpikir sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nata, tadi pagi itu dari lokasi ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memangnya sudah ada sinyal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kan sekarang sudah ada di semua kecamatan di seluruh propinsi,” katanya mengulang iklan suatu provider kartu GSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tertawa. ”Jadi itu nomermu, ya,” katanya dan mencari-cari nomer tadi pagi yang belum sempat di-save. ”Dapet nomerku dari mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia langsung sadar akan kebodohannya saat Nata menjawab, tentu saja, ”Dari Pak Ardi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis langsung mesem. Dan men-save nomer itu dengan nama ’Nata’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka langsung ke rumah, Avis berganti baju, mengambilkan barang-barang yang dipesankan Mami, dan ia melongok sejenak ke dapur, “Bik, masak apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu sudah bibi sediakan di meja. Makan dulu, sama pak itu juga sekalian,” kata Bik Niah sambil membawa kobokan melengkapi meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis kembali ke ruang tengah, ”Nata, makan dulu yuk. Sudah disediakan sama bibi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara Nata berjalan mengikuti ke ruang makan, tersenyum sedikit pada Bik Niah, dan makan dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Bogor juga sebagian besar dijalani dalam diam. Avis jadi kagok, dia harus bicara apa. Tidak begitu lama, tidak macet walau hari ini hari Sabtu, mobil sudah berbelok ke jalan yang ia sangat kenal walau ia baru sekali ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Teh Alia melahirkannya di mana?” Avis bertanya, tak terbayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di rumah. Bidan desa dipanggil, tak lama terus lahir. Normal, tak ada faktor penyulit,” kata Nata sambil membelok ke kumpulan rumah, langsung ke rumah kecil rumah Ardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya orang-orang ada di dalam rumah semua saat dia datang, karena saat mobil berhenti, keadaannya sunyi. Waktu ia masuk, baru terdengar hiruk pikuk Ayah berbincang dengan Aa, dan Mami bergosip dengan Ibu dan teh Alia, bahwa yang baru punya bayi itu harus begini, harus begitu, bayinya harus begitu harus begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eeeh, ini yang baru sidang! Gimana hasilnya?” Mami baru sadar kalau ada orang lain di ruangan. Semua menoleh padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah selesai,” katanya dan menuju pada Ayah untuk mencium tangannya, ke Ibu juga, ke Mami juga, dan ditarik Aa untuk berbuat hal yang sama padanya tapi mereka kemudian jadi saling tarik-tarikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dapet Sangat Memuaskan,” sahut Nata, sambil membawakan barang pesanan Ibu maupun pesanan Mami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aah! Selamat!” semuanya berseru, terutama teh Alia, dari tempat tidur sambil menyusui bayinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Makasih, makasih, tapi yag paling penting ya ini,” katanya dan memeluk teh Alia, cipiki-cipika, dan mencubit halus pipi bayi. ”Namanya siapa, Teh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang sudah terpilih sih Lutfi. Mungkin nanti pakai Muhammad atau Ahmad, terserah pada bapak dan kakeknya yang sedang memusyawarahkannya dengan segala argumentasi,” sahut teh Alia sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lutfi. Duh, teteh, kalau di Sunda sih ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”...pasti jadi Lutpi,” sambung tetehnya dan mereka berdua berderai tertawa. ”makanya, mungkin dipanggilnya nanti Upi. Biar sekalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua tertawa lagi. Upi. Upi. Upi... hihi, Avis seperti menyenandungkan nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oya,” Avis seperti baru ingat, ”Tadi ada Yudha, dia juga sidang hari ini. Dia titip salam buat Aa dan Teteh, selamat katanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, dia udah sidang juga?” Mami sepertinya rada handeueul tidak jadi mendapat Yudha sebagai menantu, kalau dilihat dari raut wajahnya sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Udah. Tadi,” Avis melirik sekilas pada Aa, dan pandangannya tajam ke arahnya. Cepat ia memalingkan wajah. ”Mami tidurnya di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oya,” Aa bergerak mengatur, “Avis tidur sama Mami di kamar darurat ini,” katanya menunjukkan ruang di sebelah lemari tinggi yang sekarang ditutup oleh kain tirai. Disibaknya hingga terlihat ada sebuah ranjang. ”Darurat, habis rumah sagede pelok kieu diserbu oleh pasukan dari Bandung,”  tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis ikut tertawa sambil menjinjing ranselnya ke ‘kamarnya’. Masih di ‘kamar’ terdengar Nata pamit pada Ayah, Ibu, dan Mami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah sore, saya pamit dulu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis bergegas keluar. “Makasih ya, Nata, sudah dijemput.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata sepertinya berusaha agar tampak tersenyum, tapi Avis maklum, dan tersenyum juga padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi itu sepertinya kecil, tapi sesore sampai sepertiga malam, rumah Ardi penuh oleh pengunjung, sudah barang tentu pak Praja, pak Hadi, staf-staf peneliti, staf administrasi pekerja yang baru pulang, beberapa pemetik teh yang sepertinya dikenal baik oleh teh Alia, bahkan bik Juju entah berapa kali bolak-balik dari Rumah Besar membawakan singkong rebus, kacang rebus, hui boled, dan entah apa lagi untuk susuguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tiba, semua juga lelah, apalagi para orang tua yang menunggu dari tadi malam menjelang subuh. Avis sedang berganti dengan piama, sementara Mami sudah terbaring di kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vis, Nata itu juga boleh kok,” Mami tiba-tiba nyeletuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idih, si Mami teh. Udah Aa, sekarang Mami, semua meni sibuk menjodoh-jodohkan Avis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, abis Avis umurnya udah cukup, gelar sampai udah S2, pekerjaan mah nggak usah dicari, di sini juga nanti ada geura.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, Mami mah. Udah, ah, Avis ngantuk!” dan ditenggelamkan dirinya di bantal. Sejenak masih didengarnya napas Mami di sebelahnya, tapi sedetik kemudian ia merasa seperti tidur sendirian. Tak ada siapapun di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang sendirian di ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sebagai Avis. Tapi Dyah. Dan waktunya sudah pagi, waktu bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bangun malas-malasan, tetapi kemudian ia seperti teringat sesuatu, dan cepat-cepat ia ke kamar mandi. Air mandi sudah disiapkan nampaknya, hangat dan wangi. Ia mandi cepat-cepat, sebagai ratu ia bisa saja berlama-lama menikmati, tapi kalau ia ingat kewajiban ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke kamar, seorang dayang sudah menanti. ”Yang Mulia, mau sarapan di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di Taman Dalam saja, kalau bisa sekalian panggilkan Ki Seta,” sahutnya. Ia seperti merasa harus cepat-cepat mempelajari semua ilmu yang harus dikuasai seorang Ratu, semakin banyak ia belajar, semakin banyak pula rasanya yang harus ia kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja negaranya kecil dan ia tidak harus selalu memakai atribut yang aneh-aneh. Ada negara yang ia pernah lihat, Raja dan Ratunya harus selalu berpakaian kenegaraan lengkap kalau keluar dari kamar, lengkap dengan busana yang superberat dan pasti superpanas, dengan dandanan rambut Ratunya yang mengerikan, plus mahkota yang guede… Untung saja ia bukan Ratu di sana, karena di sini ia cukup pakai baju biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selesai berpakaian dan pergi ke Taman Dalam. Ki Seta nampak sudah ada di sana. Seorang dayang menghidangkan semangkuk bubur di hadapan masing-masing mereka, menuangkan air, lalu ia mohon diri. Tinggal mereka berdua. Dyah mempersilakan Ki Seta makan dan ia pun mulai menyuap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mereka berdua terdiam menghabiskan hidangan. Setelah meneguk air, Dyah langsung bertanya, “Hari ini, Ki Seta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hari ini mungkin kita bicara tentang negara-negara? Morion misalnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah mengangguk. Ki Seta mengeluarkan peta di sampingnya, dibukanya gulungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Morion adanya di bagian Barat,” ia menunjukkan sebuah wilayah yang nampaknya luas sekali. ”Dulu asalnya hanya di bagian ini,” Ki Seta menunjuk sudut kecil di utara, ”sekarang menjadi seluas begini. Ada memang negara-negara satelit yang menyerahkan diri ke dalam perlindungannya,” Ki Seta menunjuk beberapa wilayah, ”tapi sebagian besar jatuh ke dalam kekuasaannya melalui peperangan. Aneksasi,” Ki Seta bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Andai tidak ada traktat itu, kita juga harus waspada padanya, karena negara ini sangat agresif. Negara terakhir yang sedang diperanginya adalah Khudzul, negara tetangga kita, dan kukira sebentar lagi juga sudah akan jatuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Ki Seta wajahnya keras, dan menuntut agar Dyah serius mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang Mulia, dan ini terjadi walau Morion tidak punya pemimpin. Morion sudah lama tidak dipimpin oleh seorang raja. Morion hanya diperintah oleh seregu Dewan, yang dipimpin oleh seorang Resi yang dulunya adalah Penasihat Spiritual Raja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa, apakah Raja tidak meninggalkan keturunan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dulu Ratu pernah melahirkan seorang anak, lalu meninggal sesaat setelah dilahirkan. Walau ada desas-desus bahwa anak itu dikutuk oleh Penasihat Spiritualnya, menjadi monster dan dibuang entah ke mana, tapi berita resminya sih, Raja tidak punya keturunan lain. Ratu meninggal setelah melahirkan, Raja tidak menikah lagi, dan beberapa tahun yang lalu ia meninggal. Ia tidak punya saudara, sehingga kekuasaan akhirnya jatuh pada seregu Dewan Penasihat Negara, yang praktisnya sih dikuasai oleh Penasihat Spiritualnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penasihat Spiritual, seperti Ki Seta terhadap saya, Ki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nampaknya negara ini mengerikan ya, Ki Seta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, sepintas memang mengerikan. Sepertinya negara ini hanya mementingkan penguasaan wilayah sebesar-besarnya. Dan akhirnya membuat rakyat menderita, mereka dipaksa membayar pajak yang besar untuk membuat militer yang kuat, lalu militer yang kuat digunakan untuk penaklukan, rakyat di daerah penaklukan harus membayar pajak yang besar lagi, untuk membiayai militer yang kuat lagi, dan seterusnya seperti lingkaran yang tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak seperti negara kita di mana malah rakyat digratiskan segalanya, pendidikan, kesehatan ...” Dyah nampak melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk. ”Bersyukurlah, Yang Mulia, bahwa negara kita ini dikaruniai melimpah oleh-Nya, dan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang bekerja untuk rakyat, bukan rakyat yang dipaksa bekerja untuk pemimpin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah terdiam. ”Sebenarnya, adakah wilayah yang akan mengadakan pemberontakan pada Morion?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, banyak. Negara Mahesa, tadinya memberontak. Belum lagi negara-negara kecil lainnya, tapi entah selalu ada kekuatan yang bisa menahan mereka. Bukan hanya pasukan fisik, tapi kukira kekuatan sihir juga berperan di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ki Seta,” Dyah berkata pelan tapi nada suaranya seperti penuh ketakutan, ”kalau terjadi sesuatu di negara kita, apakah Ki Seta bisa menahannya dengan kekuatan sihir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hamba akan berusaha menahannya, Yang Mulia, dan sudah barang tentu mereka yang termasuk ke dalam Penyihir Negara akan membantu.” Ia melihat raut wajah Ratu-nya dan bertanya, ”Maafkan hamba, Yang Mulia, tapi apakah ada ketakutan akan diserang oleh Morion? Bukankah diadem itu terasa ringan pada Yang Mulia saat pelantikan kemarin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Diadem yang terasa ringan itu bukan berarti tidak ada masalah, Ki Seta, kau sendiri yang mengatakan, tetapi bahwa aku akan berhasil mengatasi masalah, itu kan artinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk dalam-dalam, sambil mengembuskan napas panjang. Ia sendiri takut mengatakan pada Ratunya, tetapi ia memang melihat ada noda-noda hitam akan menghiasi sejarah negara ini. Ia selalu berdoa pada Hyang Esa agar noda-noda itu tidak terjadi sekarang, tapi siapa yang tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudahlah, Ki Seta. Sekarang jadwal kita ke Kriya, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta mengangguk. Dyah berdiri. Tapi sekelilingnya bergoyang, dan ia perlahan terbangun. Terbangun sebagai Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alarm ponselnya berbunyi. Setengah lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mami juga sudah bangun, sudah keluar dari kamar mandi nampaknya, karena sedang memegang mukenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia cepat-cepat ke kamar mandi, shalat, dan membuka ranselnya. Berganti pakaian dan mengeluarkan teropongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana, Avis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau lihat elang,” sahut Avis pelan, sepertinya kamar yang lain masih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya ampun. Kamu ini nggak melewatkan kesempatan,”Mami menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maunya sih kemarin juga melihat elang, tapi sampai sini udah gelap, nggak akan kelihatan lagi. Lagian elangnya juga pasti udah bobo,” sahutnya manja. Diciumnya kedua pipi Mami, ”Bilangin Avis ke atas ya, Aa pasti tau. Dah!”dan ia berlari berjingkat-jingkat melintasi lantai kayu, membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang peralatannya lengkap. Teropong, senter, topi dengan penutup punuk. Bisa melihat elang sampai tengah hari kalau ia mau. Ia berjalan hati-hati, sudah lebih setahun ia melewati jalan-jalan ini, tapi semua masih tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di atas, ada seseorang yang sedang  meneropong. Tanpa melepas pandangannya dari sarang elang, ia menyapa, “Kukira kau tidak akan ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tidak menjawab, hanya duduk bersila disamping Nata, dan mulai meneropong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang anaknya sudah bisa terbang. Dia sudah mulai disapih. Kaya’nya dia mulai disuruh mencari sarang lain sendiri,” sahutnya menerangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, elang yang muda itu seperti yang sudah diusir-usir dari sarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa ekornya panjang yang muda ya?” Avis bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sayapnya juga rentangannya lebih panjang yang muda,” Nata menerangkan, “dia masih membutuhkan keseimbangan dari alat bantu, sayapnya dan ekornya. Kalau sudah seimbang, bulu-bulu ekor dan sayapnya akan jatuh berganti yang lebih pendek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk dan meneruskan meneropong. Cahaya mulai menerangi, naik perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau masih akan di sini?” tanya Nata. Avis menurunkan teropongnya, dan melihat Nata sedang menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin. Nata mau bekerja sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mengangguk. ”Jalannya masih hapal kan? Jangan terlalu siang, nanti kepanasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menunjukkan topinya. Nata menyeringai, tapi, ”Jangan terlalu bergantung pada topi. Kalau sudah panas, turun saja. Kau masih bisa melihat lain hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 3.261&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 36.583 (MSWord) 36.559 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 35.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whups! Jauh melebihi target! Hihi .. lagi enak ngetik ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-5873926865901671509?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/5873926865901671509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=5873926865901671509' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/5873926865901671509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/5873926865901671509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluhsatu.html' title='Hari Keduapuluhsatu'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2757015209024010755</id><published>2007-11-21T00:14:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T00:16:59.206-08:00</updated><title type='text'>Hari Keduapuluh</title><content type='html'>Kembali lagi ke Bandung, seakan kembali ke kehidupan nyata. Selamat tinggal pohon-pohon yang rindang dan teduh, selamat tinggal deretan pohon teh, selamat tinggal elang! Kembali ke antrian kendaraan yang walau tidak semacet Jakarta, tetap saja macet. Tetap saja polusi, dan tetap saja suhunya perlahan merayap naik. Baru saja masuk Padalarang, sudah begini panasnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mami terus saja bertanya, bagaimana hidup di lokasi perkebunan? Bagaimana teh Alia, betah? Apa kira-kiranya ada prospek untuk dipindahkan ke kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yee, si Mami mah. Si Aa itu dari dulu memang mengidamkan bekerja di lokasi seperti perkebunan ini. Makanya begitu ada lowongan langsung disamber. Sepertinya kalaupun gajinya tidak memuaskan, situasi pekerjaan yang bikin dia betah. Apalagi gajinya jauh melebihi harapan. Jadi, jangan mimpi memindahkan si Aa ke kota, pekerjaan sudah dapat seperti yang diharapkan, gaji memenuhi keinginan, malah lebih, dan dapat istri yang lebih suka memilah varietas teh daripada memilah gosip artis, apalagi coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengeluh dalam hati. Coba dia bisa dapat semua keinginan seperti Aa. Sedang pekerjaan dia nantinya, sepertinya tidak bisa di tengah desa di kaki gunung. Kalau melihat pendidikannya, pekerjaan yang menanti dia adalah di kota, di tengah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih dulu malah milih psikologi, rutuk Avis. Coba kalau milih biologi atau apapun, yang akhirnya bisa menyelidiki elang, keluhnya sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kepada orang lain, ditutupnya rapat-rapat. Tidak ada yang tahu. Bahkan Mami dan Bik Niah. Juga pada Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha datang ke rumah besoknya, pas Avis masih mengantuk tapi harus bangun pagi dan mencuci semua bajunya, dan berniat untuk tidur kembali sesudahnya. Tapi niatnya batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai!” tegurnya parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa suaranya begitu? Masih capek ya? Sudah, sana tidur lagi! Aku pulang lagi saja,” sahutnya menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tertawa. ”Ya, kalau kamu sudah di sini sih, bagaimana bisa tidur lagi. Kehadiranmu itu bisa bikin orang insomnia, mikir apa barang-barang yang ada di sini masih komplit enggak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha terkekeh. ”Apa bukan sebaliknya? Aku bisa bikin insomnia karena terus terpikirkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis juga terkekeh sambil meninju Yudha main-main. “Duduk dulu, Yud. Aku ganti baju dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, nggak usah ganti baju. Aku kan bukan tamu agung, nggak usah pakai seragam atau kebaya segala…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hihi. Enak aja, pakai kebaya. Ini enggak enak aja, masa’ tamu dihadapi dengan daster butut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terkekeh, dan Avis menghilang sejenak ke kamar. Tak lama keluar dengan jeans dan kaus, tidak begitu butut seperti seragam nyegik, tapi tidak sebagus kaus terbarunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, kalau sudah ganti begitu, mending kita jalan aja yuk? Mau nge-baso nggak?” tawar Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi? Males ah, lagian ini penyamaran, tau. Masa’ nggak tau kalau aku belum mandi?” kekeh Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, ampun! Belum mandi? Jam segini?” Yudha menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya sih, tadinya sehabis mencuci baju mau mandi, tapi tadi jadi mendadak males.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi nggak bau kok, dan udah sikat gigi tadi sebelum makan,” kilah Avis. “Lagian, kalau pengen makan baso, nungguin mang Ajo aja yuk?” bujuk Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, udah. Nungguin mang Ajo juga boleh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan percakapan bergulir seperti biasa. Memperlihatkan buku yang ingin dibaca, atau yang tidak ingin dibaca. Bik Niah menyajikan pisang goreng. Mami pulang dari arisan RT dan bertanya apakah Yudha sudah disuguhi belum, dan menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan pengakuan Avis kalau dia itu belum mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ampun, si Ade! Nyanghareupan pamuda, can mandi. Mandi heula, kaditu!” sentak Mami. Avis cepat-cepat berdiri dan berlari ke kamar mandi sambil cekikikan mendengar Mami sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu hanya permukaan saja. Avis tahu, Yudha sedang tak menentu hatinya. Terkadang ia bisa mencuri lihat, dalam seperdetik dari waktunya, bahwa dia sudah ingin bertanya. Bahwa dia sudah ingin kepastian. Tapi tidak bisa. Karena dia sendiri yang memberikan waktu tanpa batas pada Avis untuk mengeluarkan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis sendiri takut. Ia takut memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ia takut memberi jawaban yang salah. Karena hatinya sampai sekarang masih belum menentu. Ia tidak tahu, apakah Yudha adalah jawaban bagi keinginannya, harapannya. Jadi, ya atau tidak? Dan ia merasa sudah cukup dengan keadaan pertemanan seperti sekarang, sama seperti ia bersahabat dengan Tio, dengan kawan-kawan laki-laki lainnya, bahkan sama dengan kawan-kawan perempuannya kalau ingin lebih jelas. Kalau ia menjawab ya, apakah Yudha memang impiannya? Kalau ia menjawab tidak, apakah ia tidak akan menyesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ia juga takut menjawab. Takut akan reaksi Yudha. Walau ia sudah berjanji tidak akan berbuat yang tidak-tidak, tapi siapa yang akan menjamin? Kalau ia menjawab tidak, akankah Yudha berbesar hati? Dan lebih sulit lagi, akankah ada hari-hari seperti ini nanti? Atau Yudha akan menghilang dari kehidupannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau ia menjawab ya, Avis mengeluh, ia memang berpikir terlalu jauh, tapi dengan prospek pekerjaannya di kota, prospek pekerjaan Yudha juga di kota, kapankah dia bisa melihat elang lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menghela napas. Hal kecil memang. Tapi mengganjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin seperti Aa. Sedari awal sudah memetakan keinginan, kuliah dengan ilmu yang memungkinkan ia bekerja di ujung dunia, jauh dari keramaian. Dengan alam yang masih asri. Punya istri yang senapas dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh pikirannya. Tidak seperti Avis yang baru sekarang ini menyadari, bahwa ada sepotong kecil hidupnya yang tertinggal di sarang elang itu, kemarin. Baru kemarin ia menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu ketika ia melepas Yudha pulang, ia resah. Apakah ia akan terus membiarkan Yudha menggantungkan harapan seperti tadi? Matanya, mata Yudha seperti yang terus bertanya, apakah jawabanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis juga gelisah. Malam itu ia susah tidur, walau tadi siang ia merasa masih sangat mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pagi baru ia memutuskan, ia akan mengatakannya pada Yudha. Secepatnya. Sebentar lagi ujian, dan sesudahnya ia harus menyiapkan tesisnya, berarti ia sudah tidak boleh terganggu dengan hal-hal lain. Bagaimana pun hasilnya. Bagaimana pun sakit hatinya, sakit hati Yudha nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keputusan itu ia barulah bisa tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jus alpuketnya sudah sedari tadi diaduk-aduknya. Kalaulah jus itu putih telur, tentu sekarang keadaannya sudah mencapai stadium bisa dibalikkan tanpa tumpah saking sudah sering sekali diaduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya memang baru diminum setengah, demikian pula gelas Yudha. Bedanya dia sama sekali tidak mengaduk isi gelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, itu jawabanmu, Vis?” Yudha memecah keheningan yang terjadi di antara mereka selama beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis hanya bisa mengangguk. Tidak berani ia memandang langsung ke matanya, sepertinya mata itu mengandung sorotan yang mematikan. Tetapi tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Vis,” sahutnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis terpaksa mengangkat kepalanya dan memandang matanya. Ia terkejut mendapat hal yang lain sama sekali dari yang ia duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku pernah bilang kalau aku tidak akan menanyakan alasanmu,” sahutnya masih pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. Sebenarnya, jika Yudha menanyakan hal itu, ia tak tahu apa jawabannya. Sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak akan menanyakan alasanmu, Vis. Aku cuma ingin,” ia menghela napas panjang seperti tidak yakin, ”ingin menanyakan. Bolehkah,” ia menunduk sejenak. Setelah sedetik-dua detik, ia mengangkat kepalannya, seakan mengumpulkan keberanian. ”Bolehkah aku tetap mengunjungimu? Aku tidak ingin menanyakan apakah ada orang lain di hatimu, kalau ada tentu ia akan sering mengunjungimu. Dan aku tentu akan mundur teratur. Tapi, selama seseorang itu belum ada, bolehkan aku tetap mengunjungimu seperti dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk pelan. Berat. Keinginannya selama ini sih begitu, tapi apakah itu akan terlaksana? Bisa dalam suasana seperti dulu lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terima kasih, Vis,” gumam Yudha nyaris tak terdengar. Nampaknya dia juga gugup tapi dia mencoba menutupinya. “Dan, bukannya mencoba mencari alasan, Vis, tapi …” dia nampak ragu sejenak, “tapi, apakah memang ada orang lain di hatimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng, juga pelan. Ragu. Ia tidak tahu, tapi beberapa malam di Hambalang nampaknya mengubah segalanya. Avis mencoba menepis pendapat itu. Nata? Nata itu tidak akan masuk ke dalam deretan ‘Top Ten’ laki-laki dalam hatinya. Apalagi dengan perangainya yang berubah-ubah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, ujar Avis keras-keras dalam hati, bukan Nata yang membuatku menolakmu, Yudha, aku memang tidak ingin saja, keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada walau jauh-jauh di Bogor?” Yudha nampak mencoba bergurau, dan Avis juga mencoba tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Bogor? Adanya juga pak Praja dan pak Hadi. Anaknya pak Praja udah gede, udah gadis, rasanya sudah enambelas tahun. Kalau kau mau nanti aku teleponkan Aa,” Avis mencoba menutupi galaunya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yah, paling juga sudah laku,” ia tahu Yudha berpura-pura manyun juga untuk menutupi hatinya sendiri juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, bulan depan ujian, sudah siap?” Yudha bertanya dengan suara yang hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengangguk. “Ya, disiapkan saja. Siap tidak siap harus siap. Dan setelah itu, persiapan untuk maju. Kau juga akan maju?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Insya Allah. Bahan sudah terkumpul, sebagian sudah diketik, mungkin sehabis ujian akan dikerjakan. Ngebut. Habis Ayah sudah ribut menagih akan membantu di perusahaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi kekuranganya, pikir Avis. Atau kelebihannya? Untuk biaya sehari-hari Yudha sudah tak pernah meminta lagi pada orangtua, dia memperolehnya dari usahanya di Jakarta. Tapi, untuk pekerjaan, ia tetap saja akan bekerja di perusahaan ayahnya, tidak mencari pekerjaan sendiri atau mendirikan biro dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ... ia termasuk yang takut akan perubahan? Lebih menyukai yang mapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau ia mengiyakan permintaan Yudha, mungkin ia akan terus di kota? Dan bukan di Bandung saja nampaknya, kalau tersirat dari pernyataannya tadi, ia sepertinya akan bekerja di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita .. pulang saja?” tanyanya ragu. ”Aku masih ada kerjaan di rumah,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha mengangguk, lalu keduanya berdiri. Avis sudah mengeluarkan dompetnya karena biasanya juga BM, tapi Yudha menahan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biar aku saja kali ini,” katanya perlahan. Avis tidak memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudha mengantarnya sampai di jalan. Ditunggunya sampai Avis naik angkot, dilambaikannya tangan, dan berbalik saat angkot itu sudah berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tinggal, Yudha, bisik Avis dalam hati, walau ia menyetujui bahwa hubungan persahabatan mereka tidak akan berubah, tetapi ia tahu, itu akan berubah. Tidak akan sehangat dulu. Tidak akan seramai dulu. Tidak akan sespontan seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya memang karena ujian, mereka akan jarang bertemu, lalu karena menyiapkan bahan tesis masing-masin, dan kemudian setelah itu pekerjaan mereka akan membawa semakin jauh berjalan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah. Perfect. Kau sempurna sekali merencanakan semua ini, Avis, pikirnya dalam hati. Kau memang jahat sekali. Tapi, tidak. Aku memang tidak bisa berjalan dengannya, pikir Avis kelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.556&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 32.962 (MS Word) 32.939 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 33.337&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2757015209024010755?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2757015209024010755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2757015209024010755' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2757015209024010755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2757015209024010755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-keduapuluh.html' title='Hari Keduapuluh'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-3179408011969346374</id><published>2007-11-18T19:28:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T19:30:40.027-08:00</updated><title type='text'>Hari Kesembilanbelas</title><content type='html'>Sikap yang benar-benar aneh, Avis berpikir, saat ia masuk kamar dan berganti piama. Nata  memang susah tersenyum, tapi dengan berubah-ubah sikap seperti ini dia menjadi bingung, bagaimana menempatkannya, sebagai kawan atau sebagai lawan yang harus diwaspadai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantuk, Avis mebaringkan diri di ranjang, memejamkan mata, dan dalam hitungan detik ia terseret ke alam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke alam yang kemarin dulu ia masuki. Yang kemarin sudah ia lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ia sedang menggunakan busana mewah, gemerlap bertabur permata.  Kakuia  berjalan selangkah-selangkah. Selain memang ini upacara, di mana ia harus bersiap sedemikian, juga busana ini juga alangkah beratnya. Untung saja upacara ini katanya tidak lama, pemahkotaan, pembacaan sumpah, keluar dari istana dan melambai pada rakyat, habis itu ia bisa masuk kamar melepas jubah yang berat ini dan berganti dengan busana pesta biasa untuk perayaan pelantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di depan, Ki Seta dengan tongkat kebesarannya sebagai pembuka jalan. Di belakang Ki Seta dua dayang-dayang dengan keranjang bunga. Lalu dirinya diiringi oleh dua dayang-dayang lagi. Ki Seta kemudian berbalik menghadapinya saat ia sudah di depan takhta. Keempat dayang menyebar ke sisi. Ia lalu berlutut di depan Ki Seta dan Ki Seta merapal mantra sambil tangan kanannya direntangkan di atas kepala Dyah. Setelah menyelesaikan mantra lalu Ki Seta membuka kotak yang dibawa seorang dayang. Kotak berlapis beludru hitam itu dibuka dengan khidmat, dan terlihatlah sebuah diadem (halah! Harry Potter banget!) berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta menggumamkan mantra-mantra yang lain saat ia mengeluarkan diadem itu. Dyah menunduk, dan Ki Seta meletakkan diadem itu dengan hati-hati di atas kepala Dyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan. Ia merasa lega. Konon ada mitos bahwa jika diadem itu diletakkan di atas kepala, lalu kita merasa berat atau minimal tidak ada perubahan, berarti selama masa pemerintahan kita akan banyak masalah yang tidak bisa kita selesaikan. Belum lagi kalau kita yang menyebabkan masalah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah berdiri dibimbing Ki Seta. Kemudian dia mengucapkan lafal sumpah dengan bahasa kuno diikuti artinya. Sebenarnya dia mengerti sih, sedikit-sedikit lafal bahasa kuno itu. Tapi supaya bisa dimengerti oleh seluruh khalayak, maka lebih baik disertai artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia melangkah ke arah takhta, dan duduk di situ. Dari kecil ia sering bermain-main di situ, duduk di takhta, membayangkan ia jadi ratu, tetapi baru sekarang ia benar-benar duduk di situ, dengan semua atributnya, dengan diademnya, dengansegala tanggungjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, diadem dipakaikan jika yang naik takhta itu ratu. Kalau raja, dipakaikan mahkota yang bulat berat itu. Nampaknya berat, lho, karena ia sering memperhatikan ayah, nampaknya biasa-biasa saja. Ayah naik takhta setelah Kakek, dan Kakek naik takhta setelah Uyut. Uyut ini adalah seorang Ratu. Jadi, ia adalah Ratu setelah Sumekar melewati dua pemerintahan Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia akan menerima sumpah setia semua pejabat. Ki Seta membuka kotak yang dipegang dayang yang satunya. Kotak panjang pipih ini ternyata berisi pedang. Berkilat dan nampak sangat tipis, Dyah bergidik sendiri membayangkan ketajamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan kekhidmatan yang sama, Ki Seta mengeluarkan pedang itu,  dan menyerahkannya pada Dyah. Dyah duduk dengan sikap sempurna seperti yang sering diajarkan ayah padanya. Ia menerima pedang itu, menggenggam pegangannya, membuka pedang itu dari sarungnya. Sarungnya dijadikan tumpuan di tangan kiri, pedangnya dipegang di tangan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu pejabat negara berlutut, menunduk, pedang diletakkan ujungnya di keningnya, dan pejabat itu mengucapkan sumpah setianya. Semua ada dua ratus delapan lima pejabat, hitung Dyah saat pejabat terakhir mengucap janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Dyah berdiri, semua berlutut memberi penghormatan pertama padanya selaku Ratu. Ia berjalan ke kamarnya, dan setelah pintu tertutup, ia menghela napas lega. Fiuh! Sekarang ia bisa melepas atribut jaim yang sedari tadi ia pakai :P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayang-dayang kali ini sibuk membantunya melepas jubah dan berganti busana yang lebih simpel. Nyaris seperti busana yang sehari-hari ia pakai, hanya ada tempelan suasana kemewahan dengan warna keemasan. Rasanya agak risih juga berpakaian dibantu dayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sita, memangnya setiap ratu harus dibantu setiap kali berganti pakaian?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tergantung, Yang Mulia. Kalau untuk pakaian kenegaraan, harus selalu pakai dayang-dayang, minimal dua. Kalau untuk pakaian sehari-hari, tergantung perintah Yang Mulia,” sahutnya sambil menggantung jubah yang tadi dipakai Dyah di lemari pusaka dengan sikap khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah. Ini titahku, untuk pakaian sehari-hari, tidak perlu ada dayang-dayang yang membantu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik, Yang Mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah selesai berdandan, dan ia bercermin sekali lagi. Ia adalah Ratu kali ini, semua yang ia lakukan sekarang mempunyai konsekuensi. Baiklah, semoga ia tidak melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayang-dayang membukakan pintu dan ia keluar, tapi ia harus berhenti. Dayang-dayang yang tadi harus mengiringinya berjalan dibelakangnya. Ia bisa saja langsung ebrjalan tadi dan dayang-dayang akan bersegera mengikuti, tapi rasanya tidak enak membiarkan orang tergesa-gesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjalan langsung ke taman istana. Taman yang luas itu sekarang sudah penuh orang, entah siapa saja, pokoknya semua rakyatnya. Ia masuk ke taman, dan langsung ke tenda yang sudah didirikan untuknya. Pengawal langsung menjaganya kiri kanan, tapi agak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Seta sudah ada di sana dan langsung mendampingi di sisinya. Rakyat yang sebegitu banyaknya langsung membentuk antrian untuk mengucapkan selamat. Alangkah meriahnya, semua rakyatnya, yang tua yang muda, yang digendong yang dipapah, semua memakai pakaian terbaik mereka. Setelah memberi selamat, para dayang-dayang mengarahkan mereka ke tempat sudah disiapkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah senangnya, ia mengingat-ingat dulu saat Ayah mengadakan pesta pelantikan, ia masih kecil, dan ibu masih ada. Tapi Ayah nampaknya agak sedih. Sekarang ia tahu kenapa Ayah bersedih. Karena pelantikan sebagai Raja atau Ratu itu berarti ayahmu sudah tiada, dan kini kau yang harus memimpin negara. Karena ini bukan pesta bersenang-senang, tapi pesta pernyataan kesediaanmu untuk memikul tanggung jawab atas seluruh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum pada setiap orang, menerima selamat dari semua orang, dan dalam hati ia menegaskan, kalian adalah tanggung jawabku. Apakah ia akan sanggup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah semakin sore. Ia kembali ke kamarnya dan merasa sangat lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang Mulia, apakah makan malam akan disiapkan di ruang makan saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bawa ke kamarku saja. Dan tidak usah makanan lengkap, semangkuk sup hangat saja sudah cukup. Dan segelas susu. Setelah makan, panggil Ki Seta menghadapku lagi,” titahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik, Yang Mulia,” dayang yang tadi menunduk dan mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia bisa sendirian. Alangkah senangnya. Untuk saat-saat nanti, momen ia bisa sendirian ini akan merupakan kemewahan. Pasti dia akan diiringi ke mana-mana oleh dayang. Ini juga sebenarnya tidak sendirian, di depan pintu ada pengawal. Tapi perlakuan seperti itu sudah biasa ia terima saat ia masih jadi Puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena negaranya kecil, maka tidak begitu banyak kegiatan yang harus dibantu oleh dayang-dayang. Lebih seperti orang kaya kebanyakan pembantu, begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemewahan itu akan segera berlalu, jadi ia lebih baik berganti pakaian dengan pakaian tidur, lapisi dengan jubah kamarmu, dan bersiap makan, lalu menerima Ki Seta untuk merundingkan agenda besok. Ia segera berdiri dan membuka lemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lemari itu seperti bergoyang, seperti gambar yang memudar, terus memudar, ia sendiri pusing, dan akhirnya ia terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jadi Avis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bangun dan meraih ponselnya, melihat jamnya. Sudah jam lima. Waktunya bangun dan mandi. Jam enam nanti pak Hadi akan mengantarnya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar kamar, dan bertemu dengan Aa yang sudah siap pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang sekarang, De? OK, baik-baik ya, cium Mami, dan kalau kau mau dateng lagi, atau kalau mau sama Mami, telepon saja. Kalau ponsel biasanya tidak begitu bagus sinyalnya di sini, jadi telepon ke Rumah Besar saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK,” katanya dan cipiki-cipika sama Aa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Duh, kamu mah belum mandi!” teriak Aa dicium Ade begitu, dan teh Alia keluar dari dapur sambil ketawa-ketiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aa langsung ke kebun?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, udah telat nih. Dah Ade!” katanya dan ia mendekati istrinya, cipiki-cipika, “nah, kalau ini sih harum biar belum mandi juga,” katanya menggoda Ade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade hanya meleletkan lidahnya, dan cepat-cepat masuk kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sarapan pagi, cipiki-cipika dengan teh Alia, ia ke Rumah Besar. Pak Hadi baru turun, dan memerintahkan sesuatu pada supir yang sedang memanaskan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Avis, sudah siap ternyata. Hayu atuh,” katanya, kembali ke dalam Rumah Besar untuk mengambil sesuatu, “bentar!” teriaknya dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian ia keluar membawa seberkas surat-surat, dan mereka naik mobil. Sejurus kemudian jalan besar sudah nampak di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.291&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 31.395 (MSWord)  31.372 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 31.667&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-3179408011969346374?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/3179408011969346374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=3179408011969346374' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3179408011969346374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/3179408011969346374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-kesembilanbelas.html' title='Hari Kesembilanbelas'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-577178653747952504</id><published>2007-11-18T01:16:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T01:22:29.713-08:00</updated><title type='text'>Hari Kedelapanbelas</title><content type='html'>Matahari sudah tidak begitu panas ketika Avis naik lagi ke puncak. Begitu sampai di sana, Nata sudah ada, sedang meneropong ke arah sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, sudah lama?” tegur Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belum. Baru sampai,” jawab Nata tak acuh sambil matanya terus ada pada teropongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara, Avis duduk di sebelahnya, mengeluarkan teropongnya dan ikut memandang ke arah yang sama. Arah matahari yang sekarang membelakangi mereka membuat sarang itu jadi terlihat gelap. Tapi kedua elang dewasa itu masih terlihat jelas, pseperti sedang menyelisiki bulu. Anaknya mungkin sedang duduk (depa dalam bahasa Sunda, bahasa Indonesianya apa ya?) sehingga tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak lama mereka menatap pemandangan itu, ketika matahari semakin turun dan alam semakin gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, sekarang liat apa?” tanya Avis tak tahan akan rasa penasarannya, dan menurunkan teropongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lihat ke sini,” Nata juga menurunkan teropongnya dan menunjuk ke satu arah. Otomatis teropongnya juga diarahkan ke sana. Avis ikut-ikutan. Seperti ... mulut gua? Avis melihat dengan seksama. Terus hubungannya dengan elang apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan membaca pikiran Avis, Nata menjelaskan, ”Lihat elangnya, ia pergi ke mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis mengalihkan teropongnya kembali ke sarang. Terlihat kedua elang itu bersiap terbang, tapi tidak terbang jauh. Tidak meniti angin rupanya, entah karena memang tidak ada angin atau bagaimana. Sepasang sayapnya dikepakkan, dan menukik ke arah .. mulut gua itu. Mereka hinggap di ranting dekat mulut gua, dan menunggu dengan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar, karena Avis nampaknya sudah tak sabar. Untung saja tempatnya jauh, sehingga kedua elang itu tidak sadar sedang diamati. Kalau mereka dekat, tentu saja kedua elang itu pasti sudah terbang karena merasa digebah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu matahari mulai terbenam, ratusan kelelawar mulai keluar dari mulut gua itu. Fantastis karena matahari yang menjingga diwarnai ratusan kelelawar, dan juga dengan perburuan yang sedang berlangsung! Ya, kedua elang itu kemudian menukik ke dalam formasi ratusan kelelawar dan seperti mudah saja, menyambar korbannya, kelelawar yang sedang terbang itu, dan dengan kecepatan yang menakjubkan juga mereka keluar dari formasi dan terbang kembali ke sarangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis begitu terpesonanya hingga matanya tak lepas dari teropongnya walau adegan itu sudah berlalu. Dan alam sudah semakin gelap sehingga nyaris tidak bisa dilihat lagi oleh teropongnya. Yah, sayangnya teropongya tidak dilengkapi dengan peralatan untuk melihat dalam gelap, dengan infrared seperti tentara, begitu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah?” Nata memecah keterpesonaan Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fiuh,” Avis menurunkan teropongnya. Nata kelihatannya sudah dari tadi menurunkan teropongnya, dan Avis jadi tersipu, mungkin saja Nata dari tadi memperhatikannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu ... tadi, setiap hari?” tanyanya takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mengangguk. ”Kalau tidak mendung atau hujan, hampir tiap hari. Mereka berburu makan malam di gua itu, kelelawar yang keluar dari gua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Kamu tahu dari mana mereka berburu seperti itu? Oya, tentu saja, kamu tiap hari di sini..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata seperti tersenyum, ”Tidak sengaja. Sejak aku menemukan sarang itu dan mengamatinya, kuperhatikan juga tiap sore ternyata mereka berburu kelelawar. Dengan manuver yang menakjubkan begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis sekarang menggantungkan teropongnya dari leher. Sudah terlalu gelap untuk meneropong lagi. Ia berdiri. Nata juga berdiri dan berjalan untuk mulai turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Makasih, ya Nata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata menoleh, dan pandangannya seperti bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk semuanya. Dari yang pertama, sampai yang tadi. Kau mau membaginya untukku. Makasih ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mengangguk, dan mengisyaratkan agar Avis berjalan duluan. Nata mengikutinya. Mereka berjalan tanpa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Rumah Kaca Nata tidak berhenti, jadi Avis menyimpulkan bahwa Nata juga akan turun bersama ke Rumah Besar. Masih tak bicara, mereka berjalan berturutan. Nata karena sudah biasa, jalannya lebih lancar, sedang Avis masih meraba-raba. Sayang ia tidak membawa senter, tapi sekarang kan ada Nata, lagian kalau ia membawa senter mungkin akan ditertawakan, baru magrib saja sudah harus bawa senter. Avis berpikir, sampai di Bandung ia mesti ke dokter mata untuk memeriksa apakah dia rabun senja karena sepertinya Aa, pak Praja, pak Hadi, Nata, dan yang lain-lainnya berjalan di kegelapan dengan santai saja, sementara dia seperti orang buta begitu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja ia berpikir begitu, kakinya salah menginjak, dan ia terpeleset!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja Nata menangkapnya di saat yang tepat. Jantungnya nyaris copot. Pertama, karena terpelesetnya. Kaget. Dan yang kedua, Nata menangkapnya refleks. Kaget yang kedua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sori. Sori. Nggak keliatan,” apologinya saat ia sudah berdiri tegak lagi. Seolah-olah ia telah berbuat kesalahan, nada suaranya jadi begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak, nggak apa-apa. Kalau memang belum biasa, pasti kelihatannya gelap,” sahutnya melepas pegangannya. ”Kalau begitu aku di depan saja ya?” sahutnya, lalu tanpa menunggu persetujuan Avis, ia menyalip sehingga berada di depan Avis, lalu tangannya memegang tangan Avis lagi, membimbingnya, dan mereka melanjutkan turun berdua seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang aneh. Ada rasa yang aneh di dada Avis, di jiwa Avis, di sukmanya. Seperti ada  yang ia kenal. Seperti ada yang familiar, sesuatu yang seharusnya ada dari dulu. Tapi, apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tak bisa menjawabnya, ia tak tahu. Dan terus terang, dengan perasaan seperti bersalah yang menyelimutinya, ia merasa nyaman dalam genggaman Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sampai di Rumah Besar, dan Nata melepaskan tangannya. Avis sudah akan mengucapkan terima kasih ketika Aa muncul dari Rumah Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, kebetulan. De, kata pak Praja malam ini makan di sini saja. Sudah kamu langsung ke dalam saja, Aa manggil teh Alia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mending aku ke rumah dulu. Shalat magrib dulu, trus ke sini bareng teteh,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, kalau begitu. Tapi jangan lama-lama. Jangan pake dandan dulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis melengos sambil cemberut, dan Ardi kembali ke Rumah Besar bersama Nata, sama-sama menertawakan Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kalau Nata dengan Aa bisa tertawa lepas begitu? Kenapa waktu dengannya, ia seperti susah sekali bahkan untuk tersenyum? Padahal sepertinya ia mudah bercakap dengannya, hanya senyum dan tawa yang sepertinya susah sekali keluar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Avis mempercepat jalannya, dan melupakan pikiran itu. Ia membuka pintu dan mendapati teh Alia sedang bersiap akan ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Teh, kata Aa makan di Rumah Besar saja, pak Praja yang ngundang. Tapi aku mau shalat dulu ya, Teh!” sahutnya bergegas ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sepuluh menit dan dia sudah berjalan bersama dengan teh Alia ke Rumah Besar. Kali ini sepertinya lebih banyak yang akan makan, tidak seperti kemarin. Meja makan juga digeser ke tepi, kursi-kursinya di pindahkan ke sisi sebelah lain, dan karpet-karpet ditambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ada perayaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak,” kata Aa, ”di sini sih kalau mau makan bareng seperti ini, usul saja, ada bahan, langsung jadi,” Aa menunjukkan pada makanan yang sudah tersedia di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hayo!” pak Praja segera menggebah mereka agar segera bergerak mengisi piring-piring, ”jangan malu-malu! Yang malu-malu nggak bakal kebagian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski langsung acara makan, tanpa basa-basi, tapi kemudian Avis tahu ini acara untuk menyambut kedatangan anggota baru mereka, teh Alia. Dan ia kemudian juga tahu bahwa sebagian besar pekerja, staf peneliti maupun administrasi adalah bujangan. Dan mereka menaruh harapan bahwa Avis juga sebentar lagi akan bergabung dengan mereka sebagai anggota baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan sayah saja, Non Apis. Sudah teruji!” seorang yang ia tahu sebagai Bagas, memuji diri, dan disambut oleh ‘huuuuu’ para pekerja yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teruji apanya? Teruji kegagalannya?” seorang nyeletuk dan disambut tawa riuh yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis hanya tersenyum-senyum saja mendengar semuanya. Ia tahu, mereka hanya ingin mengakrabkan diri saja, tidak ada maksud lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nanti dulu,” sahut pak Praja berlagak serius, ”Jangan bertanya dulu pada yang bersangkutan. Lihat dulu, ada pengawalan nggak?” selidiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecah tawa lagi disusul Ardi yang maju dan memperagakan seolah dia sedang melakukan pengawalan pada Avis. Susul menyusul mereka saling meledek, apakah meledek Ardi, atau memperlihatkan pada khalayak bahwa mereka sedang mengejar Avis, atau ada yang kecewa karena teh Alia dibawa ke situ dalam keadaan sudah ’dimiliki’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan berubah agak serius saat seseorang bertanya pendidikan Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Psikologi,” katanya, tanpa bermaksud pamer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak Praja,” kata orang tadi, ”kira-kira di sini perlu tenaga psikolog nggak? Biar dia nggak usah pulang lagi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ruangan berubah menjadi perang antar suku, perebutan wilayah, dan klaim senjata, hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu yang tidak ikut menceburkan diri pada kancah peperangan itu. Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata hanya duduk di sudut, memegang cangkirnya, sesekali meminumnya dan mengisinya kembali. Bik Juju memang menyediakan bajigur sepanci penuh plus singkong dan kacang rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tak sengaja melihatnya saat ia berbalik hendak menyimpan cangkirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata sedang melihat padanya. Tepat padanya. Tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa detik saja mereka berpandangan begitu, karena ia merasa tak kuat dilihat sedemikian. Ia cepat memalingkan mukanya. Berharap Nata tak melanjutkan memandangnya seperti itu. Seperti ... yang sedang menyelidik. Atau sedang memandang tertuduh. Entahlah, pandangannya sulit untuk ditafsirkan, ia mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Ada apa dengan Nata? Sesaat seperti memberi kenyamanan padanya, sesaat justru mengerikan melihatnya. Apa yang sedang terjadi dengannya? Atau tepatnya, yang sedang terjadi dengan Nata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesaat kemudian terpandang juga teh Alia, seperti yang sudah mengantuk. Dilihatnya jam tangan, sudah hampir jam sepuluh. Aa juga sepertinya sudah maklum, dan ia mendekati Avis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sudah mengantuk, pulang saja. Barengan sama Teteh. Mereka di sini biasanya sampai tengah malam, main kartu dan ular tangga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Main ular tangga?” Avis terkekeh. Kalau para bujangan main kartu sih biasa, tapi main ular tangga? Itu sih mainan anak-anak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Aa terkekeh juga, ”Nggak tau tuh, anak-anak di sini kesukaannya ular tangga. Entah dadunya yang aneh, entah lembar ular tangganya, tapi ular tangga mereka susah selesainya. Sekali-sekali nanti coba deh, dan kau tidak akan mencemoohkannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis masih terkekeh ketika teh Alia mendekatinya. ”Pulang yuk! Udah ngantuk nih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ayo,” sahutnya, dan ia membiarkan teh Alia menarik tangannya, pamitan pada pak Praja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak Praja, terimakasih atas makanannya. Tapi kami sudah mengantuk ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan kaum wanita memang sebaiknya tidur lebih awal, soalnya para bajingan-bajingan ini akan mengerjakan sesuatu yang sangat berbahaya,” sahutnya menahan tawa, ”Terima kasih kembali nak Alia. Dan nak Avis, mungkin besokpagi kau tidak akan bertemu denganku, pagi-pagi mungkin aku akan ke puncak. Jadi, selamat jalan, dan semoga dalam waktu dekat sudah kembali lagi ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mudah-mudahan, pak” sahut Avis, ”saya senang di sini. Terima kasih pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Praja tersenyum. ”Oya, besok perginya dengan pak Hadi, ya. Tapi mungkin tidak akan sampai tujuan, paling juga diantar ke terminal bis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, itu juga sudah terimakasih, pak. Asal sudah keluar dari jalan perkebunan, sudah masuk ke jalan besar juga itu sudah terimakasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan kalau perlu ke sini lagi, telepon saja nomer rumah ini, siapapun pasti akan menyampaikan pesanmu, siapapun yang mau keluar pasti akan menjemputmu,” kata pak Hadi menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Makasih pak, aduh makasih sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua menuruni undakan. Seseorang berteriak, ”Ardi! Kau nggak ikut pulang? Lebih rame mana, main ular tangga atau ular tangga? Hayo, pulang saja sana, jangan pura-pura!” dan seisi rumah menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis berpaling sejenak sambil terkekeh untuk melihat siapa yang main celetuk itu, tapi yang dia dapatkan adalah mata Nata yang memandangnya tajam-tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.691&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 30.104 (MS Word) 30.080 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 30.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu baru mulai bikin plot, ada rasa bahwa cerita ini mungkin nggak akan nyampe 50.000. Palingan 30k udah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, udah 30k, dan ternyata baru nyampe paling setengahnya-lah. Mungkin bahkan akan lebih panjang lagi... Hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, OK, nanti kalau lebih dari 50k, dan dibutuhkan waktu lebih dari sebulan, yang oengen baca terusan cerita ini dateng aja ke sini, pasti di-apdet kok!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-577178653747952504?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/577178653747952504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=577178653747952504' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/577178653747952504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/577178653747952504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-kedelapanbelas.html' title='Hari Kedelapanbelas'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-2430791880218662968</id><published>2007-11-17T02:02:00.000-08:00</published><updated>2007-11-17T02:04:45.149-08:00</updated><title type='text'>Hari Ketujuhbelas</title><content type='html'>Avis sekarang lebih siap, membawa senter. Soalnya keadaan yang menurut Aa dan rekan-rekan itu sudah terang, kalau menurut Avis sih masih gelap. Setengah lima, baru saised dari shalat subuh. Hawa masih dingin, embun masih menyelimuti daun-daun teh, sinar matahari belum ada yang menyalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut mereka sih sudah siang. Para pemetik teh sudah berduyun-duyun ke lokasi mereka akan bekerja. Mereka berjalan seperti di ruangan yang terang benderang. Atau karena sudah hapal, mereka berjalan dengan mata tertutup ya? Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, biar jangan ditertawaan oleh Aa dan teh Alia, ia menyembunyikan senter ini dan baru menyalakannya setelah ia agak jauh. Memang sih, sekarang ia agak hapal jalan yang kemarin sudah ditempuh, tetapi kalau ia disuruh pergi sendiri tanpa bawa senter, maka ia akan sampai sekitar beberapa jam lagi karena ia akan merayap –bukan berjalan—sambil memegang cabang-cabang tanaman sebagai tanda ia ada di jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu hiperbola, deng. Hehe. Habis, sebenarnya selain hari sudah tidak begitu gelap lagi, juga ada sisa penampilan bulan yang baru akan tenggelam nanti setelah matahari terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pak Hadi, ada jalan pintas ke tempat kemarin, lebih cepat. Tapi karena takut tersesat, maka ia menuruti jalan yang kemarin saja. Sekarang ia melewati Rumah Kaca. Masih menurut pak Hadi, Rumah Kaca itu tidak melulu berisi contoh tanaman teh, justru lebih banyak contoh tanaman lain. Itu karena banyak staf yang seperti Aa, kadang justru mengerjakan hal-hal iseng, hanya sekedar ingin tahu pada tanaman-tanaman tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weleh! Rumah Kaca malah jadi tempat pelampiasan rasa ingin tahu bagi para ilmuwan seperti Aa! Avis tertawa sendiri, pantas saja Aa betah bekerja di sini, bukan hanya bekerja, dia juga bisa melampiaskan rasa ingin tahu ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Avis juga ingin memuaskan rasa ingin tahunya. Diliriknya Rumah Kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Nata di sana. Ya, mungkin saja dia salah lihat, pagi masih belum menampakkan cahaya jadi yang ia lihat hanya sosok siluet, tapi ia yakin yang ia lihat adalah Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tidak berhenti. Tidak menyimpang untuk sekedar berkata ’Hai’ soalnya ia takut nanti malah mengganggu tugas orang. Tidak. Ia meneruskan langkahnya, terus menanjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sampai di tempat yang kemarin. Biar enak, ia mencari tempat meneropong yang strategis. Jadi, walau berlama-lama di sana ia tidak akan pegel. Dikeluarkan senjata andalannya, teropong. Lalu ada sebungkus roti, sebenarnya di tempat seperti ini yang namanya roti itu pasti hasil membeli di kota, dan karena sudah agak lama tidak ada yang pergi ke kota, maka yang ia bawa itu bukan roti kota, tapi roti sumbu, alias singkong. Singkong rebus buatan bik Juju yang dengan rajinnya menyelipkan bungkusan daun pisang itu saat ia pamitan tadi subuh. Sesubuh itu sudah ada singkong rebus? Bik Juju bangunnya pagi sekali ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hihi. Avis tersenyum sendiri. Diambilnya sepotong singkong, dan ia mengunyah sambil meneropong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sarang elangnya belum begitu kelihatan. Masih tertutup kabut, yang untunglah tidak terlalu tebal. Avis berharap sebentar lagi kabut itu pergi dan ia bisa melihat elang itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Avis meneropong ke arah lain. Kebanyakan masih terselimuti kabut. Konon kalau kabut turun, berarti siang harinya akan cerah. Benarkah? Avis tidak tahu, nanti saja akan ia tanyakan pada Aa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia kembali ke arah semula, sarang itu sudah terlihat. Induk elang sedang –kelihatannya—menyelisiki bulunya. Belum pergi. Dan ada seekor elang lagi di sebelahnya, elang dewasa. Mungkin jantannya? Kemarin tidak ada. Mungkin sedang pergi? Avis tertawa, mungkin kemarin elang jantannya sedang bertugas ke luar kota, dan hari ini sih ada bersama anaknya. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elang jantan itu lebih besar dari pasangannya, tapi kelihatannya lebih langsing. Ya jelas langsing, pikir Avis, jantan tidak harus hamil dan melahirkan. Betina yang hamil, melahirkan, dan menyusui. Hihi, ia tertawa sendiri lagi. Mana ada unggas hamil dan menyusui? Paling juga bertelur dan mengerami, dan proses mengerami ini justru akan mengambil persediaan lemak dalam tubuh betina karena dia harus diam terus selama berminggu-minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantannya lepas landas disusul betinanya. Terbangnya cepat sekali, nyaris Avis tidak bisa mengikuti arahnya. Tidak seperti kemarin, terbangnya tidak begitu jauh. Mungkin karena betinanya bertugas menjaga anak, makanya ia tak terbang jauh-jauh. Tapi kali ini keduanya melesat cepat entah ke mana. Walau Avis memakai teropong namun ia menyerah juga, tidak bisa mengikuti terbangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, keluh Avis, kalau saja aku bisa terbang. Terbang bersama mereka pasti, pikir Avis, dan kalau ia bisa terbang beratus-ratus kilometer jauhnya, alangkah senangnya. Ia bisa melihat segalanya dari kejauhan, dari ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis, tanyanya pada diri sendiri, apa pentingnya sih kamu ingin terbang tinggi? Kamu tidak punya sesuatu yang harus disembunyikan, tidak harus lari dari kenyataan. Kehidupanmu normal-normal saja, kalau ada saat di mana kamu sebal, kamu tidak harus melarikan diri dari kenyataan. Semua masalahmu bisa  kau selesaikan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis meletakkan teropongnya di pangkuan. Ya, ia tidak punya masalah, semua baik-baik saja. Ia hanya ingin melihat sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia lihat, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkatnya teropongnya lagi dan kali ini ia bisa melihat kedua elang tadi kembali, awalnya hanya titik kecil, kemudian semakin besar, dan akhirnya ia bisa melihat  keduanya dengan jelas. Mereka mendarat dengan anggun di dekat anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagus mendaratnya, ya?” suara Nata di sampingnya. Kaget Avis menurunkan teropongnya dan menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eh, Nata. Sejak kapan? Tadi aku lewat Rumah Kaca tapi tak mau mengganggu ah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa tidak mampir saja? Jadi kita bisa melihat sama-sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak ah. Takut mengganggu,” ulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiam dan meneropong lagi untuk beberapa saat. Kemudian Avis teringat sesuatu, singkongnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau singkong? Bik Juju tadi membekaliku ini,” sahutnya sambil menyodorkan bungkusan yang masih terasa hangatnya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau dong, singkongnya bik Juju pasti enak,” sahut Nata sambil mengambil potongan terbesar, ”entah kenapa, singkongnya sih pasti sama saja, tapi kalau dimasak sama bik Juju pasti enak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis tertawa, ”Enakan mana dengan masakan rumah?” tanyanya. Spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hm?” ia termangu. ”Aku tak tahu. Dari dulu jarang makan makanan rumah. Apalagi sekarang, sudah tak ada lagi orang rumah. Ayah dan ibu sudah lama meninggal. Dulu pas masih ada ibu saja aku sekolah berasrama, jadi jarang merasakan masakan rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh. Sori,” ucap Avis pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua menghabiskan singkong, lalu Avis mengangkat teropongnya lagi. Heran, ia tak puas-puasnya melihat makhluk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau pulang besok?” tanya Nata memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya. Pagi-pagi. Mumpung ada yang mau keluar ke kota,” katanya tak melepaskan pandangan dari teropongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus ke Bandungnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, dari Bogor ke Bandung kan banyak bis, lagian kan siang-siang bukan malem-malem.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK. Kapan ke sini lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avis melepas teropongnya dan menatap Nata heran. Kenapa bertanya begitu? Pelan-pelan dijawabnya, ”Aku ... nggak tahu. Belum tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, pasti  ke sini lagi kan?” tanyanya menyelidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eng ...” Avis ragu, ”tegantung kesempatan sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah membaca keraguan Avis tentang kendaraan yang menuju ke lokasi, Nata kemudian menerangkan, ”Naik bis saja sampai jalan depan itu. Tapi jangan lupa sebelumnya telepon dulu ke Rumah Besar, nanti aku jemput. Ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Boleh?” Avis kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya boleh dong. Atu kalau kau tidak percaya padaku, bilang saja minta dijemput sama kakakmu ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Percaya! Aku percaya. OK, nanti aku ke sini lagi,” kalaulah Nata itu seorang gadis pastilah sudah dipeluk. ”Tapi dalam waktu dekat mungkin aku mau ujian dulu, dan mungkin akan ada penyusunan tesis .. tapi aku pasti ke sini lagi. Aku janji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata seperti berusaha keras untuk bisa tersenyum, tapi ia tersenyum juga walau hasilnya lebih seperti orang menyeringai. ”Avis, kalau kau masih mau di sini, aku mau kembali ke Rumah Kaca. Tapi jangan lama-lama, panas matahari. Nanti sore menjelang matahari terbenam, datang lagi ke sini, kita lihat lagi. Ada sesuatu yang mungkin kau belum pernah lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”OK,” Avis penasaran juga. ”Aku di sini sejam lagi, terus nanti turun. Nanti sore aku ke sini lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata berdiri tak berkata-kata lagi, dan berjalan turun. Avis memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. Lalu ia kembali meneropong hingga matahari sudah tak tertahankan lagi panasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu catatan ia buat, kalau ia akan ke sini lagi pagi-pagi, ia harus membawa topi! Topi yang seperti tentara Jepang itu, yang pakai penutup tengkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berjalan turun perlahan. Jalan tidak lagi licin jam begini sih, beda dengan tadi subuh. Penasaran, pas melalui Rumah Kaca, ditengoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Nata di sana, tapi seperti sedang asyik. Dicobanya melambai, tapi sosok itu seperti sedang berkonsentrasi pada entah apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh baiklah, pikir Avis. Nanti sore juga ia akan ke sini. Avis meneruskan jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~0~0~0~0~0~0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wordcount&lt;/strong&gt;: 1.335&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akumulasi&lt;/strong&gt;: 28.412 (MS Word)  28.389 (NaNoValidator)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Target&lt;/strong&gt;: 28.334&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17936795-2430791880218662968?l=perkamenku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkamenku.blogspot.com/feeds/2430791880218662968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17936795&amp;postID=2430791880218662968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2430791880218662968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17936795/posts/default/2430791880218662968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkamenku.blogspot.com/2007/11/hari-ketujuhbelas.html' title='Hari Ketujuhbelas'/><author><name>ambudaff</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06534568752630885630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://i3.photobucket.com/albums/y55/ambudaff/AmbuDian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17936795.post-5786004595301853900</id><published>2007-11-16T14:23:00.000-08:00</published><updated>2007-11-16T14:25:57.071-08:00</updated><title type='text'>Hari Keenambelas</title><content type='html'>Mereka berjalan di tengah remangnya pagi, belum cukup cahaya menerangi. Avis, pak Praja, pak Hadi, dan dua orang pekerja. Embun masih meraja. Avis berjalan agak tertatih-tatih, buatnya ini masih gelap. Tapi untuk pak Praja dan yang lainnya, ini sudah cukup terang, ini sudah siang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperempat jam berjalan, dan agak mendaki terasa oleh Avis, ketika terlihat sebuah rumah kaca di kejauhan. Mereka mendekatinya. Selain rumah kaca juga ada ruangan biasa yang tidak tembus pandang, seperti rumah biasa. Pak Praja mendekati ruangan itu lalu mengetuk pintunya. Rupanya ada dua pintu, pintu dari Rumah Kaca, dan pintu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sedang menunggu seseorang, pintu itu terbuka begitu diketuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang keluar dari pintu, 
